|
|
| MEMBANGUN KARAKTER SISWA DENGAN "SEPIRING NASI" |
| Wednesday, November 11, 2009 |
Oleh: Iwan Gunawan Guru SD Salman Al Farisi
“Guru kreatif terkadang mengajar dalam bingkai eksplorasi dan ketidakjelasan. Ia lebih mencari esensialitas daripada rutinitas atas apa yang dipelajari bersama siswa. Ia akan tersenyum manakala siswa bertanya, ”Pak saya menemukan hal berbeda, tidak seperti yang bapak katakan atau teman saya temukan, mengapa?”
Awalnya ada sedikit keraguan untuk menuliskan pengalaman ini, karena banyak teman yang ‘agak sedikit’ mengerutkan dahi dengan ‘metode yang agak sedikit nyleneh’ yang saya pakai ini. Tapi biarlah itu berlalu, mungkin mereka belum tahu metode ‘sepiring nasi’ yang pernah saya gunakan.
Ide awal menggunakan metode ini, didasari oleh sebuah kebingungan mengunakan metode yang tepat untuk menjelaskan materi PKn tentang ‘Manusia sebagai mahluk sosial’. Dalam hal ini saya dituntut untuk bisa menterjemahkan hal-hal yang abstrak menjadi nyata buat siswa, sehingga bisa memudahkan siswa untuk memahami materi yang rumit dengan cara yang sederhana.
Berbicara tentang sepiring nasi, kita mungkin selalu mengkaitkannya dengan masalah makan, perut lapar, nikmat dan sebagainya. Tetapi tahukah kita bahwa sepiring nasi menyimpan banyak rahasia yang bisa digunakan dalam pembelajaran? Lalu apa kaitan antara sepiring nasi dengan pembelajaran? Secara sepintas mungkin tidak ada. Tetapi apabila kita mau sedikit kreatif dengan sepiring nasi, maka kita bisa menjadikannya sebagai sebuah metoda pembelajaran.
Sepiring nasi yang biasa kita makan, sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam bagi tumbuhnya kepekaan, kepedulian dan penghargaan atas hasil jerih payah orang lain. Mungkin selama ini, kita hanya memandang sesaat sepiring nasi tanpa menganalisisnya lebih dalam. Bahkan kita tidak punya waktu sama sekali untuk memperhatikan sepiring nasi ini disaat perut sudah sangat lapar.
Cobalah amati dengan seksama dan luangkan waktu sejenak, “Apa saja” yang ada dalam sepiring nasi? nasi, ikan asin, ikan goreng, ayam goreng , tahu, lalap, sambal, tempe, ketimun, garam, vetsin, piring, sendok atau mungkin ada hal yang lainnya?
Dari analisis sederhana ini, cobalah uraikan kembali ‘siapa saja’ yang berperan dalam menyediakan barang-barang tersebut. Sebagai contoh, petani merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam menyediakan beras, Ibu yang memasak nasi dan menggoreng, tahu dibuat oleh pengrajin tahu, garam disediakan oleh petani garam, dan tentunya masih banyak pihak-pihak lain yang terlibat. Pernahkan kita berpikir sejauh itu? Mungkin selama ini kita hanya siap untuk menerima semua itu dalam keadaan sudah jadi…nasi rames!
Sekarang, apa kaitannya antara sepiring nasi dengan pembelajaran? Kini saatnya guru untuk menjelaskan tentang keberadaan manusia sebagai mahluk social. Sebagai mahluk sosial, manusia memiliki keterbatasan dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Ajaklah siswa untuk membayangkan suatu keadaan, dimana ketika dia akan ‘makan’ harus mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri mulai dari menanam padi selama 6 bulan, mengeringkan air laut untuk membuat garam, menanam kedelai untuk membuat tahu dan tempe, menangkap ikan di laut untuk membuat ikan asin. Keadaan ‘imaginer’ seperti ini haruslah diterapkan, agar siswa memiliki kepekaan terhadap hasil kerja dan jerih payah orang lain.
Untuk membangun rasa kepekaan dan kepedulian, ajaklah siswa untuk membuat pengandaian-pengadaian seperti ini “Seandainya tidak ada petani, kita tidak bisa makan nasi”, “seandainya tidak ada petani garam, tentunya makanan kita tidak ada rasanya”. Dari pengandaian-pengandaian ini, guru bisa mengajak siswa untuk menyimpulkan sendiri tentang ‘pentingnya ada orang lain di sekitar kita’, tanpa adanya mereka maka kebutuhan-kebutuhan kita tidak akan bisa terpenuhi.
Sepiring nasi! Kau telah memberi sebuah inspirasi. Lalu, apakah kita sebagai guru masih bingung dalam mencari metode untuk mengajarkan suatu materi? Ijinkan saya mengutip sebuah anekdot
“suatu saat dua orang yang berasal dari sekolah yang sama bertemu. Walaupun berbeda angkatan tetapi mereka cepat akrab dan pada saat mereka membicarakan salah seorang gurunya, mereka kemudian tertawa bersama-sama karena setelah obrolan yang panjang terungkap bahwa sang guru tersebut masih melakukan praktek pengajaran yang persis sama, bahkan ketika waktu kelulusan mereka terpaut lebih dari 7 tahun. Ini membuktikan bahwa guru yang bersangkutan tidak mau berubah dan mensejajarkan diri dengan kemajuan jaman. Sudah bukan jamannya lagi kita mengajar berdasarkan diktat kuliah serta keterangan dari dosen-dosen yang mengajar kita saat di universitas dahulu. Jaman berubah demikian cepat dan informasi bertambah terus menerus membuat sebuah ilmu menjadi cepat usang dan ketinggalan. |
posted by Iwan gunawan @ 5:31 PM  |
|
|
|
| Gara-Gara Nyamuk |
| Wednesday, May 6, 2009 |
Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd Setibanya pulang kerja, aku langsung ke dapur mengambil segelas air untuk menghilangkan dahagaku..betapa air ini telah menghilangkan dahagaku. Akan tetapi ditengah keasyikanku minum, tiba-tiba...PLAK!..anakku yang pertama memukul tanganku yang sedang memegang gelas, dan kontan saja air yang sedang kuminum tumpah berceceran membasahi bajuku. Mendapat perlakuan seperti ini, secara refleks kakiku hendak menendang anakku yang baru berumur 6 tahun ini. Akan tetapi kiranya Allah masih memberikan pelajaran bagiku supaya tidak kasar pada anakku, kakiku yang awalnya hendak menendang amanah Allah secara tak diduga malah menendang tumpukan panci...PRANG!!! suara panci berjatuhan dan mengagetkan anakku hingga menangis sambil berteriak "Ayah..! aku nggak sengaja.." "Mengapa kamu memukul tangan ayah? ayah kan lagi minum...lihat baju ayah jadi basah begini!" tanyaku dengan nada tinggi "Ayah..aku nggak sengaja..." sambil nangis dan memelukku..."Aa..hanya mukul nyamuk di tangan ayah.." lanjutnya. Mendengar jawaban annaku, aku sedikit terhentak dan langsung melihat tanganku yang tadi dipukul...ternyata benar juga, seekor nyamuk telah mati tertempel ditanganku...Astaghfirullah, ternyata anakku telah menyelamatkan aku dari gigitan nyamuk, yang siapa tau bisa menyebabkanku demam berdarah.. Aku tersadar dan langsung minta maaf pada annaku sambil kupeluk..ternyata apa yang kita anggap jelek, belum tentu itu buruk bagi kita. Aku telah belajar sebuah hikmah dari annaku, ternyata keburukan yang dilakukan oleh seseorang belum tentu buruk buat kita..berbaik sangkalah terlebih dulu...Ya Allah ampuni kelemahan aku ini..engkaulah yang Maha Sempurna (Untuk anakku daffaa Aria Gunawan) |
posted by Iwan gunawan @ 6:37 PM  |
|
|
|
| ORANG TUA CONTOH YANG NYATA |
| Wednesday, April 29, 2009 |
Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd Tidak seperti biasanya Shabna murung ketika belajar. Anak yang biasanya riang ini tampaknya menyimpan suatu masalah yang sukar untuk diungkapkan. Kemurungan kian bertambah, ketika tiba-tiba Shabna menangis tersedu-sedu.
Banyak temannya yang mencoba mencari tahu apa alasan dia murung dan menangis, tetapi hasilnya tetap sia-sia. Shabna tetap bungkam dan engkar berbicara kepada siapapun.
Tapi anehnya, setelah dia mengikuti pelajaran ilmu sosial wajahnya agak berbinar dan mau berbicara dengan wali kelas, bahkan dia sempat berkata "aku telah mendapat jawabannya".
alkhirnya dia mau bicara juga, walaupun masih untuk kalangan terbatas terutama wali kelasnya. Shabna menceritakan bahwa kemurungannya diakibatkan oleh kemarahan yang dia terima dari orang tuanya, gara-gara Shabna meminta kedua orang tuanya untuk tidak merokok.
Sedangkan di sekolahnya, Shabna sudah mendapat doktrin yang cukup kuat perihal dampak buruk rokok bagi kesehatan, sehingga sikapnya dalam meminta orang tuanya untuk tidak merokok adalah sikap yang bijak dan murni dari seorang anak.
Teman, terkadang kita berbuat tidak adil kepada anak kita. Kita menyuruh dan melarang anak kita untuk tidak merokok, kita sendiri malah melakukannya. Menyuruh anak sholat, ternyata kita sendiri tidak sholat. Bagaimana hal ini bisa berhasil? Kitalah yang menjadi teladan pertama dan utama buat mereka. |
posted by Iwan gunawan @ 11:00 PM  |
|
|
|
| SEKOLAH PEMBENTUK AKHLAK |
| Friday, April 24, 2009 |
By Hessy Widiyastuti, S.Psi Saat Silaturahmi Lebaran tahun 1429 H bertepatan dengan hari Ahad, tgl 19 Oktober 2008 di lingkungan intern Salman Al Farisi, yang dihadiri oleh dewan pengurus YYS, perwakilan guru, dan karyawan serta perwakilan orangtua murid Salman Al Farisi, Bpk Dr.Muslimin Nasution, Apu sebagai ketua dewan Pembina yys Salman menyampaikan orasinya yang intinya meminta semua stakeholders yys Salman al Farisi bersama membangun system pendidikan yang mengedepankan teknologi informasi, penggunaan Bahasa Inggris dalam pembelajaran dan yang paling penting menanamkan nilai moral dan membangun akhlak mulia.
Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ, dan EQ secara efektif. Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif. Unit TK sebagai salah satu bagian dari unit pendidikan dasar Alhamdulillah sejak diberlakukannya model pembelajaran BCCT ( Beyond Centre & Circle Time) pada tahun 2006, sudah mulai melakukan ketiga point penting yang disampaikan Bapak Muslimin. Yang paling menonjol dalam hasil yang dapat dilihat adalah pembentukan karakter dan akhlak mulia anak baik dalam bersikap maupun berucap. Sebagai gambaran, semua ibu guru TK telah terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam keseharian mereka, seperti Alhamdulillah,
Subnallah,Astaghfirullah atau Allah Akbar.Ibu guru juga terbiasa mengucapkan kata ‘maaf’ jika menegur perilaku atau ucapan anak yang kurang terpuji. Misalnya ,“maaf, mohon sandalnya dilepas di batas bersih!” atau “Maaf, tolong sebaiknya tidak naik-naik ke atas meja!”. Ibu guru pun tidak segan mengucapkan terima kasih jika anak sudah membantu dan menunjukkan perilaku terpuji. Misalnya ,“terima kasih ananda… sudah membantu ibu guru membereskan mainan.” Atau “Terima kasih ananda… sudah shalat dan berdzikir dengan khusu.” Teladan dalam tingkah laku dan berucap dari guru tampaknya membekas dan tertanam dalam hati anak TK. Berikut ini saya kutipkan beberapa respon dan komentar anak-anak TK A1 dalam menanggapi suatu kejadian yang menunjukkan akhlak terpuji.
Peristiwa 1. Siang itu di Tk Salman tidak ada air, setelah makan siang anak-anak TK diminta untuk mencuci piring sendiri, untuk melatih kemandirian mereka. Prana sudah selesai makan, ia segera pergi ke tempat cuci piring, tapi beberapa saat kemudian ia kembali ke kelas sambil berkata, “Bu guru maaf, saya tidak bisa mencuci piring karena tidak ada air.” “oh, tidak apa-apa Prana, simpan saja di tempat cucian”, jawab ibu guru Tidak lama kemudian air kran kembali menyala. Dan Prana yang tahu kejadian itu langsung berkomentar, “Alhamdulillah air sudah ada, sekarang saya bisa mencuci piring.”
Peristiwa 2. Suatu waktu ibu guru tengah menegur seorang anak A1 yang melakukan perilaku kurang terpuji, suaranya agak keras dengan mimik wajah (mungkin) tampak galak. Nadhira yang melihatnya langsung menegur, “maaf, ibu guru marah?” Ibu guru dengan setengah kaget menjawab, “ oh, tidak , Ibu guru hanya sedang menegur anak yang belum paham peraturan.” Nadhira kembali bertanya,“ Tapi kenapa wajahnya begitu, aku jadi takut!”
Peritiwa 3 Suatu siang, saat sedang membimbing shalat, ibu guru batuk-batuk. Kirana langsung berkomentar dan menunjukkan empatinya. “Ibu guru sakit yah? Ibu guru harus istirahat, nanti saat anak-anak tidur siang, bu guru harus ikut tidur!” “Subhanallah”, ibu guru terharu, “Terima kasih kirana atas perhatiannya.”
Peristiwa 4 Pagi hari sebelum bel masuk anak-anak biasa bermain di halaman, Pagi itu Prana mimisan dan diantar Nara menghampiri ibu guru di kelas. “ bu guru, ini Prana mimisan.”Kata Nara. “mengapa sampai mimisan ?” Tanya Ibu guru. “soalnya Prana kecapean kejar-kejar kodok Bu.”Jawab Nara. “oh, begitu, sini nak ibu bersihkan darahmu.” “Nah Prana jangan kejar-kejar kodok lagi yah! Nanti mimisan lagi.” Nasehat Nara kepada Prana.
Peristiwa 5 Saat itu bulan Ramadhan, semua anak TK dilatih untuk berpuasa setengah hari. Hari masih pagi, saat sedang mengerjakan tugas, Nadhira menghampiri ibu guru dan berbisik,” ibu, perutku sakit, tadi pagi aku muntah dan makanku sedikit.” Ibu guru mengelus perut Ndhira sambil berkata, “ perutnya betul-betul sakit? Mau berbuka?” Nadhira mengangguk. “ Nanti waktu istirahat tiba Nadhira boleh berbuka, tapi ngumpet ya! Jangan sampai ketahuan teman-teman!” saran bu guru. Nadhira mengangguk dan kembali mengerjakan tugasnya. Beberapa saat kemudian ia kembali menghampiri ibu guru sambil berbisik, “Ibu guru , kalau akau ngumpet, Allah tahu kan aku tidak puasa?” Ibu guru kaget mendengar pertanyaan itu, tapi langsung menjawabnya“Oh iya, Allah maha tahu, tapi Allah juga maha pemaaf, Allah membolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa. Ibu guru meminta Nadhira ngumpet, bukan ngumpet dari Allah, tapi ngumpet dari teman-teman, takutnya kalau teman-teman tahu, mereka jadi ingin berbuka juga, padahal mereka tidak sakit.”
Peristiwa 6 Di Tk Salman setiap hari setelah selesai belajar, semua anak dibiasakan untuk berwudhu dan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di kelas masing-masing. Ada dua orang anak TK yang masih bermain-main di tempat wudhu saat shalat akan berlangsung. Saat dipanggil masuk baju mereka basah dan kotor. Ibu guru menasehati dengan nada cukup tinggi karena kejadian ini sudah mereka lakukan berkali-kali. “ ibu guru marah sama vidi dan Prana, karena tidak paham aturan, ibu guru sering ingatkan kita harus menghemat air, sebaiknya membuka kran tidak besar-besar cukup sedikit saja. Sehingga airnya tidak basah ke baju !” Beberapa saat kemudian setelah berganti baju dan melaksanakan shalat dzuhur, saat sujud vidi terpeleset dan keningnya membentur lantai dengan keras. “innalilahi wa inna illaihi roji’un, sini nak ibu obati lukamu”
sambil mengobati luka vidi ibu guru memberi nasehat kepada semua anak. “Nah anak-anak itu pertanda Allah marah kepada anak yang tidak patuh kepada ibu guru. Ibu guru sayang kepada semua anak, kalau ibu guru marah itu karena sayang sama anak-anak, sekarang kita lanjutkan shalatnya.” Setelah selesai shalat, Nadhira menghampiri ibu guru dan berkata, “ ibu guru tadi saya mau nangis waktu ibu guru nasehatin vidi, kasihan vidi, juga ibu guru jadi sedih yah? Tapi nangisnya si tahan.” “Subhanallah, ibu guru terharu mendengarnya, terima kasih atas perhatian Nadhira.”Kata ibu guru sambil memeluk Nadhira dengan hangat. Selain beberapa kisah penuh hikmah, ada juga anekdot dari anak-anak yang lucu dan menggelikan.
Anekdot 1 Anak-anak Tk setelah bel masuk, dibiasakan duduk melingkar di atas karpet, berdoa surat Al Fatihah dan do’a belajar dipimpin oleh anak yang hari itu mendapat giliran piket menjadi pemimpin do,a. “teman-teman sudah siap?” kata Ali. “Siappp” jawab semua anak. “angkat tangannya tundukkan kepalanya, berdoa sebelum belajar dimulai !” Setelah selesai berdoa, ibu guru mengabsen semua anak, jika ada anak tidak masuk karena sakit, semua anak berdoa untuk teman atau pun ibu guru yang tidak masuk. “ ayo anak-anak kita berdoa untuk anaknya Bu Aal yang sedang sakit panas, katanya panasnya tinggi sekali !” ajak ibu guru. Tiba-tiba Vidi bertanya, “berapa meter tingginya Bu ?” Ibu guru tersenyum geli,” oh panasnya tidak bisa diukur dengan meteran vidi, tapi dengan alat yang namanya thermometer, nanti ibu perlihatkan yah alatnya.”
Anekdot 2 Saat tema kebersihan, guru becerita tentang seorang anak yang malas bangun pagi dan malas mandi. “ Ada seorang anak bernama X, jika akan sekolah ia sulit dibangunkan, mamanya sampai menggendongnya ke kamar mandi, tapi setelah sampai di kamar mandi X tetap tidak mau mandi. Akhirnya ia hanya cuci muka. Suatu hari badan X gatal-gatal, kulit merah dan bentol-bentol, Nah X kena batunya, karena ia tidak pernah mandi ia jadi kena kuman gatal.” Tiba-tiba Azka bertanya, “ kenapa X nya harus dibatuin Bu ?” Ibu guru tersenyum geli, “maksud ibu guru X mendapat hukuman atas ulahnya yang malas mandi sehingga kuman senang hinggap di badannya.”
Anekdot 3 Saat tema cita-citaku, ibu guru merangsang pengetahuan anak tentang beberapa profesi. “ anak tahu orang yang kerjanya mencari ikan di laut ?” Tanya ibu guru. Anak-anak tidak ada yang menjawab. “ Ne…” ,ibu guru memberi petunjuk. Anak-anak masih tidak memiliki ide untuk menjawab. “Nela…”, ibu guru menambah satu suku kata petunjuk. Prana mendengarnya nera…, maka ia spontan menjawab, “Neraka !” “Hi..hi..hi.., bukan neraka sayang tapi nelayan.” Kata ibu guru “anak-anak tahu orang yang kerjanya memperbaiki mobil ?” Anak-anak diam. Sekali lagi ibu guru memberi petunjuk, “Mon…” Ezra spontan menjawab, “monyet !” “Hi..hi..hi..,bukan monyet soleh tapi montir.” Kata ibu guru sambil tersenyum geli. Itulah beberapa kisah yang menunjukkan betapa ucapan dan perilaku guru dapat sangat berpengaruh dan membekas dalam diri anak. Semoga guru-guru Salman Al Farisi dapat tetap istiqomah membentuk generasi rabbani yang berakhlak mulia. Amin.
By : Hessy Widiyastuti, S.Psi Guru TK Salman Al Farisi Pemenang Ke-3 LKGDP tingkat Nasional 2007 |
posted by Iwan gunawan @ 1:01 AM  |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name:Aneu Anggraeni
Home:
About Me:
See my complete profile
|
| Previous Post |
| |
| Archives |
|
|
| News |
|
|
| Links |
|
Tukeran Link
|
| Partner |
|
|
| Template by |
 |
|