Sunday, December 16, 2007

Kecerdasan Emosi Bekal Terpenting Anak

Kecerdasan emosi kini menjadi perhatian dan prioritas. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Selain itu, kecerdasan emosi juga sangat penting dalam hubungan pola asuh anak dengan orang tua. Hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, yang diterbitkan dalam sebuah sebuah buletin, Character Educator, oleh Character Education Partnership, dijelaskan tentang keberhasilan kecerdasan emosi terhadap keberhasilan akademik. Dalam penelitian tersebut, dijelaskan tentang peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter.

Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya.

Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya.

Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter.Kecerdasan emosi atau Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosinya. EI dengan indikator rasa empati, kemampuan mengekspresikan dan memahami diri, beradaptasi, bekerja dalam tim, berbagi dan sebagainya, sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas perilaku cerdas seseorang ditengah masyarakat, maupun dunia kerja.Penelitian menunjukkan, kesuksesan diraih oleh mereka yang memiliki kecerdasan emosi baik dibanding orang-orang yang hanya bermodalkan IQ tinggi. Namun di abad 21 ini, kecerdasan emosi rata-rata manusia semakin turun.

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Sarwono dalam penjelasannya di acara Workshop Hidup Sehat, menuturkan menurunnya kecerdasan emosi mayoritas penduduk dunia, disebabkan karena perubahan nilai sosial dimasyarakat, berkurangnya waktu orang tua untuk mengasuh anaknya, sistem pendidikan yang terlalu memperhatikan kecerdasan intelektual, peningkatan angka perceraian, dan pengaruh media elektronik."Anak itu membutuhkan pujian, sebagaimana ia juga ia membutuhkan hukuman.

Pujian seperti apa yang dibutuhkan mereka ? Pujian yang tulus. Hindari memberi kuliah, hindari marah, hindari teriak, hindari pengulangan masalah atau mengungkit-ungkit masalah", ujar Sarlito. Sarlito menjelaskan orang tua sangat berperan untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak dengan cara menanamkan nilai-nilai pentingnya berbagi, saling menyayangi, membangun disiplin, berkomunikasi secara efektif, sehingga merangsang kemampuan anak untuk mendengar, mengerti dan berpikir.Menemani anak menjelang tidur, saling memaafkan dan mengembangkan minat membaca pada anak, juga dapat meningkatkan kecerdasan emosi anak.(Idh/Bahan Fokus dan Pustaka Cerdas)

0 comments:

 

WHEN SUHENG TALK... Template by Ipietoon Cute Blog Design