SEKOLAH PEMBENTUK AKHLAK

April 24, 2009

By Hessy Widiyastuti, S.Psi
Saat Silaturahmi Lebaran tahun 1429 H bertepatan dengan hari Ahad, tgl 19 Oktober 2008 di lingkungan intern Salman Al Farisi, yang dihadiri oleh dewan pengurus YYS, perwakilan guru, dan karyawan serta perwakilan orangtua murid Salman Al Farisi, Bpk Dr.Muslimin Nasution, Apu sebagai ketua dewan Pembina yys Salman menyampaikan orasinya yang intinya meminta semua stakeholders yys Salman al Farisi bersama membangun system pendidikan yang mengedepankan teknologi informasi, penggunaan Bahasa Inggris dalam pembelajaran dan yang paling penting menanamkan nilai moral dan membangun akhlak mulia.

Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ, dan EQ secara efektif. Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif. Unit TK sebagai salah satu bagian dari unit pendidikan dasar Alhamdulillah sejak diberlakukannya model pembelajaran BCCT ( Beyond Centre & Circle Time) pada tahun 2006, sudah mulai melakukan ketiga point penting yang disampaikan Bapak Muslimin. Yang paling menonjol dalam hasil yang dapat dilihat adalah pembentukan karakter dan akhlak mulia anak baik dalam bersikap maupun berucap. Sebagai gambaran, semua ibu guru TK telah terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam keseharian mereka, seperti Alhamdulillah,

Subnallah,Astaghfirullah atau Allah Akbar.Ibu guru juga terbiasa mengucapkan kata ‘maaf’ jika menegur perilaku atau ucapan anak yang kurang terpuji. Misalnya ,“maaf, mohon sandalnya dilepas di batas bersih!” atau “Maaf, tolong sebaiknya tidak naik-naik ke atas meja!”. Ibu guru pun tidak segan mengucapkan terima kasih jika anak sudah membantu dan menunjukkan perilaku terpuji. Misalnya ,“terima kasih ananda… sudah membantu ibu guru membereskan mainan.” Atau “Terima kasih ananda… sudah shalat dan berdzikir dengan khusu.” Teladan dalam tingkah laku dan berucap dari guru tampaknya membekas dan tertanam dalam hati anak TK. Berikut ini saya kutipkan beberapa respon dan komentar anak-anak TK A1 dalam menanggapi suatu kejadian yang menunjukkan akhlak terpuji.

Peristiwa 1.
Siang itu di Tk Salman tidak ada air, setelah makan siang anak-anak TK diminta untuk mencuci piring sendiri, untuk melatih kemandirian mereka. Prana sudah selesai makan, ia segera pergi ke tempat cuci piring, tapi beberapa saat kemudian ia kembali ke kelas sambil berkata, “Bu guru maaf, saya tidak bisa mencuci piring karena tidak ada air.” “oh, tidak apa-apa Prana, simpan saja di tempat cucian”, jawab ibu guru Tidak lama kemudian air kran kembali menyala. Dan Prana yang tahu kejadian itu langsung berkomentar, “Alhamdulillah air sudah ada, sekarang saya bisa mencuci piring.”

Peristiwa 2.
Suatu waktu ibu guru tengah menegur seorang anak A1 yang melakukan perilaku kurang terpuji, suaranya agak keras dengan mimik wajah (mungkin) tampak galak. Nadhira yang melihatnya langsung menegur, “maaf, ibu guru marah?” Ibu guru dengan setengah kaget menjawab, “ oh, tidak , Ibu guru hanya sedang menegur anak yang belum paham peraturan.” Nadhira kembali bertanya,“ Tapi kenapa wajahnya begitu, aku jadi takut!”

Peritiwa 3
Suatu siang, saat sedang membimbing shalat, ibu guru batuk-batuk. Kirana langsung berkomentar dan menunjukkan empatinya. “Ibu guru sakit yah? Ibu guru harus istirahat, nanti saat anak-anak tidur siang, bu guru harus ikut tidur!” “Subhanallah”, ibu guru terharu, “Terima kasih kirana atas perhatiannya.”

Peristiwa 4
Pagi hari sebelum bel masuk anak-anak biasa bermain di halaman, Pagi itu Prana mimisan dan diantar Nara menghampiri ibu guru di kelas. “ bu guru, ini Prana mimisan.”Kata Nara. “mengapa sampai mimisan ?” Tanya Ibu guru. “soalnya Prana kecapean kejar-kejar kodok Bu.”Jawab Nara. “oh, begitu, sini nak ibu bersihkan darahmu.” “Nah Prana jangan kejar-kejar kodok lagi yah! Nanti mimisan lagi.” Nasehat Nara kepada Prana.

Peristiwa 5
Saat itu bulan Ramadhan, semua anak TK dilatih untuk berpuasa setengah hari. Hari masih pagi, saat sedang mengerjakan tugas, Nadhira menghampiri ibu guru dan berbisik,” ibu, perutku sakit, tadi pagi aku muntah dan makanku sedikit.” Ibu guru mengelus perut Ndhira sambil berkata, “ perutnya betul-betul sakit? Mau berbuka?” Nadhira mengangguk. “ Nanti waktu istirahat tiba Nadhira boleh berbuka, tapi ngumpet ya! Jangan sampai ketahuan teman-teman!” saran bu guru. Nadhira mengangguk dan kembali mengerjakan tugasnya. Beberapa saat kemudian ia kembali menghampiri ibu guru sambil berbisik, “Ibu guru , kalau akau ngumpet, Allah tahu kan aku tidak puasa?” Ibu guru kaget mendengar pertanyaan itu, tapi langsung menjawabnya“Oh iya, Allah maha tahu, tapi Allah juga maha pemaaf, Allah membolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa. Ibu guru meminta Nadhira ngumpet, bukan ngumpet dari Allah, tapi ngumpet dari teman-teman, takutnya kalau teman-teman tahu, mereka jadi ingin berbuka juga, padahal mereka tidak sakit.”

Peristiwa 6
Di Tk Salman setiap hari setelah selesai belajar, semua anak dibiasakan untuk berwudhu dan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di kelas masing-masing. Ada dua orang anak TK yang masih bermain-main di tempat wudhu saat shalat akan berlangsung. Saat dipanggil masuk baju mereka basah dan kotor. Ibu guru menasehati dengan nada cukup tinggi karena kejadian ini sudah mereka lakukan berkali-kali. “ ibu guru marah sama vidi dan Prana, karena tidak paham aturan, ibu guru sering ingatkan kita harus menghemat air, sebaiknya membuka kran tidak besar-besar cukup sedikit saja. Sehingga airnya tidak basah ke baju !” Beberapa saat kemudian setelah berganti baju dan melaksanakan shalat dzuhur, saat sujud vidi terpeleset dan keningnya membentur lantai dengan keras. “innalilahi wa inna illaihi roji’un, sini nak ibu obati lukamu”

sambil mengobati luka vidi ibu guru memberi nasehat kepada semua anak. “Nah anak-anak itu pertanda Allah marah kepada anak yang tidak patuh kepada ibu guru. Ibu guru sayang kepada semua anak, kalau ibu guru marah itu karena sayang sama anak-anak, sekarang kita lanjutkan shalatnya.” Setelah selesai shalat, Nadhira menghampiri ibu guru dan berkata, “ ibu guru tadi saya mau nangis waktu ibu guru nasehatin vidi, kasihan vidi, juga ibu guru jadi sedih yah? Tapi nangisnya si tahan.” “Subhanallah, ibu guru terharu mendengarnya, terima kasih atas perhatian Nadhira.”Kata ibu guru sambil memeluk Nadhira dengan hangat. Selain beberapa kisah penuh hikmah, ada juga anekdot dari anak-anak yang lucu dan menggelikan.

Anekdot 1
Anak-anak Tk setelah bel masuk, dibiasakan duduk melingkar di atas karpet, berdoa surat Al Fatihah dan do’a belajar dipimpin oleh anak yang hari itu mendapat giliran piket menjadi pemimpin do,a. “teman-teman sudah siap?” kata Ali. “Siappp” jawab semua anak. “angkat tangannya tundukkan kepalanya, berdoa sebelum belajar dimulai !” Setelah selesai berdoa, ibu guru mengabsen semua anak, jika ada anak tidak masuk karena sakit, semua anak berdoa untuk teman atau pun ibu guru yang tidak masuk. “ ayo anak-anak kita berdoa untuk anaknya Bu Aal yang sedang sakit panas, katanya panasnya tinggi sekali !” ajak ibu guru. Tiba-tiba Vidi bertanya, “berapa meter tingginya Bu ?” Ibu guru tersenyum geli,” oh panasnya tidak bisa diukur dengan meteran vidi, tapi dengan alat yang namanya thermometer, nanti ibu perlihatkan yah alatnya.”

Anekdot 2
Saat tema kebersihan, guru becerita tentang seorang anak yang malas bangun pagi dan malas mandi. “ Ada seorang anak bernama X, jika akan sekolah ia sulit dibangunkan, mamanya sampai menggendongnya ke kamar mandi, tapi setelah sampai di kamar mandi X tetap tidak mau mandi. Akhirnya ia hanya cuci muka. Suatu hari badan X gatal-gatal, kulit merah dan bentol-bentol, Nah X kena batunya, karena ia tidak pernah mandi ia jadi kena kuman gatal.” Tiba-tiba Azka bertanya, “ kenapa X nya harus dibatuin Bu ?” Ibu guru tersenyum geli, “maksud ibu guru X mendapat hukuman atas ulahnya yang malas mandi sehingga kuman senang hinggap di badannya.”

Anekdot 3
Saat tema cita-citaku, ibu guru merangsang pengetahuan anak tentang beberapa profesi. “ anak tahu orang yang kerjanya mencari ikan di laut ?” Tanya ibu guru. Anak-anak tidak ada yang menjawab. “ Ne…” ,ibu guru memberi petunjuk. Anak-anak masih tidak memiliki ide untuk menjawab. “Nela…”, ibu guru menambah satu suku kata petunjuk. Prana mendengarnya nera…, maka ia spontan menjawab, “Neraka !” “Hi..hi..hi.., bukan neraka sayang tapi nelayan.” Kata ibu guru “anak-anak tahu orang yang kerjanya memperbaiki mobil ?” Anak-anak diam. Sekali lagi ibu guru memberi petunjuk, “Mon…” Ezra spontan menjawab, “monyet !” “Hi..hi..hi..,bukan monyet soleh tapi montir.” Kata ibu guru sambil tersenyum geli. Itulah beberapa kisah yang menunjukkan betapa ucapan dan perilaku guru dapat sangat berpengaruh dan membekas dalam diri anak. Semoga guru-guru Salman Al Farisi dapat tetap istiqomah membentuk generasi rabbani yang berakhlak mulia. Amin.

By : Hessy Widiyastuti, S.Psi Guru TK Salman Al Farisi
Pemenang Ke-3 LKGDP tingkat Nasional 2007

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images