Mental Terabas

March 23, 2008

Oleh: Iwan Gunawan
Guru SDI Salman Al Farisi

Semenjak terjadinya pergantian kepala kepolisian Daerah Jawa Barat, banyak hal yang telah dirombak, mulai dari pengurusan SIM yang harus sesuai prosedur, penghapusan calo SIM sampai penertiban VCD, MP3 dan software bajakan yang marak di Jawa Barat. Perubahan yang dilakukan telah membawa angin segar bagi terjadinya birokrasi dan transaksi jual beli yang sehat.

Sudah beberapa hari ini, teman saya –sebut saja Pak Wawan- bolak-balik ke Polwiltabes Bandung untuk melakukan tes praktek menjalankan motor, akan tetapi hasilnya nihil, karena dia tidak lulus ujian praktek. Beberapa hari kemudian, dia melakukan tes ulang ujian praktek, hingga pada akhirnya dia lulus setelah menjalani empat kali ujian praktek..alhamdulillah.

Sebulan yang lalu, saya dan istri saya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di Jalan Dalem Kaum Bandung. Niat saya sih hanya untuk mencari film ’10.000 BC’ yang bajakannya, karena memang saya biasa mencari film bajakan disana. Selain murah juga bisa mendapat film-film yang belum beredar di pasaran. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata pusat penjualan VCD bajakan –Kota Kembang- sudah digembok rapat-rapat sebulan yang lalu. Alhasil saya tidak mendapat apa-apa. Sial deh…
 
Beberapa perbaikan yang telah dilakukan oleh Kapolda Jabar yang baru, setidaknya untuk menaikan citra Indonesia umumnya dan Jawa Barat pada khususnya dalam hal praktek-praktek yang tidak legal, secara langsung atau tidak telah membawa pro dan kontra di kalangan masyarakat, termasuk juga saya.

Ketika saya mengurus SIM untuk perpanjangan, tidak sedikit selentingan yang saya dengar (walaupun dengan suara rendah) dari orang-orang yang ada di dekat saya, bahwa ngurus SIM sekarang ribet. Kalau dulu –ketika calo berkeliaran- sangat mudah untuk membuatnya..Bahkan tidak perlu ada ‘tes praktek’ segala.Untuk membuat SIM baru cukup dengan biaya tambahan dari biaya normal, jadilah SIM tersebut. 

Seorang ibu yang sudah beberapa kali gagal tes praktek, dihampiri dan ditanya oleh seorang lelaki – mungkin calo yang sedang dibekukan ijin prakteknya- perihal kegagalannya. Dengan nada yakin si lelaki tersebut berkata, “Bu, kalau mau membuat SIM tunggu aja dua bulan lagi. Nanti akan biasa lagi (bisa lewat calo)”.

Saya tidak bermaksud memuji Kapolda Jabar yang baru, tetapi yang lebih saya soroti adalah mental-mental kita selama ini yang telah terlenakan dengan sesuatu yang tidak baik dan tidak legal. Saking terlenanya kita, ketika semua prosedur itu dikembalikan ke jalur yang seharusnya, kita menganggap hal tersebut sebagai suatu ganjalan dan ketidaknyamanan, ribet dan sebutan lain yang kurang bagus. 

Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat sepenuhnya terhadap keadaan ini, karena memang kita selama ini telah dididik oleh system untuk berbuat ‘tidak resmi’ dan ‘tidak legal’. Karakter kita telah dididik untuk mencari jalan termudah, teringan dan termurah. Jadilah kita ini mahluk yang bisa memecahkan masalah dengan cara ‘instan’. Mau buat SIM ‘lewat calo’, mau film bagus ‘cari bajakan’, mau software bagus ‘cari bajakan juga’..memangnya ini surga?!

Saya sebagai guru, telah merasa dibingungkan oleh anak-anak SMP yang banyak membawa motor. Kenapa bingung? Karena usia mereka bukanlah usia yang cuku untuk memiliki SIM, tetapi nyatanya mereka telah memiliki SIM. Selidik punya selidik ternyata orang tuanya telah menggelembungkan usia anaknya, sehingga mencapai batas usia kepemilikan SIM. Orang tua telah mengajarkan ‘kebohongan’ pada anaknya, padahal selama ini kita telah mendidik mereka untuk berbuat amanah dan tidak berbohong..suatu perilaku yang kontraproduktif dalam pendidikan. Bagaimana kita bisa membentuk anak didik berkarakter, sedangkan oleh orang tua karakter tersebut dihancurkan di rumahnya?. Tak salah kiranya, kita mengutip pernyataan salah seorang ahli sosiologi bahwa bangsa Indonesia ‘masih’ memiliki mental : suka menerabas, tidak sadar mutu, kurang menghargai hasil karya orang lain, dan tidak percaya pada diri sendiri. Anda percaya dengan pernyataan ini? silahkan tanya diri kita masing-masing..karena sebagian besar film DVD dan VCD ku adalah bajakan (Keyanaku.blogspot.com)

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images