Neno Warisman Siapkan Pemimpin Masa Depan

October 06, 2008

(Republika) Anak adalah aset bangsa yang harus dijaga, dibekali pendidikan agar siap untuk menjadi pemimpin yang unggul. Sayangnya, kebanyakan masyarakat termasuk ibu beranggapan, pendidikan anak cukup dengan gelar sarjana.

Hal itu yang kini menggelayuti pikiran Neno Warisman. Dia mengaku sangat gelisah. Kini Neno tengah disibukan dengan pikirannya mengenai dasar ilmu yang baik bagi seorang anak, yaitu Al-Quran.

"Saya lagi gelisah, memikirkan cara nyata untuk membuat Al-Quran menjadi dasar ilmu bagi remaja. Bagaimana caranya mengemas ilmunya dengan cara yang sesuai dengan remaja. Funky tetapi tetap islami," ujarnya saat dihubungi Republika Online melalui saluran telepon di Jakarta, Selasa (7/10).

Neno juga mengatakan hal tersebut tidak akan berjalan dengan maksimal jika hanya sekedar dipikirkan saja. Wanita berjilbab tersebut menurutkan, harus ada lembaga atau program televisi yang mengemas nilai-nilai Al-Quran secara menarik agar tepat sasaran bagi remaja Indonesia.

Saat ini Neno menerapkan cara tersebut pada ketiga buah hatinya. Anak-anaknya yang berusia remaja dikirim Neno ke Majelis Ilmu.

Hasilnya pun diluar dugaan, anaknya yang paling mampu memahami ilmu Al-Quran meski cara mengkajinya tidak 'nge-pop'. Neno sangat paham bahwa untuk melahirkan pemimpin bukanlah sesuatu yang instan. Dia menyayangkan pemimpin-pemimpin sekarang bertipikal "super toy".

"Pemimpin-pemimpin sekarang tidak ada yang bunyi, kayak super toy, gabuk," ungkapnya.

Untuk menyiapkan pemimpin yang unggul, sebagai seeorang ibu, Neno merasa peran ibu saat ini masih sangat sedikit.

"Sayang sekali melihat banyak ibu-ibu yang main di mall, ini bukan berarti ibu tidak boleh ke mall. Tapi peran dan fungsi ibu itu bukan di mall. Ibu jangan mau dijadikan komoditi oleh produsen, ibu itu poros utama dalam menyiapkan pemimpin yang unggul," paparnya.

Menurut Neno, selain mengemas Al-Quran menjadi dasar ilmu yang "funky' untuk remaja, dia juga merasa harus ada pergerakan kaum ibu.

"Harus ada gerakan ibu, seharusnya itu kebangkitan ibu, bukan kebangkitan nasional, karena pendidikan anak berpulang ke ibu," imbuhnya.

Dia mengharapkan akan ada produsen atau lembaga yang punya perhatian dan semangat membangun bangsa.

"Semoga dengan munculnya pemikiran saya di media akan membuka jalan cita-cita itu terlaksana. Jika Allah mengabulkan, Insya Allah ada perusahaan uang mau duduk bareng untuk membahas hal ini," harapnya. (cr1/ri)

Foto: dok republika

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images