PLH dan Pendidikan Karakter Anak Didik Kita

October 01, 2007

Oleh: ASEP KUSNAWAN, S.Pd.
( Bandung, Klik-galamedia.com, 25 Mei 2007 ).

WACANA pendidikan dengan menekankan pada aspek lingkungan, kini menjadi hal penting untuk segera direalisasikan. Muatan lokal (mulok) wajib menjadi alternatif bagi pengembangan kurikulum sekolah, khususnya di Kota Bandung, untuk mengembangkan konsep pendidikan lingkungan hidup (PLH) atau yang kini telah dikembangkan oleh pemerintah Kota Bandung dengan istilah PLH yang secara resmi telah menjadi mulok wajib di setiap sekolah.

Konsep ini identik dengan konsep green education yang jauh hari telah dikembangkan di negara-negara maju, seperti Jerman. Konsepnya berangkat dari sebuah kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sebagai aset berharga.

Di Indonesia, khususnya Kota Bandung, filosofi dasar konsep ini jelas menjadi sangat penting di tengah-tengah keprihatinan kita terhadap kerusakan alam, seperti kebakaran hutan, banjir, dan sampah di mana-mana. Selain itu, yang paling mencolok adalah kesadaran pelajar bahkan kaum terdidik untuk bersama-sama menjaga dan memelihara lingkungan dirasakan masih rendah.
Pendidikan, mungkin salah satu alternatif untuk mengembalikan semua kesadaran ini melalui jalur formal. Membangun kesadaran terhadap lingkungan erat kaitannya dengan membangun budaya atau karakter itu sendiri. Artinya, diperlukan waktu cukup lama disertai konsistensi para pembuat kebijakan dan pelaksana di bawahnya untuk menjadikan budaya cinta lingkungan menjadi karakter sebuah bangsa. Singapura, misalnya, untuk membangun budaya antre memerlukan waktu belasan tahun. Malaysia, kini menuju masyarakat yang knowledge society, masyarakat berkarakter yang menyadari sepenuhnya dengan kesadaran betapa pentingnya lingkungan hidup yang tertib.

Konsep lingkungan hidup atau green education hendaknya dimaknai bukan hanya sebagai wacana kurikulum yang pada akhirnya akan terjebak menjadi konsep hapalan atau kognisi, tak jauh beda dengan pelajaran PKPS/PPKn atau pelajaran agama di sekolah yang tidak membentuk nilai dan karakter siswa.

PLH, seharusnya menjadi implementasi dari bentuk kepedulian terhadap lingkungan sebagai manifestasi rasa syukur atas karunia yang diberikan Allah SWT melalui alam semesta sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Bahwa belajar tidak lagi identik dengan konsep in door, seharusnya mulai ditinggalkan.

Siswa akan diperkenalkan dengan konsep pendidikan yang menyatu dengan alam. Mereka bagian dari alam itu sendiri. Dalam QS Ali Imran ayat 190 Allah SWT berfirman yang artinya, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal." Pendekatan pembelajaran lingkungan pada intinya adalah mendekatkan anak pada kekuasaan Sang Pencipta. Kesadaran bahwa segala sesuatu di alam menjadi objek pembelajaran.

Wujud sekolah dengan konsep lingkungan hidup yang nyata akan tercermin dari beberapa hal, di antaranya sekolah memiliki kurikulum yang bermuatan wawasan lingkungan, sekolah mempunyai rancang bangun, dan penggunaan bahan/pemeliharaan sarana serta prasarana berdasarkan prinsip-prinsip ramah lingkungan. Sekolah memiliki manajemen yang efektif dan efisien, sementara warga sekolah memiliki kepedulian lingkungan sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah.

Pendidikan lingkungan hidup yang benar seharusnya menghasilkan output anak didik yang mempunyai karakter sidiq, istikamah, fatanah, amanah, dan tablig. Karakter ini jika terhimpun pada diri anak didik akan menjadi kunci bagi keseimbangan alam dan lingkungan. Dengan demikian, konsep lingkungan hidup atau GE yang akan diterapkan harus bersifat partisipatif yang menyertakan semua komponen masyarakat, kemudian berkelanjutan dengan tetap istikamah serta ajek yang berorientasi pada pendidikan karakter yang akan dibangun serta bersifat menyeluruh. Wallahualam. (penulis adalah staf pengajar smp islam salman al farisi bandung)**

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images