Industrialisasi dan Pendidikan dalam Islam

February 10, 2008

Heri SudarsonoStaff Pengajar Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta

Proses industrialisasi membawa pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikan di negara kita. Pendidikan tidak lebih sebagai alat yang digunakan untuk mendeteksi dan mengikuti apa yang diinginkan industrialisasi yang direfleksikan dari kerangka silabi, setumpuk referensi, metode pengajaran, dan sistem penilaian. Dalam hal ini pendidikan bukan menjadi entitas independen dalam kehidupan manusia tetapi menjadi sebuah alat yang mefungsikan diri sebagai jalan bagi manusia menghadapi industrialisasi.

Bila pendidikan digunakan untuk mengakomodasi kepentingan industrialiasi, maka pendidikan akan memaknai fungsi manusia dan benda-benda sekitar kita seperti industrialisasi inginkan. Kemampuan manusia pun akhirnya mengikuti keinginan industrialisasi yang mengarah pada penyeragaman karakter manusia. Oleh karenanya, pendidikan mengasumsikan bahwa manusia mempunyai kemampuan sama, maka sama pula proses pembelajaran bagi mereka semua. Dampak dari proses ini adalah usaha untuk memberi peringkat di kelas-kelas, tanpa mempedulikan perbedaan potensi di antara mereka.

Pendidikan dalam konsep industrialisasi akan memberikan solusi bagi manusia pada pilihan-pilihan mekanistik. Industrialisasi telah memenjarakan pada pemaknaan-pemaknaan baru sehingga tingkat kesadaran manusia atas posisi di semesta terekayasa oleh kepentingan interpretasi industrialisasi. Bila nama, istilah, dan simbol dimaknai secara mekanistik, maka makna-makna ini akan mengikat manusia pada dunia baru yang serba materialistis. Dalam dunia ini kehormatan manusia dihargai dari berapa besar materi yang dihasilkannya. Kehidupan menjadi diskriminatif dan makna diskriminasi dalam industrialisasi menjelma menjadi sesuatu yang tidak mengandung sensitivitas dalam ranah pemaknaanya karena diskriminasi adalah konsekuensi dari simbol kemajuan industrialisasi.

Pendidikan Islam
Pendidikan saat ini lebih banyak menawarkan konsep 'bagaimana untuk menjadi' bukan 'mengapa harus menjadi'. Dari sini kita bisa melihat bagaimana pendidikan membingkai anak didik sebagai mahluk pasif, bukanlah mahluk aktif yang dapat menidentifikasi, mengklasifikasi, dan memverifikasi dunia dalam imajinasinya. Bila pendidikan mengabaikan manusia sebagai mahluk aktif maka pendidikan tidak akan mampu mengakomodasi keutuhan manusia atas kemanusiaannya.

Pendidikan seperti ini akan mengarahkan manusia pada jalan yang serba pragmatis karena dituntut untuk mendapatkan identitas atau gelar sebagai simbol keahliannya dan keilmuannya dalam bidang tertentu namun tidak menyadari mengapa harus memiliki identitas seperti itu. Identitas tidak akan menjawab masalah manusia bila identitas sendiri tidak menjamin manusia bisa memenuhi kebutuhan di tingkat idelitasnya karena identitas yang dihasilkan tidak didapatkan dari proses pendidikan yang seutuhnya.

Yaitu pendidikan yang melibatkan aspek pasif dan aktif dari diri manusia sehingga manusia mampu memposisikan dirinya sebagai mahluk yang utuh. Keutuhan inilah yang akan mempengaruhi persepsi manusia atas dirinya terhadap semesta. Keutuhan juga menjadi titik tolak bagi manusia dalam membebaskan diri dari belenggu yang menyekat fitrahnya.
Tujuan akhir pendidikan adalah bagaimana manusia mendapatkan kebahagiaan sejati. Kebahagian tidak akan didapat bila ia selalu menjauhi fitrahnya.

Manusia tidak akan mendapatkan fitrah yang dimiliki bila selalu menjauhi apa yang Allah kehendaki. Pendidikan dalam Islam selalu melibatkan kehendak Allah dalam memposisikan hidup manusia. Oleh karena itu, Naquib Alatas (1999) dalam Concept of Education mendefinisikan pendidikan sebagai pengenalan dan pengakuan, yang diajarkan secara progresif kepada manusia, mengenai tempat yang sebenarnya dari segala sesuatu dalam tatanan ciptaan yang mengarah pada pengenalan dan pengakuan tempat yang patut bagi Allah dalam tatanan wujud dan eksistensi.

Islam sebagai din (agama) mempunyai peran pengingat peristiwa perjanjian primordial antara Allah dan manusia. Manusia diingatkan kembali akan fitrahnya sebagai seorang hamba dengan spesifikasi potensi tertentu. Menurut Naquib (1993), sudah ada janji sebelumnya antara manusia dan Allah yang membawa konsekuensi pada kelahiran seorang manusia yang ideal dengan karakter keilmuan yang khas. Allah kembali mengingatkan janji manusia tersebut melalui ajarannya yang kita bisa implisitkan lewat pendidikan.

Oleh karenanya sebagai pengingat, pendidikan memiliki tanggung jawab meletakkan kembali manusia pada tempatnya sebagai manusia. Jadi, industrialisasi adalah refleksi dari spektrum manusia sebagai makhluk yang memiliki posisi tinggi bukan sebaliknya. Sebagaimana yang dinyatakan Naquib, tujuan sebenarnya pendidikan Islam adalah mengajarkan dan memperkenalkan adab kepada seorang manusia. Adab adalah memposisikan diri sendiri dalam suatu sistem yang terdiri dari tingkatan (maqamat) dan level (maratib).

Pendidikan merupakan proses penyadaran atas posisi manusia. Hal ini mengandung berbagai konsekuensi dari pembentukan sistem pendidikan, seperti dalam proses belajar-mengajar. Guru dan murid memiliki peran sebagai 'penikmat' ilmu dalam visi spiritual. Mereka saling menghormati karena tuntutan kemanusiaannya untuk mendapatkan penyadaran. Oleh karenanya tujuan pendidikan dalam Islam tidak akan meninggalkan prosesnya agar timbul penyadaran akan posisi manusia sebagai hamba Allah dan ciptaan-Nya.

Bila manusia mampu membawa dirinya kepada fitrahnya, maka mereka akan beruntung sehingga mereka mendapatkan kebahagian sejati. Bukankah tujuan hidup menusia menjadi orang yang berbahagia? Menurut Naquib (2001) dalam The Meaning and Experience of Happiness in Islam, kebahagiaan adalah keyakinan yang membuahkan ketenangan hati. Keyakinan terjadi kalau manusia bisa melihat jelas segala unsur dari segala eksistensi yang ada di dalam dirinya dan ada di objek yang dilihat. Selanjutnya manusia mampu meletakkan dirinya pada keberadaan dirinya sebagai subjek di semesta. ( )

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images