Presiden Marah di Lemhannas

April 10, 2008

Ada yang tidur di saat dia memberikan pembekalan.

JAKARTA (Republika) -- Emosi bisa meluap tidak saja dari guru killer yang diabaikan muridnya ketika mengajar di kelas. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang berlatar belakang militer, juga sontak marah besar ketika ada peserta forum Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) terkantuk-kantuk saat ia semangat berpidato panjang lebar di atas podium.

''Tolong bangunkan yang tidur itu. Kalau mau tidur, silakan di luar saja,'' tegur Presiden dalam pembekalan untuk peserta Forum Konsolidasi Pimpinan Pemerintahan Daerah, Bupati, Wali Kota, dan Ketua DPRD Kabupaten/Kota, di Lemhannas Jakarta, Selasa (08/4) pagi.

Peserta forum Lemhannas berjumlah 86 orang. Mereka mengikuti forum tersebut sejak 4 Maret-9 April 2008. Presiden Yudhoyono kemudian mengatakan, semua peserta agar tidak main-main dalam menimba ilmu terutama demi kebaikan masyarakat. Dia juga meminta agar yang tidur itu tidak perlu diluluskan dari kursus Lemhannas.

Diingatkannya, setiap pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat. Termasuk, salah satunya adalah diskusi dan paparan untuk menyelesaikan permasalahan rakyat.

Usai acara, Gubernur Lemhannas, Muladi, menyatakan meski sempat menegur, namun Presiden tidak marah. Apa yang dilakukannya hanya demi kebaikan semua pihak.

''Itu manusiawi (Presiden menegur--Red), tidak apa-apa. Nanti akan saya panggil secara khusus. Peserta itu tetap lulus, bagi dia, ditegur langsung oleh Presiden di depan umum sudah cukup memberikan pelajaran,'' kata Muladi.

Membangun karakter
Pada bagian lain pidatonya, Presiden meminta semua jajaran pemerintahan dari pusat sampai daerah mampu membangun karakter kepemimpinan yang baik dan bervisi ke masa depan. ''Kita terus kembangkan kepribadian dalam rangka character building untuk semua yang sedang mengemban pemerintahan di negeri ini, mulai dari saya sampai kepala desa,'' katanya. Mereka terdiri atas bupati, walikota, ketua DPRD kabupaten/kota, wakil bupati/walikota, dan wakil ketua DPRD kabupaten/kota.

Presiden menginginkan, dalam memimpin rakyat dan mengelola pemerintahan serta negara ini dilakukan secara paripurna dengan semangat, kapasitas, dan kapabilitas setinggi-tingginya. Seorang pemimpin juga harus rasional.

''Semakin rasional para pemimpinnya, maka jalan menuju negara maju akan semakin tinggi. Pentingnya kita menjadi bangsa yang rasional, punya kekuatan berpikir yang tinggi dan paham betul bagaimana mengelola sumber daya dan mengatasi masalah yang dihadapi negaranya,'' papar Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden mengajak beberapa menteri yang tengah mengelola masalah aktual negeri ini, seperti Menteri Pertanian, Anton Apriyantono; Menko Perekonomian, Boediono; Dirut Badan Urusan Logistik (Kabulog); dan Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil.

Indonesia, menurut Presiden, tengah mengadapi masalah pangan yang juga melanda seluruh negeri di dunia. Masalah serupa juga terjadi di bidang energi yang mengalami krisis harga minyak global. Para menteri itulah yang menangani masalah-masalah tersebut.

Presiden merasa dalam sepuluh tahun ini, akibat krisis, sering tanpa disadari, semua pihak melihat sesuatu dengan gelap, pesimis, menilai negara ini jelek, menyalahkan, dan menjelek-jelekkan. ''Kalau begitu kita tidak akan ke mana-mana dan tidak jadi siapa-siapa, jalan di tempat. Kalau pemimpin tidak ke mana-mana, hampir pasti rakyat juga tidak akan ke mana-mana. Mereka sudah kalah sebelum melangkah,'' katanya.

(wed )

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images