GURU SEBAGAI ENTERTAINMENT AGENT

February 21, 2013

GURU SEBAGAI ENTERTAINMENT AGENT
Oleh Iwan Gunawan
Guru SD Salman Al Farisi Bandung

“entertainer itu adalah seseorang yang mampu menghibur dengan kemampuan yang dia miliki. baik itu kemampuan dalam akting, dalam bicara, dan dalam tingkah lakunya”
Kurikulum memegang peranan penting dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Seiring dengan perkembangan jaman dan tuntutan dari masyarakat, maka dunia pendidikan harus melakukan inovasi dalam pendidikan. Inovasi pendidikan akan berjalan dan mencapai sasarannya jika progam pendidikan tersebut dirancang dan di implementasikan sesuai dengan kondisi dan tuntutan jaman.
Sebagai implikasi dari pentingnya inovasi pendidikan menuntut kesadaran tentang peranan guru. Sebagai tenaga professional, guru merupakan  pintu gerbang inovasi sekaligus gerbang menuju pembangunan yang terintegrasi. Hal ini dikarenakan pembangunan dapat terlaksana jika dimulai dari membangun manusianya terlebih dahulu. Tanpa manusia yang cakap, terampil, berpengetahuan, cerdas, kreatif dan bertanggung jawab maka pembangunan yang terintegrasi tidak akan dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, setiap guru  dan tenaga kependidikan lain harus memahami kurikulum dengan sebaik- baiknya.
Guru merupakan titik sentral dalam pengembangan kurikulum karena guru sebagai ujung tombak pelaksanaan di lapangan. Pengembangan kurikulum bertolak dari kelas. Oleh karena itu, guru hendaknya memiliki gagasan kreatif dan melakukan uji coba kurikulum di kelasnya sebagai fase penting dan sebagai unsur penunjang administrasi secara keseluruhan.
Guru merupakan salah satu faktor penting dalam implementasi kurikulum. Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru untuk mengimplementasikannya, maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu alat pendidikan, dan sebaliknya pembelajaran tanpa kurikulum sebagai pedoman tidak akan efektif. Dengan demikian peran guru dalam hal ini adalah sebagai posisi kunci keberhasilan pelaksanaan kurikulum.
Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik(student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai seorang entertainer (penghibur)
Proses pembelajaran akan berhasil manakala peserta didik memiliki kenyamanan dan kesenangan dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu membangun dan menumbuhkan suasana belajar yang kondusif yang terlepas dari tekanan, intimidasi dan stress yang bisa memyebabkan siswa enggan untuk belajar. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan minat dan semangat belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar peserta didik yang efektif dan menggairahkan
Saat ini pengalaman sosial peserta didik diera teknologi informasi (IT) dan komunikasi sangatlah dipengaruhi oleh kekuatan media dalam berbagai dimensi kehidupan yang secara langsung atau tidak langsung sangat mempengaruhi pengalaman belajar peserta didik.
Pengaruh media televisi, buku, majalah, internet dan media audio visual lainnya yang menampilkan materi yang bisa dikatan terupdate, terkini, menarik, serta informatif yang menghasilkan materi menyenangkan dan merangsang para penikmatnya termasuk sebagian besar peserta didik untuk mengikuti, meniru, mengembangkan informasi yang diperoleh dari pengalaman melihat, mendengar, serta merasakan informasi yang diperolehnya, dari semua akumalasi stimulus media tersebut menghasilkan pengalaman belajar tersendiri yang unik bagi peserta didik yang kemudian diakumulasikan dengan pengalaman belajar dikelas dalam dunia pendidikan.
Selanjutnya disinilah sosok Guru ditantang bukan hanya sekedar mengajar ilmu pengetahuan, memberikan pendidikan, tetapi guru dituntut untuk lebih mengeksplorasi kemampuan mengajarnya yang menghibur dan menyenangkan agar pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh dari lingkungannya masing-masing bisa diarahkan hingga menghasilkan sebuah pengetahuan yang terinternalisasi dalam pikiran dan bertahan lama sehingga jika sewaktu-waktu dibuka, ingatannya akan mudah untuk membukanya kembali (bukan sekedar dapat diterima, dihafal dalam jangka waktu singkat).
Guru harus berperan sebagai entertainer, yang mana ia harus mampu menghibur dengan kemampuan yang dia miliki. baik itu kemampuan dalam akting, dalam bicara, dan dalam tingkah lakunya sekaligus berpromosi (advertising).  Sebutan artis dan entertainer bukanlah melulu milik pekerja seni, guru pun demikian bisa jadi artis, atau pelawak, sosok yang bisa mendidik sekaligus menghibur dalam proses belajar mengajarnya
Proses mengajar di kelas jika dikemas dengan menarik maka akan menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi peserta didik maupun pengajar sendiri, sehingga proses kegiatan belajar mengajar seolah sebagai hiburan (entertainment).
Jika kondisi ini dapat dicapai maka proses transfer informasi bahan ajar akan dapat mudah dipahami peserta didik dan meningkatkan semangat bagi Guru dan peserta didik. Kondisi yang menyenagkan harus dijaga, maka proses advertising dari kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan sendirinya.
Suasana segar yang menghibur dapat dilakukan para guru di setiap kesempatan mengajar. Kemampuan menghibur (entertainer) seorang guru akan mendorong iklim yang familier dan cair. Penyampaian materi dan pemberian motivasi dan arahan yang diberikan kepada siswa akan terasa lebih soft dengan kemasan komunikasi yang menghibur.
Sosok yang otoriter, formalistik birokratik, jaim dan senang disanjung dalam mengajar sudah tidak lazim di zaman ini. Berperannya guru sebagai entertainer adalah sesuai dengan kepentingan realitas dunia kerja guru yang semakin banyak tuntutan profesionalitasnya. Tuntutan yang tidak mudah akan berkorelasi terhadap stress kerja. Stres kerja guru akan berdampak pada pelayanan peserta didik. Guru yang bisa menjadi entertainer setidaknya akan menjadi penawar stress, baik untuk siswa maupun guru itu sendiri.
Seorang guru yang murah senyum, komunikatif, padai mengumpamakan sebuah pengajaran dengan ilustrasi yang menghibur. Ia berarti entertainer bagi siswanya. Bila sifat entertainernya menjadi khas, ditambah kemampuan kepemimpinan yang mumpuni, maka akan tercipta iklim belajar mengajar yang kondusif dan menyenangkan. Keakraban dan keramahan yang menghibur, baik dalam suasana formal dan informal akan menjadi sebuah ikatan mental yang “mesra” antar guru sebagai tenaga pendidik dan siswa sebagai peserta didik.
Mengingat siswa adalah pribadi normal yang membutuhkan rileksasi dan suasana cair dalam mengikuti pembelajaran. Maka seorang guru bisa menjadi pelopor dalam merencanakan dan menciptakan suasana belajar mengajar yang menghibur. Mengajar  yang menghibur adalah bagian dari seni mengajar termodern dan tuntutan dari entitas siswa yang semakin berat dengan muatan kurikulum.
Kehadiran guru yang pandai menciptakan suasana segar (menghibur) secara tidak langsung akan mengakrabkan suasana yang formalistik menjadi rekreatif. Suasana yang cair dan segar akan menstimulus dinamika potensi dan loyalitas para siswa dalam mengikuti pembelajaran. Kesejahteraan bathin, dengan adanya guru yang menghibur  setidaknya akan menjadi penawar kelelahan siswa dalam belajar di kelas.
Pada proses mengajar maka Guru harus dapat pula berfungsi sebagai team advertising (promosi) dalam kelas. Pada posisi ini, guru harus memahami fungsi salesmanship. Fungsi ini adalah kemampuan guru bagaimana menyajikan seni menanam ransangan di hati peserta didik, yang pada akhirnya membuahkan beraneka ragam motivasi, serta mengarahkan tindakan peserta didik agar sesuai dengan keinginan target pencapaian materi.

Profil Penulis
Iwan Gunawan, S.Pd
Guru SD Salman Al Farisi Bandung





You Might Also Like

5 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images