Indonesia Harus Utamakan Pendidikan Karakter

January 20, 2008

BANDUNG, (PR).-
Pendidikan karakter dapat mengubah bangsa terjajah menjadi bangsa maju. Terbukti, Korea sebagai negara terjajah selama 30 tahun oleh Jepang, mampu bangkit menjadi negara pesaing Jepang dengan memberikan pendidikan karakter kepada bangsanya.

Demikian butir-butir pemikiran Prof. Dr. H. Asep Sjamsulbachri saat menyampaikan orasinya pada pengukuhan guru besar di Aula Universitas Pasundan (Unpas), Senin (28/5). Selain Prof. Asep, pada kesempatan itu, Rektor Unpas Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. mengukuhkan dua guru besar lainnya, yakni Prof. Dr. H.M. Surya (Guru Besar FKIP) dan Prof. H. Irawan Soeharto, M.S.W., D.S.W. (Guru Besar FISIP).

Asep memaparkan, pendidikan karakter diajarkan sejak usia SD kelas 1 dan 2 dengan materi meliputi proper life (hidup secara baik), wise life (hidup secara bijak), dan pleasant life (hidup secara menyenangkan).

Sedangkan pendidikan karakter sejak kelas 3 sampai kelas 10 diberikan dalam bentuk moral education (pendidikan moral), kelas 11 mendapat materi civil ethics (etika kewarganegaraan), dan kelas 12 mendapatkan materi ethics and thoughts (etika dan filsafat).

Selain Korea, kata Asep, Amerika sebagai kiblat dunia di segala bidang, justru sangat memerhatikan pendidikan karakter. Karena pendidikan karakter akan membawa anak didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, yang akhirnya pengalaman nilai secara nyata dari gnosis ke praktis.

“Untuk mencapai tataran praktis, ada peristiwa batin yang hebat dengan munculnya tekat untuk mengamalkan yang disebut conatio. Sedangkan langkahnya sampai ke arah situ disebut konatif yang oleh Phenix disebut sebagai voluntary personal commitment value,” terangnya.

Berdasarkan pendekatan antropologis, kata Asep, pendidikan semacam itu di Indonesia identik dengan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal (indegenous value). Yang oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno dikumandangkan dalam nation and character building agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa terjajah.

”Pendidikan semacam ini sangat penting diberikan kembali kepada anak didik. Terutama ketika era globalisasi tidak lagi membedakan satu bangsa dengan bangsa yang lainnya,” ujar dia.

Dalam khazanah Sunda, lanjut Asep, pendidikan karakter bertolak dari kriteria guru yang disebut guru ratu wong atuo karo yang karakteristiknya disimbolkan kepada Astabrata yang memiliki sifat utama bumi, air, angin, api, matahari, bulan, bintang, dan lautan. (A-148)***

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images