Melatih Menjauhi Darmaji

February 03, 2008

Tanggung jawab, disiplin dan kejujuran sebenarnya merupakan materi non formal yang teah diajarkan di SMAN I Ciparay. Bahkan, format kantin yang menyerupai Kantin Kejujuran, sebenarnya sudah dimanfaatkan sejak jauh-jauh hari di sekolah tersebut.

Sebuah warung kecil yang berada di belakang masjid di sekolah itu selalu dibiarkan tanpa dijaga. Sampai saat ini, kata Kepala Sekolah SMAN I Ciparay, Aa Hudaya, tidak pernah ada kejadian pencurian di warung tersebut. ''Jadi, adanya Kantin Kejujuran ini akan menambah pembelajaran siswa akan arti pentingnya kejujuran,'' tutur dia.

Aa percaya, semakin intensif pembelajaran kejujuran bagi siswa diberikan, maka investasi moral yang tertanam akan semakin tinggi. Dampak dari upaya tersebut diyakininya bisa sampai ke lingkungan keluarga hingga lingkungan masyarakat terdekat siswa. Jika hal ini terjadi, Aa percaya, korupsi akan hilang di negeri ini.

Bagi Imas Masitoh, siswi kelas 11 IPA 4 sekolah tersebut, Kantin Kejujuran, merupakan kantin milik bersama. Imas dengan beberapa rekannya pun terlibat untuk mengelola kantin ini. Setiap pagi, Imas mengangkut barang-barang yang akan dijual. Setelah itu ditatanya barang dagangan itu dengan rapi agar menarik pembeli.

Setiap jam istirahat, pada pukul 10.00 WIB, Imas dan rekan-rekannya pun suka jajan di kantin yang dikelolanya ini. Selain untuk meningkatkan penjualan, Imas sekalian memantau barang-barang yang terjual. Pukul 14.00 WIB, saat jam sekolah berakhir, Imas dan rekan-rekannya membereskan barang dagangan sekaligus menghitung perolehan uang dari hasil jualannya.
''Kami hanya menghitungnya sesuai atau tidak dengan jumlah barang yang terjual. Nanti, uangnya diserahkan ke Ibu Emi (guru ekonomi yang mengelola kantin kejujuran,red),''ujar dia. Imas mengaku tidak pernah mendapati nilai uang hasil penjualan lebih kecil dibanding jumlah barang yang terjual. Selisihnya, kata dia, bisa mencapai Rp 17 ribu dalam sehari.

Dia mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam mengelola kantin tersebut tidak sampai mengganggu aktivitasnya dalam menuntut ilmu. Imas malah merasa keterlibatannya ini memberi nilai tamba yang berarti. ''Saya jadi dapat ilmu tambahan, khususnya soal manajemen,'' ungkap Imas.

Meski kantin kejujuran tidak dijaga, murid kelas 10 (setingkat kelas 1 SMA) di sekolak itu mengaku tidak berani untuk darmaji (dahar lima ngaku hiji/makan lima mengaku cuma satu). Dia menganggap perilaku seperti itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Meski tidak ada yang jaga, dia yakin Allah pasti melihat setiap perbuatan hamba-Nya.

Deny pun mengaku tidak pernah tergoda untuk mengambil uang kembalian lebih dari wadah plastik tempat uang. Kalaupun tidak ada uang receh untuk kembalian, Deny lebih memilih membeli barang yang bernilai sama dengan uang kembalian tersebut.

Bahkan, kata dia, sering juga dirinya malah melupakan uang kembalian itu. Dia berharap uang kembalian yang tidak diambilnya itu bisa menjadi amal baik. Dengan berbagai kondisi tersebut dia pun mengaku sering jajan di Kantin Kejujuran ini.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images