Penguatan Nilai - Nilai Luhur Akhlak Mulia

September 02, 2008

Semarang, Sabtu (23 Agustus 2008) -- Kehidupan urban dan hubungan intra sosial yang demikian cepat saat ini mengubah pola dan gaya hidup di lingkungan masyarakat. Keluarga , sekolah, dan lingkungan sebagai benteng dan pilar untuk mendidik moral dan akhlak mulia dikhawatirkan semakin terdesak. Tayangan televisi ditakutkan menjadi guru yang terdasyat.

"Jangan - jangan yang paling powerfull saat ini bukan sekolah, tapi media massa. Internet dengan klik jari bisa melihat apa yang ada di belahan dunia lain dengan cepat termasuk pornografi ada di ujung jari kita. Perlu penguatan nilai - nilai luhur akhlak mulia," kata Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika saat memberikan pengantar pada "Dialog Penguatan Nilai - Nilai Luhur Budaya Indonesia dalam Rangka Peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi" di Auditorium Universitas Negeri Semarang (UNNES), Jawa Tengah, Sabtu (23/08/2008) .

Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Mudjib Rohmat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komarudin Hidayat, dan Rektor UNNES, Sudijono Sastroatmodjo.

Dodi mengatakan, pendidikan bukan hanya sekedar pengayaan intelektual, tetapi juga untuk menumbuhkembangkan nilai - nilai luhur bagi kemajuan bangsa termasuk akhlak mulia dan karakter unggul. Menurut dia, untuk bisa bersaing dan eksis dalam percaturan masyarakat global diperlukan bekal nilai - nilai budaya yang unggul termasuk budaya kerja keras, budaya kerja sama, budaya saling menghargai orang lain, dan budaya optimis.

"Ke depan, kita bangun kebersamaan dalam pilar pembangunan yang kokoh. Perlu diperkuat warna budi pekerti, akhlak mulia, integritas, dan anti korupsi. Tanpa itu maka kita akan meluluskan ratusan ribu sarjana yang punya kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi kecintaan kepada bangsa, hormat kepada orang lain, dan santun dalam kebersamaan akan kurang," ujarnya.

Mudjib memandang cukup banyak alasan bagi bangsa Indonesia untuk maju. Menurut dia, dibutuhkan usaha memenej bangsa termasuk kekayaan alamnya, aset yang memberikan optimisme, dan aset homogenitas yakni agama. "Kalau tidak dimenej dengan baik agama menjadi sumber konflik, tetapi kalau dimenej dengan baik akan menjadi pengikat," katanya.

Sudijono mengatakan, terkait dengan dunia pendidikan, pada masa lampau nilai - nilai orang tua atau tradisional sangat dipegang anak - anak pada saat itu. Ketaatan pada orang tua luar biasa. Dia menyampaikan, dalam perkembangannya ketaatan bergesar dari taat dan tunduk kepada orang tua bergeser kepada sekolah. Guru, kata dia, menjadi idola dan segala - galanya bagi anak, tetapi sekarang orang tua dan guru mulai ditinggalkan. "Sekarang ketundukan dan ketaatan adalah pada televisi. Ini adalah satu fenomena dan potret dari masyarakat. Perlu good will dari penguasa. Sebab kalau dilakukan sepotong - sepotong pihak tanpa gerakan masal dan tersistem rasanya persoalan - persoalan akan tumbuh tenggelam. Pertumbuhan ke arah dinamik baik tentu yang diharapkan," katanya.

Komarudin meyebutkan, ada dua hal yang perlu diperhatikan jika berbicara mengenai akhlak mulia. Pertama adalah epistimologi akhlak dan kedua metodologi. Selama ini, kata dia, akhlak lebih diartikan sebagai sopan santun dan perilaku individu. Padahal, kata dia, akhlak itu ada dua dimensi yaitu individu dan struktural. "Secara individu bisa saja orang itu baik ketika di mesjid dan di gereja, tapi kebaikan individu tidak cukup kalau tidak didukung oleh akhlak struktural. Kalau diterjemahkan, akhlak struktural itu berupa law enforcement dan etika profesionalisme, " katanya.

Komarudin mencontohkan, di negara komunis secara individu dalam konteks agama mungkin mereka atheis, tetapi etika dan akhlak struktural diperkuat. "Siapa yang korupsi dibunuh, digantung. Di Singapura tanpa ada P4 dan kuliah subuh, tapi etika profesionallisme ditegakkan," katanya.

Menurut Komarudin, yang merusak bangsa ini adalah krisis horisontal yang diselesaikan secara vertikal. Selama ini, kata dia orang yang akhlaknya kurang baik ditebus dengan umroh, haji, dan puasa. "Itu adalah kesadaran vertikal, sedangkan akhlak itu tidak kalah pentingnya adalah akhlak horisontal. Jadi kalau orang korupsi pada negara tidak cukup dibayar dengan umroh, ya harus dikembalikan pada negara . Kalau orang itu nginjek rakyat nggak bisa cukup minta ampun. Itu urusan pribadi dengan Tuhan. Penyelesaiannya harus dengan karakter horisontal," katanya.***


Sumber: Pers Depdiknas

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images