Monday, October 6, 2008

Malu

Oleh: Imam Syarifuddin

Malu adalah sifat yang dipuji oleh semua makhluk, tidak terkecuali hewan. Karena, semua makhluk, khususnya manusia, tidak mau atau benci kalau dikatakan tidak bermoral, tidak beradab, aibnya diketahui orang, dan sebagainya. Malu adalah fitrah manusia.

Dalam Islam, malu adalah salah satu ciri keistimewaan akhlak Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, ''Sesungguhnya, setiap agama memiliki keistimewaan akhlak. Dan, keistimewaan akhlak Islam adalah malu.''

Bahkan, dalam hadis lain, Nabi bersabda, ''Malu adalah sebagian daripada iman.'' Artinya, tidak sempurna iman seseorang kalau dia tidak memiliki sifat malu. Dan, Abu Na'im dalam kitab Mukhtarul Ahadist meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, ''Malu dan iman keduanya selalu berbarengan. Apabila salah satu di antaranya lenyap, yang lainnya pun akan lenyap pula.'' Karena, ''Malu tidak mendatangkan, kecuali kebaikan.'' (HR Syaikhan).

Iman dalam Islam memiliki tiga komponen yang saling berkaitan erat, tidak dapat dipisahkan, yaitu keyakinan, ikrar, dan amal perbuatan.
Apabila rasa malu hilang, seluruh kebaikan pun akan lenyap. Kalau kebaikan lenyap, apa yang dapat kita harapkan dari kehidupan dunia ini? Dan, yang harus kita waspadai adalah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Fitan, ''Sesungguhnya, Allah apabila ingin menghukum hamba-Nya, salah satu tandanya adalah hilangnya rasa malu.''

Maka, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, kita harus memupuk rasa malu agar kebahagiaan, ketenteraman, dan keamanan dapat terwujud. Semua komponen masyarakat harus terlibat, baik pemimpin, cendekiawan, ulama, maupun rakyat. Karena, semua komponen saling memiliki ketergantungan. Malu bila mencuri hak rakyat, malu bila tidak bisa berbuat maksimal untuk kemaslahatan rakyat, malu bila menerima gratifikasi dalam ''baju'' parsel, dan sebagainya.

Ulama atau cendekiawan yang berfungsi sebagai penengah juga harus berbekal malu yang banyak. Malu bila mau diperalat penguasa, malu bila tidak bisa memberikan masukan yang positif bagi rakyat, dan malu bila menyembunyikan ilmu yang dimiliki. Semoga Allah SWT selalu menuntun, membimbing, dan melindungi pemimpin, ulama, dan rakyat negeri ini. Amin Ya Rabbal Alamin.

Neno Warisman Siapkan Pemimpin Masa Depan

(Republika) Anak adalah aset bangsa yang harus dijaga, dibekali pendidikan agar siap untuk menjadi pemimpin yang unggul. Sayangnya, kebanyakan masyarakat termasuk ibu beranggapan, pendidikan anak cukup dengan gelar sarjana.

Hal itu yang kini menggelayuti pikiran Neno Warisman. Dia mengaku sangat gelisah. Kini Neno tengah disibukan dengan pikirannya mengenai dasar ilmu yang baik bagi seorang anak, yaitu Al-Quran.

"Saya lagi gelisah, memikirkan cara nyata untuk membuat Al-Quran menjadi dasar ilmu bagi remaja. Bagaimana caranya mengemas ilmunya dengan cara yang sesuai dengan remaja. Funky tetapi tetap islami," ujarnya saat dihubungi Republika Online melalui saluran telepon di Jakarta, Selasa (7/10).

Neno juga mengatakan hal tersebut tidak akan berjalan dengan maksimal jika hanya sekedar dipikirkan saja. Wanita berjilbab tersebut menurutkan, harus ada lembaga atau program televisi yang mengemas nilai-nilai Al-Quran secara menarik agar tepat sasaran bagi remaja Indonesia.

Saat ini Neno menerapkan cara tersebut pada ketiga buah hatinya. Anak-anaknya yang berusia remaja dikirim Neno ke Majelis Ilmu.

Hasilnya pun diluar dugaan, anaknya yang paling mampu memahami ilmu Al-Quran meski cara mengkajinya tidak 'nge-pop'. Neno sangat paham bahwa untuk melahirkan pemimpin bukanlah sesuatu yang instan. Dia menyayangkan pemimpin-pemimpin sekarang bertipikal "super toy".

"Pemimpin-pemimpin sekarang tidak ada yang bunyi, kayak super toy, gabuk," ungkapnya.

Untuk menyiapkan pemimpin yang unggul, sebagai seeorang ibu, Neno merasa peran ibu saat ini masih sangat sedikit.

"Sayang sekali melihat banyak ibu-ibu yang main di mall, ini bukan berarti ibu tidak boleh ke mall. Tapi peran dan fungsi ibu itu bukan di mall. Ibu jangan mau dijadikan komoditi oleh produsen, ibu itu poros utama dalam menyiapkan pemimpin yang unggul," paparnya.

Menurut Neno, selain mengemas Al-Quran menjadi dasar ilmu yang "funky' untuk remaja, dia juga merasa harus ada pergerakan kaum ibu.

"Harus ada gerakan ibu, seharusnya itu kebangkitan ibu, bukan kebangkitan nasional, karena pendidikan anak berpulang ke ibu," imbuhnya.

Dia mengharapkan akan ada produsen atau lembaga yang punya perhatian dan semangat membangun bangsa.

"Semoga dengan munculnya pemikiran saya di media akan membuka jalan cita-cita itu terlaksana. Jika Allah mengabulkan, Insya Allah ada perusahaan uang mau duduk bareng untuk membahas hal ini," harapnya. (cr1/ri)

Foto: dok republika
 

WHEN SUHENG TALK... Template by Ipietoon Cute Blog Design