Mencetak Dokter Profesional dan Religius

January 27, 2008

(Republika)--Dokter tak sekadar ilmuwan. Karena berhubungan dengan manusia, diperlukan figur seorang dokter yang tidak saja memiliki kemampuan medik maupun juga berdedikasi. Karena itu, selain ilmu pengetahuan, pada pendidikan kedokteran perlu ditanamkan nilai-nilai agama dan humanisme yang tinggi.

"Dalam bekerja, seorang dokter harus ikhlas. Karena kesembuhan pasiennya bukan semata-mata hasil jerih payahnya, namun juga ada kehendak Tuhan," jelas Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dr Syafri Guricci, MSc.
Syafri menjelaskan, saat ini ada dua konsep besar yang digunakan dalam mendidik seseorang untuk menjadi dokter yang profesional dn religius. Konsep pertama adalah, pendidikan mengenai agama sebelum mahasiswa tersebut mendalami pendidikan kedokteran. Sehingga mahasiswa tersebut memiliki dasar agama yang kuat yang dapat digunakan ketika mahasiswa tersebut dihadapkan kepada suatu masalah.

Sedangkan konsep kedua adalah, mengintegrasikan atau menggabungkan antara materi mengenai nilai agama dan materi ilmu kedokteran. Dengan begitu, ketika menghadapi suatu masalah, mahasiswa langsung diberikan pemahaman akan nilai agama yang berkaitan dengan masalah tersebut. Namun, Syafri mengatakan tidak puas jika konsep itu dijalankan secara terpisah. Karenanya, ia mengaplikasikan kedua konsep tersebut secara bersamaan. Yaitu, diberikan pendidikan agama sebelum mahasiswa mendalami ilmu kedokteran. Ditambah penjelasan mengenai nilai agama pada saat memberikan materi ilmu kedokteran.

Untuk menerapkan gabungan dari kedua konsep tersebut, Syafri membuat beberapa program. Di antaranya adalah program pesantren untuk mahasiswa UMJ baru. Program pesantren ini biasanya dilakukan di Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung. Selama sepuluh hari, mahasiswa diajarkan mengenai disiplin dan nilai-nilai agama secara intens. Tidak hanya itu, mahasiswa juga diharuskan untuk tinggal di asrama selama menjalani kuliah di UMJ. Asrama mahasiswa berlokasi di dua tempat, yaitu di Cirendeu dan Cempaka Putih.

Tujuan dari mahasiswa tinggal di asrama, agar waktu belajar mahasiswa tidak terbuang percuma. Syafri mengatakan, jika mahasiswa tidak diasramakan, maka banyak waktu yang terbuang. Seperti waktu untuk pergi ke kampus dan sebagainya. Selain itu, di asrama disediakan fasilitas belajar yang mendukung. Di antaranya adalah perpustakaan yang memiliki akses internet yang dibuka hingga 24 jam. Di sisi lain, proses penanaman nilai-nilai keagamaan dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Selama dua semester awal, mahasiswa diasramakan di Cirendeu. Di sana, mereka diberikan mengenai materi dasar kedokteran dan materi keagamaan "Bobot materi keagamaan juga kami berikan pun lebih banyak, yaitu 10 SKS. Jauh lebih banyak dari standar yang diberikan pemerintah yang hanya dua SKS," jelas Syafri.

Selama memberikan materi, selalu diberikan penanaman akan nilai agama. Terutama nilai agama yang memiliki hubungan dengan materi. Srafri mencontohkan, salah satu kebesaran Tuhan dapat terlihat dari paru-paru manusia. Paru-paru satu manusia jika dibentangkan dan dihubungkan dapat mencapai ukuran 15 kilometer pesegi.

Penanaman nilai agama tidak hanya diberikan sebatas pemberian mata kuliah. Namun juga dilakukan melalui penciptaan lingkungan yang religius melalui penerapan nilai agama dalam keseharian kampus. Misalnya, ada satu aturan yang mengatur bahwa jam kuliah tidak boleh bentrok dengan waktu-waktu adzan. Jadi perkuliahan harus selesai atau dimulai sebelum adzan. Dengan begitu, baik mahasiswa dan dosen bisa shalat segera. Atau juga diadakannya pengajian dan kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan.

Hubungan antar mahasiswa juga dibina. Ini dilakukan dengan menjadikan mahasiswa senior sebagai pembimbing belajar. Sehingga antara mahasiswa senior dan mahasiswa baru terbina hubungan yang baik. Meskipun begitu, Syafri mengaku, ilmu kedokteran dan pendidikan keagamaan tidak cukup untuk menciptakan seorang dokter yang religius. Diperlukan juga pendidikan terhadap kemampuan emosional mahasiswa. "Kemampuan intelektual berkaitan dengan ilmu kedokteran, kemampuan spiritual berkaitan dengan ilmu agama, sedangkan kemampuan emosional berkaitan nurani mahasiswa tersebut," jelas Syafri.

Harus ada nilai-nilai humanisme atau kemanusiaan yang ditanamkan dalam diri seorang dokter. Karena dokter merupakan profesi yang sangat erat berkaitan dengan hidup manusia. Untuk kemampuan emosional dapat bentuk melalui kegiatan-kegiatan di luar proses belajar mengajar. Seperti memberikan bantuan kepada kaum dhuafa, khususnya pada saat bulan ramadhan. Kemudian ekstrakurikuler mahasiswa yang memiliki hubungan dengan masyarakat. Atau juga kegiatan seperti pengajian bersama hingga kegiatan seni.

Semuanya ini, bertujuan untuk membangun empati dan sensivitas mahasiswa. Sehingga ketika mereka menjadi dokter, akan memiliki tingkat kesadaran tinggi untuk menolong orang lain. Semuanya dilakukan tanpa memandang siapa yang mereka tolong. "Dengan begitu, diharapkan dapat menciptakan dokter yang ikhlas," tegasnya.ci1

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images