PENDIDIKAN KARAKTER : SEBUAH KEHARUSAN

November 27, 2007

LATAR BELAKANG

Indonesia saat ini sedang menghadapi dua tantangan besar, yaitu desentralisasi atau otonomi daerah yang saat ini sudah dimulai, dan era globalisasi total yang akan terjadi pada tahun 2020. Kedua tantangan tersebut merupakan ujian berat yang harus dilalui dan dipersiapkan oleh seluruh bangsa Indonesia. Kunci sukses dalam menghadapi tantangan berat itu terletak pada kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang handal dan berbudaya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM sejak dini merupakan hal penting yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh.

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Menurut Freud kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini ini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam
mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam Kehidupan sosial di masa dewasanya kelak (Erikson, 1968).

Thomas Lickona -seorang profesor pendidikan dari Cortland University mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah :
(1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja,
(2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk,
(3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan,
(4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas. (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk,
(6) menurunnya etos kerja,
(7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,
(8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara,
(9) membudayanya ketidakjujuran, dan

(10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Jika dicermati, ternyata kesepuluh tanda jaman tersebut sudah ada di Indonesia. Selain sepuluh tanda-tanda jaman tersebut, masalah lain yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sistem pendidikan dini yang ada sekarang ini terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) dan kurang memperhatikan pengembangan otak kanan (afektif, empati, dan rasa). Padahal, pengembangan karakter lebih berkaitan dengan optimalisasi fungsi otak kanan. Mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan karakter pun (seperti budi pekerti dan agama) ternyata pada prakteknya lebih menekankan pada aspek otak kiri (hafalan, atau hanya
sekedar “tahu”).

Padahal, pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek “knowledge, feeling, loving, dan acting”. Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan “latihan otot-otot akhlak” secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan kuat.

Pada dasarnya, anak yang kualitas karakternya rendah adalah anak yang tingkat Perkembangan emosi-sosialnya rendah, sehingga anak beresiko besar mengalami
kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan tidak mampu mengontrol diri. Mengingat pentingnya penanaman karakter di usia dini dan mengingat usia prasekolah merupakan masa persiapan untuk sekolah yang sesungguhnya, maka penanaman karakter yang baik di usia prasekolah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.

Thomas Lickona (1991) mendefinisikan orang yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespons situasi secara bermoral—yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya. Pengertian ini mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Aristoteles, bahwa karakter itu erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dilakukan.

Menurut Berkowitz (1998), kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai-nilai karakter (valuing). Misalnya seseorang yang terbiasa berkata jujur karena takut mendapatkan hukuman, maka bisa saja orang ini tidak mengerti tingginya nilai moral dari kejujuran itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan juga aspek emosi. Menurut Lickona (1991), komponen ini adalah disebut “desiring the good” atau keinginan untuk berbuat baik.


Pendidikan 9 Pilar Karakter untuk TK dan Sekolah Dasar

Kami menyediakan materi siap pakai untuk membantu para pendidik dalam melaksanakan pendidikan karakter di sekolahnya (mulai dari TK sampai SD Kelas 6). Bahan acuan ini disusun untuk diimplementasikan sekitar 15 menit/hari sebelum kegiatan inti di kelas dimulai.

Setiap tema Pilar Karakter diatur untuk dapat diterapkan selama 2 sampai 3 minggu. Masing-masing tema Pilar terdiri dari berbagai macam contoh kegiatan praktis bagi para pendidik yang terfokus pada metode: knowing the good, feeling and loving the good and acting the good.

9 Pilar Karakter tersebut adalah:

1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya (love Allah, trust, reverence, loyalty)
2. Tanggung jawab, Kedisiplinan dan Kemandirian (responsibility, excellence, self
reliance, discipline, orderliness)
3. Kejujuran/Amanah dan Arif (trustworthines, honesty, and tactful)
4. Hormat dan Santun (respect, courtesy, obedience)
5. Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama (love, compassion,
caring, empathy, generousity, moderation, cooperation)
6. Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity,
resourcefulness, courage, determination, enthusiasm)
7. Kepemimpinan dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership)
8. Baik dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humility, modesty)
9. Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

Disamping 9 Pilar karakter di atas, kami juga menyiapkan materi untuk mengajarkan kebersihan, kesehatan, kerapian dan keamanan pada anak.


• Metode Pendidikan 9 Pilar Karakter

Metode yang digunakan disebut sebagai “Refleksi Rutin” atau Apperception. Setiap pagi anak-anak diminta untuk mengikuti kegiatan refleksi Pilar selama 1520
menit sesuai dengan Pilar yang sedang diterapkan saat itu. Pemberian waktu khusus untuk refleksi memberikan kesempatan pada anak untuk

mengekspresikan secara verbal pengetahuannya, kecintaannya dan bagaimana seharusnya mereka bertindak sesuai pilar.



Pelatihan Penerapan 9 Pilar Karakter
Dalam rangka mempersiapkan guru untuk penerapan modul, Kami menyelenggarakan pelatihan satu hari untuk sekolah-sekolah yang ingin
menerapkan program ini. Adapun materi-materi yang akan diberikan adalah:

1. Wawasan Perlunya Pendidikan Karakter (Heartstart Paradigm)
2. Developmentally Appropriate Practices
3. Bagaimana Mengalirkan Karakter di Kelas
4. Praktek Pengaplikasian Modul 9 Pilar Karakter


Pendidikan karakter bukanlah sesuatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, akan tetapi berkaitan dengan seluruh aktivitas kehidupan. Karenanya program pendidikan 9

Pilar Karakter dapat diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran akademis
(mulai dari TK sampai Sekolah Dasar, kelas 6).

• Konsep Kurikulum Holistik Berbasis Karakter
Kurikulum Holistik Berbasis 9 Pilar Karakter akan membantu seluruh pedidik dalam menerapkan pedidikan karakter sepanjang tahun ajaran, yang
diintegrasikan dalam seluruh disiplin ilmu. Masing-masing aspek dari kurikulum diterapkan dengan menggunakan pendekatan Student Active Learning,
Developmentally Appropriate Practices, dan Contextual Learning yang dapat menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan menyenangkan.

• Pelatihan Aplikasi Kurikulum Holistik Berbasis Karakter
Untuk membekali guru dalam penerapan kurikulum ini, kami menyediakan pelatihan selama 2 hari dengan strategi penerapan untuk membantu pendidik
dalam mengintegrasikan 9 Pilar ke dalam seluruh mata pelajaran. Adapun materi-materi yang akan diberikan adalah:

1. Wawasan Perlunya Pendidikan Karakter (Heartstart Paradigm)
2. Developmentally Appropriate Practices
3. Brain Based Learning and Teaching
4. Pembelajaran Holistik Berbasis Karakter
5. Praktek Aplikasi Pembelajaran Holistik Berbasis Karakter

You Might Also Like

1 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images