Thursday, May 29, 2008

Pahlawan tanpa tanda jasa? gak lah!

Profesi guru adalah suatu profesi selain menuntut adanya pentransferan ilmu, nilai-nilai dan juga norma baik yang berlaku di masyarakat, juga sangat menuntut adanya pengadian yang tulus dari para pelakunya. Pengabdian yang didasari oleh sikap ikhlas, tanpa pamrih, dan tanpa ‘itung-itungan’, sehingga masyarakat pun menilai bahwa profesi guru adalah profesi yang mulia, dan ‘saking’ mulianya sampai-sampai tidak ada seorangpun yang bisa menghargainya dengan materi. Itulah awal mulia kelahiran sebutan guru sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Tapi benarkah hal ini masih bertahan?

Dua bulan yang di saat ujian nasional SMP dan UASBN SD, saya sempat terhentak ketika mendengar berita ada seorang kepala sekolah –yang notabene panutan guru-guru- dengan sengaja membocorkan rahasia negara, melalui pemberian informasi ‘kunci jawaban’ kepada para muridnya. Alasan yang dikemukakan sangat logis ‘tidak ingin melihat ada anak didiknya yang tidak lulus’. Sehingga dengan adanya kelulusan 100%, maka citra lembaga yang dipimpinya bakal meningkat di mata masyarakat. Benarkah dia berjuang untuk citra lembaga pendidikan? Ternyata selidik punya selidik, urusan perutlah yang mendasari perbuatan tersela tersebut.

Dari setiap siswa yang diberi kunci jawaban instant, seorang kepala sekolah menetapkan tariff mulai Rp 500.000 hingga Rp 1000.000 per soal. Kira-kira berapa keuntungan yang bisa diperoleh kepala sekolah tersebut dengan kecurangannya? Lumayan besar!

Kejadian ini mungkin satu dari sekian banyak kasus curang yang bisa terungkap, belum lagi kasus-kasus lain yang mencemari lembaga seperti pelecehan seksual, menggelapkan uang buku, memanipulasi dana bos, pungutan liar dan sebagainya. Tampaknya urusan perut sudah tidak bisa lagi disandingkan dengan ‘tanpa tanda jasa’ sebagai akibat kemulian profesi guru.

Dulu, jarang sekali terdengar ada guru yang demo atau mogok mengajar. Tetapi, setelah urusan perut mendominasi kehidupan, maka betapa sering para guru berdemo dan mogok mengajar hanya untuk mempertahankan hidupnya, dengan tuntutan yang beragam mulai kenaikan gaji hingga menuntut diangkat jadi PNS. Salahkan mereka? Menurut saya, tidak! Sebab sudah bukan jamannya lagi guru dianggap sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Karena jaman sudah menuntut mereka untuk dihargai, apalagi ditengah terpaan kenaikan BBM yang kian mencekik leher. Semoga pengabdian mereka bukan sekedar disuapi dengan rayuan-rayuan lama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, tetapi dihargai secara professional dan yang terpenting ‘niatkan ibadah’ dalam mengajar dan mendidik, serta tampilkanlah diri kita sebahai teladan yang baik.

1 comments:

Unknown said...

Artikel di blog anda bagus. Coba pasang widget infogue.com seperti punyaku. Bisa nambah traffik lho padahal blogku belum berumur satu minggu.
Nich blogku:
http://padhepokananime.blogspot.com/
artikel anda di:
http://pendidikan.infogue.com/pahlawan_tanpa_tanda_jasa_gak_lah_

 

WHEN SUHENG TALK... Template by Ipietoon Cute Blog Design