Muhammadiyah: Pendidikan Karakter Jadi Pijakan

November 15, 2007

Jakarta, Kompas - Pendidikan karakter, penumbuhan tradisi baca-tulis, serta penguasaan ilmu-ilmu murni menjadi tiga hal yang akan dikembangkan oleh Muhammadiyah dalam mengelola institusi pendidikannya.

"Karakter akan menentukan anak didik dalam bertingkah laku sementara membaca dan menulis akan membantu anak mampu menganalisa dan berpikir sistematis. Adapun penguasaan ilmu murni akan membantu anak didik menguasai teknologi," kata Yahya Muhaimin selaku Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah dalam Rakernas Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (2/6).

Menurut Yahya, anak pandai tapi pecundang tak akan banyak gunanya. Maka, sopan santun menjadi hal yang perlu ditekankan sejak dini. Model pendidikan yang dilakukan pun bukan mengekang, namun mengarahkan.

Hal itu terlihat pada hasil didik anak-anak di AS dan Jepang yang sopan-sopan dan beradab. Di AS, anak-anak SMP juga sudah membaca tulisan Hemingway dan Charles Dicken serta bacaan yang memperkaya jiwa lainnya. Sementara di Indonesia, minat bacanya masih sangat rendah. Padahal, kebiasaan membaca terkait dengan peradaban.

"Minimal dua minggu sekali anak-anak diminta membuat karangan, walaupun satu lembar tidak apa-apa. Sedangkan membaca ditarget seminggu berapa buku," kata Yahya.
Menurut mantan Mendiknas era pemerintahan Abdurrahman Wahid ini, kemajuan yang dicapai Indonesia tak akan mungkin berlangsung dalam jangka panjang bilamana bidang pendidikan tidak mampu menopangnya. Sejak dulu pemerintah tampak memberi perhatian pada bidang pendidikan, namun belum sebagai program nasional yang terpadu.
"Pemerintah terkesan sambil lalu dalam mengelola pendidikan, bahkan kadangkala menjadikannya sebagai komoditas politik," kata Yahya. (WSI)

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images