Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Friday, April 24, 2009

SEKOLAH PEMBENTUK AKHLAK

By Hessy Widiyastuti, S.Psi
Saat Silaturahmi Lebaran tahun 1429 H bertepatan dengan hari Ahad, tgl 19 Oktober 2008 di lingkungan intern Salman Al Farisi, yang dihadiri oleh dewan pengurus YYS, perwakilan guru, dan karyawan serta perwakilan orangtua murid Salman Al Farisi, Bpk Dr.Muslimin Nasution, Apu sebagai ketua dewan Pembina yys Salman menyampaikan orasinya yang intinya meminta semua stakeholders yys Salman al Farisi bersama membangun system pendidikan yang mengedepankan teknologi informasi, penggunaan Bahasa Inggris dalam pembelajaran dan yang paling penting menanamkan nilai moral dan membangun akhlak mulia.

Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ, dan EQ secara efektif. Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif. Unit TK sebagai salah satu bagian dari unit pendidikan dasar Alhamdulillah sejak diberlakukannya model pembelajaran BCCT ( Beyond Centre & Circle Time) pada tahun 2006, sudah mulai melakukan ketiga point penting yang disampaikan Bapak Muslimin. Yang paling menonjol dalam hasil yang dapat dilihat adalah pembentukan karakter dan akhlak mulia anak baik dalam bersikap maupun berucap. Sebagai gambaran, semua ibu guru TK telah terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam keseharian mereka, seperti Alhamdulillah,

Subnallah,Astaghfirullah atau Allah Akbar.Ibu guru juga terbiasa mengucapkan kata ‘maaf’ jika menegur perilaku atau ucapan anak yang kurang terpuji. Misalnya ,“maaf, mohon sandalnya dilepas di batas bersih!” atau “Maaf, tolong sebaiknya tidak naik-naik ke atas meja!”. Ibu guru pun tidak segan mengucapkan terima kasih jika anak sudah membantu dan menunjukkan perilaku terpuji. Misalnya ,“terima kasih ananda… sudah membantu ibu guru membereskan mainan.” Atau “Terima kasih ananda… sudah shalat dan berdzikir dengan khusu.” Teladan dalam tingkah laku dan berucap dari guru tampaknya membekas dan tertanam dalam hati anak TK. Berikut ini saya kutipkan beberapa respon dan komentar anak-anak TK A1 dalam menanggapi suatu kejadian yang menunjukkan akhlak terpuji.

Peristiwa 1.
Siang itu di Tk Salman tidak ada air, setelah makan siang anak-anak TK diminta untuk mencuci piring sendiri, untuk melatih kemandirian mereka. Prana sudah selesai makan, ia segera pergi ke tempat cuci piring, tapi beberapa saat kemudian ia kembali ke kelas sambil berkata, “Bu guru maaf, saya tidak bisa mencuci piring karena tidak ada air.” “oh, tidak apa-apa Prana, simpan saja di tempat cucian”, jawab ibu guru Tidak lama kemudian air kran kembali menyala. Dan Prana yang tahu kejadian itu langsung berkomentar, “Alhamdulillah air sudah ada, sekarang saya bisa mencuci piring.”

Peristiwa 2.
Suatu waktu ibu guru tengah menegur seorang anak A1 yang melakukan perilaku kurang terpuji, suaranya agak keras dengan mimik wajah (mungkin) tampak galak. Nadhira yang melihatnya langsung menegur, “maaf, ibu guru marah?” Ibu guru dengan setengah kaget menjawab, “ oh, tidak , Ibu guru hanya sedang menegur anak yang belum paham peraturan.” Nadhira kembali bertanya,“ Tapi kenapa wajahnya begitu, aku jadi takut!”

Peritiwa 3
Suatu siang, saat sedang membimbing shalat, ibu guru batuk-batuk. Kirana langsung berkomentar dan menunjukkan empatinya. “Ibu guru sakit yah? Ibu guru harus istirahat, nanti saat anak-anak tidur siang, bu guru harus ikut tidur!” “Subhanallah”, ibu guru terharu, “Terima kasih kirana atas perhatiannya.”

Peristiwa 4
Pagi hari sebelum bel masuk anak-anak biasa bermain di halaman, Pagi itu Prana mimisan dan diantar Nara menghampiri ibu guru di kelas. “ bu guru, ini Prana mimisan.”Kata Nara. “mengapa sampai mimisan ?” Tanya Ibu guru. “soalnya Prana kecapean kejar-kejar kodok Bu.”Jawab Nara. “oh, begitu, sini nak ibu bersihkan darahmu.” “Nah Prana jangan kejar-kejar kodok lagi yah! Nanti mimisan lagi.” Nasehat Nara kepada Prana.

Peristiwa 5
Saat itu bulan Ramadhan, semua anak TK dilatih untuk berpuasa setengah hari. Hari masih pagi, saat sedang mengerjakan tugas, Nadhira menghampiri ibu guru dan berbisik,” ibu, perutku sakit, tadi pagi aku muntah dan makanku sedikit.” Ibu guru mengelus perut Ndhira sambil berkata, “ perutnya betul-betul sakit? Mau berbuka?” Nadhira mengangguk. “ Nanti waktu istirahat tiba Nadhira boleh berbuka, tapi ngumpet ya! Jangan sampai ketahuan teman-teman!” saran bu guru. Nadhira mengangguk dan kembali mengerjakan tugasnya. Beberapa saat kemudian ia kembali menghampiri ibu guru sambil berbisik, “Ibu guru , kalau akau ngumpet, Allah tahu kan aku tidak puasa?” Ibu guru kaget mendengar pertanyaan itu, tapi langsung menjawabnya“Oh iya, Allah maha tahu, tapi Allah juga maha pemaaf, Allah membolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa. Ibu guru meminta Nadhira ngumpet, bukan ngumpet dari Allah, tapi ngumpet dari teman-teman, takutnya kalau teman-teman tahu, mereka jadi ingin berbuka juga, padahal mereka tidak sakit.”

Peristiwa 6
Di Tk Salman setiap hari setelah selesai belajar, semua anak dibiasakan untuk berwudhu dan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di kelas masing-masing. Ada dua orang anak TK yang masih bermain-main di tempat wudhu saat shalat akan berlangsung. Saat dipanggil masuk baju mereka basah dan kotor. Ibu guru menasehati dengan nada cukup tinggi karena kejadian ini sudah mereka lakukan berkali-kali. “ ibu guru marah sama vidi dan Prana, karena tidak paham aturan, ibu guru sering ingatkan kita harus menghemat air, sebaiknya membuka kran tidak besar-besar cukup sedikit saja. Sehingga airnya tidak basah ke baju !” Beberapa saat kemudian setelah berganti baju dan melaksanakan shalat dzuhur, saat sujud vidi terpeleset dan keningnya membentur lantai dengan keras. “innalilahi wa inna illaihi roji’un, sini nak ibu obati lukamu”

sambil mengobati luka vidi ibu guru memberi nasehat kepada semua anak. “Nah anak-anak itu pertanda Allah marah kepada anak yang tidak patuh kepada ibu guru. Ibu guru sayang kepada semua anak, kalau ibu guru marah itu karena sayang sama anak-anak, sekarang kita lanjutkan shalatnya.” Setelah selesai shalat, Nadhira menghampiri ibu guru dan berkata, “ ibu guru tadi saya mau nangis waktu ibu guru nasehatin vidi, kasihan vidi, juga ibu guru jadi sedih yah? Tapi nangisnya si tahan.” “Subhanallah, ibu guru terharu mendengarnya, terima kasih atas perhatian Nadhira.”Kata ibu guru sambil memeluk Nadhira dengan hangat. Selain beberapa kisah penuh hikmah, ada juga anekdot dari anak-anak yang lucu dan menggelikan.

Anekdot 1
Anak-anak Tk setelah bel masuk, dibiasakan duduk melingkar di atas karpet, berdoa surat Al Fatihah dan do’a belajar dipimpin oleh anak yang hari itu mendapat giliran piket menjadi pemimpin do,a. “teman-teman sudah siap?” kata Ali. “Siappp” jawab semua anak. “angkat tangannya tundukkan kepalanya, berdoa sebelum belajar dimulai !” Setelah selesai berdoa, ibu guru mengabsen semua anak, jika ada anak tidak masuk karena sakit, semua anak berdoa untuk teman atau pun ibu guru yang tidak masuk. “ ayo anak-anak kita berdoa untuk anaknya Bu Aal yang sedang sakit panas, katanya panasnya tinggi sekali !” ajak ibu guru. Tiba-tiba Vidi bertanya, “berapa meter tingginya Bu ?” Ibu guru tersenyum geli,” oh panasnya tidak bisa diukur dengan meteran vidi, tapi dengan alat yang namanya thermometer, nanti ibu perlihatkan yah alatnya.”

Anekdot 2
Saat tema kebersihan, guru becerita tentang seorang anak yang malas bangun pagi dan malas mandi. “ Ada seorang anak bernama X, jika akan sekolah ia sulit dibangunkan, mamanya sampai menggendongnya ke kamar mandi, tapi setelah sampai di kamar mandi X tetap tidak mau mandi. Akhirnya ia hanya cuci muka. Suatu hari badan X gatal-gatal, kulit merah dan bentol-bentol, Nah X kena batunya, karena ia tidak pernah mandi ia jadi kena kuman gatal.” Tiba-tiba Azka bertanya, “ kenapa X nya harus dibatuin Bu ?” Ibu guru tersenyum geli, “maksud ibu guru X mendapat hukuman atas ulahnya yang malas mandi sehingga kuman senang hinggap di badannya.”

Anekdot 3
Saat tema cita-citaku, ibu guru merangsang pengetahuan anak tentang beberapa profesi. “ anak tahu orang yang kerjanya mencari ikan di laut ?” Tanya ibu guru. Anak-anak tidak ada yang menjawab. “ Ne…” ,ibu guru memberi petunjuk. Anak-anak masih tidak memiliki ide untuk menjawab. “Nela…”, ibu guru menambah satu suku kata petunjuk. Prana mendengarnya nera…, maka ia spontan menjawab, “Neraka !” “Hi..hi..hi.., bukan neraka sayang tapi nelayan.” Kata ibu guru “anak-anak tahu orang yang kerjanya memperbaiki mobil ?” Anak-anak diam. Sekali lagi ibu guru memberi petunjuk, “Mon…” Ezra spontan menjawab, “monyet !” “Hi..hi..hi..,bukan monyet soleh tapi montir.” Kata ibu guru sambil tersenyum geli. Itulah beberapa kisah yang menunjukkan betapa ucapan dan perilaku guru dapat sangat berpengaruh dan membekas dalam diri anak. Semoga guru-guru Salman Al Farisi dapat tetap istiqomah membentuk generasi rabbani yang berakhlak mulia. Amin.

By : Hessy Widiyastuti, S.Psi Guru TK Salman Al Farisi
Pemenang Ke-3 LKGDP tingkat Nasional 2007

Tuesday, January 20, 2009

Profesional Saja Tidak Cukup

Oleh: M. Ali Hasymi SPd
Guru Madrasah Aliyah Ma'arif NU, Kencong, Jember

Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memunculkan paradigma baru, yakni guru profesional. Dalam UU tersebut dikatakan, seorang guru profesional harus melaksanakan tugas atau kewajiban sesuai prinsip bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.

Usaha pemerintah tersebut merupakan jawaban atas tudingan bahwa carut-marutnya dunia pendidikan di Indonesia disebabkan oleh tidak profesionalnya guru. Masih banyak guru di Indonesia yang memiliki sifat serta perilaku tidak profesional sebagai seorang guru.

Pertama, guru malas membuat perangkat mengajar dalam setiap program pengajarannya. Ada juga yang hanya mengambil perangkat milik guru lain, yang dikenal dengan istilah copy paste. Alasan mereka beragam. Di antaranya, sibuk mencari penghasilan tambahan (karena gaji guru kurang).

Padahal, guru seharusnya punya perencanaan matang (planning) sebelum menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Lalu, guru juga harus menganalisis hasil pembelajarannya sebagai sarana evaluasi (evaluating).

Kedua, guru malas menambah pengetahuan melalui membaca buku. Itu akan berpengaruh terhadap metode pelajaran yang diberikan kepada siswa. Siswa bosan dan malas dengan metode pengajaran yang itu-itu saja. Guru menyuruh siswanya untuk gemar membaca. Tapi, guru sendiri tidak gemar membaca.

Nasib perpustakaan daerah sepi karena pengunjung dari kalangan guru masih minim. Hal tersebut berkorelasi pada minimnya hasil penelitian guru. Penelitian tindakan kelas (PTK) tidak dibuat atas kesadaran sendiri untuk mencari jawaban atas permasalahan yang terjadi dalam program pengajarannya.

Ketiga, guru gaptek (gagap teknologi). Banyak guru yang tidak bisa mengoperasikan komputer. Padahal, penguasaan komputer sangat penting pada era digital yang menuntut kerja lebih cepat. Begitu pula dengan internet. Penguasaan internet menjadi penting agar guru punya pengetahuan lebih. Kita tahu, suatu masalah dijelaskan lebih rinci dalam Yahoo, Google, atau Wikipedia. Bila guru belum menyentuh komputer dan internet, pendidkan kita akan berjalan di tempat.

Permasalah siswa yang muncul, mulai kasus video mesum, free sex, perkelahian pelajar, narkoba, dan sebagainya, merupakan sebagian kecil imbas guru yang tidak profesional.

Meski begitu, profesionalisme saja tidaklah cukup. Keikhlasan seorang guru untuk mengabdikan diri demi pendidikan sangat diharapkan. Dengan keikhlasan, guru tidak akan segan bekerja keras. Dengan begitu, terciptalah metode-metode baru yang akan membuat siswa mudah mencerna materi pelajaran.

Keikhlasan muncul dari pribadi guru yang mau berusaha keras mengembangkan kemampuan. Merencanakan program, membaca, meneliti, dan belajar teknologi akan dilakukan demi keikhlasan. Orang yang paling menikmati hidup adalah orang yang paling bersungguh-sungguh menjaga keikhlasan. Setidaknya, orang yang sangat ikhlas akan sangat minim rasa kecewa (Gymnastiar, Abdullah, 2002).

Guru yang profesional harus bisa mendidik secara profesional dan ikhlas. Keihlasan berarti mendidik dengan hati, yang akan membuahkan anak-anak yang hidup dalam kebenaran dengan menjadikan dia sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.

Mendidik dengan hati nurani hanya punya satu tujuan. Yakni, terjadinya kesinambungan antara otak dengan hati. Maraknya kasus yang menimpa pelajar merupakan imbas dari guru yang tidak mengggunakan hati dalam mendidik. Kalau otak dan hatinya sudah didekatkan, siswa akan berpikir ulang untuk melakukan perbuatan tercela. (soe)

Thursday, December 18, 2008

Metode "Sepiring Nasi"

Menjelaskan ilmu sosial kepada anak-anak pada dasarnya harus disertai dengan contoh kongkrit yang bisa dimengerti oleh anak. Akan tetapi tidak semua materi ilmu sosial bisa dijelaskan dengan hal yang kongkrit. Sebagai kasus, baru-baru ini saya mendapat giliran unruk menjelaskan materi ilmu sosial tentang 'mahluk sosial' di kelas 3 SD.

Menjelaskan arti 'mahluk sosial' kepada anak kelas 3 SD anak sangat berbeda dengan menjelaskan kepada anak SMP atau SMA, sebab anak-anak SD masih berfikir kongkrit dan belum menganalisis.

Saya dituntut untuk mencari metoda terbaik untuk menjelaskan hal ini, dan akhirnya saya menemukan sebuah metoda yang sangat primitif..sepiring nasi.

Sepiring nasi yang biasa disantap oleh anak-anak pada saat istirahat telah memberi inspirasi bagi saya untuk menjelaskan masalah 'mahluk sosial' di kelas 3 SD

Saya mencoba mengurai apa saja yang ada dalam sepring nasi. Ada ikan, tahu, tempe, nasi, garam, sayuran, piring, garfu dan sendok. Lalu saya coba bertanya kepada anak-anak tentang siapa saja yang membuat dan menghasilkan barang-barang tersebut.

Anak-anak menjawab: nelayan, pembuat tahu, pembuat tempe, petani, petani garam, petani sayuran, pembuat piring, pembuat garfu dan pembuat sendok...ooo banyak sekali.

Saya mulai bertanya pada anak-anak, bagaimana seandainya tidak ada mereka? bisakah kita makan? bisakah kita menpersiapkan semua kebutuhan kita untuk makan? semua anak didikku menjawab "tidak!".

Dari metoda sepiring nasi, akhirnya aku bisa menjelaskan bahwa kita sebagai manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Thursday, November 27, 2008

Gejala Pengikisan Identitas dan Nasionalisme Bangsa

Oleh: Setyowati SPd
Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 6 Depok. Jawa Barat
Sumber: Republika

Menjamurnya sekolah internasional di Jakarta dan sekitarnya membawa dampak tersendiri pada perkembangan bahasa. Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah itu menarik minat para orang tua murid, yang notabene dari kelas menengah ke atas, untuk menyekolahkan anaknya di sana. Alasan utama mereka tidak mutu pendidikan saja, tetapi juga penguasaan bahasa Inggris bagi anaknya. Akibatnya, sekolah negeri di kota besar terdorong untuk bersaing dengan sekolah internasional. 

Sebagai contoh, sebagian besar sekolah negeri yang memiliki akreditasi A telah membuka kelas internasional. Langkah ini dilakukan dalam rangka mewujudkan visi sekolah, yaitu menuju sekolah yang berstandar internasional atau SBI. Semua mata pelajaran diajarkan dengan bahasa Inggris, tak terkecuali pelajaran bahasa Indonesia yang mungkin juga diajarkan dengan bahasa Inggris.

Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah dapat menghambat perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia yang masih terus mengalami perkembangan dan perbaikan akan mundur. Jika generasi penerus bangsa sudah sejak dini dibentuk dalam konsep bahasa Inggris, tentu hal ini memengaruhi tingkat pemakaian bahasa Indonesia. Kenyataan, masyarakat belum mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik dalam ragam lisan maupun tulis. Dalam ragam lisan, penggunaan bahasa Indonesia sangat dikontaminasi oleh bahasa daerah, sedangkan dalam ragam tulis, ada kontaminasi ragam bahasa lisan. 

Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah ketidaktepatan dalam penggunaan ragam bahasa resmi dan tak resmi dalam situasi formal maupun informal. Banyak generasi muda saat ini yang mencampuradukkan keduanya. Sebagai contoh, seorang siswa SMA yang harus memberikan sambutan pada acara resmi sekolah, tetapi menggunakan bahasa gaul dengan alasan agar suasana tidak tegang. Selain itu, akan terjadi kontaminasi dalam budaya karena belajar bahasa tak lepas dari belajar budaya. 

Kontaminasi bahasa dan budaya yang negatif dapat menjadi gejala pengikisan identitas dan nasionalisme bangsa. Dengan alasan globalisasi, penutur akan merasa diterima dalam pergaulan jika berbahasa Inggris. Mereka akan bangga jika berbahasa Inggris karena akan tampak kelas sosial mereka. Selain itu, mereka akan dianggap sebagai kaum intelek yang memiliki wawasan luas, karena ketika berbicara mereka menggunakan kemampuan dwibahasanya.

Fenomena itu banyak dijumpai di kota metropolitan seperti Jakarta. Sudah menjadi keharusan bagi orang Jakarta untuk menguasai bahasa Inggris jika ingin dikatakan sebagai manusia modern dan maju. Sementara itu, bahasa Indonesia malah mengalami kerusakan ketika bermunculan bahasa gaul di kalangan anak muda Jakarta. Kondisi itu sangat mengkhawatirkan jika dibiarkan. Perlahan tapi pasti, bahasa Indonesia akan mengalami kepunahan sebagaimana bahasa minoritas di dunia.

Tampaknya penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar di sekolah merupakan langkah tepat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan alasan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, bahasa Inggris dirasakan perlu dimasyarakatkan. Namun, kita tidak menyadari bahwa hal ini dapat menjadi ancaman bagi penanaman identitas dan nasionalisme pada generasi muda. Kekhawatiran ini wajar, karena bahasa adalah salah satu ciri atau identitas sebuah bangsa. 

Solusi bagi masalah ini adalah penerapan sekolah dwibahasa seperti di Malaysia dan Singapura. Mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar di sekolah hanya untuk mata pelajaran yang masuk dalam kurikulum internasional. Dengan sekolah dwibahasa dihasilkan keluaran pendidikan yang mampu berkompetisi dalam era globalisasi tetapi tidak kehilangan identitas dan nasionalisme mereka sebagai bangsa. Kedua negara itu mengalami perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan identitas mereka sebagai orang Melayu. 

Jika dikatakan bahwa penggunaan bahasa Inggris di sekolah mengingkari Sumpah Pemuda, tepat. Maka, tugas pemerintah adalah membuat batasan yang tegas dalam hal apa saja bahasa Inggris dijadikan bahasa pengantar di sekolah. Perlu dibuat sebuah regulasi sebagai rambu-rambu bagi para pengajar di sekolah yang memiliki kelas internasional.

Monday, November 17, 2008

Pendidikan Berwawasan Lingkungan

Oleh: Slamet Widiantoro, S.Pd
Guru Sains SD Muhammadiyah Condongcatur, Yogyakarta

Sumber: Republika

Musibah bertubi-tubi melanda negeri ini mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, puting beliung, tanah longsor. Dan, terakhir-terakhir ini di musim penghujan ada daerah-daerah yang menjadi langganan bencana banjir, atau bencana yang lebih besar lagi bagi dunia yaitu adanya pemanasan global yang luar biasa dampaknya bagi bumi kita.

Bencana-bencana di atas tentunya secara langsung atau tidak langsung akan membawa dampak terhadap dunia pendidikan kita. Karena, dengan adanya bencana yang melanda tersebut maka banyak yang menjadi korban pendidikan, mulai dari fasilitas pendidikan dengan rusaknya bangunan sekolah, rusaknya transportasi menuju sekolah, atau terendamnya sarana sekolah lain karena banjir.

Belum lagi dampak psikologis yang dialami oleh anak akibat bencana tersebut. Tentunya kita masih teringat di tayangan televisi bencana tsunami di Aceh atau gempa bumi 27 Mei yang melanda di Yogyakarta bagaimana anak-anak menangis karena kehilangan saudara-saudaranya.

Bencana-bencana ini tentunya tidak lepas hanya sekadar dari peristiwa alam biasa. Tentunya, ada faktor kesalahan manusia baik itu secara fisik atau ada hubungannya dengan perusakan alam atau secara nonfisik akibat dari banyaknya kesalahan-kesalahan yang diakibatkan dari tingkah laku manusia. Sehingga, sang pencipta memberikan peringatan atau hukuman-Nya.

Dengan melihat latar belakang di atas tentunya kita melihat sangat perlunya pendidikan yang berwawasan lingkungan sejak dini. INi untuk mempersiapkan anak-anak kita yang siap mencegah dan menghadapi bencana lingkungan.

Pendidikan berwawasan lingkungan ini tentunya secara tidak langsung sudah terdapat di dalam kurikulum atau materi di sekolah dasar salah satunya dalam bidang studi IPA. Namun, dalam pelaksanaannya masih dirasa kurang karena permasalahan bencana tidak semata-mata hanya karena proses alam saja. Juga, diakibatkan dari pengaruh akhlak dari anak-anak bangsa, sehingga memang sangat diperlukan keterpaduan dalam pendidikan lingkungan ini. Sehingga, pendidikan lingkungan bisa diintergrasikan masuk juga dalam pelajaran yang lain misalnya IPS, agama, bahasa Indonesia, bahsa Jawa, bahkan matematika.

Sehingga, dari sini penting diperlukan adanya pembelajaran tematik tentang tema lingkungan di kelas. Walaupun sekarang sudah dikenalkan metode pembelajaran ini namun kita mengamati masih banyak dilakukan pada kelas-kelas kecil. Karena, di kelas atas ada guru bidang studi, hal ini kadang sebagian guru kita terjebak dalam dikotomi pendidikan. Sehingga, ketika kita berbicara IPA maka ada maka kita hanya berbicara IPA kita tidak membicarakan masalah agama, sosial, atau bahasa.

Pembelajaran tematik yang berhubungan dengan lingkungan ini agar lebih menarik bisa diwujudkan dengan field trip misalnya. Field trip ini bisa dalam bentuk pengenalan lingkungan sekitar misalnya saja pergi ke sawah. Di sawah anak bisa mempelajari semua pelajaran yang ada. Misalnya, untuk mempelajari IPA bisa dikenalkan dengan cara perkembangbiakan tanaman, pelajaran matematika belajar simetri lipat pada daun, pelajaran bahasa Jawa berlatih berbicara bahasa jawa dengan pak tani, pelajaran bahasa indonesia dengan menulis puisi, pelajaran KTK dengan menggambar pemandangan, pelajaran olah raga misalnya adanya game-game dengan lumpur di sawah.

Dengan adanya pembelajaran ini mungkin lebih membawa makna tersendiri bagi anak karena anak praktik langsung, selain mengurangi rutinitas pembelajaran di kelas. Walaupun tentunya membawa konsekuensi bagi guru karena harus bekerja ekstra dengan pengawasan anak di luar kelas.

Model pembelajaran lingkungan ini tidak hanya dengan model seperti di atas. Ada sekolah dengan media terbatas dapat melakukan dengan pemutaran film atau CD tentang lingkungan, membuat kliping bencana alam, mendaur ulang limbah rumah tangga, membuat taman, mempraktikkan simulasi gempa, yang hal ini sering dilakukan oleh negara maju seperti Jepang yang sering terjadi bencana gempa.

Untuk mengenalkan anak terhadap teknologi lingkungan anak-anak membuat model alat yang berhubungan dengan penangan bencana misalnya alam banjir atau alam gempa. Bisa juga dengan berkunjung ke suatu tempat pengolahan limbah industri, atau pendaurulangan sampah rumah tangga.

Bekerja sama dengan LSM yang berkecimpung dengan lingkungan atau stake holder yang peduli terhadap lingkungan untuk datang ke sekolah memberikan pelatihan juga menjadi alternatif bagi sekolah yang tidak memiliki dana atau kemampuan yang cukup untuk memberikan hal-hal seperti di atas. Sehingga, dengan cara ini tidak menjadi sesuatu yang memberatkan bagi sekolah.

Pembelajaran seperti di atas sudah diterapkan oleh beberapa sekolah yang memang di sekolahnya memiliki kurikulum pendidikan berwawasan lingkungan atau adanya guru-guru yang peduli terhadap lingkungan. Namun, dirasa akan lebih membawa dampak yang besar jika diwujudkan oleh seluruh sekolah negeri ini.

Dari uraian di atas kita melihat begitu pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini agar anak memiliki wawasan lingkungan yang lebih luas dan diharapkan dapat peduli terhadap lingkungan di daerahnya dan tentunya siap menghadapi bencana akibat lingkungan. Dari pembahasan di atas pula kita berpikir tidak diperlukannya pendidikan lingkungan sebagai suatu pelajaran yang berdiri tersendiri. Karena, bisa terintegrasi dengan bidang studi yang lain dalam bentuk model pembelajaran tematik.
 

WHEN SUHENG TALK... Template by Ipietoon Cute Blog Design