BERKARAKTERKAH KITA (SEBAGAI GURU) ?

January 16, 2008

Oleh: Iwan Gunawan
(Guru SD Salman Al Farisi Bandung)

Beberapa tahun terakhir ini, pendidikan kita diingatkan kembali akan pentingnya menanamkan karakter dalam semua proses pembelajaran. Pendidikan karakter telah menjadi gaung yang menggetarkan pendidikan kita. Betapa tidak? Karena selama ini, kita lebih banyak dininabobokan dan hanya berkonsentrasi pada ‘meraih angka’ semata, sebagaimana dikatakan Ratna Megawangi “…Hal ini terlihat dari bobot mata pelajaran yang diarahkan kepada pengembangan dimensi akademik siswa saja, yang sering diukur dengan kemampuan logika-matematika dan abstraksi (kemampuan bahasa, menghafal, abstraksi – atau ukuran IQ).”. Sehingga generasi yang dihasilkan adalah generasi yang kurang peka terhadap permasalahan-permasalahan sosial di sekitarnya. Generasi ‘karbitan’ itulah istilah ekstrem yang bisa diberikan.
Apabila dirunut ke belakang, sebenarnya Indonesia telah lama melaksanakan pendidikan yang berbasis karakter. Mungkin kita pernah ingat adanya pendidikan budi pekerti, pendidikan moral Pancasila, pendidikan agama, tetapi mengapa tidak membawa perubahan dan kebermaknaan? Mengapa hanya lip service belaka?

Beberapa hal yang menyebabkan tidak berhasilnya pendidikan karakter kita, selain karena masalah politisasi materi pendidikan itu sendiri – yang memang pada saat itu lebih cenderung pada penanaman dogma-dogma penguasa, sebagai upaya untuk melanggengkan kekuasaan - juga karena tidak adanya contoh yang bisa dijadikan sebagai idola dan panutan dalam berkarakter yang baik.

Betapa Nabi Muhammad sangat diagungkan oleh umat Islam dalam semua segi kehidupannya, karena beliau memiliki karakter yang bisa diandalkan dan dicontoh, begitu pula halnya dengan Sidharta Gautama yang sangat disanjung dan diikuti ajarannya oleh umat Budha. Nabi Muhammad dan Sidharta Gautama adalah contoh-contoh idola dan guru yang berkarakter mulia.

Guru sebagai ujung tombak pendidikan, memiliki peran yang sangat sentral dalam mewujudkan siswa yang berkarakter. Guru selain dituntut untuk menyampaikan materi, juga dituntut untuk menjadi ‘GURU – digugu dan ditiru’ yang sebenarnya. Guru harus bisa menanamkan moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Memberi penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character base education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran dan juga dalam kehidupan nyata. Lalu apa realitas yang terjadi?

Mungkin masih ada dalam ingatan kita, disaat narkoba menyerbu banyak murid sekolah. Semua sekolah - pada saat itu dan juga sampai saat ini - memasang kuda-kuda untuk mencegah masuknya ‘racun tersebut’ dengan slogan-slogan yang tertempel jelas di gerbang sekolah “Sekolah bebas asap rokok”, “dilarang merokok”, “Daerah bebas rokok”, “No Smoking” dan juga slogan-slogan lain yang yang tak kalah hebatnya. Tetapi sadarkah kita, bahwa masih banyak guru yang senang berteman dan ber’tuhan’kan pada rokok ini, baik dengan cara bersembunyi atau terang-terangan.

Suatu hari ada seorang guru di Bandung yang memprotes pengawas TK/SD dan juga guru-guru lain yang merokok pada saat rapat dinas tentang pendidikan lingkungan hidup. Guru tersebut mempertanyakan, bagaimana pendidikan lingkungan hidup bisa berhasil, sedangkan para guru dan pengawasnya menjadi penyumbang kerusakan lingkungan hidup, dengan asap rokoknya?
Bagaimana kita bisa melarang murid untuk tidak merokok dan membebaskan sekolah dari asap rokok, sedangkan guru-gurunya juga merokok. Tidak adil memang. Tapi itulah resiko yang harus diambil apabila kita ingin menjadikan pendidikan kita berkarakter. Mulailah dari diri sendiri untuk menjadi ‘diri yang berkarakter’

Banyak guru yang menjadi marah kalau muridnya terlambat datang ke sekolah, sedangkan apabila gurunya telat datang, betapa banyak alasan yang disampaikan pada muridnya., dan mungkin juga masih banyak kelemahan-kelemahan kita sebagai guru, yang tidak mendukung tercapainya pendidikan berkarakter seperti membuang sampah sembarangan, mengajar asal-asalan, mengejek murid, berlaku kasar terhadap murid, dsb. Masih bisa jujurkah kita dengan perbuatan-perbuatan seperti itu? Ingat, kita adalah GURU yang harus DIGUGU dan DITIRU. Kalau kita tidak bisa jadi ‘GURU’, maka sebagaimana dikatakan Anis Mata dalam bukunya ‘Membentuk Karakter Cara Islam’ “…bahwa penyebab terjadinya krisis moral adalah 1) Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai, misalnya etika dan estetika, 2) Hilangnya model kepribadian yang integral, yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan, kebaikan dengan kekuatan, dan seterusnya, 3) Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral“

Pendidikan karakter pada dasarnya dibentuk oleh beberapa pilar yang saling mengkait. Adapun pilar-pilar karakter ini adalah nilai-nilai luhur universal yang terdiri dari:
1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
2. Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan Kemandirian
3. Kejujuran
4. Hormat dan Santun
5. Kasih Sayang, Kepedulian, dan Kerjasama
6. Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras, dan Pantang Menyerah
7. Keadilan dan Kepemimpinan
8. Baik dan Rendah Hati
9. Toleransi, Cinta Damai, dan Persatuan

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang ditujukan untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good, yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands. Ayo kita bangun diri kita sebelum membangun orang lain,

Hadist riwayat Imam Ahmad : Rasulullah berkata, “Inginkah kalian kuberitahu tentang siapa dari kalian yang paling kucintai dan akan duduk di majelis terdekat denganku di hari kiamat?” Kemudian Rasul mengulanginya sampai tiga kali, dan sahabat menjawab “Iya, ya rasulullah !” Lalu rasul bersabda, “Orang yang paling baik akhlaknya.”

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images