Sunday, January 27, 2008

Guru dan Watak Bangsa

oleh: Helena Asri Sinawang, Guru SMAN 1 Bandung

Berbagai kasus yang terjadi dalam beberapa dasa warsa terakhir ini telah menyadarkan semua pihak bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam dunia pendidikan secara keseluruhan. Misalnya gejala penyalahgunaan obat terlarang, pergaulan bebas, penggunaan ijazah dan gelar palsu, tawuran pelajar dan bahkan tawuran antar kelompok masyarakat yang dirasakan sangat mengkhawatirkan ketenangan hidup masyarakat. Hal ini dituding sebagai fenomena kegagalan pendidikan.

Banyak pihak (termasuk pakar pendidikan) mengatakan, pendidikan telah menyimpang dari amanatnya untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam realitasnya pendidikan tidak lagi berada dalam koridor platformnya sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat 1 UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, yakni satu upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdesan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kecenderungan yang muncul, pendidikan dipersempit menjadi "persekolahan" yang kemudian dipersempit lagi dengan "pengajaran". Selanjutnya "pengajaran" dipersempit kembali dengan "pengajaran di ruang kelas" dan semakin sempit menjadi penyampaian materi kurikulum yang hanya berorientasi pada pencapaian ujian akhir (Ebtanas).

Penyempitan seperti ini hanya berorientasi pada aspek kognitif dan intelektual. Sedangkan unsur fundamental yang berakar pada nilai moral dari pendidikan itu sendiri terlupakan. Sehingga pendidikan hanya menghasilkan manusia yang skolastik dan pandai secara intelektual namun kurang memiliki keutuhan pribadi.

Keadaan ini telah menyadarkan pihak yang peduli untuk mengembalikan pendidikan pada supremasinya sebagai infrastruktur pembentukan dan pengembangan berbagai dimensi kepribadian secara serasi, selaras dan seimbang. Sehingga pendidikan tidak hanya bersifat skolastik namun juga memiliki nilai.

Untuk itu, diperlukan pendidikan budi pekerti yang merupakan aspek efektif dalam diri seseorang yang berlandasakan nilai-nilai sebagai rujukan berperilaku normatif. Ini didapatkan melalui pengalaman dan pendidikan yang memungkinkan seseorang untuk belajar dan berkembang. Melalui pengalaman inilah seseorang mendapatkan patokan dalam bertingkah laku di kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang disebut nilai, yang menunjukkan apa yang cenderung kita lakukan dalam waktu-tempat tertentu atas dasar keyakinan dan penghargaan tertentu. Seiring dengan waktu, nilai ini akan berkembang dan menjadi matang.

Nilai merupakan bagian dari kehidupan, karenanya akan melibatkan tantangan, pertentangan, keseimbangan sehingga memerlukan suatu pertimbangan yang matang. Perwujudan suatu nilai dilakukan melalui suatu proses pemilihan, penghargaan dan tindakan. Dengan fungsi sebagai standar perilaku, dasar penyelesaian konflik dan pembuatan keputusan, sumber motivasi, dasar penyesuaian diri, dan dasar perwujudan diri. Nilai pada hakikatnya merupakan suatu bentuk pengalaman yang dirancang secara normatif, sistematis dan bertujuan. Karenanya pendidikan nilai harus mampu menyentuh sisi afektif peserta didik dengan menggunakan pendekatan-pendekatan afektif melalui keteladanan, pengajaran, pengalaman khusus, hukuman dan ganjaran, situasi lingkungan kelembagaan, dan layanan bimbingan .

didikan digunakan pendekatan holistik yang merupakan pendekatan yang mengharuskan pendidikan dipadang sebagai satu keutuhan dalam berbagai aspek dimensi. Seperti landasan, tujuan, isi, strategi, pelaksanaan dan operasional. Dengan fokus utama yaitu pemberdayaan pribadi, berpusat pada keluarga dengan berakar pada nilai religi, bernuansa pendidikan, dan berlangsung dalam harmoni budaya bangsa serta perkembangan global.

Untuk itu, guru harus menjadi pribadi efektif dan tolak ukur kualitas kebangsaan dengan didukung lima unsur, yaitu penalaran, sumber daya, pengetahuan, fungsi utama, dan kualitas watak. Watak bangsa merupakan manifestasi pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah (keluarga dan masyarakat) masyarakatnya.

Karenanya reformasi pendidikan yang paling fundamental hakikatnya adalah pembentukan watak yang utuh. Dalam era reformasi, pendidikan harus mampu mengembangkan peserta didik menjadi sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa, mandiri, kreatif, dan berwawasan masa depan. Sehingga lebih bermakna bagi individu, masyarakat ataupun bangsa dan negara.

Mencetak Dokter Profesional dan Religius

(Republika)--Dokter tak sekadar ilmuwan. Karena berhubungan dengan manusia, diperlukan figur seorang dokter yang tidak saja memiliki kemampuan medik maupun juga berdedikasi. Karena itu, selain ilmu pengetahuan, pada pendidikan kedokteran perlu ditanamkan nilai-nilai agama dan humanisme yang tinggi.

"Dalam bekerja, seorang dokter harus ikhlas. Karena kesembuhan pasiennya bukan semata-mata hasil jerih payahnya, namun juga ada kehendak Tuhan," jelas Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dr Syafri Guricci, MSc.
Syafri menjelaskan, saat ini ada dua konsep besar yang digunakan dalam mendidik seseorang untuk menjadi dokter yang profesional dn religius. Konsep pertama adalah, pendidikan mengenai agama sebelum mahasiswa tersebut mendalami pendidikan kedokteran. Sehingga mahasiswa tersebut memiliki dasar agama yang kuat yang dapat digunakan ketika mahasiswa tersebut dihadapkan kepada suatu masalah.

Sedangkan konsep kedua adalah, mengintegrasikan atau menggabungkan antara materi mengenai nilai agama dan materi ilmu kedokteran. Dengan begitu, ketika menghadapi suatu masalah, mahasiswa langsung diberikan pemahaman akan nilai agama yang berkaitan dengan masalah tersebut. Namun, Syafri mengatakan tidak puas jika konsep itu dijalankan secara terpisah. Karenanya, ia mengaplikasikan kedua konsep tersebut secara bersamaan. Yaitu, diberikan pendidikan agama sebelum mahasiswa mendalami ilmu kedokteran. Ditambah penjelasan mengenai nilai agama pada saat memberikan materi ilmu kedokteran.

Untuk menerapkan gabungan dari kedua konsep tersebut, Syafri membuat beberapa program. Di antaranya adalah program pesantren untuk mahasiswa UMJ baru. Program pesantren ini biasanya dilakukan di Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung. Selama sepuluh hari, mahasiswa diajarkan mengenai disiplin dan nilai-nilai agama secara intens. Tidak hanya itu, mahasiswa juga diharuskan untuk tinggal di asrama selama menjalani kuliah di UMJ. Asrama mahasiswa berlokasi di dua tempat, yaitu di Cirendeu dan Cempaka Putih.

Tujuan dari mahasiswa tinggal di asrama, agar waktu belajar mahasiswa tidak terbuang percuma. Syafri mengatakan, jika mahasiswa tidak diasramakan, maka banyak waktu yang terbuang. Seperti waktu untuk pergi ke kampus dan sebagainya. Selain itu, di asrama disediakan fasilitas belajar yang mendukung. Di antaranya adalah perpustakaan yang memiliki akses internet yang dibuka hingga 24 jam. Di sisi lain, proses penanaman nilai-nilai keagamaan dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Selama dua semester awal, mahasiswa diasramakan di Cirendeu. Di sana, mereka diberikan mengenai materi dasar kedokteran dan materi keagamaan "Bobot materi keagamaan juga kami berikan pun lebih banyak, yaitu 10 SKS. Jauh lebih banyak dari standar yang diberikan pemerintah yang hanya dua SKS," jelas Syafri.

Selama memberikan materi, selalu diberikan penanaman akan nilai agama. Terutama nilai agama yang memiliki hubungan dengan materi. Srafri mencontohkan, salah satu kebesaran Tuhan dapat terlihat dari paru-paru manusia. Paru-paru satu manusia jika dibentangkan dan dihubungkan dapat mencapai ukuran 15 kilometer pesegi.

Penanaman nilai agama tidak hanya diberikan sebatas pemberian mata kuliah. Namun juga dilakukan melalui penciptaan lingkungan yang religius melalui penerapan nilai agama dalam keseharian kampus. Misalnya, ada satu aturan yang mengatur bahwa jam kuliah tidak boleh bentrok dengan waktu-waktu adzan. Jadi perkuliahan harus selesai atau dimulai sebelum adzan. Dengan begitu, baik mahasiswa dan dosen bisa shalat segera. Atau juga diadakannya pengajian dan kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan.

Hubungan antar mahasiswa juga dibina. Ini dilakukan dengan menjadikan mahasiswa senior sebagai pembimbing belajar. Sehingga antara mahasiswa senior dan mahasiswa baru terbina hubungan yang baik. Meskipun begitu, Syafri mengaku, ilmu kedokteran dan pendidikan keagamaan tidak cukup untuk menciptakan seorang dokter yang religius. Diperlukan juga pendidikan terhadap kemampuan emosional mahasiswa. "Kemampuan intelektual berkaitan dengan ilmu kedokteran, kemampuan spiritual berkaitan dengan ilmu agama, sedangkan kemampuan emosional berkaitan nurani mahasiswa tersebut," jelas Syafri.

Harus ada nilai-nilai humanisme atau kemanusiaan yang ditanamkan dalam diri seorang dokter. Karena dokter merupakan profesi yang sangat erat berkaitan dengan hidup manusia. Untuk kemampuan emosional dapat bentuk melalui kegiatan-kegiatan di luar proses belajar mengajar. Seperti memberikan bantuan kepada kaum dhuafa, khususnya pada saat bulan ramadhan. Kemudian ekstrakurikuler mahasiswa yang memiliki hubungan dengan masyarakat. Atau juga kegiatan seperti pengajian bersama hingga kegiatan seni.

Semuanya ini, bertujuan untuk membangun empati dan sensivitas mahasiswa. Sehingga ketika mereka menjadi dokter, akan memiliki tingkat kesadaran tinggi untuk menolong orang lain. Semuanya dilakukan tanpa memandang siapa yang mereka tolong. "Dengan begitu, diharapkan dapat menciptakan dokter yang ikhlas," tegasnya.ci1
 

WHEN SUHENG TALK... Template by Ipietoon Cute Blog Design