Aku Diwawancara di Radio

October 16, 2008

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau dari tulisan saya di republika tentang "berkarakterkah kita sebagai guru?" mendapat sambutan dari Dradio 103.4 fm Jakarta untuk mewancarai saya dengan dipandu oleh Ibu Neno Warisman..alhamdulillah. Berikut petikan wawancara saya.

Laporan: Nuning/Patricia

[''Jakarta Sore'' Senin - Jum'at, 16.00-18.00 WIB]

D Listener, Magic Daddy minggu ini membahas “sosok ayah takambang jadi guru” bersama Neno Warisman dan Nuning. Mengawali Magic Daddy, Neno Warisman menjelaskan fungsi ayah-guru yaitu untuk mengembangkan cakrawala untuk anak-anaknya, baik anak kandung, anak didik ataupun anak dalam pengasuhannya.

Sementara, definisi guru menurut Ayah Pengembara (Bp Irwan) bukan hanya pengajar tapi juga seorang trainer, seorang distributor, merangkap entertain. Sosok guru dari seorang ayah hanyalah 30% sebagai pengajar, selebihnya adalah sebagai fasilitator, entertain dll. Ditegaskan oleh Ayah Pengembara bahwa alam adalah guru paling utama untuk anak, dan jembatan pengenal bagi anak adalah ayah. 

DR Gutomo, Guru Besar Pendidikan Anak Dini Usia, juga urun bicara dan berbagi pengalaman sebagai guru. Pengertian guru yang benar bagi Pak Gutomo, guru bukan hanya memberikan ilmu tapi juga memberikan teladan, karena pendidikan harus seimbang antara mengembangkan ilmu pengetahuan dan tutur kata, pribadi serta perilaku. Guru pendidik usia dini, bukan hanya mengajarkan pada anak agar anak tahu, tapi memberikan contoh langsung.
Ditambahkan juga, kualitas guru ketika ditempatkan pada “ke-ayah-annya” sering ditempatkan salah. Ketika sang ayah menjadi guru, hanya akan mengajar dan memberikan ilmu pada anak murid terbatas pada profesinya, dan ketika berada di rumah akan mendelegasikan urusan anak pada ibunya. Padahal anak membutuhkan gambaran positif bagaimana seorang lelaki dari sang ayah, bagaimana menjadi orang yang perkasa dan penyayang. Pertanyaan Neno, “bagaimana sang ayah menjadi ayah takambang bagi anaknya disela waktu sibuknya?”. Menurut Pak Gutomo, “Ayah yang sibuk pun, harus bisa menjadi teman curhat dan teman untuk bertanya bagi anaknya, selain dari ibunya. Perhatian pada anak juga bisa ditunjukkan dengan mencium kening ketika sedang belajar, atau komunikasi via sms”

Di sela siaran Magic Daddy, Neno Warisman juga menyinggung guru yang sangat berarti dalam hidupnya, yang sudah memberikan support ketika Neno mengikuti perlombaan-perlombaan, bapak guru Bernhard Hutagaol, yang juga seorang ayah.

Maha Guru, Bp Buchori Nasution, Pendiri Sekolah bagi Kepala Sekolah (Lembaga Manajemen Pendidikan Indonesia School of Education, Jl Utan Kayu 20A, Jakarta Timur. Ph.021-8516129, 021-92733182), berhasil untuk diwawancarai dalam Magic Daddy. Pertanyaan pertama bagi bapak Buchori, ”mengapa tertarik untuk mendirikan sekolah bagi Kepala Sekolah?”. Dijawab lugas bahwa yang paling penting dari guru adalah profesi moral dan ahlak; Bagaimana ahlak kita terhadap Allah, terhadap sesama manusia dan terhadap alam. Perbedaan dari sekolah bagi Kepala Sekolah ini adalah penguasaan leadership, ada 7 item dalam hal kepemimpinan:

  1. Mengenal diri: siapa saya, apa potensi dalam diri saya, apa tujuan hidup dll
  2. Komunikasi: bukan hanya mendengar, berbicara, menulis, membaca tapi juga belajar bahasa isyarat
  3. Ahlak: dalam dunia kerja 90% akan dituntut ahlak. Ahlak terhadap manusia, dijabarkan: mau berbagi pada orang, loyal, jujur, mau bertanggung jawab dll
  4. Cara belajar yang baik : jika sudah didapatkan cara belajar yang baik, akan cocok dengan semua disiplin ilmu
  5. Proses Membuat Keputusan : bagaimana individu membuat keputusan dan bagaimana kelompok membuat keputusan
  6. Mengatur : Pemimpin harus bisa mengatur, mengetahui pola mengatur apa dan siapa
  7. Organisasi, himpunan potensi dengan visi, misi dan tujuan yang jelas

Dalam Magic Daddy edisi 12 Februari 2008 ini Dik Doang (musisi dan pendiri sekolah Kandang Jurang, Ph.021-9146523) juga menjelaskan historikal dan filosofi dari didirikannya sekolah Kandang Jurang.

Sms dari D Listener, Bp Rony, mempertanyakan sosok ayah takambang menjadi guru, terkait dengan sekolah gratis tapi kebebasan pemberdayaan guru dan ide guru dipasung. Pertanyaan ini pun terjawab setelah mewawancara seorang guru dan juga penulis, Bp Iwan Gunawan, (penulis dalam kolom guru menulis di harian Republika dengan artikel ”Berkarakterkah kita sebagai guru?” dan guru SD Salman Al-Farisi Bandung). Dijelaskan bahwa pemasungan tidak terjadi pada pengajar di SD Salman Al-Farisi Bandung dan anak-anak didiknya. Anak-anak didik diberikan kebebasan untuk “protes” jika melihat ada hal yang perlu dikoreksi dalam tugas atau pengajaran gurunya. Bukan hanya kebebasan berpendapat yang diberikan, tapi juga kedekatan pada anak-anak, menjadi teman bagi anak-anak.

Ketika disinggung mengenai gaji yang didapatkan dari guru, Bp Rony menjawab ”Secara logika, tidak cukup. Tetapi secara bersyukur, itu cukup. Kita harus bersyukur berapapun yang kita dapat.” 

Announcer : Nuning & Neno Warisman

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images