Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Monday, September 17, 2012

BEBAS BEREKSPRESI BUKAN BERARTI FULL FREE

Oleh: Iwan Gunawan
 
Betapa banyak karya-karya murahan dan mencari sensasi, dengan dilatarbelakangi oleh kebebasan berekspresi dan berpendapat, sebagaimana halnya film the Innocence of muslim, kartun menghina Rosulullah Muhammad SAW, buku Satanic Verses atau karya-karya murahan lain.

Kebebasan manusia dalam kehidupan bukan kehidupan bebas tanpa batas. Cobalah tengok ketika anda naik kendaraan, mengapa anda berhenti ketika lampu merah? karena anda dibatasi oleh undang-undang yang mengharuskan anda berhenti di lampu merah. kenapa anda tidak menerobos ? karena anda takut kena tilang. Begitu pula ketika anda mau BAB, kalau atas nama KEBEBASAN, maka anda boleh BAB dimana saja, bisa di WC, meja makan, kamar tidur atau di telpon umum. Tapi nyatanya anda tetap BAB di tempat semestinya yaitu WC. Mengapa demikian? karena anda terikat oleh norma dan aturan berlaku. So apabila anda melakukan sesuatu atas nama kebebasan FULL FREE...berhati-hatilah, karena anda tidak hidup sendiri dan anda butuh orang lain. Maka dari itu gunakan akal dan nalurimu, dan jangan gunakan nafsu dan amarahmu dalam berkarya...

Walaupun dicaci maki...ROSULULLAH TETAPLAH MANUSIA TERAGUNG SEPANJANG DUNIA ADA, bahkan ALLAH SANG KHALIK sangat memuji akhlaknya...Ya Nabi Salam Alaika...Ya Rosul Salam..Salam Alaika...

Friday, January 7, 2011

AKU SANG EJACULATOR

Oleh: Iwan Gunawan
 
Ujang (nama samaran) adalah seorang anak kecil yang masih duduk di kelas 5 SD dengan bangganya memperlihatkan akun facebook miliknya. Bagi dia, nama yang tertera di akun facebook terasa gagah dan lebih gaul. Maklum teman-teman sebayanya banyak juga yang menggunakan bahasa Inggris untuk nama akunya.
Tetapi, yang menjadi permasalahan adalah nama akun facebook yang saat ini dimiliki si ujang agak terasa janggal artinya. Disaat teman-temanya yang lain menggunakan nama seperti destroyer, bulldozer, eh...si ujang malah menggunakan nama EJACULATOR...tau artinya? mungkin hanya di Ujang yang bangga dengan nama akunnya ini...

Wednesday, May 6, 2009

Gara-Gara Nyamuk

Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd

Setibanya pulang kerja, aku langsung ke dapur mengambil segelas air untuk menghilangkan dahagaku..betapa air ini telah menghilangkan dahagaku. Akan tetapi ditengah keasyikanku minum, tiba-tiba...PLAK!..anakku yang pertama memukul tanganku yang sedang memegang gelas, dan kontan saja air yang sedang kuminum tumpah berceceran membasahi bajuku.
Mendapat perlakuan seperti ini, secara refleks kakiku hendak menendang anakku yang baru berumur 6 tahun ini. Akan tetapi kiranya Allah masih memberikan pelajaran bagiku supaya tidak kasar pada anakku, kakiku yang awalnya hendak menendang amanah Allah secara tak diduga malah menendang tumpukan panci...PRANG!!! suara panci berjatuhan dan mengagetkan anakku hingga menangis sambil berteriak "Ayah..! aku nggak sengaja.."
"Mengapa kamu memukul tangan ayah? ayah kan lagi minum...lihat baju ayah jadi basah begini!" tanyaku dengan nada tinggi
"Ayah..aku nggak sengaja..." sambil nangis dan memelukku..."Aa..hanya mukul nyamuk di tangan ayah.." lanjutnya.
Mendengar jawaban annaku, aku sedikit terhentak dan langsung melihat tanganku yang tadi dipukul...ternyata benar juga, seekor nyamuk telah mati tertempel ditanganku...Astaghfirullah, ternyata anakku telah menyelamatkan aku dari gigitan nyamuk, yang siapa tau bisa menyebabkanku demam berdarah..
Aku tersadar dan langsung minta maaf pada annaku sambil kupeluk..ternyata apa yang kita anggap jelek, belum tentu itu buruk bagi kita. Aku telah belajar sebuah hikmah dari annaku, ternyata keburukan yang dilakukan oleh seseorang belum tentu buruk buat kita..berbaik sangkalah terlebih dulu...Ya Allah ampuni kelemahan aku ini..engkaulah yang Maha Sempurna (Untuk anakku daffaa Aria Gunawan)

Wednesday, April 29, 2009

ORANG TUA CONTOH YANG NYATA

Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd
Tidak seperti biasanya Shabna murung ketika belajar. Anak yang biasanya riang ini tampaknya menyimpan suatu masalah yang sukar untuk diungkapkan. Kemurungan kian bertambah, ketika tiba-tiba Shabna menangis tersedu-sedu.
Banyak temannya yang mencoba mencari tahu apa alasan dia murung dan menangis, tetapi hasilnya tetap sia-sia. Shabna tetap bungkam dan engkar berbicara kepada siapapun.

Tapi anehnya, setelah dia mengikuti pelajaran ilmu sosial wajahnya agak berbinar dan mau berbicara dengan wali kelas, bahkan dia sempat berkata "aku telah mendapat jawabannya".

alkhirnya dia mau bicara juga, walaupun masih untuk kalangan terbatas terutama wali kelasnya. Shabna menceritakan bahwa kemurungannya diakibatkan oleh kemarahan yang dia terima dari orang tuanya, gara-gara Shabna meminta kedua orang tuanya untuk tidak merokok.

Sedangkan di sekolahnya, Shabna sudah mendapat doktrin yang cukup kuat perihal dampak buruk rokok bagi kesehatan, sehingga sikapnya dalam meminta orang tuanya untuk tidak merokok adalah sikap yang bijak dan murni dari seorang anak.

Teman, terkadang kita berbuat tidak adil kepada anak kita. Kita menyuruh dan melarang anak kita untuk tidak merokok, kita sendiri malah melakukannya. Menyuruh anak sholat, ternyata kita sendiri tidak sholat. Bagaimana hal ini bisa berhasil? Kitalah yang menjadi teladan pertama dan utama buat mereka.

Sunday, December 14, 2008

Guru adalah pekerjaan pengabdian?

Jaman dulu banyak orang yang tidak mau jadi guru, karena menjadi guru pada jaman dulu adalah pengabdian yang sebenarnya. Banyak guru yang hidupnya serba tidak kecukupan, tetapi mereka tetap bertahan dengan profesinya sebagai guru, karena tugas guru dianggap sebagai tugas mulia yang tidak bisa diukur dengan uang.

Guru pada saat itu banyak disegani oleh murid dan masyarakat karena keteladanannya, pengabdiannya, kesederhanaan dan pantang menyerah di tengah keserbatiadaan fasilitas dan kurangnya perhatian masyarakat/pemerintah terhadap profesi ini.

Tetapi, jaman sudah berubah. Guru tampaknya sudah menjadi suatu profesi yang menjanjikan, terutama dilihat dari segi penghasilan. Sehingga pada saatnya nanti tidak ada lagi guru yang miskin dan serba kekurangan, karena pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar 21 persen dari APBN untuk peningkatan kualitas pendidikan, termasuk di dalammnya kesejahteraan guru.

Saya pernah membaca tentang guru-guru yang lulus sertifikasi dan sebagai imbasannya guru-guru tersebut akan mendapat penghasilan kurang lebih Rp 5 juta perbulan. Dalam sebuah wawancara dengan salah seorang guru dinyatakan bahwa dengan adanya kenaikan penghasilan dan tunjangan, maka ia akan bisa berkonsentrasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan tidak akan terganggu dengan hal-hal yang sifatnya mencari penghasilan sampingan. Tapi bukankah pengabdian tidak diukur dari besar kecilnya penghasilan? Bukankah pendidikan berkualitas itu bukan harus menunggu hasil sertifikasi dan gaji besar? Semua berpulang pada kita. Maukah kita mengurus anak didik kita dengan dengan tanpa diembeli “menunggu”…menunggu gaji besar dan lulus sertifikasi.

Tapi bisakah gaji yang besar menjadi “jaminan” meningkatnya kualitas pendidikan? Wallahu alam.

Saat ini, banyak guru yang mangkir disaat bertugas, sehingga satpol PP harus turun tangan, guru yang dengan seenaknya ‘nempeleng’ anak secara antri, guru yang melakukan pelecehan pada siswa, merokok di depan siswa, jalan-jalan dengan yang bukan mukhrimnya dan masih banya kasus lain…walaupun hal ini tidak bisa digeneralisir.

Ternyata menjadi guru sudah bukan lagi “pengabdian” murni. Pengabdian guru pada saat ini adalah pengabdian bersyarat. Guru sudah menjadi profesi seperti halnya dokter di rumah sakit, yang lebih mendahulukan ‘duit’ ketimbang ‘mengurus’ pasien. Guru sudah jadi barang industri pendidikan. Setuju atau tidak, terserah anda!

Thursday, June 12, 2008

SILATURAHMI YANG ILEGAL

Silaturahmi pada dasarnya dilakukan untuk menciptakan suatu hubungan persaudaraan yang erat dan terbebas dari segala dengki, dendam dan tanpa ada pamrih. Silaturahmi adalah perbuatan yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahkan bagi siapa saja yang memutuskan silaturahmi maka dia bukan termasuk golongannya.

Silaturahmi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan, hingga silaturahmi dianggap sebagai hal yang harus dilakukan oleh semua manusia, terlepas dari agama dan kepercayaan yang dianutnya. Kalau tak salah “menilai” silaturahmi adalah perbuatan yang wajib.

Pagi ini, kira-kira pukul 09.00 pagi, saya beserta guru-guru yang lainnya mengantar siswa berwisata ke Taman Bunga Nusantara. Kami menuju menuju tempat wisata dengan menumpang 8 bus. Selama perjalanan kami berusaha untuk menikmati perjanalan..namanya juga wisata.

Tapi ketika bus kami hendak masuk wilayah Cianjur menuju Sukabumi, ada suatu pemandangan yang sangat “indah” untuk diabadikan oleh ‘candid camera’. Sebuah pemandangan yang saya sebut sebagai ‘silaturahmi yang ilegal’. Kenyaman kami di bus sempat terganggu beberapa detik oleh para kenek bus yang berloncatan ke luar menuju kantor polisi secara tergesa-gesa, sambil memegang amplop putih ‘yang entah apa isi didalamnya”.

Senyum pun terkuak dari wajah para kenek ketika keluar dari kantor polisi tersebut sambil menuju bus yang dikenekinya. Ditengah engahan nafas kenek bus yang saya tumpangi, saya mencoba bertanya kepada supir ‘apa yang dilakukan oleh para kenek itu?”. Supir pun menjawab bahwa setiap bus pariwisata yang melewati kawasan ‘tertentu’ diwajibkan setor muka dengan ‘sejumlah uang’, yang kalau saya mengenalnya sejak dulu sebagai ‘salam temple (uang)”…wah kalau begini susah dong memberantas korupsi! Sebab aparatnya (pengayom dan pelindung masyarakatnya) juga ikut menarik dana illegal dari masyarakat…gimana nih, pak polisi?
 

WHEN SUHENG TALK... Template by Ipietoon Cute Blog Design