Mendidik Karakter ala Biker

March 17, 2008


Oleh: Iwan Gunawan
Guru SD Salman Al Farisi Bandung

Berbicara tentang biker dengan klub motornya, mungkin pikiran kita akan ‘menghukum’ kelompok ini dengan kehidupan serba bebas, alcohol dan mungkin juga dengan tindakan kriminal, sebagaimana yang ditampilkan oleh para ‘genk’ motor. Tetapi sebenarnya ada perbedaan mendasar antara klub motor dengan genk motor. Perbedaan ini terletak pada penerapan aturan kehidupannya. Biker dengan klub motornya relative lebih teratur –terutama klub motor resmi – dibandingkan dengan genk motor yang tidak mempunyai aturan sama sekali.

Di tengah kerasnya kehidupan para biker, ternyata ada suatu aturan yang tidak tertulis (walaupun sekarang sudah ada aturan tertulisnya) tentang cara berkendara yang aman di jalanan. Aturan tidak tertulis ini berlaku di seluruh dunia biker.

Pengalaman penulis sebagai biker di BTMC (Bandung thunder motor club) selama beberapa tahun, telah memberikan suatu pengalaman tersendiri di tengah kehidupan para biker. Kesan dan anggapan selama ini tentang biker, ternyata tidak seburuk yang saya kira. Bahkan banyak hikmah yang bisa saya ambil dari pergaulan dengan mereka, mulai dari cewek yang suka merokok, memodifikasi motor, pengetahuan tentang mesin sampai keberanian mereka melibas bis yang tidak memberi jalan pada konvoi kami.

Tetapi satu hal paling menarik yang bisa diambil dari kehidupan para biker adalah cara mereka memimpin barisan konvoi. Di depan ada co-rider, disamping dan dibelakang ada sweeper. Sedangkan semua anggota konvoi yang diapit harus mengikuti semua aturan co-rider dan sweeper. Tidak boleh ada yang melanggar. Betapa disini pemimpin konvoi sangat dipatuhi. Alhasil perjalanan pun terasa indah dan bersahabat.

Sebelum pemberangkatan, semua anggota konvoi diperiksa kelengkapan berkendaranya, mulai dari kaca spion, klakson, jaket pelindung hingga kaos tangan. Semua anggota harus lengkap, dan dilanjutkan dengan doa bersama.

Apabila co-rider mengepalkan tangan sambil diangkat, berarti semua harus melakukan pengereman. Perintah ini tanpa dikomandoi akan dilanjutkan hingga ke barisan paling akhir. Semua anggota konvoi bersama-sama melakukan pengereman, sehingga tidak terjadi tabrakan beruntun.

Apabila co-rider mengangkat satu kaki atau keduanya, berarti pemimpin konvoi memberitahukan ada lubang atau sesuatu yang membahayakan biker dikiri atau dikanan mereka. Untuk kali ini pun, semua anggota konvoi tanpa dikomandoi melanjutkan perintah yang sama dengan pemimpinnya. Dengan adanya kepatuhan terhadap pimpinan maka semua anggota terlepas dari ‘kemungkinan’ kecelakaan yang bakal terjadi.

Ketika ada anggota konvoi yang keluaran barisan, maka tim sweeper akan mengarahkannya untuk kembali ke barisan, dan ketika anggota konvoi tertinggal di belakang, maka tim sweeper akan mengawalnya, hingga bisa bersatu kembali dengan barisan yang lainnya.

Ini hanya satu gambaran kecil tentang kehidupan biker, akan tetapi hikmah yang bisa dipetik adalah
1) adanya sikap saling mengingatkan apabila terjadi suatu kesalahan atau saat menghadapi keadaan yang bisa menyebabkan celaka.
2) Pemimpin senantiasa memberi contoh yang baik pada bawahannya, sehingga semua anggota ikut berperilaku sama.
3) Pemimpin tidak mau maju sendiri, ia senantiasa menunggu anggota untuk bersama-sama mencapai tujuan.
4) Adanya penghargaan dari bawahan terhadap pemimpinnya.
5) Adanya kepedulian antar sesama anggota, sehingga tercipta kerukunan dan persahabatan yang kuat

“Ya, Allah dengan NamaMu aku berkendaraan dan dengan NamaMu aku sampai di tempat tujuan, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images