MENGEMBANGKAN NILAI KETUHANAN DALAM PEMBELAJARAN ILMU SOSIAL

October 28, 2007

Oleh: Iwan Gunawan

Judul makalah ini tampaknya terlalu idealis, bahkan cenderung mencari pembenaran keilmuan. Dalam kehidupan sehari-hari di dunia pembelajaran/pendidikan, ada suatu kecenderungan untuk menilai, bahwa apabila kita ingin memperkenalkan agama dan nilai-nilai ketuhanan pada anak didik, maka hanya bisa dicapai dengan mengikutsertakan anak didik dalam pembelajaran agama, misalnya pendidikan agama Islam.

Pola pikir seperti ini memang tidak salah dan tidak juga benar seluruhnya, sebab agama pada dasarnya mengatur semua urusan, baik yang berkenaan dengan fenomena fisikal, alamiah, fenomena kehidupan dan juga berupa fenomena rohaniah. Jadi untuk memperdalam rasa keagamaan dan nilai ketuhanan, tampaknya bisa juga dicapai dengan ilmu lain, yang dalam hal ini salah satunya adalah ilmu sosial, sebagaimana dikatakan oleh Nursid Sumaatmadja dkk (1997:1.20-1.21) “Pendidikan IPS dengan ruang lingkup dan aspek kehidupan sosial yang begitu luas cakupannya, menjadi landasan kuat penanaman dan pengembangan nilai ketuhanan yang menjadi kunci kebahagiaan kita manusia lahir-batin. Nilai ketuhanan ini menjadi landasan moral-moralitas SDM hari ini, terutama untuk masa yang akan datang. Hal ini wajib menjadi perhatian anda dan kita semua selaku guru IPS bahwa materi dan proses pembelajaran apapun pada pendidikan IPS, wajib berlandaskan nilai ketuhanan”

Pengembangan nilai ketuhanan dalam pembelajaran ilmu sosial, bukan hanya sekedar memasukan ayat-ayat dan hadis ke dalam ilmu sosial, melainkan pula bagaimana anak bisa berinteraksi dan berperilaku dalam masyarakat yang sesuai dengan norma agama, dan ternyata Islam telah memberikan fondasi yang kuat bagi diterapkannya pendidikan ilmu sosial yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.Sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah Nashih Ulwan (1992:1) “…ialah pendidikan anak sejak dini agar terbiasa melakukan tatakrama sosial yang utama, dasar-dasar kejiwaan yang mulia, yang bersumber dari akidah islamiah yang abadi dan emosi keimanan yang mendalam agar di masyarakat anak berpenampilan dan bergaul dengan baik, sopan, ajeg, matang akal, dan bertindak bijak".

Tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab ini termasuk salah satu tanggung jawab terpenting bagi para pendidik dan orang tua dalam upaya mempersiapkan anak, bahwa merupakan hasil setiap pendidikan…, baik yang berhubungan dengan pendidikan iman maupun yang berkaitan dengan pendidikan moral dan psikologis.

Karena eksistensi pendidikan sosial merupakan fenomena tingkah laku dan watak yang dapat mendidik anak guna menunaikan segala kewajiban, sopan santun, kontrol sosial, keajegan intelektual, politik, dan interaksi yang baik dengan orang lain…Karenanya, Islam memperhatikan pendidikan sosial dan tingkah lakunya, sehingga apabila mereka terdidik, terbentuk, dan berkiprah di panggung kehidupan, mereka akan dapat memberikan gambaran yang benar tentang manusia yang cakap, berakal dan bijak”

Oleh sebab itu, para guru hendaknya berusaha keras memikul tanggung jawab besar terhadap pembelajaran ilmu sosial dengan cara yang benar, agar mereka dapat memberikan andil dalam pembinaan masyarakat Islam yang utama, yang berlandaskan iman, moral, pendidikan sosial yang utama, dan nilai-nilai Islam yang tinggi. Adapun metode yang dapat dijalankan oleh para pendidik (guru) untuk bisa mengembangkan nilai-nilai ketuhanan dalam pembelajaran ilmu sosial, adalah dengan: (Abdullah Nashih Ulwan, 1992:2-)
  1. Penanaman dasar-dasar kejiwaan yang mulia, seperti ketakwaan, ukhuwah islamiyah, kasih sayang (rahmah), itsar (mementingkan orang lain daripada diri sendiri), memaafkan, berani karena benar.
  2. Pemeliharaan hak orang lain. Membiasakan anak untuk menghargai dan menghormati hak-hak orang di luar dirinya, seperti hak terhadap orang tua, hak terhadap teman, hak terhadap tetangga, hak terhadap guru, hak terhadap orang yang lebih dewasa. Tujuan yang ingin dicapai adalah agar pendidikan sosial bagi individu menjadi lebih sempurna dan bermakna, sehingga masyarakat tumbuh di atas dasar saling menolong, produktivitas, keterikatan yang kuat, akhlak yang luhur, serta saling mencintai dan mengkoreksi secara konstruktif.
  3. Melaksanakan tatakrama sosial yang berlaku umum. Anak dibiasakan sejak dini untuk menjalankan etika sosial secara umum, dibentuk atas dasar-dasar pendidikan yang sebenarnya. Tujuannya, bila sudah dewasa dan dapat menangkap inti segala masalah, ia dapat bergaul dengan sesamanya di tengah-tengah masyarakat dengan kebaikan yang maksimal dan simpatik, dengan cinta yang utuh, dan budi pekerti yang luhur. Etika yang bisa diajarkan diantaranyai etika makan dan minum, etika mengucapkan salam, etika berbicara, etika menjenguk orang sakit dan etika-etika yang lain
  4. Kontrol dan kritik sosial, anak dibiasakan untuk melakukan kontrol dan kritik sosial, membina setiap orang yang bergaul dengannya, dan memberi nasihat kepada orang yang menyimpang dari etika islam. Anak dibiasakan melakukan amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kejahatan), memerangi kerusakan dan penyimpangan, dan memelihara nilai, idealisme dan moralitas yang baik.


    Sungguh sangat idealis makalah ini. Akan tetapi bukanlah suatu hal yang mustahil bagi kita para pendidik (guru) untuk bisa mewujudkan pendidikan ilmu sosial yang mempunyai nafas ketuhanan yang kental, sebagaimana halnya Rosulullah yang berani mengemban nilai-nilai keislaman di tengah kejahiliyah masyarakatnya. Anda siap? Wallahu ‘alam.

    Iwan Gunawan adalah guru ilmu sosial SDI Salman Al Farisi Bandung

    Daftar Pustaka
    Nursid Sumaatmadja, dkk, 1997, Konsep dasar IPS, Jakarta : Universitas Terbuka
    Abdullah Nashih Ulwan, 1992, Pendidikan Sosial Anak, Bandung : Rosda Karya

You Might Also Like

1 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images