<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372</id><updated>2012-02-02T15:53:53.663-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Karakter</title><subtitle type='html'>education | character education</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>205</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7280863594018649766</id><published>2011-01-07T05:18:00.000-08:00</published><updated>2011-01-07T05:26:06.001-08:00</updated><title type='text'>AKU SANG EJACULATOR</title><content type='html'>Ujang (nama samaran) adalah seorang anak kecil yang masih duduk di kelas 5 SD dengan bangganya memperlihatkan akun facebook miliknya. Bagi dia, nama yang tertera di akun facebook terasa gagah dan lebih gaul. Maklum teman-teman sebayanya banyak juga yang menggunakan bahasa Inggris untuk nama akunya.&lt;br /&gt;Tetapi, yang menjadi permasalahan adalah  nama akun facebook yang saat ini dimiliki si ujang agak terasa janggal artinya. Disaat teman-temanya yang lain menggunakan nama seperti destroyer, bulldozer, eh...si ujang malah menggunakan nama EJACULATOR...tau artinya? mungkin hanya di Ujang yang bangga dengan nama akunnya ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7280863594018649766?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7280863594018649766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7280863594018649766&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7280863594018649766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7280863594018649766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2011/01/aku-sang-ejaculator.html' title='AKU SANG EJACULATOR'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4030893678817814802</id><published>2010-11-12T20:11:00.000-08:00</published><updated>2010-11-12T20:20:15.269-08:00</updated><title type='text'>Beberapa Hal Yang Mungkin Tidak Diketahui Anak Tentang Ayahnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/TN4RuPjULcI/AAAAAAAAB2o/Mq1L_1yNr_I/s1600/kartun-anak-dan-bapak.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/TN4RuPjULcI/AAAAAAAAB2o/Mq1L_1yNr_I/s320/kartun-anak-dan-bapak.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538884077858598338" /&gt;&lt;/a&gt;1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun, dan selalu membutuhkan kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. kkarena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti berenang di air setelah ia melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ayah benar-benar senang membantu seseorang, tapi ia sukar meminta bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ayah di dapur. Membuat dan memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..."tidak terlalu mengecewakan" ^_~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Ayah akan sangat senang membelikanmu makanan selepas ia pulang kerja, walaupun dia tak dapat sedikitpun bagian dari makanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ayah selalu berdoa agar kita menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat, walaupun kita jarang bahkan jarang sekali mendoakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Ayah percaya orang harus tepat waktu. Karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar uang sekolahmu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah memikirkannya, bagaimana ia mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Ayah akan berkata, "Tanyakan saja pada ibumu," ketika ia ingin berkata, "Tidak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok dikamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Ayah mengatakan, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang baik persis seperti caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Ayah tidak suka meneteskan air mata. Ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Tapi, ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Ayah pernah berkata, "Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan, "Jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan, "Jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak. Laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Ayah bisa membuatmu percaya diri, karena ia percaya padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;unikboss.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4030893678817814802?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4030893678817814802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4030893678817814802&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4030893678817814802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4030893678817814802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2010/11/beberapa-hal-yang-mungkin-tidak.html' title='Beberapa Hal Yang Mungkin Tidak Diketahui Anak Tentang Ayahnya'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/TN4RuPjULcI/AAAAAAAAB2o/Mq1L_1yNr_I/s72-c/kartun-anak-dan-bapak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4967060442063733959</id><published>2010-05-20T23:09:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T23:18:53.530-07:00</updated><title type='text'>KEKUATAN DOA DALAM PEMBELAJARAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd&lt;br /&gt;(Guru SD Salman Al Farisi Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kali dalam suatu pembelajaran banyak siswa yang tidak berminat terhadap suatu pelajaran tertentu, baik karena sikap gurunya ataupun materi yang disampaikan kurang menarik dan berkenan di hati para siswa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketidaktertarikan siswa ini bisa ditampilkan dalam bentuk pembangkangan, ribut ataupun mungkin dengan cara yang lebih sopan, misalnya dengan bertanya kepada guru tentang “apa manfaatnya bagiku” belajar materi ini. Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidakberhasilan dalam meraih prestasi belajar atau bahkan takut tinggal kelas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sepintas, pertanyaan “apa manfaatnya bagiku” ini agak sepele dan tidak perlu pembahasan lebih lanjut. Akan tetapi bagi siswa, hal ini penting untuk diketahui karena menyangkut keaktifan dalam merespon materi pembelajaran, dan rasa aman di  dalam mengahadapi masa depan mereka.  Sebagaima dikatakan Arden N. Fardesen bahwa hal yang mendorong seorang siswa untuk belajar adalah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Adanya sifat ingin tahu dan menyelidiki dunia yang amat luas.&lt;br /&gt;2. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.&lt;br /&gt;3. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman.&lt;br /&gt;4. Adanya uasaha untuk memperbaiki kegagalaan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koprasi maupun dengan kompetisi.&lt;br /&gt;5. Adanya usaha untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.&lt;br /&gt;6. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai konsekwensi dari belajar. (Suryabrata, 1998: 253)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya. Hal ini senada dengan pendapat Moh. Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru harus berperan sebagai :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik; dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seringkali, kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya, baik karena siswa yang malas, tidak punya buku paket atau alasan lain. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran” yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Guru seringkali terjebak dalam pemecahan masalah “apa manfaatnya bagiku” dengan menggunakan metode-metode yang belum tentu sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Dari beberapa metode dan pendekatan yang digunakan, ada satu hal yang kiranya bisa dijadikan ‘alternative’ untuk memecahkan masalah tersebut terlepas dari cara yang telah dilakukan oleh guru seperti memperjelas tujuan yang ingin dicapai, membangkitkan minat siswa, menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar, memberi pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa, memberikan penilaian, memberi komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, dan menciptakan persaingan dan kerja sama yang sehat. Alternatif ini sangat murah dan mudah dilakukan, tanpa perlu mempelajari teori yang rumit yaitu berdoa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya antara doa dengan kebermaknaan dalam pembelajaran? Cobalah ingat-ingat kembali oleh kita, berapa kali kita mendoakan siswa-siswa kita dalam belajar atau minimal mendoakan mereka diawal atau diakhir pembelajaran? Walaupun semua guru berbuat demikian, betapa jarang kita mendoakan mereka diawal atau diakhir pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita hanya menutup dan membuka pembelajaran dengan ucapan “selamat pagi anak-anak”, “selamat siang”, “selamat sore” serta ucapan-ucapan lainnya, atau bisa juga langsung ngeloyor meninggalkan anak-anak tanpa sepatah kata pun. Ucapan-ucapan ini bukannya tidak bagus, akan tetapi masih terlalu umum.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rosulullah melarang para orangtua (guru) mendoakan keburukan bagi anak-didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cobalah tambahkan doa dalam memulai dan mengakhiri pembelajaran kita dengan doa seperti ini “semoga pembelajaran hari ini bisa bermanfaat buat masa depan kalian”, “mudah-mudahan Allah SWT memberikan keberkahan terhadap ilmu yang baru saja kalian pelajari” atau mungkin dengan doa-doa lain yang lebih khusus. Ternyata hal ini sejalan dengan firman Allah “Berdoalah kamu kepadaKu niscaya Aku perkenankan doa permohonan kamu” (QS: Al-Mukmin:60).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau selama ini anak-anak kita membangkang, ribut dan tidak menyenangi materi yang kita sampaikan, atau ilmu yang disampaikan oleh kita dirasakan tidak bermanfaat oleh anak didik kita, boleh jadi karena kita kurang mendoakan mereka atas ilmu yang telah dipelajarinya. Dengan dilantunkannya doa oleh guru buat murid, maka akan terjalin pola pembelajaran dalam suasana takaful yaitu perasaan senasib dan sepenanggungan; semangat saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran di dalam mencapai tujuan belajar. Dengan melafadzkan do'a pada awal dan akhir pembelajaran akan tercipta check-and-balance dan menjadikan do'a sebagai parameter kesuksesan pembelajaran kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan kepada diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada pelayan-pelayan kalian, dan janganlah mendoakan keburukan kepada harta kalian. Janganlah kalian mendoakan keburukan sebab jika waktu doa kalian bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa, maka Allah akan mengabulkan doa kalian (yang buruk itu).” (HR. Abu Dawud). Semoga kita termasuk guru-guru yang senantiasa memanfaatkan akal dan mendoakan para siswanya untuk kemajuan pembelajaran. Amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4967060442063733959?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4967060442063733959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4967060442063733959&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4967060442063733959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4967060442063733959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2010/05/kekuatan-doa-dalam-pembelajaran.html' title='KEKUATAN DOA DALAM PEMBELAJARAN'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1594045868981378634</id><published>2009-11-11T17:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T17:43:25.123-08:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN KARAKTER SISWA DENGAN "SEPIRING NASI"</title><content type='html'>Oleh: Iwan Gunawan&lt;br /&gt;Guru SD Salman Al Farisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru kreatif terkadang mengajar dalam bingkai eksplorasi dan ketidakjelasan. Ia lebih mencari esensialitas daripada rutinitas atas apa yang dipelajari bersama siswa. Ia akan tersenyum manakala siswa bertanya, ”Pak saya menemukan hal berbeda, tidak seperti yang bapak katakan atau teman saya temukan, mengapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ada sedikit keraguan untuk menuliskan pengalaman ini, karena banyak teman yang ‘agak sedikit’ mengerutkan dahi dengan ‘metode yang agak sedikit nyleneh’ yang saya pakai ini. Tapi biarlah itu berlalu, mungkin mereka belum tahu metode ‘sepiring nasi’ yang pernah saya gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide awal menggunakan metode ini, didasari oleh sebuah kebingungan mengunakan metode yang tepat untuk menjelaskan materi PKn tentang ‘Manusia sebagai mahluk sosial’. Dalam hal ini saya dituntut untuk bisa menterjemahkan hal-hal yang abstrak menjadi nyata buat siswa, sehingga bisa memudahkan siswa untuk memahami materi yang rumit dengan cara yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang sepiring nasi, kita mungkin selalu mengkaitkannya dengan masalah makan, perut lapar, nikmat dan sebagainya. Tetapi tahukah kita bahwa sepiring nasi menyimpan banyak rahasia yang bisa digunakan dalam pembelajaran? Lalu apa kaitan antara sepiring nasi dengan pembelajaran? Secara sepintas mungkin tidak ada. Tetapi apabila kita mau sedikit kreatif dengan sepiring nasi, maka kita bisa menjadikannya sebagai sebuah metoda pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepiring nasi yang biasa kita makan, sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam bagi tumbuhnya kepekaan, kepedulian dan penghargaan atas hasil jerih payah orang lain. Mungkin selama ini, kita hanya memandang sesaat sepiring nasi tanpa menganalisisnya lebih dalam. Bahkan kita tidak punya waktu sama sekali untuk memperhatikan sepiring nasi ini disaat perut sudah sangat lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah amati dengan seksama dan luangkan waktu sejenak, “Apa saja” yang ada dalam sepiring nasi? nasi, ikan asin,  ikan goreng, ayam goreng , tahu, lalap, sambal, tempe, ketimun, garam, vetsin, piring, sendok atau mungkin ada hal yang lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari analisis sederhana ini, cobalah uraikan kembali ‘siapa saja’ yang berperan dalam menyediakan barang-barang tersebut. Sebagai contoh, petani merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam menyediakan beras, Ibu yang memasak nasi dan menggoreng, tahu dibuat oleh pengrajin tahu, garam disediakan oleh petani garam, dan tentunya masih banyak pihak-pihak lain yang terlibat. Pernahkan kita berpikir sejauh itu? Mungkin selama ini kita hanya siap untuk menerima semua itu dalam keadaan sudah jadi…nasi rames!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, apa kaitannya antara sepiring nasi dengan pembelajaran? Kini saatnya guru untuk menjelaskan tentang keberadaan manusia sebagai mahluk social. Sebagai mahluk sosial, manusia memiliki keterbatasan dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaklah siswa untuk membayangkan suatu keadaan, dimana ketika dia akan ‘makan’ harus mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri mulai dari menanam padi selama 6 bulan, mengeringkan air laut untuk membuat garam, menanam kedelai untuk membuat tahu dan tempe, menangkap ikan di laut untuk membuat ikan asin. Keadaan ‘imaginer’ seperti ini haruslah diterapkan, agar siswa memiliki kepekaan terhadap hasil kerja dan jerih payah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun rasa kepekaan dan kepedulian, ajaklah siswa untuk membuat pengandaian-pengadaian seperti ini “Seandainya tidak ada petani, kita tidak bisa makan nasi”, “seandainya tidak ada petani garam, tentunya makanan kita tidak ada rasanya”. Dari pengandaian-pengandaian ini, guru bisa mengajak siswa untuk menyimpulkan sendiri tentang ‘pentingnya ada orang lain di sekitar kita’, tanpa adanya mereka maka kebutuhan-kebutuhan kita tidak akan bisa terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepiring nasi! Kau telah memberi sebuah inspirasi. Lalu, apakah kita sebagai guru masih bingung dalam mencari metode untuk mengajarkan suatu materi? Ijinkan saya mengutip sebuah anekdot &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“suatu saat dua orang yang berasal dari sekolah yang sama bertemu. Walaupun berbeda angkatan tetapi mereka cepat akrab dan pada saat mereka membicarakan salah seorang gurunya, mereka kemudian tertawa bersama-sama karena setelah obrolan yang panjang terungkap bahwa sang guru tersebut masih melakukan praktek pengajaran yang persis sama, bahkan ketika waktu kelulusan mereka terpaut lebih dari 7 tahun. Ini membuktikan bahwa guru yang bersangkutan tidak mau berubah dan mensejajarkan diri dengan kemajuan jaman. Sudah bukan jamannya lagi kita mengajar berdasarkan diktat kuliah serta keterangan dari dosen-dosen yang mengajar kita saat di universitas dahulu. Jaman berubah demikian cepat dan informasi bertambah terus menerus membuat sebuah ilmu menjadi cepat usang dan ketinggalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1594045868981378634?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1594045868981378634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1594045868981378634&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1594045868981378634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1594045868981378634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/11/membangun-karakter-siswa-dengan.html' title='MEMBANGUN KARAKTER SISWA DENGAN &quot;SEPIRING NASI&quot;'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-5416560890098242188</id><published>2009-05-06T18:37:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T21:34:52.115-07:00</updated><title type='text'>Gara-Gara Nyamuk</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setibanya pulang kerja, aku langsung ke dapur mengambil segelas air untuk menghilangkan dahagaku..betapa air ini telah menghilangkan dahagaku. Akan tetapi ditengah keasyikanku minum, tiba-tiba...PLAK!..anakku yang pertama memukul tanganku yang sedang memegang gelas, dan kontan saja air yang sedang kuminum tumpah berceceran membasahi bajuku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mendapat perlakuan seperti ini, secara refleks kakiku hendak menendang anakku yang baru berumur 6 tahun ini. Akan tetapi kiranya Allah masih memberikan pelajaran bagiku supaya tidak kasar pada anakku, kakiku yang awalnya hendak menendang amanah Allah secara tak diduga malah menendang tumpukan panci...PRANG!!! suara panci berjatuhan dan mengagetkan anakku hingga menangis sambil berteriak "Ayah..! aku nggak sengaja.."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Mengapa kamu memukul tangan ayah? ayah kan lagi minum...lihat baju ayah jadi basah begini!" tanyaku dengan nada tinggi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ayah..aku nggak sengaja..." sambil nangis dan memelukku..."Aa..hanya mukul nyamuk di tangan ayah.." lanjutnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mendengar jawaban annaku, aku sedikit terhentak dan langsung melihat tanganku yang tadi dipukul...ternyata benar juga, seekor nyamuk telah mati tertempel ditanganku...Astaghfirullah, ternyata anakku telah menyelamatkan aku dari gigitan nyamuk, yang siapa tau bisa menyebabkanku demam berdarah..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku tersadar dan langsung minta maaf pada annaku sambil kupeluk..ternyata apa yang kita anggap jelek, belum tentu itu buruk bagi kita. Aku telah belajar sebuah hikmah dari annaku, ternyata keburukan yang dilakukan oleh seseorang belum tentu buruk buat kita..berbaik sangkalah terlebih dulu...Ya Allah ampuni kelemahan aku ini..engkaulah yang Maha Sempurna (Untuk anakku daffaa Aria Gunawan)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-5416560890098242188?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/5416560890098242188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=5416560890098242188&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5416560890098242188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5416560890098242188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/05/gara-gara-nyamu.html' title='Gara-Gara Nyamuk'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-6096861147224153741</id><published>2009-04-29T23:00:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T21:36:37.085-07:00</updated><title type='text'>ORANG TUA CONTOH YANG NYATA</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak seperti biasanya Shabna murung ketika belajar. Anak yang biasanya riang ini tampaknya menyimpan suatu masalah yang sukar untuk diungkapkan. Kemurungan kian bertambah, ketika tiba-tiba Shabna menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Banyak temannya yang mencoba mencari tahu apa alasan dia murung dan menangis, tetapi hasilnya tetap sia-sia. Shabna tetap bungkam dan engkar berbicara kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anehnya, setelah dia mengikuti pelajaran ilmu sosial wajahnya agak berbinar dan mau berbicara dengan wali kelas, bahkan dia sempat berkata "aku telah mendapat jawabannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alkhirnya dia mau bicara juga, walaupun masih untuk kalangan terbatas terutama wali kelasnya. Shabna menceritakan bahwa kemurungannya diakibatkan oleh kemarahan yang dia terima dari orang tuanya, gara-gara Shabna meminta kedua orang tuanya untuk tidak merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di sekolahnya, Shabna sudah mendapat doktrin yang cukup kuat perihal dampak buruk rokok bagi kesehatan, sehingga sikapnya dalam meminta orang tuanya untuk tidak merokok adalah sikap yang bijak dan murni dari seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, terkadang kita berbuat tidak adil kepada anak kita. Kita menyuruh dan melarang anak kita untuk tidak merokok, kita sendiri malah melakukannya. Menyuruh anak sholat, ternyata kita sendiri tidak sholat. Bagaimana hal ini bisa berhasil? Kitalah yang menjadi teladan pertama dan utama buat mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-6096861147224153741?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/6096861147224153741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=6096861147224153741&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6096861147224153741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6096861147224153741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/04/orang-tua-contoh-yang-nyata.html' title='ORANG TUA CONTOH YANG NYATA'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-2596330800772906721</id><published>2009-04-24T01:01:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T21:45:20.463-07:00</updated><title type='text'>SEKOLAH PEMBENTUK AKHLAK</title><content type='html'>&lt;p&gt;By Hessy Widiyastuti, S.Psi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;Saat Silaturahmi Lebaran tahun 1429 H bertepatan dengan hari Ahad, tgl 19 Oktober 2008 di lingkungan intern Salman Al Farisi, yang dihadiri oleh dewan pengurus YYS,   perwakilan guru, dan karyawan serta perwakilan orangtua murid Salman Al Farisi, Bpk Dr.Muslimin Nasution, Apu sebagai ketua dewan Pembina yys Salman menyampaikan orasinya yang intinya           meminta semua stakeholders yys Salman al Farisi bersama membangun system pendidikan yang mengedepankan teknologi informasi, penggunaan Bahasa Inggris dalam pembelajaran dan yang paling penting menanamkan nilai moral dan membangun akhlak mulia.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman nilai moral dan pembentukan akhlak saat ini lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall (2001: 2-3) kecerdasan spiritual adalah  kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah dalam konteks makna dan nilai hidup yang lebih luas dan universal. kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang                   dimiliki manusia Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang                   diperlukan untuk memfungsikan IQ, dan EQ secara efektif.                   Karena dengannya akan membantu pembentukan dan pematangan                   perilaku yang pada akhirnya akan mengarahkan penggunaan                   kemampuan kecerdasan lainnya untuk hal-hal yang positif.                           Unit TK sebagai salah satu bagian dari unit pendidikan                   dasar Alhamdulillah sejak diberlakukannya model pembelajaran                   BCCT ( Beyond Centre &amp;amp; Circle Time) pada tahun 2006, sudah                   mulai melakukan ketiga point penting yang disampaikan Bapak                   Muslimin. Yang paling menonjol dalam hasil yang dapat dilihat                   adalah pembentukan karakter dan akhlak mulia anak baik dalam                   bersikap maupun berucap. Sebagai gambaran, semua ibu guru TK                   telah terbiasa mengucapkan kalimat thoyibah dalam keseharian                   mereka, seperti Alhamdulillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subnallah,Astaghfirullah atau                   Allah Akbar.Ibu guru juga terbiasa mengucapkan kata ‘maaf’                   jika menegur perilaku atau ucapan anak yang kurang terpuji.                   Misalnya ,“maaf, mohon sandalnya dilepas di batas bersih!”                   atau “Maaf, tolong sebaiknya tidak naik-naik ke atas meja!”.                   Ibu guru pun tidak segan mengucapkan terima kasih jika anak                   sudah membantu dan menunjukkan perilaku terpuji. Misalnya                   ,“terima kasih ananda… sudah membantu ibu guru membereskan                   mainan.” Atau “Terima kasih ananda… sudah shalat dan berdzikir                   dengan khusu.”                             Teladan dalam tingkah laku dan berucap dari guru                   tampaknya membekas dan tertanam dalam hati anak TK. Berikut                   ini saya kutipkan beberapa respon dan komentar anak-anak TK A1                   dalam menanggapi suatu kejadian yang menunjukkan akhlak                   terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;strong&gt;Peristiwa 1. &lt;/strong&gt;                           &lt;br /&gt;Siang itu di Tk Salman tidak ada air, setelah makan                   siang anak-anak TK diminta untuk mencuci piring sendiri, untuk                   melatih kemandirian mereka. Prana sudah selesai makan, ia                   segera pergi ke tempat cuci piring, tapi beberapa saat                   kemudian ia kembali ke kelas sambil berkata, “Bu guru maaf,                   saya tidak bisa mencuci piring karena tidak ada air.” “oh,                   tidak apa-apa Prana, simpan saja di tempat cucian”, jawab ibu                   guru Tidak lama kemudian air kran kembali menyala. Dan Prana                   yang tahu kejadian itu langsung berkomentar, “Alhamdulillah                   air sudah ada, sekarang saya bisa mencuci piring.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;strong&gt;Peristiwa 2. &lt;/strong&gt;                           &lt;br /&gt;Suatu waktu ibu guru tengah menegur seorang anak A1 yang                   melakukan perilaku kurang terpuji, suaranya agak keras dengan                   mimik wajah (mungkin) tampak galak. Nadhira yang melihatnya                   langsung menegur, “maaf, ibu guru marah?” Ibu guru dengan                   setengah kaget menjawab, “ oh, tidak , Ibu guru hanya sedang                   menegur anak yang belum paham peraturan.” Nadhira kembali                   bertanya,“ Tapi kenapa wajahnya begitu, aku jadi takut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;strong&gt;Peritiwa 3 &lt;/strong&gt;                           &lt;br /&gt;Suatu siang, saat sedang membimbing shalat, ibu guru                   batuk-batuk. Kirana langsung berkomentar dan menunjukkan                   empatinya. “Ibu guru sakit yah? Ibu guru harus istirahat,                   nanti saat anak-anak tidur siang, bu guru harus ikut tidur!”                   “Subhanallah”, ibu guru terharu, “Terima kasih kirana atas                   perhatiannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;strong&gt;Peristiwa 4 &lt;/strong&gt;                           &lt;br /&gt;Pagi hari sebelum bel masuk anak-anak biasa bermain di                   halaman, Pagi itu Prana mimisan dan diantar Nara menghampiri                   ibu guru di kelas. “ bu guru, ini Prana mimisan.”Kata Nara.                   “mengapa sampai mimisan ?” Tanya Ibu guru. “soalnya Prana                   kecapean kejar-kejar kodok Bu.”Jawab Nara. “oh, begitu, sini                   nak ibu bersihkan darahmu.” “Nah Prana jangan kejar-kejar                   kodok lagi yah! Nanti mimisan lagi.” Nasehat Nara kepada Prana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;strong&gt;Peristiwa 5 &lt;/strong&gt;                           &lt;br /&gt;Saat itu bulan Ramadhan, semua anak TK dilatih untuk                   berpuasa setengah hari. Hari masih pagi, saat sedang                   mengerjakan tugas, Nadhira menghampiri ibu guru dan berbisik,”                   ibu, perutku sakit, tadi pagi aku muntah dan makanku sedikit.”                   Ibu guru mengelus perut Ndhira sambil berkata, “ perutnya                   betul-betul sakit? Mau berbuka?” Nadhira mengangguk. “ Nanti                   waktu istirahat tiba Nadhira boleh berbuka, tapi ngumpet ya!                   Jangan sampai ketahuan teman-teman!” saran bu guru. Nadhira                   mengangguk dan kembali mengerjakan tugasnya. Beberapa saat                   kemudian ia kembali menghampiri ibu guru sambil berbisik, “Ibu                   guru , kalau akau ngumpet, Allah tahu kan aku tidak puasa?”                   Ibu guru kaget mendengar pertanyaan itu, tapi langsung                   menjawabnya“Oh iya, Allah maha tahu, tapi Allah juga maha                   pemaaf, Allah membolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa.                   Ibu guru meminta Nadhira ngumpet, bukan ngumpet dari Allah,                   tapi ngumpet dari teman-teman, takutnya kalau teman-teman                   tahu, mereka jadi ingin berbuka juga, padahal mereka tidak                   sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;strong&gt;Peristiwa 6 &lt;/strong&gt;                          &lt;br /&gt;Di Tk Salman setiap hari setelah selesai belajar, semua anak dibiasakan untuk berwudhu dan melaksanakan shalat dzuhur  berjamaah di kelas masing-masing. Ada dua orang anak TK yang  masih bermain-main di tempat wudhu saat shalat akan                   berlangsung. Saat dipanggil masuk baju mereka basah dan kotor.                   Ibu guru menasehati dengan nada cukup tinggi karena kejadian                   ini sudah mereka lakukan berkali-kali. “ ibu guru marah sama                   vidi dan Prana, karena tidak paham aturan, ibu guru sering                   ingatkan kita harus menghemat air, sebaiknya membuka kran                   tidak besar-besar cukup sedikit saja. Sehingga airnya tidak                   basah ke baju !” Beberapa saat kemudian setelah berganti baju                   dan melaksanakan shalat dzuhur, saat sujud vidi terpeleset dan                   keningnya membentur lantai dengan keras. “innalilahi wa inna                   illaihi roji’un, sini nak ibu obati lukamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil mengobati                   luka vidi ibu guru memberi nasehat kepada semua anak. “Nah                   anak-anak itu pertanda Allah marah kepada anak yang tidak                   patuh kepada ibu guru. Ibu guru sayang kepada semua anak,                   kalau ibu guru marah itu karena sayang sama anak-anak,                   sekarang kita lanjutkan shalatnya.” Setelah selesai shalat,                   Nadhira menghampiri ibu guru dan berkata, “ ibu guru tadi saya                   mau nangis waktu ibu guru nasehatin vidi, kasihan vidi, juga                   ibu guru jadi sedih yah? Tapi nangisnya si tahan.”                   “Subhanallah, ibu guru terharu mendengarnya, terima kasih atas                   perhatian Nadhira.”Kata ibu guru sambil memeluk Nadhira dengan                   hangat.     Selain beberapa kisah penuh hikmah, ada juga                   anekdot dari anak-anak yang lucu dan menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anekdot 1&lt;/strong&gt;                           &lt;br /&gt;Anak-anak Tk setelah bel masuk, dibiasakan duduk  melingkar di atas karpet, berdoa surat Al Fatihah dan do’a  belajar dipimpin oleh anak yang hari itu mendapat giliran piket menjadi pemimpin do,a. “teman-teman sudah siap?” kata Ali. “Siappp” jawab semua anak. “angkat tangannya tundukkan kepalanya, berdoa sebelum belajar dimulai !” Setelah selesai berdoa, ibu guru mengabsen semua anak, jika ada anak tidak                   masuk karena sakit, semua anak berdoa untuk teman atau pun ibu                   guru yang tidak masuk. “ ayo anak-anak kita berdoa untuk                   anaknya Bu Aal yang sedang sakit panas, katanya panasnya                   tinggi sekali !” ajak ibu guru. Tiba-tiba Vidi bertanya,                   “berapa meter tingginya Bu ?” Ibu guru tersenyum geli,” oh                   panasnya tidak bisa diukur dengan meteran vidi, tapi dengan                   alat yang namanya thermometer, nanti ibu perlihatkan yah                   alatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;strong&gt;Anekdot 2 &lt;/strong&gt;                           &lt;br /&gt;Saat tema kebersihan, guru becerita tentang seorang anak                   yang malas bangun pagi dan malas mandi. “ Ada seorang anak                   bernama X, jika akan sekolah ia sulit dibangunkan, mamanya                   sampai menggendongnya ke kamar mandi, tapi setelah sampai di                   kamar mandi X tetap tidak mau mandi. Akhirnya ia hanya cuci                   muka. Suatu hari badan X gatal-gatal, kulit merah dan                   bentol-bentol, Nah X kena batunya, karena ia tidak pernah                   mandi ia jadi kena kuman gatal.” Tiba-tiba Azka bertanya, “                   kenapa X nya harus dibatuin Bu ?” Ibu guru tersenyum geli,                   “maksud ibu guru X mendapat hukuman atas ulahnya yang malas                   mandi sehingga kuman senang hinggap di badannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;strong&gt;Anekdot 3 &lt;/strong&gt;                           &lt;br /&gt;Saat tema cita-citaku, ibu guru merangsang pengetahuan                   anak tentang beberapa profesi. “ anak tahu orang yang kerjanya                   mencari ikan di laut ?” Tanya ibu guru. Anak-anak tidak ada                   yang menjawab. “ Ne…” ,ibu guru memberi petunjuk. Anak-anak                   masih tidak memiliki ide untuk menjawab. “Nela…”, ibu guru                   menambah satu suku kata petunjuk. Prana mendengarnya nera…,                   maka ia spontan menjawab, “Neraka !” “Hi..hi..hi.., bukan                   neraka sayang tapi nelayan.” Kata ibu guru “anak-anak tahu                   orang yang kerjanya memperbaiki mobil ?” Anak-anak diam.                   Sekali lagi ibu guru memberi petunjuk, “Mon…” Ezra spontan                   menjawab, “monyet !” “Hi..hi..hi..,bukan monyet soleh tapi                   montir.” Kata ibu guru sambil tersenyum geli. Itulah beberapa                   kisah yang menunjukkan betapa ucapan dan perilaku guru dapat                   sangat berpengaruh dan membekas dalam diri anak. Semoga                   guru-guru Salman Al Farisi dapat tetap istiqomah membentuk                   generasi rabbani yang berakhlak mulia. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By : Hessy                   Widiyastuti, S.Psi Guru TK Salman Al Farisi&lt;br /&gt;Pemenang Ke-3                   LKGDP tingkat Nasional 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-2596330800772906721?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/2596330800772906721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=2596330800772906721&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2596330800772906721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2596330800772906721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/04/sekolah-pembentuk-akhlak.html' title='SEKOLAH PEMBENTUK AKHLAK'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4140936243411452821</id><published>2009-03-03T17:07:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T17:08:18.419-08:00</updated><title type='text'>Belajar di Sekolah tanpa Rasa Takut</title><content type='html'>Sumber: Republika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, sekolah masih terkesan melakukan pembiaran terhadap praktik bullying yang terjadi di lingkungan sekolah. Andra nggak masuk sekolah ya, "Andra pusing,’‘ kata Andra kepada ibunya sesaat sebelum berangkat sekolah. Ke luhan ini muncul setiap mendekati waktu berangkat sekolah. Andra adalah siswa kelas satu SMP di salah satu sekolah favorit di Jakarta. Sudah hampir dua pekan Andra berperilaku seperti itu. Ia menolak untuk berangkat atau pun masuk sekolah. Kalaupun sudah sampai sekolah, Andra ingin lekas pulang ke rumah. Ibunda Andra tak habis pikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya yang di SD dulu rajin ke sekolah, kini terlihat malas berangkat ke sekolah. Suatu ma lam, si ibu sadar bahwa Andra telah  menjadi korban bullying di sekolahnya.Saat itu Andra menceritakan, di kantin sekolah ia sering dimintai uang oleh ka kak kelasnya. Jika tak memberi, ia diancam akan dipukul ramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku seperti Andra, ternya ta juga pernah dialami Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta. Ia mengaku pernah menjadi korban bullying semasa di sekolah. Meutia mengaku pernah tak disapa oleh rekan-rekan perempuan di kelasnya, merasa asing, sehingga berdampak tidak ingin sekolah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, sejak lima tahun terakhir, gejala bullying di sekolah mulai menjadi sorotan media massa, meski aksi tersebut sudah terjadi sejak puluhan tahun silam. Istilah yang digunakan juga beragam. Dalam bahasa pergaulan, sering ada istilah gencet-gencetan, perploncoan, atau juga senioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak bentuk bullying yang tidak terlihat langsung, padahal dampaknya sangat serius. Misalnya, ketika ada siswa yang dikucilkan, difitnah, dilirik dengan pandangan sinis, dipalak, dan masih banyak lagi kekerasan lain yang termasuk dalam perilaku bullying.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, sekolah masih terkesan melakukan pembiaran terhadappraktik-praktik bullying yang terjadi di lingkungan sekolah. Bullying pun berimbas pada kekerasan yang melibatkan sekelompok pelajar. Munculnya geng siswi ‘Nero’ di Pati, Jawa Tengah, misalnya, atau berbagai kekerasan yang direkam dalam video amatir menunjukkan bahwa tak ada satu sekolah pun di Indonesia yang bebas dari bullying.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sampai saat ini, baru sekitar 0,001 persen sekolah yang mau benar-benar terapkan no bullying. Sisanya bahkan tak mau membuka pintu untuk pengetahuan dan cara-cara memberantas bullying,’‘ ujar Ketua Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa), Diena Haryana, usai pembukaan pelatihan program ‘Learn Without Fear‘, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Diena, fenomena bullying ada di setiap sekolah dengan intensitas yang beragam dan sudah terjadi sejak lama. Namun kini, intensitas kekerasan semakin parah, hingga pada taraf penculikan atau pun menelan korban jiwa. ‘’Budaya kekerasan di sekolah belum bisa diubah. Banyak sekolah yang masih jaim dan tidak mau membuka diri,’‘ keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diena mengatakan, bullyingbahkan sudah membudaya turun  temurun dari siswa senior kesiswa junior. Bahkan, beberapa penemuan di lapangan menunjukkan  adanya keterlibatan gurudalam menciptakan bibit kekerasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei yang dilakukan oleh LSM Plan Indonesia dan Yayasan Sejiwa pada 2008 di tiga kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta menemukan, sekitar 67 persen dari 1.500 pelajar yang dijadikan responden pernah mengalami bullying di sekolahnya. Pelaku nya mulai dari teman, kakak kelas, adik kelas, guru, hingga preman yang ada di sekitar sekolah. Akibatnya, sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa, tapi justru menjadi tempat yang mena kutkan dan membuat trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk bullying yang ditemukan di sekolah mulai dari dipukul, ditonjok, ditampar, dihina, lirikan mengejek, julukan negatif, dicolek, dicium paksa, hingga alat kelamin diraba. Lokasi kejadian mulai dari toilet, kantin, halaman, pintu gerbang sekolah, bahkan di dalam ruang kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bullying ditemukan hampir di semua sekolah, hingga kini hanya 500 sekolah dari ribuan sekolah di seluruh Indonesia yang memiliki program nyata untuk menghilangkan bullying. ‘’Artinya, sekolah masih menganggap enteng bullying meski nyawa siswa kadang terancam,’‘ ujar Manajer Komunikasi LSM Plan Internasional di Indonesia, Paulan Aji Brata. Menurut Paulan, penerapan sistem anti-bullying memang  masih merupakan hal yang asingbagi sekolah. Padahal, dengan sistem yang tepat, akan mereduksi potensi terjadinya bully ing. Paulan berharap, bullying dapat dihentikan atau diminimalisasikan di setiap sekolah. ‘’Kami yakin kebaikan akan membuahkan kebaikan baru, demi kian pula sebaliknya,’‘ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Magdalena Sitorus, Wakil Ketua II Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, rekap data KPAI melalui hotline service dan pengaduan mengenai kekerasan terhadap anak di sekolah pada 2007 menunjukkan, ada 555 kasus kekerasan terhadap anak, 11,8 persen di antaranya dilakukan oleh guru. Magdalena meminta pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional dapat mengeluarkan suatu kebijakan nasio nal agar pihak sekolah mengatasi bullying untuk melindungi anak-anak. ‘’Sehingga anakanak bisa belajar tanpa rasa takut,’‘ tandasnya.  endro yuwanto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4140936243411452821?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4140936243411452821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4140936243411452821&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4140936243411452821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4140936243411452821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/03/belajar-di-sekolah-tanpa-rasa-takut.html' title='Belajar di Sekolah tanpa Rasa Takut'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7060982641257738895</id><published>2009-02-16T17:45:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T17:46:45.932-08:00</updated><title type='text'>Pengajaran Sastra Berdimensi Moral</title><content type='html'>Sudaryanto, Spd Guru Bahasa Indonesia MAN Yogyakarta III&lt;br /&gt;Sumber : Republika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis moral tengah menjalar dan menjangkiti bangsa ini. Hampir semua elemen bangsa juga merasakannya. Pilkada yang ricuh, kasus korupsi anggota dewan, hingga tebar janjijanji politik menjelang Pemilu 2009. Mengapa seolah-olah bangsa ini, dari tahun ke tahun, tidak pernah sadar dan sesegera mungkin menyembuhkan dirinya? Justru sebaliknya, bangsa ini makin dijangkiti krisis moral yang makin ëakut' kondisinya. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimensi moral erat kaitannya dengan dimensi watak. Setiap individu memiliki penilaian moral yang berbeda-beda. Itu pun tergantung watak dari tiap-tiap individu. Misalnya, seseorang dikatakan jujur ketika dirinya mempraktikkan watak kejujurannya di setiap waktu dan tempat. Ia tak memilihmilih waktu dan tempat, de ngan bermaksud riya' atau ingin dipuji orang lain. Artinya, kapan pun dan di mana pun, ia tetap berwatak jujur kepada Tuhan, orang lain, dan terutama, diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, krisis moral bisa diatasi dengan pembinaan watak. Dalam lingkup sekolah, misalnya, pembinaan watak dapat diterapkan melalui pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (disingkat pengajaran sastra). Artinya, pengajaran sastra yang berdimensi moral. Namun, pertanyaannya, bisakah pengajaran sastra kita mengemban tugas suci nan berat itu? Jika ya, upaya apa-apa saja yang bisa dilakukan guru di kelas, agar nilai-nilai moral mudah dipahami oleh para siswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, pengajaran sastra mampu dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral, seperti kejujuran, pengorbanan, demokrasi, santun, dan sebagainya, banyak ditemukan dalam karya-karya sastra. Baik puisi, cerita pendek, novel, maupun drama. Bila karya sastra itu dibaca, dipahami isi dan maknanya, serta ditanamkan pada diri siswa, saya yakin, siswa kita makin menjunjung nilai-nilai moral. Tapi kenyataannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur diakui, siswa kita masih jauh dari sikap moral yang baik. Dari segi tindak tutur, mereka cenderung kasar dan tidak santun kepada gurunya. Dari segi akhlak (Islam), mereka berbuat pelanggaran, seperti merokok di bulan Ramadhan. Dari segi ketertiban, mereka suka membolos dari sekolah, jajan di waktu sembarangan, dan suka ugal-ugalan membawa kendaraan bermotor. Dalam bahasa pokrol, mereka berbuat a-moral. Ironisnya, perbuatan mereka cenderung merugikan diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait itu, pembinaan watak siswa menjadi tanggung jawab semua elemen sekolah. Dari kepala sekolah, guru, pihak BK, OSIS, hingga siswa sendiri. Hanya saja, proses pembinaan watak bukanlah proses sekali jadi. Kita pun butuh waktu yang lama guna mengubah watak siswa yang awalnya amoral menjadi bermoral. Pengajaran sastra di sekolah mungkin dapat mengatasi hal tersebut. Namun, sungguh ironis, pengajaran sastra kita umumnya masih kurang greget karena masih menggunakan paradigma lama. Bahkan penyair senior, Taufiq Ismail mengata kan, siswa SMU Indonesia tidak satu pun ada buku wajib sastra yang dibaca. Arti nya, siswa SMU kita itu nol judul. Ban ding kan dengan negara lain yang buku sastra wajib bacanya berkisar 5 hingga 32 judul buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bercermin pada masa lalu, di zaman AMS Hindia Belanda, siswa diwajibkan membaca buku sastra 25 judul bagi AMS Hindia Belanda-A dan 15 judul bagi AMS Hindia Belanda-B. Berarti kita mengalami penurunan! Padahal, kurangnya siswa belajar sastra justru mengaki bat kan siswa kita makin jauh dari nilai-nilai moral. Akibatnya, ketika mereka dewasa, mereka juga bertindak yang jauh dari nilai-nilai moral dan agama seperti yang terjadi dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, pengajaran sastra memiliki peran bagi pemupukan kecerdasan siswa dalam semua aspek, termasuk moral. Melalui apresiasi sastra, misalnya, kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual siswa dapat dilatih, serta dikembangkan. Siswa tak hanya terlatih untuk membaca saja mampu mencari makna dan nilai-nilai dalam sebuah karya sastra. Bukankah dalam setiap karya sastra terkandung tiga muatan: imajinasi, pengalaman, dan nilai-nilai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, apresiasi sastra yang baik seyogianya relevan dengan empat keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Jika itu terwujud, saya yakin, siswa dapat mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Dengan membaca karya sastra, diharapkan sejumlah nilai-nilai moral bisa dipahami, serta dipraktikkan siswa, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, upaya di atas tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Saya kira, apresiasi sastra akan tumbuh bilamana guru Bahasa dan Sastra Indonesia juga menyukai sastra. Tapi, umumnya banyak guru yang kurang menyukai sastra. Bahkan, tak jarang guru hanya berbekal karya sastra yang ia peroleh pada saat mereka berkuliah (S1). Bahkan tak jarang pula, masih ada guru yang bingung memilih bahan ajar yang tepat, menyenangkan, dan bermanfaat bagi para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saran yang mujarab ialah guru harus memiliki minat baca karya sastra yang tinggi. Dalam penyampaian materi pun dapat digunakan karya-karya populer yang dekat dengan kehidupan anak didik. Karya-karya populer atau bertema remaja yang diminati, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk menikmati sastra. Begitu juga dengan sastra yang diterbitkan di koran, juga dapat digunakan. Mudah-mudahan apresiasi sastra dapat terwujud dan mengatasi krisis moral.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7060982641257738895?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7060982641257738895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7060982641257738895&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7060982641257738895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7060982641257738895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/02/pengajaran-sastra-berdimensi-moral.html' title='Pengajaran Sastra Berdimensi Moral'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-2644268538161154274</id><published>2009-02-16T17:44:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T17:45:32.275-08:00</updated><title type='text'>Belajar di Sekolah tanpa Rasa Takut</title><content type='html'>Sumber: Republika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, sekolah masih terkesan melakukan pembiaran terhadap praktik bullying yang terjadi di lingkungan sekolah. Andra nggak masuk sekolah ya, "Andra pusing,’‘ kata Andra kepada ibunya sesaat sebelum berangkat sekolah. Ke luhan ini muncul setiap mendekati waktu berangkat sekolah. Andra adalah siswa kelas satu SMP di salah satu sekolah favorit di Jakarta. Sudah hampir dua pekan Andra berperilaku seperti itu. Ia menolak untuk berangkat atau pun masuk sekolah. Kalaupun sudah sampai sekolah, Andra ingin lekas pulang ke rumah. Ibunda Andra tak habis pikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya yang di SD dulu rajin ke sekolah, kini terlihat malas berangkat ke sekolah. Suatu ma lam, si ibu sadar bahwa Andra telah  menjadi korban bullying di sekolahnya.Saat itu Andra menceritakan, di kantin sekolah ia sering dimintai uang oleh ka kak kelasnya. Jika tak memberi, ia diancam akan dipukul ramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku seperti Andra, ternya ta juga pernah dialami Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta. Ia mengaku pernah menjadi korban bullying semasa di sekolah. Meutia mengaku pernah tak disapa oleh rekan-rekan perempuan di kelasnya, merasa asing, sehingga berdampak tidak ingin sekolah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, sejak lima tahun terakhir, gejala bullying di sekolah mulai menjadi sorotan media massa, meski aksi tersebut sudah terjadi sejak puluhan tahun silam. Istilah yang digunakan juga beragam. Dalam bahasa pergaulan, sering ada istilah gencet-gencetan, perploncoan, atau juga senioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak bentuk bullying yang tidak terlihat langsung, padahal dampaknya sangat serius. Misalnya, ketika ada siswa yang dikucilkan, difitnah, dilirik dengan pandangan sinis, dipalak, dan masih banyak lagi kekerasan lain yang termasuk dalam perilaku bullying.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, sekolah masih terkesan melakukan pembiaran terhadappraktik-praktik bullying yang terjadi di lingkungan sekolah. Bullying pun berimbas pada kekerasan yang melibatkan sekelompok pelajar. Munculnya geng siswi ‘Nero’ di Pati, Jawa Tengah, misalnya, atau berbagai kekerasan yang direkam dalam video amatir menunjukkan bahwa tak ada satu sekolah pun di Indonesia yang bebas dari bullying.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sampai saat ini, baru sekitar 0,001 persen sekolah yang mau benar-benar terapkan no bullying. Sisanya bahkan tak mau membuka pintu untuk pengetahuan dan cara-cara memberantas bullying,’‘ ujar Ketua Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa), Diena Haryana, usai pembukaan pelatihan program ‘Learn Without Fear‘, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Diena, fenomena bullying ada di setiap sekolah dengan intensitas yang beragam dan sudah terjadi sejak lama. Namun kini, intensitas kekerasan semakin parah, hingga pada taraf penculikan atau pun menelan korban jiwa. ‘’Budaya kekerasan di sekolah belum bisa diubah. Banyak sekolah yang masih jaim dan tidak mau membuka diri,’‘ keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diena mengatakan, bullyingbahkan sudah membudaya turun  temurun dari siswa senior kesiswa junior. Bahkan, beberapa penemuan di lapangan menunjukkan  adanya keterlibatan gurudalam menciptakan bibit kekerasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei yang dilakukan oleh LSM Plan Indonesia dan Yayasan Sejiwa pada 2008 di tiga kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta menemukan, sekitar 67 persen dari 1.500 pelajar yang dijadikan responden pernah mengalami bullying di sekolahnya. Pelaku nya mulai dari teman, kakak kelas, adik kelas, guru, hingga preman yang ada di sekitar sekolah. Akibatnya, sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa, tapi justru menjadi tempat yang mena kutkan dan membuat trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk bullying yang ditemukan di sekolah mulai dari dipukul, ditonjok, ditampar, dihina, lirikan mengejek, julukan negatif, dicolek, dicium paksa, hingga alat kelamin diraba. Lokasi kejadian mulai dari toilet, kantin, halaman, pintu gerbang sekolah, bahkan di dalam ruang kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bullying ditemukan hampir di semua sekolah, hingga kini hanya 500 sekolah dari ribuan sekolah di seluruh Indonesia yang memiliki program nyata untuk menghilangkan bullying. ‘’Artinya, sekolah masih menganggap enteng bullying meski nyawa siswa kadang terancam,’‘ ujar Manajer Komunikasi LSM Plan Internasional di Indonesia, Paulan Aji Brata. Menurut Paulan, penerapan sistem anti-bullying memang  masih merupakan hal yang asingbagi sekolah. Padahal, dengan sistem yang tepat, akan mereduksi potensi terjadinya bully ing. Paulan berharap, bullying dapat dihentikan atau diminimalisasikan di setiap sekolah. ‘’Kami yakin kebaikan akan membuahkan kebaikan baru, demi kian pula sebaliknya,’‘ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Magdalena Sitorus, Wakil Ketua II Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, rekap data KPAI melalui hotline service dan pengaduan mengenai kekerasan terhadap anak di sekolah pada 2007 menunjukkan, ada 555 kasus kekerasan terhadap anak, 11,8 persen di antaranya dilakukan oleh guru. Magdalena meminta pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional dapat mengeluarkan suatu kebijakan nasio nal agar pihak sekolah mengatasi bullying untuk melindungi anak-anak. ‘’Sehingga anakanak bisa belajar tanpa rasa takut,’‘ tandasnya.  endro yuwanto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-2644268538161154274?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/2644268538161154274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=2644268538161154274&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2644268538161154274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2644268538161154274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/02/belajar-di-sekolah-tanpa-rasa-takut.html' title='Belajar di Sekolah tanpa Rasa Takut'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7246687177056842941</id><published>2009-02-08T19:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T19:02:22.133-08:00</updated><title type='text'>Banyaknya Mudlharat Meroko</title><content type='html'>Republika, Sabtu, 07 Februari 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: KH Didin Hafidhuddin&lt;br /&gt;Guru Besar IPB, Direktur Pascasarjana UIKA Bogor dan Ketua Umum BAZNAS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu fatwa yang dihasilkan oleh Komisi Fatwa MUI dalam sidangnya yang ke III di Padang Panjang (24-26 Januari 2009 yang lalu) adalah tentang hukum rokok, yaitu haram dan makruh.Penulis sendiri yang mengikuti sidang tersebut, merasa bersyukur karena mayoritas ulama berpendapat bahwa merokok itu haram, sedangkan minoritas menyatakan makruh. Para ulama yang menyatakan makruh, artinya berpendapat bahwa merokok itu sebaiknya dan seyogyanya ditinggalkan. Kenapa merokok itu harus ditinggalkan? Karena madlorotnya jauh lebih banyak dan lebih besar daripada manfaatnya, dan terlebih lagi terhadap generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, disinyalir sekitar 44 persen perokok aktif merupakan kelompok muda yang berusia 10-19 tahun dan 37 persen di antara mereka berusia 20-29 tahun. Artinya, sebagian besar perokok pemula di Negara ini berasal dari kalangan pemuda, pelajar dan tentunya mahasiswa – kalangan yang merupakan usia produktif dalam perspektif pembangunan (Satunet.com, 6/9/2001). Diperkirakan sekitar 85 juta penduduk Indonesia usia remaja saat ini akan menjadi perokok berat. Dengan tingkat pertumbuhan perokok yang sangat cepat ini, Indonesia diperkirakan akan mencapai rekor dunia sebagai negara dengan jumlah perokok pemula terbesar di dunia, melengkapi deretan sejumlah 'gelar dunia' lain yang telah diperoleh selama ini. (Kutipan dari berbagai mailing list).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bank Dunia (World Bank), golongan masyarakat yang termasuk miskin adalah kelompok 40 persen terbawah dalam struktur distribusi pendapatan suatu masyarakat, sementara 40 persen pada bagian tengah merupakan kelompok middle class, dan 20 persen lebihnya adalah kelompok kaya. Untuk konteks Indonesia, kelompok 40 persen terbawah merupakan golongan yang mayoritas, sementara 4o persen kelompok middle sementara berjuang untuk bisa tetap eksis di tengah buruknya iklim perekonomian bangsa saat ini. Dalam pada itu, jumlah perokok aktif di Indonesia saat ini berkisar 70 persen dari total penduduk atau sekitar 141 juta jiwa. Sebagian besar di antara mereka adalah kelompok miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerentanan kelompok miskin dari implikasi ekonomi, social maupun kesehatan, menjadi perhatian tersendiri dalam kaitannya dengan besaran jumlah perokok aktif di kalangan mereka. Pada tahun 1990 saja, kerugian masyarakat akibat merokok yang tercatat adalah sekitar 14,5 trilyun. Angka ini belum termasuk kerugian pemerintah atas pemakaian fasilitas perobatan dan pelayanan kesehatan oleh perokok aktif yang menderita sakit akibat komplikasi merokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya kerugian ini sangat tidak berimbang dengan jumlah pendapatan pemerintah dari cukai rokok yang hanya 2,6 trilyun rupiah. Sementara jika dikalkulasi, angka belanja rokok masyarakat perokok Indonesia tahun 1990 mencapai Rp 100 trilyun, sangat kontras jika dibandingkan dengan volume belanja obat-obatan yang hanya sebesar 20 trilyun rupiah (Dirjen Yankesfar Depkes; 1990). Keprihatinan semakin bertambah jika kita memeperhatikan rasio antara angka tingkat belanja rokok masyarakat kita dengan tingkat pembelian buku dan surat kabar (pendidikan) yang mencapai 47: 2 (Sidjatmokok; 2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini bukan saja menggambarkan konsentrasi perokok hanya di kalangan kaum miskin dan minim kesadaran pendidikan saja, tetapi juga sekaligus menjelaskan bahwa tingkat kerugian masyarakat dan pemerintah akibat rokok jauh tidak proporsional disbanding keuntungan ekonomi yang melandasi peredaran industri rokok di Indonesia. (Dari beberapa Mailing List).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan merokok terbukti berkaitan dengan sedikitnya 25 jenis penyakit yang dapat mengenai berbagai organ tubuh manusia. Sebagian besar kematian akibat kebiasaan merokok disebabkan oleh kanker paru, penyakit paru obstruksi kronik (PPOK), dan penyakit-penyakit karsinogenik lainnya. Tentunya, sejumlah keluhan klinis dan rasa ketidaknyamanan hidup (living discomfort) mengawali perjalanan penyakit-penyakit di atas. Konsekuensinya, semua ini membutuhkan biaya pemeriksaan dan perawatan kesehatan sebelum benar-benar "sakit" akibat kebiasaan merokok. Lazimnya, pengeluaran biaya terbesar terjadi pada proses perkembangan penyakit seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Khusus untuk keluarga miskin, prioritas hidup keluarga mereka akhirnya akan terbagi: antara upaya "bertahan hidup" dan ikhtiar untuk "mengobati" si sakit. Dilema ini semakin diperparah oleh realitas sebagian besar perokok di kalangan miskin adalah tulang punggung dalam pencarian nafkah keluarga serta masih dalam usia produktif, mungkin ayah atau anak laki-laki yang ada dalam keluarga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi masalah akibat kebiasaan merokok pada kaum miskin telah mengakibatkan kemiskinan struktural yang selama ini menggejala, perlahan bermetamorfosis menjadi kemiskinan sirkuler, artinya kaum miskin yang dilanda musibah akibat merokok akan semakin bertambah miskin jika diperhadapkan dengan realitas seperti di atas. Selanjutnya, beragam masalah social lain memperoleh "legalisasi" untuk muncul sebagai bentuk "kompensasi" ekonomi keluarga pasien yang sakit kronik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ironis lagi jika kita coba mengingat bahwa tingkat pendidikan dan kualifikasi sumber daya manusia (SDM) sebagian besar mereka yang sangat rendah. Pada akhirnya, semua akan berakhir tragis: pasien akan meninggal akibat tidak mendapat perawatan kesehatan adekuat karena minim biaya, dan keluarga pasien akan kembali terjebak dalam kemiskinan yang jauh lebih berat daripada sebelumnya akibat kehilangan tenaga pencari nafkah dan kehabisan harta akibat biaya perawatan kesehatan si sakit sebelum meninggal. (Dari beberapa Mailing List).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan&lt;br /&gt;Karena fatwa Komisi Fatwa MUI tersebut sudah jelas merekomendasikan bahwa merokok adalah perbuatan sia-sia, mubadzir dan merusak, sehingga seharusnya (haram) dan sebaiknya (makruh) ditinggalkan, maka ada beberapa harapan yang kita sampaikan kepada pemerintah maupun juga kepada masyarakat: Kepada Depdiknas agar mengeluarkan larangan merokok bagi seluruh siswa sekolah (dalam semua tingkatannya) termasuk larangan merokok bagi para guru dan pendidiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar seluruh unsur pondok pesantren (para ustadz dan para santri) dan seluruh majelis ta'lim meninggalkan kebiasaan merokok. Para ustadz dan para Kyai adalah contoh dan panutan bagi masyarakat.Agar pemerintah pusat dan daerah, melalui instansi terkait, menertibkan iklan rokok, yang sekarang ini banyak terdapat di mana-mana, termasuk di televisi.Agar pemerintah pusat maupun daerah memberikan solusi pekerjaan yang lebih bersih dan halal bagi karyawan maupun buruh pabrik-pabrik rokok.&lt;br /&gt;Wallahu A'lam bi ash-Shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7246687177056842941?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7246687177056842941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7246687177056842941&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7246687177056842941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7246687177056842941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/02/banyaknya-mudlharat-meroko.html' title='Banyaknya Mudlharat Meroko'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4716379562398678022</id><published>2009-02-08T19:00:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T19:01:55.384-08:00</updated><title type='text'>Fatwa Haram Rokok MUI </title><content type='html'>Republika, Sabtu, 07 Februari 2009 &lt;br /&gt;Oleh Ismatillah A. Nu'ad&lt;br /&gt;Associate Kantata Research Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang haram rokok bagi anak-anak, pelajar, dan remaja mendapat reaksi dari sejumlah pihak, terutama dari kalangan yang memiliki kepentingan langsung secara ekonomis dengan bisnis rokok, seperti pengusaha rokok dan petani tembakau. Namun, fatwa MUI didukung sepenuhnya oleh Komisi Perlindungan Anak dan Departemen Kesehatan serta elemen masyarakat yang pro terhadap kesehatan dan generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti fatwa-fatwa MUI lainnya, fatwa rokok juga menyulut polemik dan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi, fatwa rokok memang penting dikeluarkan, mengingat sudah menjadi isu global, sama halnya dengan isu perubahan iklim (climate change). Pada umumnya, kesadaran masyarakat Indonesia atau kaum Muslim khususnya tentang kepedulian akan kesehatan dan lingkungan hidup sangatlah minim. Padahal, dampak bahaya dari rokok sudah secara zahir diketahui oleh kaum awam sekalipun. Selain merusak kesehatan, seperti penyakit jantung, stroke, dan sebagainya; rokok juga berpengaruh terhadap kesehatan janin yang asapnya terhirup ibu-ibu hamil. Yang lebih berbahaya lagi, rokok adalah pintu gerbang menuju narkoba dan kemaksiatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanduan akan rokok telah menjangkiti anak-anak remaja, bahkan yang masih belia sekalipun. Karena itulah, fatwa MUI penting untuk dikeluarkan. Pada kasus di Indonesia, perokok dapat mudah dijumpai dalam pergaulan anak-anak kampus, pelajar SMU, bahkan pelajar SMP. Umumnya, dalam kasus itu, merokok bukan karena kebutuhan, melainkan ikut-ikutan dan gaya. Mereka kurang peka terhadap dampak dan bahayanya. Padahal, merokok juga dapat menjerumuskan mereka pada narkoba dan tindakan kriminal lainnya, seperti tawuran yang sudah tidak asing lagi dialami kaum terpelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fakta yang sudah umum semacam itu, MUI bisa dibilang tidak salah jika memfatwakan pengharaman rokok, terutama bagi bagi anak-anak, pelajar, dan remaja. Fatwa MUI relevan dengan isu yang dikembangkan lembaga dunia, seperti WHO yang sudah lama berkampanye tentang bahaya rokok dan tembakau bagi kesehatan masyarakat. Belakangan, WHO juga turut membantu mendanai gerakan anti-tembakau sedunia. Tak ketinggalan, Bill Gates dan beberapa miliarder dunia lainnya turut menyumbang untuk gerakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab klasik, Bughiyatul Mustarsyidin, seorang ulama klasik Islam pernah menulis asal muasal tembakau yang kemudian dijadikan bahan utama rokok. Dikisahkan, tembakau adalah sebuah tumbuhan yang muncul atau dipicu dari air seninya setan. Menurut hemat penulis, kisah itu sebuah mitos yang sengaja diciptakan. Hampir mirip dengan mitos-mitos Yunani atau kaum Greek. Dalam arti bukan kisah sungguhan, tapi hanya sekadar untuk menjelaskan duduk perkara suatu masalah bahwa tembakau atau rokok itu berbahaya dan dapat menjerumuskan manusia mengikuti langkah-langkah setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ulama klasik saja sudah menengarai bahaya tembakau atau rokok, tak ada alasan lagi bagi pihak-pihak tertentu yang tidak mendukung fatwa MUI, terlebih mereka para ulama. Fatwa haram rokok sudah berpihak pada kemaslahatan umum, yakni menjaga masyarakat dari penyakit jasmani. Pada tahun 2001, WHO mencatat sekitar 429.200 orang lebih meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. Perlu dicatat di sini, rokok memang bukan penyebab langsung dari angka kematian yang begitu besar. Tapi, kematian tersebut disebabkan oleh berbagai penyakit yang ditimbulkan dari kebiasaan mengisap tembakau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya akan kecanduan tembakau membuat tanggal 31 Mei setiap tahunnya diperingati secara khusus sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau &lt;I&gt;No Tobacco Day&lt;I&gt;. Hari itu digunakan untuk mengampanyekan bahaya tembakau atau bahaya rokok. Bahaya rokok karena tembakau yang digunakan sebagai bahan utama rokok mengandung lebih dari 4000 zat beracun. Dan, bahaya tembakau dinyatakan dalam setiap bungkus rokok yang biasanya berbunyi, ''Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bahaya rokok selalu disertakan dalam setiap bungkus rokok--bahkan di beberapa negara bukan hanya kalimat peringatan, melainkan gambar langsung bagi mereka yang terkena dampak merokok--tetap saja tidak mengurangi penikmat rokok. Bahkan, setiap hari semakin bertambah banyak. Padahal, kematian akibat merokok di Amerika Serikat melebihi tingkat kematian akibat HIV, kecelakaan kendaraan bermotor, narkotika, bahkan pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sebenarnya banyak alasan mengapa merokok harus dilarang, mulai dari alasan pemborosan atau penghambur-hamburan, alasan kesehatan, dan pengaruh negatif lainnya. Merokok memang bisa dikategorikan sebagai perbuatan menghambur-hamburkan uang dan pemborosan yang dilarang ajaran Islam. Berapa banyak uang per bulan yang dibakar dengan sia-sia? Bukankah pemborosan dan menyia-nyiakan harta untuk hal yang tidak perlu merupakan perbuatan yang dibenci agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok juga merupakan kegiatan melukai diri sendiri dan menimbulkan penyakit yang serius bagi pelakunya dan akhirnya bisa menyebabkan kematian. Alquran melarang umatnya untuk membinasakan dan merusak diri sendiri sebagaimana disebutkan, ''Dan, janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.'' (Albaqarah: 195).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut WHO, sekitar 346 ribu orang Amerika meninggal setiap tahun karena merokok. Sekitar 90 persen dari 660 orang penderita kanker di sebuah rumah sakit di Cina disebabkan rokok. Bisa dibayangkan, berapa kira-kira jumlah kematian dan penderita kanker di seluruh dunia yang disebabkan rokok. Merokok juga sangat berbahaya bagi anak-anak, terutama remaja. Tidak hanya berbahaya bagi bayi yang ada dalam kandungan, tetapi juga merokok merupakan langkah awal seorang remaja mengisap narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghisap ganja atau jenis narkoba lainnya di kalangan remaja biasanya dimulai dari coba-coba menghisap rokok. Mungkin juga hal ini terjadi di negara-negara lainnya. Karena itu, banyak yang setuju, terutama orang tua yang khawatir dengan masa depan anak-anaknya, untuk mendukung fatwa haram merokok yang dikeluarkan MUI. Menurut Kak Seto, mengapa MUI yang harus mengeluarkan fatwa haram rokok? Karena, MUI sebagai lembaga yang menaungi banyak orang dan dianggap tepat untuk mengeluarkan fatwa haram rokok. Hal ini untuk mengurangi kesenjangan anak dan industri rokok sebab banyaknya anak yang merokok tidak saja sebagai korban, tetapi menjadi calon pelanggan tetap di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, industri rokok justru semakin gencar mengeluarkan iklan dan promosi rokok. Tujuannya untuk menjaring anak menjadi penerus bagi generasi yang sudah tua dan berhenti merokok. Pemerintah juga sepatutnya menaikkan cukai tembakau. Hal ini untuk meminimalisasikan anak agar tidak mampu menjangkau harga rokok dan sebagai upaya perlindungan terhadap generasi muda Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4716379562398678022?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4716379562398678022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4716379562398678022&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4716379562398678022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4716379562398678022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/02/fatwa-haram-rokok-mui.html' title='Fatwa Haram Rokok MUI '/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-2279630655059711517</id><published>2009-01-20T19:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T19:13:16.191-08:00</updated><title type='text'>Profesional Saja Tidak Cukup</title><content type='html'>Oleh: M. Ali Hasymi SPd&lt;br /&gt;Guru Madrasah Aliyah Ma'arif NU, Kencong, Jember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memunculkan paradigma baru, yakni guru profesional. Dalam UU tersebut dikatakan, seorang guru profesional harus melaksanakan tugas atau kewajiban sesuai prinsip bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha pemerintah tersebut merupakan jawaban atas tudingan bahwa carut-marutnya dunia pendidikan di Indonesia disebabkan oleh tidak profesionalnya guru. Masih banyak guru di Indonesia yang memiliki sifat serta perilaku tidak profesional sebagai seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, guru malas membuat perangkat mengajar dalam setiap program pengajarannya. Ada juga yang hanya mengambil perangkat milik guru lain, yang dikenal dengan istilah copy paste. Alasan mereka beragam. Di antaranya, sibuk mencari penghasilan tambahan (karena gaji guru kurang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, guru seharusnya punya perencanaan matang (planning) sebelum menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Lalu, guru juga harus menganalisis hasil pembelajarannya sebagai sarana evaluasi (evaluating).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, guru malas menambah pengetahuan melalui membaca buku. Itu akan berpengaruh terhadap metode pelajaran yang diberikan kepada siswa. Siswa bosan dan malas dengan metode pengajaran yang itu-itu saja. Guru menyuruh siswanya untuk gemar membaca. Tapi, guru sendiri tidak gemar membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib perpustakaan daerah sepi karena pengunjung dari kalangan guru masih minim. Hal tersebut berkorelasi pada minimnya hasil penelitian guru. Penelitian tindakan kelas (PTK) tidak dibuat atas kesadaran sendiri untuk mencari jawaban atas permasalahan yang terjadi dalam program pengajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, guru gaptek (gagap teknologi). Banyak guru yang tidak bisa mengoperasikan komputer. Padahal, penguasaan komputer sangat penting pada era digital yang menuntut kerja lebih cepat. Begitu pula dengan internet. Penguasaan internet menjadi penting agar guru punya pengetahuan lebih. Kita tahu, suatu masalah dijelaskan lebih rinci dalam Yahoo, Google, atau Wikipedia. Bila guru belum menyentuh komputer dan internet, pendidkan kita akan berjalan di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalah siswa yang muncul, mulai kasus video mesum, free sex, perkelahian pelajar, narkoba, dan sebagainya, merupakan sebagian kecil imbas guru yang tidak profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, profesionalisme saja tidaklah cukup. Keikhlasan seorang guru untuk mengabdikan diri demi pendidikan sangat diharapkan. Dengan keikhlasan, guru tidak akan segan bekerja keras. Dengan begitu, terciptalah metode-metode baru yang akan membuat siswa mudah mencerna materi pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan muncul dari pribadi guru yang mau berusaha keras mengembangkan kemampuan. Merencanakan program, membaca, meneliti, dan belajar teknologi akan dilakukan demi keikhlasan. Orang yang paling menikmati hidup adalah orang yang paling bersungguh-sungguh menjaga keikhlasan. Setidaknya, orang yang sangat ikhlas akan sangat minim rasa kecewa (Gymnastiar, Abdullah, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang profesional harus bisa mendidik secara profesional dan ikhlas. Keihlasan berarti mendidik dengan hati, yang akan membuahkan anak-anak yang hidup dalam kebenaran dengan menjadikan dia sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik dengan hati nurani hanya punya satu tujuan. Yakni, terjadinya kesinambungan antara otak dengan hati. Maraknya kasus yang menimpa pelajar merupakan imbas dari guru yang tidak mengggunakan hati dalam mendidik. Kalau otak dan hatinya sudah didekatkan, siswa akan berpikir ulang untuk melakukan perbuatan tercela. (soe) &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-2279630655059711517?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/2279630655059711517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=2279630655059711517&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2279630655059711517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2279630655059711517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/01/profesional-saja-tidak-cukup.html' title='Profesional Saja Tidak Cukup'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8022853665333546478</id><published>2009-01-18T18:46:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T18:47:30.178-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan untuk Siapa?</title><content type='html'>Sumber: http://www.vhrmedia.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pilihlah sekolah menengah kejuruan agar cepat mendapat pekerjaan setelah lulus.” Demikian kira-kira pesan iklan layanan masyarakat yang disampaikan Departeman Pendidikan Nasional. Iklan itu mengajak generasi muda usia sekolah menengah memilih sekolah menengah kejuruan ketimbang sekolah menengah umum. Iming-imingnya jelas: kemudahan mendapat pekerjaan. Sebab, menurut nalar pemasang iklan itu, lulusan sekolah kejuruan memiliki keahlian teknis yang dapat langsung diterapkan, dan tak perlu meneruskan ke pendidikan tinggi setingkat akademi atau universitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada yang salah dalam iklan layanan itu. Pertama, iklan tersebut menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan fasilitas pendidikan tinggi yang berbiaya rendah. Artinya, alih-alih menurunkan biaya pendidikan tinggi untuk seluruh rakyat, pemerintah malah mendorong tunas-tunas bangsa tidak meneruskan pendidikan formal yang sebenarnya layak mereka dapatkan. Kedua, iklan itu juga menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja yang layak bagi lulusan pendidikan tinggi. Demi menghindari tingginya angka pengangguran yang sebagian besar berasal dari lulusan pendidikan tinggi, pemerintah menghalangi generasi muda mengembangkan diri dan memilih memperbanyak sumber daya manusia kelas buruh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perlakuan dan pilihan ini warisan mental dan siasat penjajah dulu. Dari sejarahnya, sekolah-sekolah kita dibentuk untuk mendukung substruktur industri dan dunia usaha. Penjajah Belanda memang tidak pernah berniat membangun universitas di negeri jajahannya, sehingga yang dibangun adalah institut-insitut yang menghasilkan kelas pekerja. Alasan kuat atas kebijakan tersebut adalah ketakutan kaum penjajah akan lahir kaum pemikir yang kemudian mengkritisi kolonialisme di tanah jajahannya bila pendidikan sekelas universitas dibangun. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nuansa penerapan kurikulum berbasis industri ini terlihat jelas dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, yang telah dijalankan beberapa tahun ini. Sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah hanya mendorong peserta didik untuk berhasil menyelesaikan pendidikan dengan ukuran angka tertentu, tanpa peduli pada proses yang telah dijalani tiap-tiap peserta didik. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hingga saat ini belum ada realisasi kurikulum yang secara konkret mengembangkan potensi diri dan pemikiran peserta didik. Sedikit sekali lembaga pendidikan seperti sekolah yang menyediakan fasilitas pengembangan individu yang berbasis konteks sosial dan budaya nasional. Yang ada melulu pengetahuan teknis dan intelektual statis yang kaku. Bila ada, tentu masyarakat dituntut pembayaran yang sangat mahal untuk itu. Masyarakat yang tidak mampu menyediakan dana untuk anak mereka tentu tidak dapat memilih, selain menerima sistem pendidikan kaku warisan penjajah Belanda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kondisi ini diperburuk dengan kualitas guru yang tersedia. Bila pada masa lalu wibawa guru begitu besar dan dihormati, pada masa sekarang figur guru tidaklah begitu mempesona. Profesi ini pun bukan pilihan bagi kebanyakan lulusan pendidikan tinggi, karena hasil yang didapat dari segi ekonomi tidak begitu menjanjikan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Situasi dilematis ini mengakibatkan pula buruknya kinerja guru selama ini. Tekanan ekonomi, rendahnya penghargaan masyarakat, dan alasan-alasan struktural kepegawaian menyebabkan banyak guru yang enggan mengembangkan kemampuan. Terbukti saat diberlakukan KBK, banyak guru yang mengeluh keterbatasan dana dan fasilitas untuk melakukan hal tersebut. Padahal, bila ditelisik, banyak guru yang enggan menerapkan kurikulum tersebut karena mereka dituntut untuk mengembangkan dan merancang kurikulum sendiri, termasuk menggunakan berbagai sumber informasi di luar buku teks.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buruknya kinerja dan perkembangan dunia pendidikan yang dirasa amat lambat bisa saja akibat minimnya anggaran pendidikan yang dikucurkan pemerintah. Memang ada angin segar dengan ditetapkannya dana pendidikan 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, namun kebijakan tersebut juga tidak pernah terealisasi hingga sekarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada beberapa kalangan yang menganggap masalah kelemahan dan kekurangan kualitas pendidikan lebih didorong oleh kemiskinan yang semakin parah di Indonesia. Tapi kita perlu mencoba berkaca pada negara lain, India dan Kuba misalnya. Pendidikan di kedua negara tersebut bisa maju meski kemiskinan masih meraja lela. Pemerintah kedua negara tersebut memahami betul fungsi pendidikan, sehingga sistem pendidikan dan segala fasilitasnya tidak menjadi masalah yang mendasar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agaknya sistem pendidikan di Indonesia memang masih mengawang-awang. Kusutnya permasalahan mulai dari kebijakan buku paket, ujian nasional, sampai tudingan penunjukan seseorang menjadi menteri pendidikan yang salah belum tersentuh untuk diselesaikan. Yang terjadi kemudian merebaknya sekolah alternatif. Mulai dari sekolah nasional plus hingga home schooling pada akhirnya terpaksa ada di Indonesia. Hal itu terjadi karena sikap kritis masyarakat yang semakin menuntut perbaikan sistem pendidikan. Perlu komitmen dan keterbukaan dari semua pihak untuk menyelesaikan persoalan ini. Karena, seperti pernah dikemukakan mantan Menteri Pendidikan Nasional Daoed Joesoef, jangan pernah main-main dengan pendidikan. (E4)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8022853665333546478?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8022853665333546478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8022853665333546478&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8022853665333546478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8022853665333546478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/01/pendidikan-untuk-siapa.html' title='Pendidikan untuk Siapa?'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1163703619160996199</id><published>2009-01-14T20:14:00.000-08:00</published><updated>2009-01-14T20:15:29.060-08:00</updated><title type='text'>Bukan Bagian dari Kemanusiaan, Lalu Bagian dari Apa?</title><content type='html'>Oleh: Ahmad Syafii Maarif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Republika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Gilad Atzmon (46), mantan zionis dan angkatan udara Israel, sekarang pemusik jazz kenamaan di London. Sejak hijrah meninggalkan Yerusalem tahun 1994, ia sangat tajam menggambarkan serangan brutal dan biadab pasukan Israel di Jalur Gaza dalam sebuah artikelnya awal Januari 2009 dalamThe Palestine Chronicle on line. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Atzmon, kebiadaban, kekejaman, dan kezaliman adalah kultur politik Israel sejak negara itu terbentuk tahun 1948. Mengapa? Jawaban Atzmon singkat dan langsung: karena orang Israel bukan bagian dari kemanusiaan. Saya belum menemukan ungkapan telak semacam ini dari mana pun, kecuali dari Atzmon yang dengan gigih dan penuh risiko berjuang membela rakyat Palestina yang dicintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepindahannya ke London disebabkan protes kerasnya terhadap kebrutalan Israel dalam praktik genosida untuk menghabisi dan memusnahkan rakyat Palestina dari muka bumi. Tetapi, pemusik Yahudi ini tidak pernah percaya bahwa cita-cita busuk itu akan berlaku. Bahkan, boleh jadi sebaliknya. Orang Yahudi Israel sedang menyiapkan diri untuk mengembara ke ujung bumi tanpa peta. Siapa yang tidak terharu membaca ungkapan puitis dari seorang mantan zionis ini yang meramalkan nasib terakhir dari zionisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih setengah abad pembantaian Israel terhadap rakyat Palestina, tetapi perlawanan rakyat Palestina tidak pernah berhenti, sekalipun dengan persenjataan ala kadarnya dibandingkan mesin perang Israel yang serbacanggih dengan bantuan cukongnya, Amerika Serikat. Atzmon menulis, "Rakyat Israel tidak paham dengan dasar pokok perjuangan Palestina. Karena itu, mereka bisa saja menafsirkan perjuangan Palestina sebagai sebuah kegilaan irasional pembunuh. Dalam alam Israel, seorang Israel adalah korban tak berdosa dan orang Palestina tak lebih dari seorang pembunuh ganas dan liar." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif semacam inilah, pasukan Israel dengan mata gelap telah membunuh bayi-bayi Palestina sambil bersorak-sorai. Atzmon melanjutkan, "Jelaslah, di pihak Israel tidak ada mitra untuk perdamaian."Bukankah zionisme Israel di mata Atzmon tidak menjadi bagian dari kemanusiaan seperti yang terbaca di atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagian dari apa? Anda tafsirkan sendiri. Bagi saya, penggagas dan pendukung zionisme tidak lain dari makhluk berbentuk manusia. Kejahatannya melebihi perbuatan setan dan iblis walau makhluk halus ini tidak punya bom dan mesin perang supermodern. Tentara Israel sedang berpesta membunuh siapa saja yang menjadi sasaran bom dengan persenjataan yang serbacanggih dan mematikan. Sekalipun dunia pada umumnya hanya menonton dari kejauhan dengan demo dan protes di sana-sini, di lubuk hati yang paling dalam, umat manusia sudah semakin sadar dan paham bahwa Israel zionis dipimpin oleh makhluk serupa manusia, tetapi bukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan korban mati yang hampir 1000, rakyat Palestina dan dunia beradab semakin yakin bahwa kemerdekaan Palestina sudah semakin dekat dan tidak bisa dihambat oleh kekuatan apa pun. Sejarah memang sedang bergerak ke jurusan itu, sekalipun harus dibayar oleh nyawa bocah-bocah dan orang-orang tua yang tak berdaya. "Ya Allah, mohon kabulkan doa jutaan manusia di muka bumi agar Engkau hancurkan kekuatan kaum zionis dalam baju manusia, tetapi mereka tidak pernah menjadi manusia. Amin."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1163703619160996199?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1163703619160996199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1163703619160996199&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1163703619160996199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1163703619160996199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/01/bukan-bagian-dari-kemanusiaan-lalu.html' title='Bukan Bagian dari Kemanusiaan, Lalu Bagian dari Apa?'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4614329472370894848</id><published>2009-01-01T23:07:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T23:10:32.927-08:00</updated><title type='text'>Happy New Year</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Henry&lt;/strong&gt; Wadsworth Longfellow&lt;br /&gt;Look not mournfully into the past. It comes not back again. Wisely improve the present. It is thine. Go forth to meet the shadowy future, without fear, and with a manly heart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ellen Goodman&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;We spend January 1 walking through our lives, room by room, drawing up a list of work to be done, cracks to be patched. Maybe this year, to balance the list, we ought to walk through the rooms of our lives, not looking for flaws, but for potential.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Irish Toast&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;In the New Year, may your right hand always be stretched out in friendship, never in want.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;T. S. Eliot&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;For last year’s words belong to last year’s language and next year’s words await another voice. And to make an end is to make a beginning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Emily Miller&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Then sing, young hearts that are full of cheer,&lt;br /&gt;With never a thought of sorrow;&lt;br /&gt;The old goes out, but the glad young year&lt;br /&gt;Comes merrily in tomorrow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Benjamin Franklin&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Be always at war with your vices,&lt;br /&gt;at peace with your neighbors,&lt;br /&gt;and let each New Year find you a better man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Edgar A. Guest&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;A happy New Year! Grant that I&lt;br /&gt;May bring no tear to any eye&lt;br /&gt;When this New Year in time shall end&lt;br /&gt;Let it be said I’ve played the friend,&lt;br /&gt;Have lived and loved and labored here,&lt;br /&gt;And made of it a happy year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ella Wheeler Wilcox&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;What can be said in New Year rhymes,&lt;br /&gt;That’s not been said a thousand times?&lt;br /&gt;The new years come, the old years go,&lt;br /&gt;We know we dream, we dream we know.&lt;br /&gt;We rise up laughing with the light,&lt;br /&gt;We lie down weeping with the night.&lt;br /&gt;We hug the world until it stings,&lt;br /&gt;We curse it then and sigh for wings.&lt;br /&gt;We live, we love, we woo, we wed,&lt;br /&gt;We wreathe our prides, we sheet our dead.&lt;br /&gt;We laugh, we weep, we hope, we fear,&lt;br /&gt;And that’s the burden of a year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;William Arthur Ward&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;This bright new year is given me&lt;br /&gt;To live each day with zest&lt;br /&gt;To daily grow and try to be&lt;br /&gt;My highest and my best!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Edith Lovejoy Pierce&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;We will open the book. Its pages are blank. We are going to put words on them ourselves. The book is called “Opportunity” and its first chapter is New Year’s Day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;John Greenleaf Whittier&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;We meet today&lt;br /&gt;To thank Thee for the era done,&lt;br /&gt;And Thee for the opening one&lt;br /&gt;(taken from Quotations.About.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4614329472370894848?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4614329472370894848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4614329472370894848&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4614329472370894848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4614329472370894848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2009/01/happy-new-year.html' title='Happy New Year'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8524629992756109068</id><published>2008-12-18T21:50:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T22:05:09.665-08:00</updated><title type='text'>Metode "Sepiring Nasi"</title><content type='html'>Menjelaskan ilmu sosial kepada anak-anak pada dasarnya harus disertai dengan contoh kongkrit yang bisa dimengerti oleh anak. Akan tetapi tidak semua materi ilmu sosial bisa dijelaskan dengan hal yang kongkrit. Sebagai kasus, baru-baru ini saya mendapat giliran unruk menjelaskan materi ilmu sosial tentang 'mahluk sosial' di kelas 3 SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan arti 'mahluk sosial' kepada anak kelas 3 SD anak sangat berbeda dengan menjelaskan kepada anak SMP atau SMA, sebab anak-anak SD masih berfikir kongkrit dan belum menganalisis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dituntut untuk mencari metoda terbaik untuk menjelaskan hal ini, dan akhirnya saya menemukan sebuah metoda yang sangat primitif..sepiring nasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepiring nasi yang biasa disantap oleh anak-anak pada saat istirahat telah memberi inspirasi bagi saya untuk menjelaskan masalah 'mahluk sosial' di kelas 3 SD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba mengurai apa saja yang ada dalam sepring nasi. Ada ikan, tahu, tempe, nasi, garam, sayuran, piring, garfu dan sendok. Lalu saya coba bertanya kepada anak-anak tentang siapa saja yang membuat dan menghasilkan barang-barang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak menjawab: nelayan, pembuat tahu, pembuat tempe, petani, petani garam, petani sayuran, pembuat piring, pembuat garfu dan pembuat sendok...ooo banyak sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai bertanya pada anak-anak, bagaimana seandainya tidak ada mereka? bisakah kita makan? bisakah kita menpersiapkan semua kebutuhan kita untuk makan? semua anak didikku menjawab "tidak!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari metoda sepiring nasi, akhirnya aku bisa menjelaskan bahwa kita sebagai manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8524629992756109068?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8524629992756109068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8524629992756109068&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8524629992756109068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8524629992756109068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/12/metode-sepiring-nasi.html' title='Metode &quot;Sepiring Nasi&quot;'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7601606959141450160</id><published>2008-12-15T22:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T22:26:21.816-08:00</updated><title type='text'>Semua untuk Pendidikan</title><content type='html'>&lt;p&gt;sumber: Republika&lt;/p&gt;Melalui pendidikan luar sekolah kualitas manusia Indonesia dapat ditingkatkan dalam waktu relatif singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, Prof Dr WP Napitupulu bertemu Ishak Hindom. Kala itu, Napitupulu menjabat Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidiikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Ishak adalah Gubernur Irian Jaya. Dalam pertemuan tersebut, Napitupulu berujar, ''Mau provinsimu maju?''&lt;br /&gt;Sang gubernur tentu saja mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau mau cepat maju, setengah pegawai bapak disuruh ke Peniai (pedalaman), memberantas buta huruf, tinggal di sana meningkatkan kualitas pendidikan rakyat. Setengah saja mengerjakan administrasi di sini.''Napitupulu mengisahkan pembicaraan belasan tahun silam itu dalam diskusi terbatas bersama pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Jakarta, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja ia sekadar bercanda. Mengirim setengah karyawan Pemda menetap di pedalaman tidak semudah yang diucapkan. Tapi, di balik guyonan itu ia menyampaikan pesan, meningkatkan kualitas manusia Indonesia dan memberantas buta huruf bisa dilakukan dalam waktu yang relatif dengan keterlibatan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan itu, menurut dia, hanya dapat dilakukan melalui jalur pendidikan luar sekolah. Itu karena pendidikan sekolah memerlukan waktu enam tahun di SD dan tiga tahun SMP. Sedangkan melalui program pendidikan luar sekolah bisa langsung digunakan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. ''Jadi, tidak perlu bertahun-tahun.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deret ukur&lt;br /&gt;Melibatkan banyak orang dalam pelaksanaan program pendidikan luar sekolah bisa dimulai dari semua unsur yang mengurusi pendidikan. Tidak hanya direktorat yang ada di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), tapi juga bagian yang mengurusi pendidikan di departemen dan instansi lain. ''Bukan berarti mereka tidak mengerjakan pekerjaannya, tapi sekian persen perhatiannya harus membantu pendidikan luar sekolah,'' tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaannya melibatkan kalangan lain, bukan hanya mereka yang bergerak di bidang pendidikan, tapi setiap orang, setiap organisasi, semua bergerak untuk pendidikan. Napitupulu mencontohkan perlunya keterlibatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk benar-benar membantu rakyat desa sebagai agen perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, semua orang punya kesempatan yang sama memperoleh pengetahuan dan keterampilan relevan yang dapat dijadikan bekal mencari nafkah, sesuai konsep pendidikan untuk semua. Ini berarti, pendidikan untuk semua (education for all) bisa menjadi kenyataan bila konsep itu diputar menjadi semua untuk pendidikan (all for education).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyadari, tidak ada formula tepat yang bisa digunakan untuk mendorong semua orang bergerak bersama. Yang diperlukan adalah bagaimana memberikan pengertian kepada semua orang, terutama masyarakat terdidik di desa-desa agar mau melibatkan diri dalam proses itu. ''Kalau dia mengerti, dia akan joint. Tidak bisa kalau diperintah-perintah,'' ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, bagaimana mengatur supaya tenaga terdidik bangsa ini melaksanakan proses pelipatgandaan diri sejauh mungkin dengan sistem reaksi berantai mengikuti deret ukur naik. Misalnya, mereka yang sudah melek huruf melalui program Paket A, menjadi asisten membantu tutor. ''Jadi sistem reaksi berantai mengikuti deret ukur naik.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napitupulu mengakui, memang sudah ada political will pemerintah soal pelaksanaan konsep pendidikan untuk semua, sebagaimana diatur dalam Kepres tentang Wajib Belajar 9 Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara. Hanya saja, dia melihat pelaksanaannya kerap belum konsisten. Tidak jarang, pemerintah lebih mengutamakan program lain seperti pengerjaan jalan atas pertimbangan untuk kepentingan bersama dari pada mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pendidikan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, menurut dia, ruang lingkup pendidikan luar sekolah sesungguhnya lebih luas dari sekadar melaksanakan program pemberantasan buta huruf dan wajib belajar. Di dalamnya mencakup semua bidang kehidupan, termasuk bagaimana meningkatkan gizi dan ekonomi masyarakat. Karena itu dia berujar, "Memberantas kemiskinan harus melalui jalur pendidikan luar sekolah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kata dia, bagaimana menyakinkan Menteri Pendidikan Nasional kabinet mendatang bahwa melalui pendidikan luar sekolah kualitas manusia Indonesia dapat ditingkatkan dalam waktu relatif singkat. Sebab, kalau hanya berpegang pada sekolah saja, anak tamat SD orang tuanya merasa sudah cukup dan meminta ikut membantu mencari nafkah. "Kalau begitu terus, hanya orang tertentu yang menjadi hight educated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luasnya lingkup pendidikan luar sekolah dapat hitung dari berapa anak Indonesia yang masuk sekolah dan berapa yang sampai ke perguruan tinggi. Dari situ akan ketemu jumlah manusia Indonesia yang memerlukan layanan pendidikan luar sekolah. Karena itu, meningkatkan mutu manusia Indonesia dalam waktu yang relatif singkat harus melalui pendidikan luar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya tidak hanya berbicara pendidikan untuk semua, tapi semua untuk pendidikan. Caranya, semua tenaga terdidik bangsa ini melaksanakan proses pelipatgandaan diri sejauh mungkin dengan sistem reaksi berantai mengikuti deret ukur naik. Pantaslah bila ia menyampaikan guyonan kepada Ishak Hindom, belasan tahun silam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7601606959141450160?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7601606959141450160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7601606959141450160&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7601606959141450160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7601606959141450160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/12/semua-untuk-pendidikan.html' title='Semua untuk Pendidikan'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7690367703736256035</id><published>2008-12-15T22:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T22:16:38.262-08:00</updated><title type='text'>Muhajir dan Balon Berputing</title><content type='html'>Oleh Ahmad Tohari  (Republika)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan Muhajir sedang gelisah gara-gara kondom. ''Mau berantas HIV/AIDS dengan cara bagi-bagi kondom; itu nalar apa?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Muhajir berkaitan dengan Hari AIDS Internasional. Ini membuat saya teringat peristiwa 44 tahun lalu. Tahun 1964, saya duduk di SMA bersama si Muhajir itu, tapi beda kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu ada pelajaran kosong. Kelas agak riuh. Dan, tiba-tiba ada balon tiup meluncur di udara dari arah belakang. Tan Swie Hing, anak pemilik apotek di kota kami, tertawa-tawa. Dia yang meluncurkan balon itu bersama gengnya. Kelas bertambah riuh. Balon yang di ujungnya ada semacam puting dan tidak ikut menggembung itu jadi rebutan. Saya juga terlibat. Gadis-gadis centil teman sekelas kami malah lebih heboh. Mereka beramai-ramai memukuli balon tadi agar lebih tinggi mengapung di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang, Tan dan gengnya tertawa makin menjadi-jadi. Akhirnya, ketua kelas menangkap balon itu untuk dipecahkan. Ketika tahu bahwa balon tadi sebenarnya kondom yang ditiup sampai menggelembung, wajah saya terasa kering. Brengsek! Dan, gadis-gadis centil itu? Ah, mungkin mereka tidak tahu rahasia ini hingga sekarang. Juga, Muhajir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena peristiwa masa lalu itu, saya kini tidak kaget bila mendengar isu perkondoman. Dan, saya tersenyum ketika Muhajir minta saya segera menjawab pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cegah HIV/AIDS dengan kondom. Bahkan, dengan Pekan Kondom Nasional, itu nalar apa?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Itu nalar kaum natural-sekularis. Para naturalis menyikapi seks dengan pendekatan rasional dan teknis. Seks adalah hal yang alami semata. Segala bentuk mitos, termasuk norma agama di seputar masalah birahi, boleh disingkirkan. Norma agama hanya diberi tempat sebagai urusan pribadi bukan urusan sosial.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jadi, dalam nalar sekuler soal seks tak ada moralnya?''&lt;br /&gt;''Ya, ada. Masyarakat sekuler melaksanakan kegiatan seks sebagai kebutuhan biologis semata. Dasarnya adalah suka sama suka. Sedangkan moralnya ringan saja; asal kegiatan itu tidak merugikan siapa pun. Maka, mereka perlu kondom dan menyebar kondom di mana-mana.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan Muhajir berhenti kirim SMS. Saya lega. Tapi, saya membayangkan wajahnya masygul. Dia adalah dai yang sering mengajak orang jangan mendekati zina. Maka itu, dia pasti menentang massalisasi kondom. Bagi orang beriman seperti Muhajir, mencegah HID/AIDS hanya ada satu cara; jangan dekati zina dan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga membayangkan kecemasan para orang tua yang punya anak remaja. Bila membeli kondom semudah membeli rokok, bukankah keberanian remaja untuk menabrak rambu-rambu dosa menjadi berlipat ganda? Jadi, kemasygulan Muhajir adalah kemasygulan masyarakat luas yang seharusnya ditanggapi. Jangan anggap enteng akibat massalisasi balon berputing ini, meskipun ada kalanya untuk penggunaan di jalan yang bersih kondom ada manfaatnya juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7690367703736256035?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7690367703736256035/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7690367703736256035&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7690367703736256035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7690367703736256035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/12/muhajir-dan-balon-berputing.html' title='Muhajir dan Balon Berputing'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4153547695450217978</id><published>2008-12-14T18:09:00.001-08:00</published><updated>2008-12-14T18:13:00.506-08:00</updated><title type='text'>Guru adalah pekerjaan pengabdian?</title><content type='html'>Jaman dulu banyak orang yang tidak mau jadi guru, karena menjadi guru pada jaman dulu adalah pengabdian yang sebenarnya. Banyak guru yang hidupnya serba tidak kecukupan, tetapi mereka tetap bertahan dengan profesinya sebagai guru, karena tugas guru dianggap sebagai tugas mulia yang tidak bisa diukur dengan uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru pada saat itu banyak disegani oleh murid dan masyarakat karena keteladanannya, pengabdiannya, kesederhanaan dan pantang menyerah di tengah keserbatiadaan fasilitas dan kurangnya perhatian masyarakat/pemerintah terhadap profesi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jaman sudah berubah. Guru tampaknya sudah menjadi suatu profesi yang menjanjikan, terutama dilihat dari segi penghasilan. Sehingga pada saatnya nanti tidak ada lagi guru yang miskin dan serba kekurangan, karena pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar 21 persen dari APBN untuk peningkatan kualitas pendidikan, termasuk di dalammnya kesejahteraan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca tentang guru-guru yang lulus sertifikasi dan sebagai imbasannya guru-guru tersebut akan mendapat penghasilan kurang lebih Rp 5 juta perbulan. Dalam sebuah wawancara dengan salah seorang guru dinyatakan bahwa dengan adanya kenaikan penghasilan dan tunjangan, maka ia akan bisa berkonsentrasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan tidak akan terganggu dengan hal-hal yang sifatnya mencari penghasilan sampingan. Tapi bukankah pengabdian tidak diukur dari besar kecilnya penghasilan? Bukankah pendidikan berkualitas itu bukan harus menunggu hasil sertifikasi dan gaji besar? Semua berpulang pada kita. Maukah kita mengurus anak didik kita dengan dengan tanpa diembeli “menunggu”…menunggu gaji besar dan lulus sertifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bisakah gaji yang besar menjadi “jaminan” meningkatnya kualitas pendidikan? Wallahu alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, banyak guru yang mangkir disaat bertugas, sehingga satpol PP harus turun tangan, guru yang dengan seenaknya ‘nempeleng’ anak secara antri, guru yang melakukan pelecehan pada siswa, merokok di depan siswa, jalan-jalan dengan yang bukan mukhrimnya dan masih banya kasus lain…walaupun hal ini tidak bisa digeneralisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata menjadi guru sudah bukan lagi “pengabdian” murni. Pengabdian guru pada saat ini adalah pengabdian bersyarat. Guru sudah menjadi profesi seperti halnya dokter di rumah sakit, yang lebih mendahulukan ‘duit’ ketimbang ‘mengurus’ pasien. Guru sudah jadi barang industri pendidikan. Setuju atau tidak, terserah anda!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4153547695450217978?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4153547695450217978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4153547695450217978&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4153547695450217978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4153547695450217978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/12/guru-adalah-pekerjaan-pengabdian_14.html' title='Guru adalah pekerjaan pengabdian?'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-6560367549134042410</id><published>2008-12-14T18:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T18:11:26.214-08:00</updated><title type='text'>Guru adalah pekerjaan pengabdian?</title><content type='html'>Jaman dulu banyak orang yang tidak mau jadi guru, karena menjadi guru pada jaman dulu adalah pengabdian yang sebenarnya. Banyak guru yang hidupnya serba tidak kecukupan, tetapi mereka tetap bertahan dengan profesinya sebagai guru, karena tugas guru dianggap sebagai tugas mulia yang tidak bisa diukur dengan uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru pada saat itu banyak disegani oleh murid dan masyarakat karena keteladanannya, pengabdiannya, kesederhanaan dan pantang menyerah di tengah keserbatiadaan fasilitas dan kurangnya perhatian masyarakat/pemerintah terhadap profesi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jaman sudah berubah. Guru tampaknya sudah menjadi suatu profesi yang menjanjikan, terutama dilihat dari segi penghasilan. Sehingga pada saatnya nanti tidak ada lagi guru yang miskin dan serba kekurangan, karena pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar 21 persen dari APBN untuk peningkatan kualitas pendidikan, termasuk di dalammnya kesejahteraan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca tentang guru-guru yang lulus sertifikasi dan sebagai imbasannya guru-guru tersebut akan mendapat penghasilan kurang lebih Rp 5 juta perbulan. Dalam sebuah wawancara dengan salah seorang guru dinyatakan bahwa dengan adanya kenaikan penghasilan dan tunjangan, maka ia akan bisa berkonsentrasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan tidak akan terganggu dengan hal-hal yang sifatnya mencari penghasilan sampingan. Tapi bukankah pengabdian tidak diukur dari besar kecilnya penghasilan? Bukankah pendidikan berkualitas itu bukan harus menunggu hasil sertifikasi dan gaji besar? Semua berpulang pada kita. Maukah kita mengurus anak didik kita dengan dengan tanpa diembeli “menunggu”…menunggu gaji besar dan lulus sertifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bisakah gaji yang besar menjadi “jaminan” meningkatnya kualitas pendidikan? Wallahu alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, banyak guru yang mangkir disaat bertugas, sehingga satpol PP harus turun tangan, guru yang dengan seenaknya ‘nempeleng’ anak secara antri, guru yang melakukan pelecehan pada siswa, merokok di depan siswa, jalan-jalan dengan yang bukan mukhrimnya dan masih banya kasus lain…walaupun hal ini tidak bisa digeneralisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata menjadi guru sudah bukan lagi “pengabdian” murni. Pengabdian guru pada saat ini adalah pengabdian bersyarat. Guru sudah menjadi profesi seperti halnya dokter di rumah sakit, yang lebih mendahulukan ‘duit’ ketimbang ‘mengurus’ pasien. Guru sudah jadi barang industri pendidikan. Setuju atau tidak, terserah anda!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-6560367549134042410?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/6560367549134042410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=6560367549134042410&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6560367549134042410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6560367549134042410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/12/guru-adalah-pekerjaan-pengabdian.html' title='Guru adalah pekerjaan pengabdian?'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-6868492127765206824</id><published>2008-12-04T18:06:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T18:08:57.174-08:00</updated><title type='text'>Teaching Character in Math Classes</title><content type='html'>Source: http://valuesblog.blogspot.com/&lt;br /&gt;I've received several e-mails from educators regarding how to teach character in a Math class. One specifically asked for lessons that tie together character with Math. But every way I imagine tying the two together seamlessly appears rather artificial; e.g., lessons from the lives of great mathematicians, or integrating a moral into a math word problem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Example Word Problem: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem: Henry was dating Sally. He was also cheating on Sally with Jane. How many girlfriends does Henry have now? &lt;br /&gt;Answer: None. Sally and Jane found out about each other and talked. &lt;br /&gt;Moral? Cheating gets you into trouble.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm...so maybe this relational triangle could somehow connect to &lt;br /&gt;geometry!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rather, I think the best way I've seen to integrate character and math was modeled for me by Dr. William Craig, one of my graduate school professors. In a "History of Philosophy" class, the brilliant professor (two earned Ph.D.'s) would devote 3 to 5 minutes at the beginning of class to a sort of real-life moment. One day, he started class with something like this:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You know, you can make A's in my class, while flunking in real life. I remember a time when I was struggling with balancing studies with my marriage. I was working on my Ph.D. in Philosophy at the University of &lt;br /&gt;Munich, Germany. The academic load was overwhelming me. But my teacher pulled me aside and advised me, 'Look around you. People around here with Ph.D.'s are a dime a dozen. But how many people do you see who have a really great marriage? Whatever the cost, don't neglect your relationship with your wife.' It really put things in perspective for me."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, that was 25 years ago, and I'm not sure how much today I remember from the history of philosophy. But I'll never forget that simple life story from a teacher who cared as much about my life as about my passing his class.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My advice for leading a Math class? Introduce what you're doing by saying,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Class, I've been thinking...if I teach so wonderfully that all of you pass &lt;br /&gt;my class with A's and B's, but you flunk out in life, I've not done much to help you. The infamous Unabomber, who killed people by sending them bombs in the mail, was gifted at Math, having taught Math at a respected university. He made "A's" in Math, but flunked out in life, ending up in prison.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For what it's worth, I'd like to devote a couple of minutes at the first of class (or on Monday of each week) to discuss some life lessons I've either learned or am in the process of learning. I'm not saying I'm the perfect model of these things, but I've come to realize that often my character has meant more to my success than whether I made an "A" or a "C" in a class."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then, either tell a story from your life about how you learned the &lt;br /&gt;importance of telling the truth, not cheating, caring about others, &lt;br /&gt;diligence, etc.; or, tell the story of another person whom you respect. (I've got over 100 of such stories, which I call "Intercom Insights," categorized by character trait, with discussion questions, in our members' section.) Even if you use the story of another person, I'd try to tie it in to your personal life as well. Students like to know where you stand on &lt;br /&gt;issues.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course, much character develop comes from how teachers respect students in class, how they deal with discipline issues, and how they treat students fairly, creating a culture of caring in the class, no matter what subject is being taught. Welcoming student input into the teaching process ("Tell me personally when you think I'm either unfair or teaching poorly.") shows respect for students' opinions and helps prepare them to get customer feedback when they later run a business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternate Introduction to Character&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In introducing character to a Math class, here's another introduction that a teacher could use:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mastering this class and making "A's" won't guarantee your success. Studies by the Carnegie Institute of Technology found that "even in such technical lines as engineering, about 15 percent of one's financial success is due to one's technical knowledge and about 85 percent is due to skill in human engineering -to personality and the ability to lead people." (How to Win Friends and Influence People, p. xiv)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Discussion: Does this mean that Math isn't important? (No. You wouldn't get the engineering job without doing well at Math.) What does it mean? (You need to know more than Math to be successful.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With this introduction, you understand why I'll occasionally share a life story or lead a discussion on a character trait or relational issue. In addition to becoming better students, I hope we become better people." &lt;br /&gt;Posted by J. Steve Miller at 6:48 AM 0 comments&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-6868492127765206824?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/6868492127765206824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=6868492127765206824&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6868492127765206824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6868492127765206824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/12/teaching-character-in-math-classes.html' title='Teaching Character in Math Classes'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-316402038105876987</id><published>2008-11-27T19:49:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T19:51:39.993-08:00</updated><title type='text'>Gejala Pengikisan Identitas dan Nasionalisme Bangsa</title><content type='html'>Oleh: Setyowati SPd&lt;br /&gt;Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 6 Depok. Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sumber: Republika&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Menjamurnya sekolah internasional di Jakarta dan sekitarnya membawa dampak tersendiri pada perkembangan bahasa. Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah itu menarik minat para orang tua murid, yang notabene dari kelas menengah ke atas, untuk menyekolahkan anaknya di sana. Alasan utama mereka tidak mutu pendidikan saja, tetapi juga penguasaan bahasa Inggris bagi anaknya. Akibatnya, sekolah negeri di kota besar terdorong untuk bersaing dengan sekolah internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, sebagian besar sekolah negeri yang memiliki akreditasi A telah membuka kelas internasional. Langkah ini dilakukan dalam rangka mewujudkan visi sekolah, yaitu menuju sekolah yang berstandar internasional atau SBI. Semua mata pelajaran diajarkan dengan bahasa Inggris, tak terkecuali pelajaran bahasa Indonesia yang mungkin juga diajarkan dengan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah dapat menghambat perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia yang masih terus mengalami perkembangan dan perbaikan akan mundur. Jika generasi penerus bangsa sudah sejak dini dibentuk dalam konsep bahasa Inggris, tentu hal ini memengaruhi tingkat pemakaian bahasa Indonesia. Kenyataan, masyarakat belum mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik dalam ragam lisan maupun tulis. Dalam ragam lisan, penggunaan bahasa Indonesia sangat dikontaminasi oleh bahasa daerah, sedangkan dalam ragam tulis, ada kontaminasi ragam bahasa lisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah ketidaktepatan dalam penggunaan ragam bahasa resmi dan tak resmi dalam situasi formal maupun informal. Banyak generasi muda saat ini yang mencampuradukkan keduanya. Sebagai contoh, seorang siswa SMA yang harus memberikan sambutan pada acara resmi sekolah, tetapi menggunakan bahasa gaul dengan alasan agar suasana tidak tegang. Selain itu, akan terjadi kontaminasi dalam budaya karena belajar bahasa tak lepas dari belajar budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontaminasi bahasa dan budaya yang negatif dapat menjadi gejala pengikisan identitas dan nasionalisme bangsa. Dengan alasan globalisasi, penutur akan merasa diterima dalam pergaulan jika berbahasa Inggris. Mereka akan bangga jika berbahasa Inggris karena akan tampak kelas sosial mereka. Selain itu, mereka akan dianggap sebagai kaum intelek yang memiliki wawasan luas, karena ketika berbicara mereka menggunakan kemampuan dwibahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena itu banyak dijumpai di kota metropolitan seperti Jakarta. Sudah menjadi keharusan bagi orang Jakarta untuk menguasai bahasa Inggris jika ingin dikatakan sebagai manusia modern dan maju. Sementara itu, bahasa Indonesia malah mengalami kerusakan ketika bermunculan bahasa gaul di kalangan anak muda Jakarta. Kondisi itu sangat mengkhawatirkan jika dibiarkan. Perlahan tapi pasti, bahasa Indonesia akan mengalami kepunahan sebagaimana bahasa minoritas di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar di sekolah merupakan langkah tepat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan alasan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, bahasa Inggris dirasakan perlu dimasyarakatkan. Namun, kita tidak menyadari bahwa hal ini dapat menjadi ancaman bagi penanaman identitas dan nasionalisme pada generasi muda. Kekhawatiran ini wajar, karena bahasa adalah salah satu ciri atau identitas sebuah bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi bagi masalah ini adalah penerapan sekolah dwibahasa seperti di Malaysia dan Singapura. Mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar di sekolah hanya untuk mata pelajaran yang masuk dalam kurikulum internasional. Dengan sekolah dwibahasa dihasilkan keluaran pendidikan yang mampu berkompetisi dalam era globalisasi tetapi tidak kehilangan identitas dan nasionalisme mereka sebagai bangsa. Kedua negara itu mengalami perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan identitas mereka sebagai orang Melayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikatakan bahwa penggunaan bahasa Inggris di sekolah mengingkari Sumpah Pemuda, tepat. Maka, tugas pemerintah adalah membuat batasan yang tegas dalam hal apa saja bahasa Inggris dijadikan bahasa pengantar di sekolah. Perlu dibuat sebuah regulasi sebagai rambu-rambu bagi para pengajar di sekolah yang memiliki kelas internasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-316402038105876987?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/316402038105876987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=316402038105876987&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/316402038105876987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/316402038105876987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/11/gejala-pengikisan-identitas-dan.html' title='Gejala Pengikisan Identitas dan Nasionalisme Bangsa'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-9070642541111486378</id><published>2008-11-24T22:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-24T22:27:39.260-08:00</updated><title type='text'>Guru Harus Pandai "Mendidik"</title><content type='html'>Berita di TV yang cukup menggemparkan belakangan ini adalah GURU MENCABULI MURID. Sungguh suatu hal yang sangat memalukan dan merusak citra guru sebagai yang 'digugu dan ditiru'. &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya pikir, pangkal tolak dari kejadian ini berawal dari adanya suatu persepsi yang salah dari para guru bahwa 'tugas guru' hanyalah 'mengajar'. Mengajar tidak bisa disamakan dengan mendidik. Mengajar hanya melibatkan proses transformasi ilmu dan bukan transformasi nilai-nilai kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika mengajar hanya menjadi tugas utama seorang guru, maka transfer nilai-nilai kehidupan yang baik akan ditinggalkan. Ketika guru sudah mengajar..habislah sudah tugas guru. Permasalahan anak mau merokok, tawuran, bolos, sudah bukan menjadi ranah guru lagi. Apakah memang harus seperti ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi saya pribadi, menjadi guru adalah pekerjaan yang sangat susah sekali, selain harus bisa memberikan ilmu, juga harus bisa menjadi teladan yang baik. Apa yang kita lakukan akan menjadi contoh buat anak didik kita. Tak salah kiranya kalau ada anak SD yang merokok, karena gurunya juga merokok. Sekarang apa yang harus kita lakukan dengan diri kita sebagai guru? cuma mengajarkah? atau mengajar dan mendidik juga? semua terserah pada anda sebagai seorang guru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-9070642541111486378?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/9070642541111486378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=9070642541111486378&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/9070642541111486378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/9070642541111486378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/11/guru-harus-pandai-mendidik.html' title='Guru Harus Pandai &quot;Mendidik&quot;'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-3908248433721023532</id><published>2008-11-17T19:02:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T19:03:01.634-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Berwawasan Lingkungan</title><content type='html'>Oleh: Slamet Widiantoro, S.Pd&lt;br /&gt;Guru Sains SD Muhammadiyah Condongcatur, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Republika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah bertubi-tubi melanda negeri ini mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, puting beliung, tanah longsor. Dan, terakhir-terakhir ini di musim penghujan ada daerah-daerah yang menjadi langganan bencana banjir, atau bencana yang lebih besar lagi bagi dunia yaitu adanya pemanasan global yang luar biasa dampaknya bagi bumi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana-bencana di atas tentunya secara langsung atau tidak langsung akan membawa dampak terhadap dunia pendidikan kita. Karena, dengan adanya bencana yang melanda tersebut maka banyak yang menjadi korban pendidikan, mulai dari fasilitas pendidikan dengan rusaknya bangunan sekolah, rusaknya transportasi menuju sekolah, atau terendamnya sarana sekolah lain karena banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi dampak psikologis yang dialami oleh anak akibat bencana tersebut. Tentunya kita masih teringat di tayangan televisi bencana tsunami di Aceh atau gempa bumi 27 Mei yang melanda di Yogyakarta bagaimana anak-anak menangis karena kehilangan saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana-bencana ini tentunya tidak lepas hanya sekadar dari peristiwa alam biasa. Tentunya, ada faktor kesalahan manusia baik itu secara fisik atau ada hubungannya dengan perusakan alam atau secara nonfisik akibat dari banyaknya kesalahan-kesalahan yang diakibatkan dari tingkah laku manusia. Sehingga, sang pencipta memberikan peringatan atau hukuman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat latar belakang di atas tentunya kita melihat sangat perlunya pendidikan yang berwawasan lingkungan sejak dini. INi untuk mempersiapkan anak-anak kita yang siap mencegah dan menghadapi bencana lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan berwawasan lingkungan ini tentunya secara tidak langsung sudah terdapat di dalam kurikulum atau materi di sekolah dasar salah satunya dalam bidang studi IPA. Namun, dalam pelaksanaannya masih dirasa kurang karena permasalahan bencana tidak semata-mata hanya karena proses alam saja. Juga, diakibatkan dari pengaruh akhlak dari anak-anak bangsa, sehingga memang sangat diperlukan keterpaduan dalam pendidikan lingkungan ini. Sehingga, pendidikan lingkungan bisa diintergrasikan masuk juga dalam pelajaran yang lain misalnya IPS, agama, bahasa Indonesia, bahsa Jawa, bahkan matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, dari sini penting diperlukan adanya pembelajaran tematik tentang tema lingkungan di kelas. Walaupun sekarang sudah dikenalkan metode pembelajaran ini namun kita mengamati masih banyak dilakukan pada kelas-kelas kecil. Karena, di kelas atas ada guru bidang studi, hal ini kadang sebagian guru kita terjebak dalam dikotomi pendidikan. Sehingga, ketika kita berbicara IPA maka ada maka kita hanya berbicara IPA kita tidak membicarakan masalah agama, sosial, atau bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran tematik yang berhubungan dengan lingkungan ini agar lebih menarik bisa diwujudkan dengan field trip misalnya. Field trip ini bisa dalam bentuk pengenalan lingkungan sekitar misalnya saja pergi ke sawah. Di sawah anak bisa mempelajari semua pelajaran yang ada. Misalnya, untuk mempelajari IPA bisa dikenalkan dengan cara perkembangbiakan tanaman, pelajaran matematika belajar simetri lipat pada daun, pelajaran bahasa Jawa berlatih berbicara bahasa jawa dengan pak tani, pelajaran bahasa indonesia dengan menulis puisi, pelajaran KTK dengan menggambar pemandangan, pelajaran olah raga misalnya adanya game-game dengan lumpur di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya pembelajaran ini mungkin lebih membawa makna tersendiri bagi anak karena anak praktik langsung, selain mengurangi rutinitas pembelajaran di kelas. Walaupun tentunya membawa konsekuensi bagi guru karena harus bekerja ekstra dengan pengawasan anak di luar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran lingkungan ini tidak hanya dengan model seperti di atas. Ada sekolah dengan media terbatas dapat melakukan dengan pemutaran film atau CD tentang lingkungan, membuat kliping bencana alam, mendaur ulang limbah rumah tangga, membuat taman, mempraktikkan simulasi gempa, yang hal ini sering dilakukan oleh negara maju seperti Jepang yang sering terjadi bencana gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengenalkan anak terhadap teknologi lingkungan anak-anak membuat model alat yang berhubungan dengan penangan bencana misalnya alam banjir atau alam gempa. Bisa juga dengan berkunjung ke suatu tempat pengolahan limbah industri, atau pendaurulangan sampah rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja sama dengan LSM yang berkecimpung dengan lingkungan atau stake holder yang peduli terhadap lingkungan untuk datang ke sekolah memberikan pelatihan juga menjadi alternatif bagi sekolah yang tidak memiliki dana atau kemampuan yang cukup untuk memberikan hal-hal seperti di atas. Sehingga, dengan cara ini tidak menjadi sesuatu yang memberatkan bagi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran seperti di atas sudah diterapkan oleh beberapa sekolah yang memang di sekolahnya memiliki kurikulum pendidikan berwawasan lingkungan atau adanya guru-guru yang peduli terhadap lingkungan. Namun, dirasa akan lebih membawa dampak yang besar jika diwujudkan oleh seluruh sekolah negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas kita melihat begitu pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini agar anak memiliki wawasan lingkungan yang lebih luas dan diharapkan dapat peduli terhadap lingkungan di daerahnya dan tentunya siap menghadapi bencana akibat lingkungan. Dari pembahasan di atas pula kita berpikir tidak diperlukannya pendidikan lingkungan sebagai suatu pelajaran yang berdiri tersendiri. Karena, bisa terintegrasi dengan bidang studi yang lain dalam bentuk model pembelajaran tematik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-3908248433721023532?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/3908248433721023532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=3908248433721023532&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3908248433721023532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3908248433721023532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/11/pendidikan-berwawasan-lingkungan.html' title='Pendidikan Berwawasan Lingkungan'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-153579031878607920</id><published>2008-11-17T19:00:00.001-08:00</published><updated>2008-11-17T19:00:51.527-08:00</updated><title type='text'>Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang Islami</title><content type='html'>Oleh: Dede Munajat SPd&lt;br /&gt;Guru PKn SMP Negeri 1 Anjatan Kabupaten Indramayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Republika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada hakikatnya merupakan sebuah upaya pembaharuan dalam bidang pendidikan ke arah peningkatan mutu. Upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah, sekolah dan masyarakat, yang termasuk ke dalam steakholders pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan masa reformasi, maka UU tentang Sistem Pendidikan Nasional ini membangun paradigma baru dalam pendidikan yaitu memberikan otonomi kepada setiap daerah untuk me- manage pendidikan yang ada di daerahnya sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Konsep peningkatan mutu pendidikan beralih menjadi tanggung jawab sekolah, dengan pola manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan MPMBS menghendaki penggunaan mutu sebagai konsep yang dinamis atau relatif, tidak mutlak, hal ini dapat dilihat dari visi, misi dan tujuan yang ditetapkan oleh tiap sekolah. Pengukuran mutu lulusan suatu sekolah berdasarkan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum disebut sebagai quality in fact. Standar yang dipakai untuk pengukurannya adalah standar proses dan pelayanan yang sesuai dengan spesifikasi dalam perencanaan, cocok dengan tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan zero defects (tanpa kesalahan) atau right first and every time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi pelanggan yaitu orang tua siswa dan masyarakat, mutu pendidikan dapat didefinisikan sebagai pemenuhan selera dan kebutuhan pelanggan dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat meningkatkan keinginan, minat dan kebutuhan mereka yang disebut quality in perception. Standar yang dipakai adalah standar pelanggan yaitu kepuasan pelanggan yang dapat meningkatkan permintaan dan harapan pelanggan yaitu orang tua siswa, dan masyarakat lingkungannya. Dalam era globalisasi, quality in perception didasarkan atas tuntutan masyarakat internasional, yang oleh karena itu mutu akademik pendidikan Indonesia ditinjau dalam komparasi internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data Human Development Index menunjukkan bahwa pada tahun 2003 IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia berada pada ranking 112, di bawah Vietnam yang berada pada ranking 111, sedangkan data pada tahun 2004 Indonesia berada pada ranking 111, sedikit di atas Vietnam yang berada pada ranking 112 dari 127 negara yang diukur. Maka berdasarkan hasil tersebut tingkat komparasi mutu pendidikan Indonesia masih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma pendidikan yang dianut oleh Pemerintah Indonesia adalah membentuk manusia Indonesia seutuhnya, di mana menurut Hari Suderadjat sebagai umat muslim profil manusia seutuhnya, secara filosofik sesuai dengan petunjuk Allah SWT, yaitu sosok insan ulil-albab (QS 3:190). Sosok insan ulil-albab memiliki karakteristik, yaitu pertama beriman dan bertaqwa (imtaq); kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek); ketiga, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan manusia; dan keempat, selalu berpegang pada petunjuk Allah karena takut azab neraka (QS 3:191). Sosok insan ulil-albab adalah sosok manusia seutuhnya karena ia memiliki nilai-nilai dan taqwa (afektif), memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi (kognitif), dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari (psikomotor). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dihubungkan dengan ranah pendidikan dari pemahaman konsep KBK, bahwa keseluruhan pengetahuan yang dimiliki termasuk kognitif, nilai dan sikap yang direfleksikan termasuk afektif kemudian kebiasaan berpikir dan bertindak termasuk psikomotor. Jadi dari kurikulum tahun 2004 dan 2006 itu pada dasarnya sama, keduanya berbasis kompetensi walaupun yang untuk kurikulum 2004 disebut KBK dan kurikulum 2006 disebut dengan KTSP. Kemudian dalam pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2006 ini setiap sekolah diberikan kebebasan dalam membuat kurikulumnya sendiri sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerahnya masing-masing. Intinya dari kurikulum yang akan dibuat harus sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan standar isi yang telah dibuat oleh BSNP dengan menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen pendidikan dalam era UUSPN 1989 sangat sentralistik dibandingkan dengan manajemen pendidikan pada era UUSPN 2003 yang bernuansa desentralistik. Terbukti, dengan setiap sekolah membuat kurikulum tingkat satuan pendidikan yang mempunyai ciri khusus dengan visi, misi, dan tujuan yang telah dirumuskan oleh tim sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Sekolah melaksanakan manajemen berbasis sekolah dalam rangka mengaplikasikan Undang-Undang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Sistem Nasional Pendidikan yang mengatur delapan standar pendidikan yang harus dimiliki oleh setiap satuan pendidikan, agar dapat mencapai tujuan pendidikan nasional. Apabila setiap insan Indonesia memahami bahwa pendidikan adalah ibadah, maka setiap langkah dan usaha yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan dengan penuh rasa kesadaran, keikhlasan dan tanggung jawab yang tinggi sehingga berhasil secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum tahun 2006 memberikan peluang kepada setiap sekolah untuk kreatif dan melakukan inovasi dalam pendidikan, misalnya dapat menciptakan suasana pembelajaran yang islami dengan cara membuat kurikulum yang membentuk akhlak mulia dari setiap peserta didik. Maka dari itu kita sebagai guru yang profesional harus dapat mengkaji setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tealh disediakan oleh BSNP jangan langsung diadopsi tetapi boleh diadaptasi yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lingkungan setempat sehingga dapat berguna bagi sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-153579031878607920?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/153579031878607920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=153579031878607920&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/153579031878607920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/153579031878607920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/11/kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan.html' title='Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang Islami'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8056597396497224857</id><published>2008-11-12T22:15:00.000-08:00</published><updated>2008-11-12T22:17:33.655-08:00</updated><title type='text'>“Sekolah Pendidikan Karakter”</title><content type='html'>“Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, tetapi manusia yang berkarakter tidak diperoleh begitu saja. Pangkal segala pendidikan karakter adalah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar…” (Mohammad Hatta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan Syahrul Tarbiyah telah datang, input Ramadhan berupa orang – orang beriman hendak diproses agar menjadi orang – orang yang bertakwa. Pada takwa ada kata melaksanakan perintah Allah dan menjauh laranganNya, artinya sebuah kemampuan menunjukkan puncak – puncaknya iman melalui amal nyata yang terlihat di keluhuran akhlaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila imannya belum terejawantahkan dalam akhlak takwanya, maka belum sempurna iman seseorang tersebut, seperti yang termaktub dalam hadits“ Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka “ (H.R Tirmidzi dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pengejawantahan iman dalam akhlak adalah cintanya kita pada kebenaran dan keberanian mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai – nilai kebenaran.Bangsa ini tengah mengalami relativitas dalam memaknai kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kebenaran menurut diri sendiri, menurut masyarakat, menurut hukum dan menurut agama. Poin yang terjadi di bangsa ini adalah masih ada gap dalam pemaknaannya. Kebenaran menurut diri sendiri, yang lebih layak disebut pembenaran, kental kaitannya dengan kepentingan pribadi seseorang terhadap sesuatu. Misalnya seorang artis yang rela memamerkan aurat atas nama estetika demi memperoleh penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya hal itu benar menurutnya karena bernilai estetik, tapi bagi umat, tentunya bertanya etikanya dimana. Disini memang amat terlihat adanya penyimpangan pemikiran yang berakibat terjadinya paradoks antar nilai, dan ini terjadi karena pribadi tersebut belum memiliki dasar pemikiran yang kuat dalam memandang sesuatu hal secara menyeluruh untuk menentukan kadar kebenaran dari sesuatu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti lain adanya relativitas pemaknaan kebenaran adalah budaya main hakim sendiri di masyarakat. Bangsa ini telah menjadi bangsa yang barbar akibat pemahaman yang berbeda dalam menyikapi sesuatu hal tindakan kriminal sehingga diambil langkah – langkah yang cukup ’kriminal’ juga oleh masyarakat dan ini tidak dianggap salah olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini adalah buah dari pemaknaan kebenaran oleh masyarakat ?Bangsa ini pun menjadi sedemikian permisifnya bisa jadi akibat dari pemaknaan kebenaran yang kurang tepat juga. Nilai – nilai positif bangsa tergusur oleh arus mode hasil globalisasi dan liberalisme. Lihat saja dari bagaimana kaum muda kita berpakaian dan bertingkah laku seperti budaya barat, dan itu lagi – lagi tidak dianggap salah oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tidak dianggap modern, orang – orang yang tidak mengikuti mode yang bersumber dari barat. Fenomena ini menggiring pada kenyataan bahwa kebenaran dalam masyarakat tidak selalu baik bagi masyarakat tersebut.Kebenaran dalam masyarakat ini erat kaitannnya dengan media massa dan institusi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini peran institusi pendidikan dalam membentuk karakter masyarakat dan menghadirkan pemahaman akan makna menyeluruh sebuah kebenaran kalah oleh pengopinian publik oleh media massa yang banyak menyajikan kebenaran rancu yang penuh kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efisiensi institusi pendidikan masih amat rendah dalam menghasilkan individu – individu berkarakter yang memiliki visi kebangsaan, sedangkan efisiensi media massa dalam mencetak individu hedonis dan pragmatis cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang harus diperkuat sebab hal itu merupakan inti pengendali kebenaran pribadi dan masyarakat adalah kebenaran dalam hukum dan agama. Kondisi bangsa ini adalah hukumnya masih belum independen sehingga kebenarannya bisa diperjualbelikan, dan bangsa ini kondisi kehidupannya masih penuh dengan sekularitas yang meletakkan agama sebatas tempat ibadah dalam suatu ritual. Namun, adakalanya pada momen – momen tertentu kebenaran yang hakiki mengemuka, salah satunya adalah Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan tentunya menjadi saat yang strategis untuk menghadirkan kembali kecintaan pada kebenaran yang bersumber dari fitrah. Pada bulan ramadhan, syiar keagamaan begitu nyata gaungnya dan orang – orangnya pun terkondisikan untuk menerima kebenaran dan mencintainya. Masjid – masjid mulai kembali ramai dikunjungi orang yang walaupun datang untuk berbuka puasa dan sholat maghrib tentunya dan terlihat makmur dengan kegiatan islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan pada kebenaran pun muncul dan dahsyatnya hal ini dibarengi dengan keberanian dalam mengatakan salah pada hal yang bertentangan dengan nilai kebenaran. Seperti ketika seorang mahasiswa yang kesehariannya ’gaul abis’ kala melihat temannya mencontek pekerjaan rumah miliknya, dia menegurnya bahwa Bulan Ramadhan tidak boleh mencontek sebab bisa merusak pahala puasa katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa sekali, bahwa pangkal dari pendidikan karakter itu muncul disana, pada momentum Ramadhan ini.Ada harapan besar akan terintegrasinya kebenaran – kebenaran individu, masyarakat, hukum dan agama ketika kedatangan Bulan Ramadhan ini. Harapan akan menyemainya benih – benih karakter cinta pada kebenaran dan keberanian mengatakan kebenaran dari terintegrasinya pemahaman tentang hakikat kebenaran itu, akan menjadi pertanda lahirnya pribadi – pribadi berkesadaran. Kelahiran pribadi – pribadi ini menjadi sebuah keniscayaan atas perubahan menuju kemajuan peradaban sebuah bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab bagaimana mungkin seorang individu akan melakukan perubahan sedangkan ia sendiri tidak memiliki kesadaran atas hal apa yang harus diubah.Maka inilah individu itu, individu yang sadar akan realitas ditengah idealitas mereka. Merekalah yang akan berjuang, memperjuangkan nilai - nilai kebenaran yang diperoleh lewat kesadarannya akan realitas. Merekalah yang akan mentransformasi kebenaran masyarakat yang akan menjadi tanda lahir peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban inilah yang akan melahirkan hukum yang independen, bebas dari kepentingan siapun, hukum yang tidak memihak rakyat atau penguasa, namun hukum yang memihak kebenaranSekali lagi, kebenaran yang mereka perjuangkan bukan kebenaran perut mereka. Namun kebenaran yang diperoleh dari akal dan hati mereka yang bersumber dari fitrah. Dan merekalah pribadi – pribadi yang akan diwisuda oleh sekolah pembentukan karakter berkurikulum langit yaitu Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah orang – orang beriman yang akan melalui proses pembelajaran dan penempaan sehingga saat berakhirnya masa ajaran, akan mampu menampakkan puncak – puncak keimanan mereka melalui akhlak takwanya. Merekalah yang akan membidani persalinan peradaban baru bangsa mereka menuju peradaban yang berlandaskan nilai – nilai kebenaran hakiki, berdasarkan iman. Semoga bangsa itu adalah bangsa ini, Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8056597396497224857?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8056597396497224857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8056597396497224857&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8056597396497224857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8056597396497224857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/11/sekolah-pendidikan-karakter.html' title='“Sekolah Pendidikan Karakter”'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-3073758008591149523</id><published>2008-10-23T19:16:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T19:20:37.816-07:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN   “MENJAUHKAN ANAK DIDIK DARI BUDAYA KEKERASAN”</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MUQODDIMAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhir – akhir ini kita sering disuguhi berita –berita kekerasan baik itu di media cetak maupun di televisi. Berita – berita kekerasan hampir setiap saat dapat kita jumpai di media masa. Penyebab, pelaku, korban maupun motifnyapun beragam. Dan yang paling memprihatinkan adalah terjadinya kekerasan di dunia pendidikan. Padahal pendidikan adalah sebuah wilayah yang seharusnya jauh dari budaya kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan dalam banyak hal berbeda dengan kekerasan-kekerasan yang terjadi di dalam masyarakat. Namun demikian ada satu kesamaan yang menjadikan kekerasan-kekerasan itu terjadi baik di dalam dunia pendidikan maupun diluar dunia pendidikan, yaitu adanya pemicu. Ada banyak hal yang bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan dalam dunia pendidikan, dan kadang-kadang adalah hal yang sangat sederhana, tetapi karena tidak mendapatkan jalan keluar yang sesuai maka pada akhirnya berpotensi menjadi pemicu timbulnya sebuah kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan yang timbulpun bisa bermacam-macam bentuk dan skalanya dengan pemicu yang sama. Karena pemicu itu biasanya bersifat kasuistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LATAR BELAKANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah lembaga pendidikan, sekolah tentunya akan senantiasa menyelesaikan masalah dengan cara yang edukatif. Namun demikian sering kita jumpai ketika terjadi sebuah konflik di dalam lembaga pendidikan baik antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, guru dengan guru, guru dengan pimpinan sekolah, guru dengan orang tua siswa, penyelesaian yang dilakukan/ditempuh tidak menggunakan cara-cara yang edukatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu contoh ketika dalam proses belajar mengajar terjadi sebuah bentuk kekerasan, ketika seorang guru memberi hukuman pada siswanya. Pada satu sisi guru tersebut memberikan hukuman pada siswa sebagai upaya membentuk disiplin pada siswa tersebut, namun demikian karena bentuk hukuman yang diberikan berupa hukuman fisik orang tua siswa tidak dapat menerima karena orang tua siswa beranggapan bahwa hukuman tersebut tidak edukatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru adalah manusia biasa yang dalam hal-hal tertentu mempunyai keterbatasan sebagaimana manusia pada umumnya, yang kadang menyebabkan guru bertindak lepas keluar dari koridor sebagi seorang pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HAL –HAL YANG MEMUNGKINKAN TIMBULNYA KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDKAN.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FAKTOR GURU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari komponen pendidikan guru mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam proses pendidikan. Baik buruknya autput dari sebuah proses pendidikan peran sentral dari seorang guru sangatlah menentukan, sebaik apapun kurikulum pendidikan jika guru yang menjalankan proses pendidikan tidak dalam kondisi yang sesui maka hasilnyapun tentu tidak optimal. Sedikit saja guru keliru dalam menangani konflik yang timbul di dalam proses belajar mengajar maka kekerasan dimungkinkan akan timbul baik seketika atau mungkin terakumulasi dengan factor lain yang dapat timbul sewaktu-waktu, baik kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa, siswa terhadap guru, siswa terhadap siswa lainnya atau malah mungkin juga guru terhadap guru lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FAKTOR LINGKUNGAN SISWA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sekarang ini Televisi bukanlah barang langka dalam sebuah keluarga. Sebetulnya TV adalah media rekreatif, informative dan edukatif. Namun dari ketiga fungsi tersebut sebagian pemirsa boleh dibilang lebih banyak mengkonsumsi tayangan TV pada fungsi rekreatif ketimbang pada fungsi informative ataupun edukatif. Padahal unsur rekreatif ini sebagian besar program yang ditayangkan menyajikan cerita atau kisah yang sering kali memuat unsur kekerasan. Bahkan tayangan untuk anak-anak dalam bentuk kartunpun seringkali mengandung unsure adu otot dan adu jotos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola kekerasan sebagai penyelesaian masalah yang diterima oleh anak-anak melalui tayangan televisi, dalam jangka panjang dapat membentuk mentalitas anak-anak tersebut untuk memilih jalan pintas, diantaranya dengan kekerasan, didalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak factor-faktor lainnya, diantaranya pornografi, narkoba, pergaulan bebas yang tentunya ini juga memberi pengaruh terhadap timbulnya kekerasan dalam dunia pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KONSEP PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang berperan dalam keberhasilan proses belajar mengajar adalah suasana belajar mengajar yang kondusif. Karena suasana belajar mengajar yang kondusif akan meningkatkan minat dan motivasi belajar anak. Untuk mendapatkan suasana belajar yang kondusif, dapat dilakukan dengan :&lt;br /&gt;-Menumbuhkan niat belajar.&lt;br /&gt;-Menjalin rasa simpati dan saling pengertian.&lt;br /&gt;-Menciptakan suasana riang.&lt;br /&gt;-Menciptakan rasa saling memiliki.&lt;br /&gt;-Menunjukkan teladan yang baik.&lt;br /&gt;-Berani mengambil risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Menumbuhkan niat belajar.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses belajar mengajar, baik guru maupun siswa hendaknya dapat membangkitkan niat tersebut dari dalam dirinya sendiri. Bila niat tidak mudah tumbuh dari dalam diri sendiri, maka dorongan orang lain utamanya guru, sangat diperlukan agar tidak mempengaruhi semangat belajar siswa yang lainya yang pada akhirnya dapat mengganggu proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Menjalin rasa simpati dan saling pengertian.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk menumbuhkan kepedulian, toleransi, dan saling menghargai diantara siswa perlu dijalin rasa simpati dan saling pengertian baik antar siswa maupun guru dengan siswa dengan cara : &lt;br /&gt;-Melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama siswa.&lt;br /&gt;-Memperlakukan siswa sebagai teman.&lt;br /&gt;-Mengetahui hal-hal yang menghambat siswa untuk mengerti&lt;br /&gt;-Mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan.&lt;br /&gt;-Mengetahui apa yang disukai siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Menciptakan suasana riang.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Belajar dalam suasana yang menyenangkan, tanpa adanya paksaan dan tekanan akan menimbilkan kesadaran untuk menemukan sendiri jawaban dari persoalan yang mereka hadapi. Misalnya dengan tepuk tangan, pujian dan lain sebagainya, namun suasana riang ini harus tetap dijaga jangan sampai menjadi sendau gurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Menciptakan rasa saling memiliki.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Rasa saling memiliki akan membentuk kebersamaan, kesepakatan, kesatuan, yang pada akhirnya siswa akan bisa menghargai perbedaan, yang pada akhirnya perbedaan yang kadang menjadi sumber konflik menjadi hilang / minimal berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Menunjukkan teladan yang baik.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah ungkapan ‘prilaku nyata akan lebih berarti dari pada seribu kata-kata’. Guru sebagai manusia model bagi siswa akan menjadi cermin baginya. Untuk itu penting bagi guru untuk memberi teladan terhadap apa yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Berani mengambil risiko.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Belajar dengan tantangan akan membuat siswa tidak mudah menyerah,  dan terus berpikir untuk memecahkan masalah. Hal ini akan menciptakan keasikan tersendiri dan juga dapat mengurangi kebosanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsep belajar mengajar seperti diatas kemungkinan munculnya konflik sebagai pemicu timbulnya kekerasan di dalam pendidikan akan dapat teratasi, sekurang –kurangnya dapat di minimalisir. Pendidikan adalah sebuah proses, yang kadang-kadang hasilnya tidak seperti yang diharapkan oleh banyak pihak. Namun demikian jika tahapan-tahapan dari proses tersebut dapat kita kendalikan untuk tidak keluar dari kaidah-kaidah mendidik InsyaAllah keinginan kita untu menjauhkan anak didik dari budaya kekerasan akan terwujud, semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARIYADI&lt;br /&gt;Guru pendidikan jasmani&lt;br /&gt;SD Cebongan 02 Salatiga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-3073758008591149523?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/3073758008591149523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=3073758008591149523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3073758008591149523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3073758008591149523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/pendidikan-tanpa-kekerasan-menjauhkan.html' title='PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN   “MENJAUHKAN ANAK DIDIK DARI BUDAYA KEKERASAN”'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1997948111884516608</id><published>2008-10-23T19:14:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T19:15:15.146-07:00</updated><title type='text'>Kekerasan terhadap anak di dunia pendidikan</title><content type='html'>KEKERASAN guru terhadap siswa bukan cerita lama. Terakhir kasus seorang guru Bahasa Inggris di Karanganyar yang menendang siswanya hingga gegar otak, masih segar dalam ingatan masyarakat pemerhati pendidikan. Beban tugas guru yang berat, kesejahteraan yang belum baik, rendahnya "kecerdasan" emosional, dst, merupakan salah satu sebab mengapa guru bisa berbuat khilaf dengan jalan menebarkan aroma kekerasan di dalam kelas. Pada sisi yang lain pengaruh gaya hidup TV, rendahnya perhatian orangtua terhadap para kelakuan dan sopan santun anaknya, perilaku konsumtifisme, narkoba, minuman keras, dan perilaku ”ngoboy” lainnya, merupakan sederetan sebab mengapa para siswa zaman sekarang juga susah di atur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sisi yang sangat ekstrem dari si guru dan siswa tersebut jika bertemu, maka akan terjadi benturan (fisik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya banyak siswa yang stres dan mencoba bunuh diri, sementara yang lain mencoba membakar dan merusak gedung sekolahnya, ketika tidak lulus ujian. Tampak bahwa dunia pendidikan di tanah air seakan tidak ramah terhadap perasaan dan nurani para siswa. Salah satu tujuan diselenggarakannya pendidikan sebagai sarana pemerdekaan dan pembebasan, hanya akan berada di awang-awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan ahirnya hanya menghasilkan manusia cerdas namun seperti robot di satu sisi, dan manusia stres pada sisi lain. Sistem ranking, sistem penilaian, kebijakan yang tidak pernah konsisten, sistem dan proses pembelajaran yang monoton searah dan instruktif dari guru, menyebabkan anak-anak merasa tidak lagi "at home" di sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stres itu belum usai, di rumah sudah menanti ”monster” yang bernama ambisi orang tua. Di teras sudah menunggu guru les, ada les bahasa Inggris, piano, matematika, tari, dst, dengan setumpuk buku dan latihan soal yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata Wapres bahwa untuk bisa menjadi bangsa yang maju arus ada kerja keras. Namun pertanyaannya, apakah sekolah dan sistem ujian sekarang ini sudah menunjukkan ke arah usaha kerja keras yang sesungguhnya? Sikap kerja keras tidak bisa dijalani dengan cara meniadakan rasa bahagia anak. Kerja keras bukan sekadar menghafal ratusan definisi dan latihan soal ala LKS (Lembar Kerja Siswa), namun juga melibatkan kecerdasan emosi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan kecerdasan emosi dilakukan dalam rangka untuk : 1). Menemukan pribadi, yakni memfasilitasi siswa untuk mengenali kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri. Siswa menerimanya secara positif dan dinamis dalam rangka pengembangan dirinya lebih lanjut; 2). Mengenal lingkungan: guru memfasilitasi siswa agar mengenal lingkungannya seperti lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dst dan menerima sebagai berbagai kondisi lingkungan itu secara positif dan dinamis; 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merencanakan masa depan: guru memfasilitasi siswa agar mereka dapat merencanakan masa depannya. Menurut Carl Witherington, ada empat hal yang harus diketahui guru untuk mengetahui emosi siswanya, yakni: 1). Aspek emosi yang terlihat oleh mata seperti gemetar, takut sehingga matanya terbelalak, menggeretakkan gigi untuk mengekspresikan rasa marah dst; 2). Emosi yang ditunjukkan oleh sikap kurang senang, senang, benci; 3). Ungkapan-ungkapan atau umpatan dari siswa; dan 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan emosi yang bersifat kualitatif, misalnya dirangsang oleh individu lain hingga timbul rasa senang, benci, jijik, malu, marah, dan sebagainya. Umumnya anak-anak dari golongan ekonomi lemah yang mudah tersulut emosinya, meskipun anak dari keluarga mampu, juga memperlihatkan gejala serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dari golongan ekonomi lemah akhirnya harus putus di tengah jalan, atau "layu sebelum berkembang". Hasil penelitian Silverstein dan Krate di lingkungan "ghetto" (dalam Megawangi, 1993) juga menunjukkan, bahwa anak-anak dari golongan ekonomi lemah harus rela mendapatkan lingkungan sekolah yang jelek. Demikian pula lingkungan tempat tinggal yang kumuh menyebabkan mereka memiliki sifat ambivalen, terlalu cepat dewasa (precocious independent), pasrah (submissive), dan kurang percaya diri serta penghargaan pada diri rendah (low self esteem).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Goldens dan Birns (dalam Megawangi, 1993) menunjukkan bahwa hasil tes IQ dari berbagai kelompok strata sosialekonomi anak usia di bawah dua tahun tidak ada perbedaan yang berarti. Dengan kata lain anak dari keluarga ekonomi lemah memiliki potensi yang relatif sama dengan anak dari golongan ekonomi mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, siswa-siswa di kota-kota besar sangat rawan terhadap pengaruh lingkungan yang buruk. Hal inilah yang menyulitkan guru-guru d kota-kota besar untuk mendidik siswanya. Ivan Illich atau Paulo Freire pernah mengkritik bahwa sekolah formal itu milik kaum pemodal dan tidak berpihak kepada kaum papa. Sekolah formal pada akhirnya hanya alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaan dengan jalan menciptakan kelas-kelas sosial. Bahkan Freire menyebut sebagai kekuatan untuk melanggengkan "kebudayaan bisu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Betrand Russell (1993) pernah mengatakan bahwa mestinya pendidikan itu lebih mempertimbangkan hubungan komunitas daripada hubungan individu, meskipun tujuan pendidikan untuk membudayakan individu agar kapasitasnya berkembang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Randall Collins dalam "The Credential Society: An Historical Sociology of Education and Stratification" mengatakan bahwa bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa pendidikan formal merupakan awal dari proses stratifikasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sketsa singkat di atas rasanya pantas untuk dijadikan renungan para penentu kebijakan pendidikan, agar di masa depan generasi muda Indonesia mendapatkan sistem pendidikan yang tidak saja mampu meningkatkan kecerdasan hidup, namun juga mampu memberikan bekal keterampilan hidup, pandangan hidup dan nilai-nilai kehidupan yang merangsang kecerdasan emosi dan spiritualnya. Bangsa ini tidak ingin lagi mendengar ada siswa bunuh diri gara-gara tidak lulus ujian atau tidak dapat membayar SPP. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1997948111884516608?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1997948111884516608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1997948111884516608&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1997948111884516608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1997948111884516608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/kekerasan-terhadap-anak-di-dunia.html' title='Kekerasan terhadap anak di dunia pendidikan'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-5763351402441359795</id><published>2008-10-16T20:14:00.001-07:00</published><updated>2008-10-16T20:19:41.634-07:00</updated><title type='text'>Aku Diwawancara di Radio</title><content type='html'>&lt;p&gt;Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau dari tulisan saya di republika tentang "berkarakterkah kita sebagai guru?" mendapat sambutan dari Dradio 103.4 fm Jakarta untuk mewancarai saya dengan dipandu oleh Ibu Neno Warisman..alhamdulillah. Berikut petikan wawancara saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Laporan: Nuning/Patricia&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;[''Jakarta Sore'' Senin - Jum'at, 16.00-18.00 WIB]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D Listener, Magic Daddy minggu ini membahas “sosok ayah takambang jadi guru” bersama Neno Warisman dan Nuning. Mengawali Magic Daddy, Neno Warisman menjelaskan fungsi ayah-guru yaitu untuk mengembangkan cakrawala untuk anak-anaknya, baik anak kandung, anak didik ataupun anak dalam pengasuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, definisi guru menurut Ayah Pengembara (Bp Irwan) bukan hanya pengajar tapi juga seorang trainer, seorang distributor, merangkap entertain. Sosok guru dari seorang ayah hanyalah 30% sebagai pengajar, selebihnya adalah sebagai fasilitator, entertain dll. Ditegaskan oleh Ayah Pengembara bahwa alam adalah guru paling utama untuk anak, dan jembatan pengenal bagi anak adalah ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR Gutomo, Guru Besar Pendidikan Anak Dini Usia, juga urun bicara dan berbagi pengalaman sebagai guru. Pengertian guru yang benar bagi Pak Gutomo, guru bukan hanya memberikan ilmu tapi juga memberikan teladan, karena pendidikan harus seimbang antara mengembangkan ilmu pengetahuan dan tutur kata, pribadi serta perilaku. Guru pendidik usia dini, bukan hanya mengajarkan pada anak agar anak tahu, tapi memberikan contoh langsung.&lt;br /&gt;Ditambahkan juga, kualitas guru ketika ditempatkan pada “ke-ayah-annya” sering ditempatkan salah. Ketika sang ayah menjadi guru, hanya akan mengajar dan memberikan ilmu pada anak murid terbatas pada profesinya, dan ketika berada di rumah akan mendelegasikan urusan anak pada ibunya. Padahal anak membutuhkan gambaran positif bagaimana seorang lelaki dari sang ayah, bagaimana menjadi orang yang perkasa dan penyayang. Pertanyaan Neno, “bagaimana sang ayah menjadi ayah takambang bagi anaknya disela waktu sibuknya?”. Menurut Pak Gutomo, “Ayah yang sibuk pun, harus bisa menjadi teman curhat dan teman untuk bertanya bagi anaknya, selain dari ibunya. Perhatian pada anak juga bisa ditunjukkan dengan mencium kening ketika sedang belajar, atau komunikasi via sms”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela siaran Magic Daddy, Neno Warisman juga menyinggung guru yang sangat berarti dalam hidupnya, yang sudah memberikan support ketika Neno mengikuti perlombaan-perlombaan, bapak guru Bernhard Hutagaol, yang juga seorang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Maha Guru, Bp Buchori Nasution, Pendiri Sekolah bagi Kepala Sekolah (Lembaga Manajemen Pendidikan Indonesia School of Education, Jl Utan Kayu 20A, Jakarta Timur. Ph.021-8516129, 021-92733182), berhasil untuk diwawancarai dalam Magic Daddy. Pertanyaan pertama bagi bapak Buchori, ”mengapa tertarik untuk mendirikan sekolah bagi Kepala Sekolah?”. Dijawab lugas bahwa yang paling penting dari guru adalah profesi moral dan ahlak; Bagaimana ahlak kita terhadap Allah, terhadap sesama manusia dan terhadap alam. Perbedaan dari sekolah bagi Kepala Sekolah ini adalah penguasaan leadership, ada 7 item dalam hal kepemimpinan:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mengenal diri: siapa saya, apa potensi dalam diri saya, apa tujuan hidup dll&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Komunikasi: bukan hanya mendengar, berbicara, menulis, membaca tapi juga belajar bahasa isyarat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ahlak: dalam dunia kerja 90% akan dituntut ahlak. Ahlak terhadap manusia, dijabarkan: mau berbagi pada orang, loyal, jujur, mau bertanggung jawab dll&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cara belajar yang baik : jika sudah didapatkan cara belajar yang baik, akan cocok dengan semua disiplin ilmu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Proses Membuat Keputusan : bagaimana individu membuat keputusan dan bagaimana kelompok membuat keputusan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengatur : Pemimpin harus bisa mengatur, mengetahui pola mengatur apa dan siapa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Organisasi, himpunan potensi dengan visi, misi dan tujuan yang jelas&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam Magic Daddy edisi 12 Februari 2008 ini Dik Doang (musisi dan pendiri sekolah Kandang Jurang, Ph.021-9146523) juga menjelaskan historikal dan filosofi dari didirikannya sekolah Kandang Jurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sms dari D Listener, Bp Rony, mempertanyakan sosok ayah takambang menjadi guru, terkait dengan sekolah gratis tapi kebebasan pemberdayaan guru dan ide guru dipasung. Pertanyaan ini pun terjawab setelah mewawancara seorang guru dan juga penulis, Bp &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Iwan Gunawan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, (penulis dalam kolom guru menulis di harian Republika dengan artikel ”Berkarakterkah kita sebagai guru?” dan guru SD Salman Al-Farisi Bandung). Dijelaskan bahwa pemasungan tidak terjadi pada pengajar di SD Salman Al-Farisi Bandung dan anak-anak didiknya. Anak-anak didik diberikan kebebasan untuk “protes” jika melihat ada hal yang perlu dikoreksi dalam tugas atau pengajaran gurunya. Bukan hanya kebebasan berpendapat yang diberikan, tapi juga kedekatan pada anak-anak, menjadi teman bagi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika disinggung mengenai gaji yang didapatkan dari guru, Bp Rony menjawab ”Secara logika, tidak cukup. Tetapi secara bersyukur, itu cukup. Kita harus bersyukur berapapun yang kita dapat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Announcer : Nuning &amp;amp; Neno Warisman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-5763351402441359795?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/5763351402441359795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=5763351402441359795&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5763351402441359795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5763351402441359795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/aku-diwawancara-di-radio.html' title='Aku Diwawancara di Radio'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4895611282726460677</id><published>2008-10-14T19:24:00.001-07:00</published><updated>2008-10-14T19:24:28.567-07:00</updated><title type='text'>Mencegah Premanisme Pelajar</title><content type='html'>Oleh :Sis Ariyanti&lt;br /&gt;Guru SMP Al Hikmah Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi premanisme yang dilakukan oleh pelajar kian memprihatinkan. Beberapa waktu yang lalu Geng Nero (Neko-neko dikeroyok) santer diberitakan di media massa karena melakukan penganiayaan terhadap anggotanya. Pelajar yang notabene merupakan agent of change (agen perubahan) belum mampu mengemban tugasnya dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geng Nero barangkali hanya salah satu potret dari sekian banyak geng yang ada di lingkungan sekolah. Kejadian ini mungkin juga pernah dialami oleh sekolah-sekolah lain. Namun, tidak terekspos dan dapat dicegah serta ditangani dengan baik oleh pihak sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan remaja untuk membentuk pear group harusnya disadari oleh guru. Apalagi pada usia SMP dan SMA. Keinginan itu sangat besar. Siswa biasanya berkelompok dengan teman-teman yang memiliki pandangan atau hobi yang sama dengan dirinya. Selama kegiatan mereka positif tentunya tidak masalah. Tapi, fakta yang ada di lapangan berkata sebaliknya. Dalam hal ini guru harus dapat "membaca" gerak-gerik setiap siswanya sehingga dapat dengan mudah "mencium" perilaku siswa-siswanya yang menyimpang atau tidak wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencegahan&lt;br /&gt;Sekolah sebagai institusi pencetak generasi bangsa tentu merasa sangat bertanggung jawab terhadap perilaku anak didiknya. Bukankah setiap sekolah ingin terkenal karena prestasi siswanya dalam berbagai kejuaraan bukan berita yang mencoreng nama baiknya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya mencegah aksi serupa, ada beberapa hal yang dapat dilakukan pihak sekolah. Pertama, memperkuat pondasi diri anak didik dengan agama. Ketika anak didik kita memiliki pondasi agama yang kuat mereka tidak gampang terombang-ambing dan terpengaruh oleh hal-hal buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang guru, penulis sangat merasakan betul manfaatnya. Anak-anak pada dasarnya membutuhkan sentuhan-sentuhan rohani. Sehingga, saat ada masalah pada diri anak didik, guru dapat mengarahkan serta menyelesaikannya dengan mudah. Semua guru di sekolah penulis mengemban tugas sama yakni selain guru bidang studi yang diajarkan juga merangkap sebagai guru agama. Artinya, setiap guru yang mengajar wajib mengingatkan dan mengaitkan hal-hal yang diajarkan dengan Alquran, karena sekolah penulis adalah sekolah Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menjalin komunikasi yang baik dengan setiap siswa. Program curhat bersama dengan anak-anak yang dinamakan halaqoh sangat penting. Sekolah harus mengalokasikan waktu untuk program sharing ini. Setiap guru membawahi beberapa anak didik dan mendengarkan cerita serta keluh kesah dari anak-anak. Sehingga, guru dapat ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh anak didiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan akhirnya guru tersebut dapat memberikan solusi terbaik untuk mereka. Dengan demikian, deteksi dini terhadap persoalan lebih besar dapat dilakukan melalui forum ini. Kita harus menghapus paradigma bahwa persoalan siswa di sekolah adalah tanggung jawab tim BK (konselor). Semua guru di sekolah adalah guru BK (konselor). Apabila guru menjumpai perilaku anak didik yang menyimpang dapat segera mengingatkannya. Jika, tidak mampu menanganinya baru mengomunikasikannya dengan konselor sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengefektifkan peran walikelas. Sekolah perlu memberdayakan walikelas. Tugas walikelas tidak hanya rapat dengan walimurid atau membagikan rapor saja, tapi juga memantau perkembangan anak didiknya. Oleh karena itu, penting kiranya walikelas mendampingi anak-anak atau berada di dalam kelas ketika sedang tidak mengajar. Sehingga, walikelas dapat memantau dan mengetahui pembelajaran di kelas. Apabila terjadi konflik antar anak didik dapat segera tertangani dengan baik. Perkelahian yang sering terjadi di kelas seperti yang diungkapkan oleh Puspa (nama samaran) salah seorang siswi di Jakarta saat diwawancarai di TV One karena kurangnya pengawasan sekolah. Sehingga pihak sekolah tidak mengetahuinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menjalin kerja sama dengan orang tua. Sekolah dapat mengadakan program buku penghubung dan home visit (kunjungan ke rumah walimurid). Buku penghubung ini diisi oleh orang tua dan walikelas. Setiap perkembangan anak baik di sekolah maupun di rumah dapat terpantau melalui buku ini. Sementara itu, home visit dimaksudkan untuk menjalin komunikasi dengan melakukan kunjungan ke rumah wali murid guna melakukan  problem solvingterhadap perkembangan siswa baik di rumah maupun di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, melarang stasiun televisi menayangkan sinetron yang berbau kekerasan. Bagaimanapun juga pengaruh televisi sangat besar terhadap perkembangan anak didik di sekolah. Penulis berharap agar pihak stasiun televisi lebih selektif dalam tayangannya, tidak hanya memikirkan permintaan pasar saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sinetron remaja yang menyajikan tindak kekerasan pelajar yakni Cinta dalam Maut yang dibintangi aktor muda Rogger Danuarta yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta. Menurut penulis, potret remaja dalam sinetron tersebut sangat tidak pantas untuk dicontoh. Banyak hal baik dari pelajar kita yang dapat menjadi inspirasi para penulis skenario jika kekurangan ide dibandingkan cerita dengan tema yang tidak bermutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah setiap tayangan menjadi lahan untuk mengajak orang berbuat baik dan membawa Indonesia lebih baik. Akhirnya, penulis mengharapkan kerja sama berbagai pihak baik sekolah, orangtua, guru, dan segenap komponen masyarakat agar ikut andil dalam mencegah aksi premanisme pelajar. Apabila mengetahui tawuran pelajar mohon segera menginformasikan kepada sekolah yang bersangkutan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4895611282726460677?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4895611282726460677/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4895611282726460677&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4895611282726460677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4895611282726460677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/mencegah-premanisme-pelajar.html' title='Mencegah Premanisme Pelajar'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8300846531105453780</id><published>2008-10-14T19:19:00.000-07:00</published><updated>2008-10-14T19:20:34.157-07:00</updated><title type='text'>Mempercepat UU Pornografi</title><content type='html'>Akh Muzakki&lt;br /&gt;Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, Kandidat PhD di The University of Queensland, Australia&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alkisah, tiga orang siswi berusia 13 tahun berusaha menjual produk foto dan video porno amatiran hasil produksi rumahan sendiri. Foto dan video itu merupakan rekaman atas sebuah pesta yang mereka selenggarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga siswi itu berasal dari sebuah sekolah swasta bertarif mahal, Presbyterian Ladies' College, di negara bagian Australia Barat. Mereka hendak menjual produk porno itu kepada sekelompok siswa laki-laki sekolah lain, Hale School, dengan harga 90 dolar Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, belum sempat menerima uang hasil jualannya, polisi menangkap ketiga siswi yang memproduksi dan menjual produk foto dan video porno tersebut (The West Australian, 27 September2003). Tentu perlindungan atas masa depan anak secara lebih luas menjadi pertimbangan utama dalam kasus penangkapan tiga siswi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas memang tidak terjadi di negeri kita, Indonesia, tetapi di Australia. Kasusnya pun terjadi lima tahun yang lalu. Namun, kisah di atas patut dimunculkan kembali menyusul terjadinya sesak napas legislasi akibat kebuntuan politik yang dihadapi oleh RUU Pornografi. RUU Pornografi itu sudah tiga tahun usianya. Namun, karena tarik-menarik kepentingan telah membuat RUU itu menemui jalan buntu yang akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarik-menarik yang mengitari rencana perundangan-undangan tentang pornografi di atas memang terjadi meluas. Tidak saja dipicu oleh kepentingan politik kepartaian di parlemen. Tetapi, sudah menyentuh sentimen agama, etnis, dan kultural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, partai-partai politik (parpol) memanfaatkan dan memainkan isu yang menguat di balik rencana perundangan-undangan tentang pornografi tersebut untuk kepentingan kuasa politiknya. Dukungan atau penolakan yang dilakukan oleh masing-masing partai politik melalui wakil-wakilnya di Senayan bukan tanpa motif kuasa politik. Melalui dukungan atau penolakan tersebut, mereka sudah menghitung laba-rugi politiknya. Ujungnya, masing-masing mereka berkepentingan untuk memperkuat basis captive market demi pemenangan kontestasi politik puncak 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membuat perdebatan dan tarik-menarik soal RUU tentang pornografi di atas tiada ujung. Ini karena isu agama, etnis, dan kultural sangat rentan untuk ditarik-tarik dan dimanfaatkan bagi penguatan  basis captive market di atas. Kebuntuan politik pun tak bisa dihindari. RUU Pornografi itu pun belum jelas kembali antara ada dan tiada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memecah kebuntuan&lt;br /&gt;Untuk memecah kebuntuan itu, sudah sangat perlu dilakukan terobosan dengan mendesakkan gagasan agar RUU Pornografi lebih membidik unsur industri dan distribusi pornografi. Penggeseran perdebatan atas RUU Pornografi dari isu agama, etnis, dan kultural ke isu perlindungan masa depan anak mendesak dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya? Kali ini saya harus sepakat dengan gagasan Siti Musdah Mulia, bahwa pembahasan RUU Pornografi hendaknya bergerak dengan lebih fokus pada unsur industri dan distribusi pornografi. Semangat yang mendasari penggeseran itu, kata Musdah, adalah untuk melindungi anak-anak dari praktik pornografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lembar penjelasan RUU tentang pornografi atas Pasal 14 memang diuraikan tentang tiga unsur penting, yakni, produksi, distribusi, dan penggunaan pornografi. Unsur produksi ini dijelaskan dengan istilah 'pembuatan' yang meliputi kegiatan memproduksi, membuat, memperbanyak, atau menggandakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur distribusi diistilahkan dengan penyebarluasan yang meng-cover komponen menyiarkan, mengunduh, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, meminjamkan, atau menyediakan. Lalu, unsur penggunaan meliputi praktik memperdengarkan, mempertontonkan, memiliki, atau menyimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya fokus pembahasan mengenai RUU di atas harus diletakkan dalam konteks semangat perlindungan anak-anak dari praktik pornografi. Semangat inilah yang harus dijadikan hulu. Karena itu, masuklah ke wilayah hulu perlindungan masa depan anak dengan mengendus kegiatan produksi dan distribusi pornografi, termasuk praktik komersialisasi yang mengiringinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan mengenai pornografi memang hendaknya tidak berkutat pada wilayah hilir menyangkut standard nilai. Pada wilayah hilir ini perdebatan mengenai isu pornografi  harus mengalami proses deliberasi yang pelik nan cair. Sesuatu bisa dianggap sebagai sebuah nilai dasar oleh kalangan sosial tertentu, tetapi tidak oleh yang lainnya. Selain itu, perdebatan di wilayah hilir juga akan banyak berhadapan dengan khazanah kultural bangsa yang beragam latar etnis-kultural dan agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pergerakan menguat di wilayah hulu perlindungan masa depan anak, kebuntuan politik bisa diminimalkan. Siapa pun dari elemen bangsa ini akan sepakat jika prinsip anakku masa depanku harus dilindungi. Tak peduli Anda beragama apa pun, pasti akan mengamini prinsip ini. Terlepas apakah Anda berasal dari etnis Jawa, Minang, Bugis, Sunda, atau dari Papua sekalipun, Anda tidak akan mengingkari pentingnya prinsip ini. Semangat dasar ini pun juga akan bergerak lintas batas kultural komponen bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penguatan prinsip anakku masa depanku, perdebatan yang menyeret isu agama, etnis, dan kultural diharapkan akan dengan sendirinya meredup. Kampanye antipornografi melalui proses legislasi pun akan bisa lebih efektif dari yang selama ini terjadi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pentingnya hulu&lt;br /&gt;Kita sudah memiliki UU Perlindungan Anak UU Nomor 23 Tahun 2002. Inti dari produk hukum ini adalah untuk melindungi secara lebih baik anak-anak dari berbagai pelanggaran atas hak asasi mereka, baik hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara layak. Termasuk juga hak untuk dilindungi dari segala macam diskriminasi dan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena derasnya arus komersialisasi pornografi dengan dulangan kapital yang tinggi nan menawan, instrumen perlindungan masa depan anak harus diperkuat. Caranya, tidak lagi berkutat pada wilayah hilir soal standar nilai dari praktik pornografi seperti yang selama ini terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara maju memang tidak steril dari pornografi. Negara-negara di Amerika serta Eropa, bahkan Australia sebagai tetangga dekat kita pun juga memiliki problem pornografi yang serupa. Namun, kasus penangkapan tiga siswi yang memproduksi dan menjual produk foto dan video porno di Australia memberikan pelajaran penting bahwa upaya pemberantasan pornografi mestinya harus lebih banyak menyentuh wilayah hulu dengan unsur produksi dan distribusi sebagai fokusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, perlindungan atas masa depan anak bangsa harus menjadi pertimbangan utamanya. Mengasup nilai pelajaran dari penangkapan tiga siswi Australia Barat di atas, RUU Pornografi sudah selayaknya lebih fokus pada wilayah hulu perlindungan masa depan anak seperti dimaksud. Dengan demikian, sentimen negatif sejumlah kalangan pun akan berpotensi dengan sendirinya untuk menurun. Ini karena semua elemen bangsa bisa dipaksa memiliki satu tarikan napas yang sama demi perlindungan masa depan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtisar:&lt;br /&gt;-    Australia yang sekuler saja secara tegas menerapkan peraturan antipornografi.&lt;br /&gt;-    Penggeseran perdebatan RUU Pornografi dari isu agama, etnis, dan kultural ke isu perlindungan masa depan anak mendesak dilakukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8300846531105453780?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8300846531105453780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8300846531105453780&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8300846531105453780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8300846531105453780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/mempercepat-uu-pornografi.html' title='Mempercepat UU Pornografi'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-6931978005262056674</id><published>2008-10-13T17:59:00.001-07:00</published><updated>2008-10-13T17:59:35.570-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Moral Ala Jepang</title><content type='html'>Oleh : Murni Ramli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH poster di kereta bawah tanah di Nagoya, Jepang, mengilustrasikan ketidaksopanan sebagai penumpang kereta. Seorang siswa SMA digambarkan duduk dengan posisi kaki mengangkang sehingga mengambil tempat yang lebar, dan tas besarnya diletakkan di depan, menghalangi orang untuk berdiri bebas. Gambar lain tentang seorang gadis yang berbicara melalui telepon genggam dengan suara keras sehingga mengganggu penumpang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya poster, kendaraan umum di Jepang sangat terkenal dengan sarat peringatan dan ajakan untuk mematuhi norma-norma, misalnya larangan untuk menelepon, berbicara keras, dan beberapa tindakan yang mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika datang pertama kali ke Jepang, saya berdecak kagum dengan kerapian, ketertiban dan kedisiplinan warga Jepang mengantre masuk ke kereta. Tidak ada yang berebut, bahkan anak kecil pun berdiri sabar menunggu giliran. Dari mana kedisiplinan itu dibangun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan ini tidaklah gampang jika analisis hanya didasarkan pada peraturan hukum, pun tidak bisa sekadar dilihat sebagai wacana sosial politik. Secara teoretis dan empiris, dapat dikatakan bahwa kedisiplinan itu erat kaitannya dengan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sekolah sekolah di Jepang mengajarkan kedisiplinan dapat kita cermati melalui pendidikan moralnya. Norma dalam masyarakat Jepang sangat terkait dengan ajaran Shinto dan Budha, tetapi menariknya kedua agama ini tidak diajarkan di sekolah dalam bentuk pelajaran wajib, seperti halnya pelajaran agama di Indonesia. Namun nilai nilai agama itu diwujudkan dalam kehidupan sehari hari di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan moral di dalam bahasa Jepang disebut "doutokukyouiku". Kata doutoku berarti moral dan kyouiku berarti pendidikan. Kata "doutoku" terdiri dari dua kata, yaitu dou yang berarti jalan dan kata toku yang berarti virtue atau kebaikan. Penggunaan kata "dou" dalam terminologi Jepang banyak sekali, misalnya judou, kendou, akidou (olahraga tradisional Jepang), shodou (kaligrafi), sadou (tradisi minum teh) yang dalam pemahaman orang Jepang memerlukan ketekunan untuk mencapai taraf tertinggi. Moral atau kebaikan pun memerlukan ketekunan untuk menemukan "jalan" mencapainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, pendidikan moral di sekolah sekolah di Jepang tidak diajarkan sebagai sebuah mata pelajaran khusus, tetapi diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Secara khusus wali kelas bertanggung jawab untuk mendiskusikan aturan kelas, aturan bermain bersama, atau hubungan kerja sama antaranggota kelas dalam 35 jam setiap tahun di SD dan SMP. Dalam pelajaran lain seperti "seikatsuka" atau pendidikan tentang kehidupan sehari hari, siswa SD diajari tatacara menyeberang jalan, adab di dalam kereta, yang tidak saja berupa teori, tetapi guru juga mengajak mereka untuk bersama naik kereta dan mempraktikkannya. Wali kelas juga menyampaikan kasus pelanggaran dan mengajak siswa untuk mendiskusikan pemecahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan moral di SMA selanjutnya menjadi pendidikan kewarganegaraan. Pembekalan prinsip dasar hidup yang kuat di masa pendidikan dasar inilah yang membuat kedisiplinan dan keteraturan dalam masyarakat Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berbicara tentang sains, yang muncul di kepala kita adalah teori dan rumus yang harus dihafalkan. Demikian pula ketika kita mendengar istilah pendidikan sosial, maka imajinasi akan mengerucut pada sejumlah uraian panjang tentang konsep hubungan manusia dengan makhluk, dan saat kita berbicara tentang pendidikan agama, maka otomatis kita merujuk kepada hubungan manusia dengan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pemikiran yang seperti itulah yang membuat kita terjebak dan memisahkan ranah pembicaraan sains dan moral, sains dan agama, sosial dan sains, dan sebagainya, padahal sebenarnya pembelajaran dengan menyatukan kesemua konsep akan menciptakan pemahaman yang mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan mempelajari pohon dalam pelajaran IPA di sebuah SD di Jepang menggambarkan bahwa siswa diarahkan tidak saja untuk memahami pohon secara ilmiah, tetapi mereka diajak pula untuk menempatkan pohon sebagai bagian dari kehidupan sehari hari. Dengan konsep ini, siswa akan peduli dengan kondisi pohon di sekitarnya. Sebagai dampaknya, tidak ada penebangan liar di Jepang. Ketika mengajarkan dinamika air, guru tidak saja mengajarkan konsep bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi ke rendah, atau air mempunyai kekuatan yang bisa menghasilkan energi, tetapi empati siswa untuk menjaga kebersihan sumber-sumber air dan ekosistemnya adalah bentuk pembelajaran yang melengkapi inti pembelajaran sains. &lt;br /&gt;Jika ingin mencontoh Jepang, pendidikan moral di Indonesia sudah saatnya beralih dari pendidikan teori kepada pendidikan praktis.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MURNI RAMLI&lt;br /&gt;Mahasiswa Program Doktor Graduate School of Education and Human Development,&lt;br /&gt;Nagoya University, Jepang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-6931978005262056674?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/6931978005262056674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=6931978005262056674&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6931978005262056674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6931978005262056674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/pendidikan-moral-ala-jepang.html' title='Pendidikan Moral Ala Jepang'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1037660480966591894</id><published>2008-10-06T23:32:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T23:33:15.050-07:00</updated><title type='text'>Malu</title><content type='html'>Oleh: Imam Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu adalah sifat yang dipuji oleh semua makhluk, tidak terkecuali hewan. Karena, semua makhluk, khususnya manusia, tidak mau atau benci kalau dikatakan tidak bermoral, tidak beradab, aibnya diketahui orang, dan sebagainya. Malu adalah fitrah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, malu adalah salah satu ciri keistimewaan akhlak Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, ''Sesungguhnya, setiap agama memiliki keistimewaan akhlak. Dan, keistimewaan akhlak Islam adalah malu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dalam hadis lain, Nabi bersabda, ''Malu adalah sebagian daripada iman.'' Artinya, tidak sempurna iman seseorang kalau dia tidak memiliki sifat malu. Dan, Abu Na'im dalam kitab &lt;em&gt;Mukhtarul Ahadist meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, ''Malu dan iman keduanya selalu berbarengan. Apabila salah satu di antaranya lenyap, yang lainnya pun akan lenyap pula.'' Karena, ''Malu tidak mendatangkan, kecuali kebaikan.'' (HR Syaikhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman dalam Islam memiliki tiga komponen yang saling berkaitan erat, tidak dapat dipisahkan, yaitu keyakinan, ikrar, dan amal perbuatan.&lt;br /&gt;Apabila rasa malu hilang, seluruh kebaikan pun akan lenyap. Kalau kebaikan lenyap, apa yang dapat kita harapkan dari kehidupan dunia ini? Dan, yang harus kita waspadai adalah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Fitan, ''Sesungguhnya, Allah apabila ingin menghukum hamba-Nya, salah satu tandanya adalah hilangnya rasa malu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Maka, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, kita harus memupuk rasa malu agar kebahagiaan, ketenteraman, dan keamanan dapat terwujud. Semua komponen masyarakat harus terlibat, baik pemimpin, cendekiawan, ulama, maupun rakyat. Karena, semua komponen saling memiliki ketergantungan. Malu bila mencuri hak rakyat, malu bila tidak bisa berbuat maksimal untuk kemaslahatan rakyat, malu bila menerima gratifikasi dalam ''baju'' parsel, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama atau cendekiawan yang berfungsi sebagai penengah juga harus berbekal malu yang banyak. Malu bila mau diperalat penguasa, malu bila tidak bisa memberikan masukan yang positif bagi rakyat, dan malu bila menyembunyikan ilmu yang dimiliki. Semoga Allah SWT selalu menuntun, membimbing, dan melindungi pemimpin, ulama, dan rakyat negeri ini. Amin Ya Rabbal Alamin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1037660480966591894?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1037660480966591894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1037660480966591894&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1037660480966591894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1037660480966591894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/malu.html' title='Malu'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8731126235707665861</id><published>2008-10-06T23:22:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T23:25:39.446-07:00</updated><title type='text'>Neno Warisman Siapkan Pemimpin Masa Depan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/SOsAonbVNII/AAAAAAAABNc/ylu6BkMyRz0/s1600-h/20081007124534.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254294088036201602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/SOsAonbVNII/AAAAAAAABNc/ylu6BkMyRz0/s320/20081007124534.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;(Republika) Anak adalah aset bangsa yang harus dijaga, dibekali pendidikan agar siap untuk menjadi pemimpin yang unggul. Sayangnya, kebanyakan masyarakat termasuk ibu beranggapan, pendidikan anak cukup dengan gelar sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu yang kini menggelayuti pikiran Neno Warisman. Dia mengaku sangat gelisah. Kini Neno tengah disibukan dengan pikirannya mengenai dasar ilmu yang baik bagi seorang anak, yaitu Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya lagi gelisah, memikirkan cara nyata untuk membuat Al-Quran menjadi dasar ilmu bagi remaja. Bagaimana caranya mengemas ilmunya dengan cara yang sesuai dengan remaja. Funky tetapi tetap islami," ujarnya saat dihubungi Republika Online melalui saluran telepon di Jakarta, Selasa (7/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neno juga mengatakan hal tersebut tidak akan berjalan dengan maksimal jika hanya sekedar dipikirkan saja. Wanita berjilbab tersebut menurutkan, harus ada lembaga atau program televisi yang mengemas nilai-nilai Al-Quran secara menarik agar tepat sasaran bagi remaja Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Neno menerapkan cara tersebut pada ketiga buah hatinya. Anak-anaknya yang berusia remaja dikirim Neno ke Majelis Ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya pun diluar dugaan, anaknya yang paling mampu memahami ilmu Al-Quran meski cara mengkajinya tidak 'nge-pop'. Neno sangat paham bahwa untuk melahirkan pemimpin bukanlah sesuatu yang instan. Dia menyayangkan pemimpin-pemimpin sekarang bertipikal "super toy".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemimpin-pemimpin sekarang tidak ada yang bunyi, kayak super toy, gabuk," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyiapkan pemimpin yang unggul, sebagai seeorang ibu, Neno merasa peran ibu saat ini masih sangat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang sekali melihat banyak ibu-ibu yang main di mall, ini bukan berarti ibu tidak boleh ke mall. Tapi peran dan fungsi ibu itu bukan di mall. Ibu jangan mau dijadikan komoditi oleh produsen, ibu itu poros utama dalam menyiapkan pemimpin yang unggul," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Neno, selain mengemas Al-Quran menjadi dasar ilmu yang "funky' untuk remaja, dia juga merasa harus ada pergerakan kaum ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harus ada gerakan ibu, seharusnya itu kebangkitan ibu, bukan kebangkitan nasional, karena pendidikan anak berpulang ke ibu," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengharapkan akan ada produsen atau lembaga yang punya perhatian dan semangat membangun bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga dengan munculnya pemikiran saya di media akan membuka jalan cita-cita itu terlaksana. Jika Allah mengabulkan, Insya Allah ada perusahaan uang mau duduk bareng untuk membahas hal ini," harapnya. (cr1/ri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: dok republika&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8731126235707665861?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8731126235707665861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8731126235707665861&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8731126235707665861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8731126235707665861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/neno-warisman-siapkan-pemimpin-masa.html' title='Neno Warisman Siapkan Pemimpin Masa Depan'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/SOsAonbVNII/AAAAAAAABNc/ylu6BkMyRz0/s72-c/20081007124534.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4691732389745945689</id><published>2008-10-04T01:37:00.000-07:00</published><updated>2008-10-04T01:39:28.461-07:00</updated><title type='text'>Pemerintah Rumuskan Pembelajaran Peduli Lingkungan</title><content type='html'>SURABAYA (Republika)-- Menneg Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengakui dirinya telah sepakat dengan Mendiknas untuk merumuskan pembelajaran yang menanamkan kepedulian kepada lingkungan sejak dini.Hal itu dikemukakan Meneg LH Rachmat Witoelar dalam studium generale bertajuk "Peran Strategis Indonesia dalam Mengatasi Perubahan Iklim" di Rektorat Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rabu petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan akhir pekan bulan Ramadhan 1429 H yang juga dihadiri aktivis lingkungan hidup Erna Witoelar dan Rektor Unair Prof Dr Fasich Apt itu, Menneg LH menyatakan kesepakatan dengan Mendiknas itu perlu dirumuskan dalam aksi riil."Aksi riil itu antara lain dengan mengkampanyekan sikap peduli lingkungan melalui bintang-bintang cilik anak-anak, karena itu saya berharap Unair juga turut mengambil peran strategis dalam aksi riil itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga langkah strategis yang dapat dimainkan Unair yakni mengkaji sifat kekhasan alam Jawa Timur sebagai rona lingkungan strategis.Langka lainnya, memberikan kajian ilmiah terhadap potensi sumber daya alam dan faktor resiko dalam proses pemanfaatannya, serta menganalisa kompleksitas masalah kekinian (lumpur, dampak sosial, dan keanekaragaman hayati)."Peran strategis yang dimainkan itu harus merujuk pada hasil Bali Roadmap sebagai komitmen internasional atau Millenium Development Goals (MDGs)," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, Bali Roadmap merupakan hasil nyata Indonesia sebagai tuan rumah dalam pertemuan internasional yang hasilnya banyak diakui internasional dibanding hasil-hasil pertemuan lainnya."Untuk itu, aksi riil ke depan harus merujuk pada MDGs dengan memastikan keberlanjutan fungsi LH yakni membalik arah kecenderungan hilangnya sumber-sumber LH, mengurangi 50 persen proporsi manusia tanpa akses air minum yang aman dan berkelanjutan, serta mencapai tingkat perbaikan hidup yang jauh lebih baik bagi minimum 100 juta pemukim lingkungan kumuh," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam `Bali Action Plan` juga telah diproses negosiasi untuk pasca2012, diantaranya melakukan kegiatan adaptasi terhadap dampak negatif perubahan iklim, seperti kekeringan dan banjir."Negosiasi lainnta, upaya mereduksi emisi GRK, upaya mengembangkan dan memanfaatkan climate friendly technology, serta pendanaan untuk mitigasi dan adaptasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, dengan menetapkan jadwal penyelesaiannya pada tahun 2009," katanya.Menanggapi tawaran itu, Rektor Unair Prof Dr Fasich mengatakan Unair dengan beberapa program studi yang ada akan senantiasa membuat kajian-kajian dalam menyikapi perubahan iklim tropis."Misalnya, kami mengatasi wabah flu burung sebagai bagian lain dari dampak perubahan lingkungan, kemudian kami juga melakukan penelitian-penelitian penyakit yang timbul akibat perubahan iklim itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, katanya, Unair juga melakukan kajian terhadap ikan dan sumberdaya alami yang tidak tampak keberadaannya, namun memiliki potensi yang tak ternilai terhadap pembangunan fisik dan psikis manusia, khususnya manusia Indonesia."Teknologi pakan ternak yakni konsentrat, pengendalian efek gas buang, dan penemuan enzim alami sebagai pupuk organik telah ditemukan peneliti-peneliti Unair yang diharapkan menunjang usaha perbaikan lingkungan hidup di masa depan," katanya. ant/kp&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4691732389745945689?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4691732389745945689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4691732389745945689&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4691732389745945689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4691732389745945689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/pemerintah-rumuskan-pembelajaran-peduli.html' title='Pemerintah Rumuskan Pembelajaran Peduli Lingkungan'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-2921403377391140288</id><published>2008-10-03T06:33:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T06:34:16.377-07:00</updated><title type='text'>STOP KEKERASAN MULAI DARI RUMAH, SEKARANG! (Bagian II)</title><content type='html'>Oleh: T. Tjahjo Widyasmoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan Menjadi Pemenang&lt;br /&gt;Prof. Dr. Arief Rachman, seorang pendidik, menunjukkan salah satu budaya kekerasan itu di harian Kompas, 11 Juli 2008. Pada halaman 1, terdapat foto  dua pemain sepakbola yang tengah menganiaya seorang hakim garis pertandingan, pada ajang Pekan Olah Raga Nasional. Diduga para pemain mengamuk karena tidak puas atas kekalahan timnya 0-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief yang sangat menyesalkan peristiwa itu menilai para pemain salah memahami sebauh kompetisi hingga berujung kepada tindak kekerasan. Interpretasi atas menang kalah sebuah pertandingan masih sempit. Dikiranya sebuah kekalahan akan menyebabkan turunnya harga diri. Orang yang yang tidak menang artinya habislah segalanya, gagal dan tidak berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan jika banyak orang bersikap begitu, karena dalam pandangan Arief, yang tengah dikembangkan di dunia sekarang adalah budaya kekuatan. Dengan hanya bermodalkan kekuatan, maka seseorang, kelompok, atau bahkan Negara, dapat memiliki kekuasaan, untuk kemudian menjadi pemenang. Akibatnya terjadi kompetisi untuk meraih kekuatan sebesar-besarnya. Di Indonesia, kita merasakan atmosfer budaya kekuatan ini pada pemilihan langsung pemimpin, seperti pada Pemilu atau Pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, budaya kekuatan itu membuat kita lupa pada budaya yang sesungguhnya kita anut sejak lama, yakni budaya consensus. Disinilah orang memprores komunikasi, mengedepankan proses dialog, serta mengdepankan dialog, serta menggunakan logika dan hati. Semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi perwujudannya, perlahan-lahan mulai punah. Nilai-nilai  local suatu masyarakat memang cenderung terlindas budaya global yang disponsori Negara-negara adikuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam institusi pendidikan, seperti sekolah, budaya kekuatan juga ikut bermain. Sebagai contoh adanya system penilaian, peringkat, bahkan standar kelulusan secara nasional sebagai ukuran prestasi. “Ada paradigma yang disebut prestasi. Yang dianggap berprestasi adalah hal-hal yang terukur, teramati,” kata guru besar Universitas Negeri Jakarta ini dengan nada prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fenomena yang terjadi di seluruh dunia itu, sayangnya banyak orang yang lupa bahwa sesungguhnya kita hidup dalam keragaman. Ada banyak perbedaan karena berbagai fkator, yang tentu tidak bisa dikompetisikan begitu saja. Arief memberi contoh, “Apakah Indonesia bisa dibandingkan dengan Singapura, misalnya. Kecuali kita memiliki tolok ukur yang satu!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi menjadi “tuhan” jika kemudian secara structural dan cultural seseorang tidak bisa mencapainya, maka ia akan merasa tersisih dan tidak berdaya. Orang yang kalah akan merasa tidak berharga, seperti pada contoh pemain  sepakbola yang mengamuk tadi. Atau seperti yang terjadi di sekolah, dimana system nilai dan peringkat telah menyisihkan siswa yang tidak cerdas, tidak kaya, atau bahkan lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis, papar Arief, ketidakberdayaan selalu saja dibarengi dengan kekuatan untuk menunjukkan keberadaannya, yakni bahwa mereka ada. “Bentuknya bisa saja dengan memakai kekerasan, tiba-tiba bisa saja mengancam, memukul atau bentrok dengan pihak lain,” jelas Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi semacam itu bisa terjadi pada semua orang, pihak, atau kelompok yang terus-menerus mengalami tekanan. Maka lahirlah budaya kekerasan.(Bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-2921403377391140288?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/2921403377391140288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=2921403377391140288&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2921403377391140288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2921403377391140288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/stop-kekerasan-mulai-dari-rumah_03.html' title='STOP KEKERASAN MULAI DARI RUMAH, SEKARANG! (Bagian II)'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-9182421161261866123</id><published>2008-10-03T06:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T06:33:30.334-07:00</updated><title type='text'>STOP KEKERASAN MULAI DARI RUMAH, SEKARANG! (Bagian I)</title><content type='html'>Oleh: T. Tjahjo Widyasmoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak merasa prihatin dengan maraknya peristiwa kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Padahal jika dirunut lebih jauh, segala kekerasan itu barulah pada tingkat permukaan saja. Banyak bentuk kekerasan yang justru berada di lingkungan terdekat kita, bahkan mungkin kita sendiri melakukannya. Bisakah kita menghentikannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, apakah kita boleh berbangga hati mengetahui bahwa salah satu kosakata bahasa Inggris &lt;i&gt;AMOK&lt;/i&gt;, adalah serapan dari bahasa Melayu ‘amuk’. Kamus-kamus ternama di Inggis dan Amerika Serikat memberi penjelasan kata itu sebagai : marah, turun ke jalan, dan menyerang secara membabi buta. Saat ini kita memberinya imbuhan menjadi “mengamuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Online Etymologi Dictionary&lt;/i&gt; menjelaskan, kata run amok tercatat pertama kali pada 1672, ketika tiba-tiba saja orang-orang Melayu (kini Malaysia) mengamuk lepas kendali dan menyerang orang sekitarnya. Sebuah tindakan beringas kaum bumiputera yang boleh jadi membuat orang-orang bule Eropa tercengang saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Tapi mohon jangan keburu mencibir orang Melayu. Jauh sebelumnya, tepatnya 1516. Duarte Barbosa, dalam cantatan perjalannnya yang dibukukan menjadi An Account of the Countries Bordering on the Indian and Their Inhabitants, juga mencatat fenomena dalam masyarakat suku Jawa yang turun ke jalan dan membunuh sebanyak mungkin orang yang ditemui. Penulis asal Portugis itu mengistilahkannya amuco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah budaya mengamuk secara tiba-tiba, beringas, rusuh tak terkendali, adalah budaya masyarakat kita? Tidak ada jawaban pasti. Yang jelas, hamper lima abad setelah “amuk” dicomot orang barat, budaya kekerasan masih menjadi keprihatinan kita bersama. Bahkan hingga negeri kepulauan yang dinamakan Indonesia ini merayakan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-63 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator budaya kekerasan ini mudah saja. Cobalah tengok media massa hari ini, dan akan mudah kita temui kata-kata: ancam, bentrok, rusak, serang, gusur, terror, pukul, fitnah, bantai, bunuh, dan sejenisnya. Kekerasan bisa dilakukan pemerintah, aliran politik, kelompok, bahkan Individu, terhadap orang-orang yang dianggap berbeda dengannya. Disisi lain, yang menjadi keprihatinan, iklim dialog yang menjadi salah satu ciri masyarakat intelektual dan beradab semakin jauh ditinggalkan. (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-9182421161261866123?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/9182421161261866123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=9182421161261866123&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/9182421161261866123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/9182421161261866123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/10/stop-kekerasan-mulai-dari-rumah.html' title='STOP KEKERASAN MULAI DARI RUMAH, SEKARANG! (Bagian I)'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1143829549885623481</id><published>2008-09-23T19:01:00.000-07:00</published><updated>2008-09-23T19:03:07.649-07:00</updated><title type='text'>MERANCANG PENDIDIKAN MORAL &amp; BUDI PEKERTI</title><content type='html'>Penulis: Lewa Karma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERANCANG PENDIDIKAN MORAL &amp;amp; BUDI PEKERTI DALAM ATMOSFER PENDIDIKAN FORMAL&lt;br /&gt;(Morale Force Dealectict)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia Indonesia menempati posisi sentral dan strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga diperlukan adanya pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara optimal. Pengembangan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan mulai dari dalam keluarga, hingga lingkungan sekolah dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu SDM yang dimaksud bisa berupa generasi muda (young generation) sebagai estafet pembaharu merupakan kader pembangunan yang sifatnya masih potensial, perlu dibina dan dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan melalui lembaga pendidikan sekolah. Beberapa fungsi pentingnya pendidikan sekolah antara lain untuk : 1) perkembangan pribadi dan pembentukan kepribadian, 2) transmisi cultural, 3) integrasi social, 4) inovasi, dan 5) pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja ( Bachtiar Rifai). Dalam hal ini jelas bahwa tugas pendidikan sekolah adalah untuk mengembangkan segi-segi kognitif, afektif dan psikomotorik yang dapat dikembangkan melalui pendidikan moral. Dengan memperhatikan fungsi pendidikan sekolah di atas, maka setidaknya terdapat 3 alasan penting yang melandasi pelaksanaan pendidikan moral di sekolah, antara lain : 1). Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia yang meliputi pikiran yang kuat, hati dan kemauan yang berkualitas, seperti : memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan, dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekerja dengan rasa cinta sebagai ciri kematangan hidup manusia. 2). Sekolah merupakan tempat yang lebih baik dan lebih kondusif untuk melaksanakan proses belajar mengajar. 3).Pendidikan moral sangat esensial untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan membangun masyarakat yang bermoral (Lickona, 1996 , P.1993).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan pendidikan moral ini sangat penting, karena hampir seluruh masyarakat di dunia, khususnya di Indonesia, kini sedang mengalami patologi social yang amat kronis. Bahkan sebagian besar pelajar dan masyarakat kita tercerabut dari peradaban eastenisasi (ketimuran) yang beradab, santun dan beragama. Akan tetapi hal ini kiranya tidak terlalu aneh dalam masyarakat dan lapisan social di Indonesia yang hedonis dan menelan peradaban barat tanpa seleksi yang matang. Di samping itu system [pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang eqivalen dengan peningkatan IQ (intelengence Quetiont) yang walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ (Emotional Quetiont). Sedangkan warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas yang tinggi kemudian tergadai dan lebih banyak digemari oleh orang lain di luar negeri kita, yaitu SQ (Spiritual Quetiont). Oleh sebab itu, perlu kiranya dalam pengembangan pendidikan moral ini eksistensi SQ harus terintegrasi dalam target peningkatan IQ dan EQ siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari hanyutnya SQ pada pribadi masyarakat dan siswa pada umumnya menimbulkan efek-efek social yang buruk. Bermacam-macam masalah sosial dan masalah-masalahh moral yang timbul di Indonesia seperti : 1). meningkatnya pembrontakan remaja atau dekadensi etika/sopan santun pelajar, 2). meningkatnya kertidakjujuran, seperti suka bolos, nyontek, tawuran dari sekolah dan suka mencuri, 3). berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan terhadap figur-figur yang berwenang, 4). meningkatnya kelompok teman sebaya yang bersifat kejam dan bengis, 5) munculnya kejahatan yang memiliki sikap fanatik dan penuh kebencian, 6). berbahsa tidak sopan, 7). merosotnya etika kerja, 8). meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara, 9). timbulnya gelombang perilaku yang merusak diri sendiri seperti perilaku seksual premature, penyalahgunaan mirasantika/narkoba dan perilaku bunuh diri, 10). timbulnya ketidaktahuan sopan santun termasuk mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup, seperti adanya kecenderungan untuk memeras tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku yang membahayakan terhadap diri sendiri atau orang lain, tanpa berpikir bahwa hal itu salah (Koyan, 2000, P.74).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merespon gejala kemerosotan moral tersebut, maka peningkatan dan intensitas pelaksanan pendidikan moral di sekolah merupakan tugas yang sangat penting dan sangat mendesak bagi kita, dan perlu dilaksanakan secara komprehensif dan dengan menggunakan strategi serta model pendekatan secara terpadu, yaitu dengan melibatkan semua unsur yang terkait dalam proses pembelajaran atau pendidikan seperti : guru-guru, kepala sekolah orang tua murid dan tokoh-tokoh masyarakat. Tujuan pendidikan moral tidak semata-mata untuk menyiapkan peserta didik untuk menelan mentah konsep-konsep pendidikan moral, tetapi yang lebih penting adalah terbentuknya karakter yang baik, yaitu pribadi yang memiliki pengetahuan moral, peranan perasaan moral dan tindakan atau perilaku moral (Lickona, 1992. P. 53 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, dewasa ini pelaksanan pendidikan moral di sekolah diberikan melalui pembelajaran pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan Pendidikan agama akan tetapi masih tampak kurang pada keterpaduan dalam model dan strategi pembelajarannya Di samping penyajian materi pendidikan moral di sekolah, tampaknya lebih berorientasi pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks, dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat, sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalah-masalah moral yang terjadi dalam masyarakat Bagi para siswa,adalah lebih banyak untuk menghadapi ulangan atau ujian, dan terlepas dari isu-isu moral esensial kehidupan mereka sehari-hari. Materi pelajaran PPKn dirasakah sebagai beban, dihafalkan dan dipahami, tidak menghayati atau dirasakan secara tidak diamalkan dalam perilaku kehidupan hari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya untuk meningkatkan kematangan moral dan pembentukann karakter siswa. Secara optimal ,maka penyajian materi pendidikan moral kepada para siswa hendaknya dilaksanakan secara terpadu kepada semua pelajaran dan dengan mengunakan strategi dan model pembelajaran seccara terpadu, yaitu dengan melibatkan semua guru, kepala sekolah ,orang tua murid, tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Dengan demikian timbul pertanyaan,bahan kajian apa sajakah yang diperlukan untuk merancang model pembelajaran pendidikan moral dengan mengunakan pendekatan terpadu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan strategi dan model pembelajaran pendidikan moral dengan menggunakan pendekatan terpadu ,diperlukan adanya analisis kebutuhan (needs assessment) siswa dalam belajar pendidikan moral. Dalam kaitan ini diperlukan adanya serangkaian kegiatan, antara lain : (1) mengidentifikasikan isu-isu sentral yang bermuatan moral dalam masyarakat untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode klarifikasi nilai (2) mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran pendidikan moral agar tercapai kematangan moral yang komprehensif yaitu kematangan dalam pengetahuan moral perasaan moral,dan tindakan moral, (3) mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah dan kendala-kendala instruksional yang dihadapi oleh para guru di sekolah dan para orang tua murid di tua murid dirumah dalam usaha membina perkembangan moral siswa,serta berupaya memformulasikan alternatif pemecahannya, (4) mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai-nilai moral yang inti dan universal yang dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam proses pendidikan moral, (5) mengidentifikasi sumber-sumber lain yang relevan dengan kebutuhan belajar pendidikan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan kegiatan yang perlu dilakukan dalam proses aplikasi pendidikan moral tersebut, kaitannya dengan kurikulum yang senantiasa berubah sesuai dengan akselerasi politik dalam negeri, maka sebaiknya pendidikan moral juga dilakukan penngkajian ulang untuk mengikuti competetion velocities dalam persaingan global. Bagaimanapun negeri ini memerlukan generasi yang cerdas, bijak dan bermoral sehingga bisa menyeimbangkan pembangunan dalam keselarasan keimanan dan kemajuan jaman. Pertanyaannya adalah siapkah lingkungan sekolah (formal-informal), masyarakat dan keluarga untuk membangun komitmen bersama mendukung keinginan tersebut ? Karena nasib bangsa Indonesia ini terletak dan tergantung pada moralitas generasi mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Lewa Karma&lt;br /&gt;Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia IKIP N Singaraja&lt;br /&gt;Sekretaris Umum LPICS (Lembaga Pendidikan Insan Cita Singaraja)&lt;br /&gt;Alamat : Jalan Kartini 32 Singaraja-Bali(081805563218)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1143829549885623481?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1143829549885623481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1143829549885623481&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1143829549885623481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1143829549885623481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/merancang-pendidikan-moral-budi-pekerti.html' title='MERANCANG PENDIDIKAN MORAL &amp; BUDI PEKERTI'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4729042678502072808</id><published>2008-09-22T21:10:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T21:11:28.344-07:00</updated><title type='text'>Mencegah Premanisme Pelajar</title><content type='html'>Oleh :Sis Ariyanti&lt;br /&gt;Guru SMP Al Hikmah Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi premanisme yang dilakukan oleh pelajar kian memprihatinkan. Beberapa waktu yang lalu Geng Nero (Neko-neko dikeroyok) santer diberitakan di media massa karena melakukan penganiayaan terhadap anggotanya. Pelajar yang notabene merupakan agent of change (agen perubahan) belum mampu mengemban tugasnya dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geng Nero barangkali hanya salah satu potret dari sekian banyak geng yang ada di lingkungan sekolah. Kejadian ini mungkin juga pernah dialami oleh sekolah-sekolah lain. Namun, tidak terekspos dan dapat dicegah serta ditangani dengan baik oleh pihak sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan remaja untuk membentuk pear group harusnya disadari oleh guru. Apalagi pada usia SMP dan SMA. Keinginan itu sangat besar. Siswa biasanya berkelompok dengan teman-teman yang memiliki pandangan atau hobi yang sama dengan dirinya. Selama kegiatan mereka positif tentunya tidak masalah. Tapi, fakta yang ada di lapangan berkata sebaliknya. Dalam hal ini guru harus dapat "membaca" gerak-gerik setiap siswanya sehingga dapat dengan mudah "mencium" perilaku siswa-siswanya yang menyimpang atau tidak wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pencegahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekolah sebagai institusi pencetak generasi bangsa tentu merasa sangat bertanggung jawab terhadap perilaku anak didiknya. Bukankah setiap sekolah ingin terkenal karena prestasi siswanya dalam berbagai kejuaraan bukan berita yang mencoreng nama baiknya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya mencegah aksi serupa, ada beberapa hal yang dapat dilakukan pihak sekolah. Pertama, memperkuat pondasi diri anak didik dengan agama. Ketika anak didik kita memiliki pondasi agama yang kuat mereka tidak gampang terombang-ambing dan terpengaruh oleh hal-hal buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang guru, penulis sangat merasakan betul manfaatnya. Anak-anak pada dasarnya membutuhkan sentuhan-sentuhan rohani. Sehingga, saat ada masalah pada diri anak didik, guru dapat mengarahkan serta menyelesaikannya dengan mudah. Semua guru di sekolah penulis mengemban tugas sama yakni selain guru bidang studi yang diajarkan juga merangkap sebagai guru agama. Artinya, setiap guru yang mengajar wajib mengingatkan dan mengaitkan hal-hal yang diajarkan dengan Alquran, karena sekolah penulis adalah sekolah Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menjalin komunikasi yang baik dengan setiap siswa. Program curhat bersama dengan anak-anak yang dinamakan halaqoh sangat penting. Sekolah harus mengalokasikan waktu untuk program sharing ini. Setiap guru membawahi beberapa anak didik dan mendengarkan cerita serta keluh kesah dari anak-anak. Sehingga, guru dapat ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh anak didiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan akhirnya guru tersebut dapat memberikan solusi terbaik untuk mereka. Dengan demikian, deteksi dini terhadap persoalan lebih besar dapat dilakukan melalui forum ini. Kita harus menghapus paradigma bahwa persoalan siswa di sekolah adalah tanggung jawab tim BK (konselor). Semua guru di sekolah adalah guru BK (konselor). Apabila guru menjumpai perilaku anak didik yang menyimpang dapat segera mengingatkannya. Jika, tidak mampu menanganinya baru mengomunikasikannya dengan konselor sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengefektifkan peran walikelas. Sekolah perlu memberdayakan walikelas. Tugas walikelas tidak hanya rapat dengan walimurid atau membagikan rapor saja, tapi juga memantau perkembangan anak didiknya. Oleh karena itu, penting kiranya walikelas mendampingi anak-anak atau berada di dalam kelas ketika sedang tidak mengajar. Sehingga, walikelas dapat memantau dan mengetahui pembelajaran di kelas. Apabila terjadi konflik antar anak didik dapat segera tertangani dengan baik. Perkelahian yang sering terjadi di kelas seperti yang diungkapkan oleh Puspa (nama samaran) salah seorang siswi di Jakarta saat diwawancarai di TV One karena kurangnya pengawasan sekolah. Sehingga pihak sekolah tidak mengetahuinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menjalin kerja sama dengan orang tua. Sekolah dapat mengadakan program buku penghubung dan home visit (kunjungan ke rumah walimurid). Buku penghubung ini diisi oleh orang tua dan walikelas. Setiap perkembangan anak baik di sekolah maupun di rumah dapat terpantau melalui buku ini. Sementara itu, home visit dimaksudkan untuk menjalin komunikasi dengan melakukan kunjungan ke rumah wali murid guna melakukan  problem solvingterhadap perkembangan siswa baik di rumah maupun di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, melarang stasiun televisi menayangkan sinetron yang berbau kekerasan. Bagaimanapun juga pengaruh televisi sangat besar terhadap perkembangan anak didik di sekolah. Penulis berharap agar pihak stasiun televisi lebih selektif dalam tayangannya, tidak hanya memikirkan permintaan pasar saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sinetron remaja yang menyajikan tindak kekerasan pelajar yakni Cinta dalam Maut yang dibintangi aktor muda Rogger Danuarta yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta. Menurut penulis, potret remaja dalam sinetron tersebut sangat tidak pantas untuk dicontoh. Banyak hal baik dari pelajar kita yang dapat menjadi inspirasi para penulis skenario jika kekurangan ide dibandingkan cerita dengan tema yang tidak bermutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah setiap tayangan menjadi lahan untuk mengajak orang berbuat baik dan membawa Indonesia lebih baik. Akhirnya, penulis mengharapkan kerja sama berbagai pihak baik sekolah, orangtua, guru, dan segenap komponen masyarakat agar ikut andil dalam mencegah aksi premanisme pelajar. Apabila mengetahui tawuran pelajar mohon segera menginformasikan kepada sekolah yang bersangkutan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4729042678502072808?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4729042678502072808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4729042678502072808&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4729042678502072808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4729042678502072808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/mencegah-premanisme-pelajar.html' title='Mencegah Premanisme Pelajar'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-2613112188791839406</id><published>2008-09-21T19:06:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T19:08:01.153-07:00</updated><title type='text'>KITA SUDAH KALAH</title><content type='html'>Oleh: Iwan Gunawan&lt;br /&gt;(diilhami oleh kejadian tahun lalu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasku mulai terasa sesak dengan kepulan asap rokok dan kaki ini sudah terasa pegal. Betapa tidak pegal, karena aku dan Pak Otang sudah berdiri di ruangan pengap kantor pos ini sejak pukul 07.00 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukkan pukul 17.05, akan tetapi nama SD Salman Al Farisi belum juga dipanggil dalam urutan pengambil tunjangan fungsional guru-guru. Lengkap sudah penderitaanku hari ini..cape, pegal dan kesel..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kepenatan kami, tiba-tiba pada pukul 17.25 sore terdengar sebuah panggilan keras dari pengeras suara di ruangan ini….SD Salman!...Alhamdulillah, akhirnya tiba juga saat bagi saya dan Pak Otang untuk mengambil tunjangan fungsional. Sudah terbayang dalam pikiran saya, betapa bahagianya teman-temanku akan menerima tunjangan ini…setelah kuhitung, akhirnya kami berdua menerima uang sebesar Rp 55.000.000. suatu jumlah yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking banyaknya uang ini, sampai-sampai teman-temanku dari SD lain menyarankan  agar aku dikawal. Tetapi dengan keyakinan saya dan Pak Otang, akhirnya uang tersebut kami bawa bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua rasa cape, kesal dan lelah seketika hilang, yang ada hanya rasa bahagia bisa membawa uang tunjangan untuk teman-temanku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betulkah aku bahagia? ternyata kebahagiaanku hanya bertahan dua hari. Kini yang ada hanyalah rasa sakit hati dan bingung dengan semua yang terjadi, sebab disaat pembagian tunjangan fungsional,  beberapa orang guru tidak setuju tunjangan itu dibagi untuk teman yang lain… ke’ego’annya telah muncul. Padahal tak pernah sekalipun saya dan Pak Otang membayangkan hal seperti ini bakal terjadi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Bukankah aku yang dapat tunjangan ini? Ngapain harus dibagi…&lt;br /&gt;Yang tidak dapat tunjangan, itu belum rejekinya…&lt;br /&gt;Aku kan jam ngajarnya 24 jam, ngapain yang jam ngajarnya kurang harus dibagi..&lt;br /&gt;Itu kan hak saya..!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak keegoan lain yang muncul…ternyata usaha saya dan Pak Otang hanya bisa dihargai dengan sebuah keegoan, tanpa pernah berfikir rasa pegal, cape dan kesal yang kami alami…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku mencoba untuk merenung…&lt;br /&gt;Ternyata, hanya karena uang ajaib..yang kita sendiri tidak pernah mengeluarkan sedikitpun keringat untuk uang ini…idealisme kita hilang…persahabatan renggang…muncul keegoan…pemimpin tidak dihargai,..demi UANG AKU!!. Teman ternyata KITA SUDAH KALAH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, selama ini kita bekerja dan melaksanakan kegiatan bersama-sama serta semuanya saling membantu. Tidak ada ego yang muncul, karena mungkin pada saat itu kita sadar bahwa kita mahluk social ‘yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain’. Hal ini pun berlaku pada saat uang tunjangan akan dicairkan, ada manajemen yang memberi pertimbangan guru mana saja yang patut diajukan, ada TU yang membuat surat untuk pengajuan dan mengantarkannya pada lembaga terkait, manajemen dan TU yang mencairkan uang.…semuanya tidak berjalan sendiri karena ‘ego’, tetapi berjalan atas kebersamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya dan mungkin juga anda mengajar 24 jam atau lebih. Saya dan juga anda, bisa mengajar dengan jumlah jam seperti itu, karena ada teman-teman di sekitar kita yang mau berbagi beban mengajar kita. Seandainya tidak ada teman-teman yang mau, mungkin saat ini kita bisa mengajar di SD Salman Al Farisi sampai 36 jam atau lebih!. Terima kasih teman, kau sudah mau menanggung sebagian beban mengajarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi teman,&lt;br /&gt;Maukah kau berbagi kembali denganku (secara ikhlas) ketika kau mendapat kenikmatan? Sebagaimana engkau berbagi beban mengajar kepada denganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah SAW bersabda “seorang hamba (manusia) berkata, “Hartaku! Hartaku! Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam: (1) apa yang dimakannya lalu habis. (2) apa yang dipakainya lalu lusuh. (3) apa yang disedahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain dari yang tiga macam itu lenyap atau ditinggalkan bagi orang lain” (HR. Muslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-2613112188791839406?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/2613112188791839406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=2613112188791839406&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2613112188791839406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2613112188791839406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/kita-sudah-kalah.html' title='KITA SUDAH KALAH'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-682058321454774715</id><published>2008-09-16T18:59:00.000-07:00</published><updated>2008-09-16T19:07:28.872-07:00</updated><title type='text'>Ketika HAK lebih tinggi DARIPADA kewajiban</title><content type='html'>Oleh: Iwan Gunawan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun, kita sebagai guru ilmu social senantiasa dicekoki dengan suatu dogma “mendahulukan kewajiban dari pada hak” adalah sesuatu hal yang harus dilakukan oleh semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara, ternyata dogma ini terus mengalami kemunduran dan bahkan dikesampingkan. Setiap orang yang melakukan tindakan senonoh dan tidak sesuai dengan norma, senantiasa diatasnamakan ‘hak saya’, wanita berpakaian tidak sopan dan tidak etis diatasnamakan ‘hak saya’, merokok ditempat umum juga ‘hak saya’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini ‘hak’ telah dimanipulasi untuk melakukan tindakan pembenaran terhadap perilaku yang tidak baik dan tidak sesuai dengan norma masyarakat. Hak telah menempati kedudukan yang tinggi dalam pergaulan masyarakat. Terlebih badan dunia (PBB) telah memberi ruang bagi bergeraknya hak individu, dengan mengeluarkan pernyataan Universal of Human Right, bahkan Indonesia pun ikut-ikutan mendukung penegakkan hak dengan membentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak salah kalau kita menuntuk hak, selama hak tersebut masih sejalan dengan kehidupan masyarakat dan peraturan yang berlaku, tetapi ketika hak diatasnamakan kebebasan pribadi yang mengesampingkan kepentingan orang lain, maka hak tersebut sudah tidak bisa dinamakan hak. Hak harus dilaksanakan secara proporsional dan seimbang. Lalu masih relevankan ajaran kita selama ini kepada anak-anak kita ‘mendahulukan kewajiban dari pada hak’?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bangsa Indonesia terus terpuruk, karena hak lebih didahulukan daripada kewajiban. Para anggota dewan menuntuk hak untuk kenaikan gaji dan fasilitas, sedangkan kewajiban mensejahterakan rakyat diabaikan. Polisi lalu lintas mendahulukan kepentingan dirinya dengan ‘salam tempel’, daripada mendahulukan kewajiban mengatur lalu lintas dengan baik, rumah sakit mendahulukan ‘uang jaminan’, daripada mendahulukan menolong orang yang sakit…semuanya atas nama hak saya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indah seandainya kewajiban dilaksanakan lebih dulu daripada hak. Wanita berpakaian sopan dan menutup aurat, lalu dia minta haknya untuk dilindungi. Para perokok tidak merokok disembarang tempat dan menghargai orang lain, maka ia bisa menuntut hak untuk dibuatkan tempat khusus untuk merokok,   &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-682058321454774715?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/682058321454774715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=682058321454774715&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/682058321454774715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/682058321454774715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/ketika-hak-lebih-tinggi-daripada.html' title='Ketika HAK lebih tinggi DARIPADA kewajiban'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1938692136627631754</id><published>2008-09-11T19:18:00.000-07:00</published><updated>2008-09-11T19:20:29.958-07:00</updated><title type='text'>10 Ways for Raising Children of Character</title><content type='html'>by Dr. Kevin Ryan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;It is one of those essential facts of life that raising good children--children of character--demands time and attention. While having children may be “doing what comes naturally,” being a good parent is much more complicated. Here are ten tips to help your children build sturdy characters:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Put parenting first.&lt;/strong&gt; This is hard to do in a world with so many competing demands. Good parents consciously plan and devote time to parenting. They make developing their children’s character their top priority.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Review how you spend the hours and days of your week.&lt;/strong&gt; Think about the amount of time your children spend with you. Plan how you can weave your children into your social life and knit yourself into their lives.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Be a good example.&lt;/strong&gt; Face it: human beings learn primarily through modeling. In fact, you can’t avoid being an example to your children, whether good or bad. Being a good example, then, is probably your most important job.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Develop an ear and an eye for what your children are absorbing. &lt;/strong&gt;Children are like sponges. Much of what they take in has to do with moral values and character. Books, songs, TV, the Internet, and films are continually delivering messages—moral and immoral—to our children. As parents we must control the flow of ideas and images that are influencing our children.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Use the language of character.&lt;/strong&gt; Children cannot develop a moral compass unless people around them use the clear, sharp language of right and wrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Punish with a loving heart. &lt;/strong&gt;Today, punishment has a bad reputation. The results are guilt-ridden parents and self-indulgent, out-of-control children. Children need limits. They will ignore these limits on occasion. Reasonable punishment is one of the ways human beings have always learned. Children must understand what punishment is for and know that its source is parental love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Learn to listen to your children.&lt;/strong&gt; It is easy for us to tune out the talk of our children. One of the greatest things we can do for them is to take them seriously and set aside time to listen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Get deeply involved in your child’s school life. &lt;/strong&gt;School is the main event in the lives of our children. Their experience there is a mixed bag of triumphs and disappointments. How they deal with them will influence the course of their lives. Helping our children become good students is another name for helping them acquire strong character.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9. Make a big deal out of the family meal.&lt;/strong&gt; One of the most dangerous trends in America is the dying of the family meal. The dinner table is not only a place of sustenance and family business but also a place for the teaching and passing on of our values. Manners and rules are subtly absorbed over the table. Family mealtime should communicate and sustain ideals that children will draw on throughout their lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10. Do not reduce character education to words alone.&lt;/strong&gt; We gain virtue through practice. Parents should help children by promoting moral action through self-discipline, good work habits, kind and considerate behavior to others, and community service. The bottom line in character development is behavior--their behavior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As parents, we want our children to be the architects of their own character crafting, while we accept the responsibility to be architects of the environment—physical and moral. We need to create an environment in which our children can develop habits of honesty, generosity, and a sense of justice. For most of us, the greatest opportunity we personally have to deepen our own character is through the daily blood, sweat and tears of struggling to be good parents.&lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1938692136627631754?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1938692136627631754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1938692136627631754&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1938692136627631754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1938692136627631754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/10-ways-for-raising-children-of.html' title='10 Ways for Raising Children of Character'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1376301802652458447</id><published>2008-09-11T19:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-11T19:15:56.116-07:00</updated><title type='text'>Building Children's character</title><content type='html'>&lt;p&gt;Character building for children isn't a course offered in school, but it should be. Here are suggestions for character building ideas&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Character-building themes for kids and others: it sounds simple. Schools should teach character-building. Unfortunately many school districts do not consider this an important subject. However, the trend is changing. Parent and civic groups have urged school groups to include character-building in the curriculum. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Parents and teachers need to take time to build character in kids, and in themselves. Here are eight character building ideas to discuss at home, at school, at community groups, and churches, to build better character for a better America. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respect: What does this mean? It is to show regard for the worth of someone else as well as yourself. If you don't respect yourself you can't respect others. So respect starts with yourself and in taking pride in your achievements and your potential. It also fosters self-control of your actions and emotions so as not to hurt other people's feelings. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respect also should be shown to people in positions of responsibility and authority such as parents, teachers, ministers, librarian, police and firefighters. Along with that should be an appreciation for the importance of the effort these people made to become authority figures. They have had to go through years of training in school and through internship before joining the ranks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The final element of respect is to be punctual. When you have an appointment or tell someone you will meet them at a certain time, be prompt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Open the discussion on respect with questions rather than answers. For example: &lt;br /&gt;How does wearing clean clothes to school show respect for yourself and your school? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When you are with your friends do you listen to their opinion? Do you go along with them because you are agree or because you want to be liked? How does this affect your sense of self-respect? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In school, how can you show respect for your teacher? Would you consider it respectful to talk in class during a lesson? Would you ever call your teacher by his or her first name? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you pass a police officer on the street what should you do? Would you greet the officer in a friendly manner? Would you call the officer a name and run off? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How can you show respect in the library? Do you think it is right to fool around in the library or make unnecessary noise? How would you show respect to the librarian? Would you address her by calling "Hey you?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The library is also a place with valuable books used for entertainment and research. How do you show respect for books in a library? If you take books off the shelf who should return them? You or the librarian? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The questions might seem simply but if children are taught the proper way to act, they won't know what is right. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respect starts in the home and goes both ways, from parent to child and child to parent. How can a parent show respect to a child? What if a child asks a simple question? Should the parent recognize the child doesn't know the answer and help him or her or tell the child to shut up? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respect also goes both ways in school. As a former teacher I respected my students. I listened to their concerns and found ways to help them whether it was a social problem or an education problem. I did not take their fears as silly and childish. To the children their fears are very real. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Go through other examples of how to show respect. Discuss ways to improve attitudes towards authority figures and why that is important. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Character building won't take a day or a week or a month. It is something which should be continued throughout the child's life. There are times children will come home from school with problems with the teacher, or other students. Through character building discussions you can explore positive ways of dealing with problem people. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the end you, your family, your children, and our entire society will benefit. The more we respect others, the more we are respected.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1376301802652458447?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1376301802652458447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1376301802652458447&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1376301802652458447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1376301802652458447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/building-childrens-character.html' title='Building Children&apos;s character'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-6752586056841866734</id><published>2008-09-10T19:32:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T19:35:52.068-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Berkarakter adalah Solusi</title><content type='html'>oleh Rusydi Hikmawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa sistem pendidikan di Indonesia sebetulnya hanya menyiapkan para siswa untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi atau hanya untuk mereka yang memang mempunyai bakat pada potensi akademik (ukuran IQ tinggi) saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terlihat dari bobot mata pelajaran yang diarahkan kepada pengembangan dimensi akademik siswa yang sering hanya diukur dengan kemampuan logika-matematika dan abstraksi (kemampuan bahasa, menghafal, abstraksi atau ukuran IQ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ada banyak potensi lainnya yang perlu dikembangkan, karena berdasarkan teori Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, potensi akademik hanyalah sebagian saja dari potensi-potensi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum alam selalu menunjukkan bahwa di mana pun manusia di muka bumi ini, yang memiliki IQ di atas angka 120 tidak lebih dari 10 persen jumlah penduduk. Namun sebaliknya, sebagian besar mereka –yang kecerdasannya bukan pada dimensi akademik (ilmuwan, pemikir, dan ahli strategis), tetapi dimensi-dimensi lainnya –misalnya pekerjaan teknisi, musisi, manual (motorik), artis, atau hal-hal lain yang sifatnya “lebih konkrit”. Kualitas produksi barang dan jasa pun sangat tergantung pada kualitas segmen penduduk yang mayoritas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangannya adalah apakah penduduk mayoritas ini sudah dipersiapkan untuk dapat bekerja secara profesional sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Thurow, dalam hal kualitas produksi, negara AS kalah dengan Jepang karena strategi pendidikan di Jepang lebih mementingkan bagaimana menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas dan profesional -yang merupakan bagian terbesar dari penduduk. Berbeda dengan AS yang lebih mementingkan 10 persen siswa terpandai, strategi pendidikan Jepang justru sebaliknya, yaitu terutama menyiapkan 50 persen siswa terbawah (dalam skala IQ) untuk menjadi tenaga kerja yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mereka yang sangat tinggi kemampuan akademisnya (yang populasinya tidak lebih dari 15 persen), akan masuk ke jenjang perguruan tinggi setelah menempuh ujian saringan perguruan tinggi yang sangat sulit. Dengan strategi seperti ini, maka terlihat bahwa sistem pendidikan di Jepang –terutama pendidikan dasar— dianggap relatif tidak sulit dan menyenangkan bagi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Indonesia, sistem pendidikan di negara justru menyiapkan seluruh siswa untuk dapat menjadi ilmuwan dan pemikir (filsuf), sehingga seluruh mata pelajaran dirancang sedemikian rupa sulitnya, sehingga hanya dapat diikuti oleh 10 sampai 15 persen siswa terpandai saja atau mereka yang mempunyai IQ di atas 115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, beberapa siswa Indonesia bisa berprestasi mendapatkan hadiah olimpiade, namun dapat dipastikan bahwa mereka adalah bagian dari top 0.1 persen tingkat IQ tertinggi saja (bukan cerminan dari kondisi seluruh siswa Indonesia). Sudah puluhan tahun energi bangsa kita terbuang sia-sia untuk menciptakan manusia Indonesia yang menguasai IPTEK dengan segala beban kurikulum yang luar biasa beratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jika potensi (IQ) siswa hanya 90 atau 100, diberi pelajaran tambahan berapa pun, tidak akan bisa meningkatkan hingga 120. Seandainya energi kita lebih difokuskan pada bidang keterampilan untuk menyiapkan 85 persen penduduk agar mereka siap dan terampil bekerja secara profesional, mencintai pekerjaannya dan berkomitmen pada kualitas produksi yang tinggi, mungkin kondisi Indonesia tidak akan separah sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah ditanam pemerintah (pemegang dan pembuat kebijakan) selama ini, ternyata membuahkan hasil. Kualitas SDM (Human Development Index) Indonesia ’terjun bebas’ berada di bawah Vietnam, atau nomor 4 terbawah (nomor 102 dari 106 negara). Hasil Survei PERC di 12 negara juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan terbawah, satu peringkat di bawah Vietnam. Sedangkan, hasil survey matematika di 38 negara Asia, Australia, dan Afrika oleh TIMSS-R, menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat 34. Mengapa kualitas SDM kita sedemikian buruknya? Jelas sebabnya adalah para pemimpin Indonesia, sejak merdeka hingga kini tidak mempunyai visi dan strategi yang jitu dalam membawa bangsa ini melesat jauh ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Jepang dan Jerman mempunyai strategi utama untuk mencetak tenaga kerja handal. Yaitu dengan mendidik 60 persen penduduk terbawah dengan pendidikan keterampilan. Di sisi lain, mereka tetap menyadari bahwa untuk mencetak manusia yang menguasai IPTEK hingga mampu menciptakan teknologi baru, perlupendidikan yang tepat bagi 15 persen terpandai (brain power) sehingga mereka siap masuk ke jenjang perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman dan Jepang terkenal dengan apprentice system (keterampilan) yang handal, sehingga produk-produk mereka terkenal paling bagus kualitasnya di dunia, karena dikerjakan oleh para pekerja yang terampil, pekerja keras, percaya diri dengan kemampuannya dan mempunyai kualitas karakter lainnya yang mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah para pekerja manual, bukan saintis atau ilmuwan. Tentu saja Jerman dan Jepang juga memperhatikan perguruan tinggi untuk menampung 15 persen penduduk terpandai (yang daya abstraksi dan analitiknya tinggi). Namun demikian, tidak dengan cara memaksakan target perguruan tinggi –supaya menjadi ilmuwan - kepada 85 persen lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila strategi pendidikan ditujukan untuk menciptakan para pekerja yang handal (yang meliputi 85 persen penduduk), maka fokus pendidikan harus lebih memperhatikan penyiapan anak didik sehingga siap bekerja dan terampil selepas SLTA atau bahkan SLTP, tergantung bidang-bidang keterampilannya. Namun kenyataannya, mayoritas siswa Indonesia sejak usia SD sudah habis energinya mengikuti pelajaran yang dirancang supaya mereka tidak mampu mengikutinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, metode pembelajaran di kelas banyak yang menyalahi teori-teori perkembangan anak. Hasilnya adalah generasi yang tidak percaya diri (apalagi kalau divonis dengan sistem ranking di sekolah), sehingga sempurnalah pencetakan SDM Indonesia yang berada di urutan terbawah; tidak bisa bekerja, tidak terampil, tidak percaya diri, dan tidak berkarakter. Mereka tumbuh dikondisikan oleh sebuah sistem yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspirasi siswa yang keliru sejak dini sudah terbentuk, yaitu tidak menghargai pekerjaan manual yang memerlukan keterampilan, kerajinan, dan ketekunan. Dalam hal ini, termasuk juga mereka yang memasuki sekolah kejuruan (SMK), yang umumnya tidak mempunyai gairah untuk mencintai bidang keterampilannya karena merasa dicap bodoh, terlebih jika lingkungannya menganggap bahwa simbol keberhasilan adalah memiliki gelar kesarjanaan –bukan memiliki keterampilan kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, karena tujuan pendidikan diarahkan untuk mencetak anak pandai secara kognitif (yang menekankan pengembangan otak kiri saja dan hanya meliputi aspek bahasa dan logis-matematis), maka banyak materi pelajaran yang berkaitan dengan pengembangan otak kanan (seperti kesenian, musik, imajinasi, dan pembentukan karakter) kurang mendapatkan perhatian (lihat bab mengenai bahasan multiple intelligences - sembilan aspek kecerdasan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada, maka orientasinya pun lebih kepada kognitif (hafalan), tidak ada apresiasi dan penghayatan yang dapat menumbuhkan kegairahan untuk belajar dan mendalami materi lebih lanjut. Celakanya, pendekatan yang terlalu kognitif telah mengubah orientasi belajar para siswa menjadi semata-mata untuk meraih nilai tinggi. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hal ini dapat mendorong para siswa untuk mengejar nilai dengan cara yang tidak jujur, seperti mencontek, menjiplak, dan sebagainya. Mata pelajaran yang bersifat subject matter juga makin merumitkan permasalahan karena para siswa tidak melihat bagaimana keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan yang lainnya, serta tidak relevan dengan kehidupan nyata. Akibatnya, para siswa tidak mengerti manfaat dari materi yang dipelajarinya untuk kehidupan nyata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sistem pendidikan seperti ini membuat manusia berpikir secara parsial, terkotak-kotak, yang menurut David Orr adalah akar dari permasalahan yang ada: “Isu-isu terbesar saat ini pasti berakar dari kegagalan kita untuk melihat segala sesuatu secara keseluruhan. Kegagalan tersebut terjadi ketika kita terbiasa berpikir secara terkotak-kotak dan tidak diajarkan bagaimana untuk berpikir secara keseluruhan dalam melihat keterkaitan antar kotak-kotak tersebut, atau untuk mempertanyakan bagaimana suatu kotak (perspektif) dapat terkait dengan kotak-kotak lainnya” (Clark1997).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang sama diungkapkan oleh Fitjrof Capra, bahwa betapa pengetahuan manusia tentang sains, masyarakat, dan kebudayaan telah begitu terkotak-kotak, sehingga manusia tidak mampu melihat gambar keseluruhan (wholeness) dari setiap fenomena. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akibatnya banyak solusi yang dilakukan manusia dalam menghadapi berbagai segi kehidupan manusia didekati pula secara fragmented (parsial), sehingga tidak dapat memperbaiki masalah, tetapi justru semakin memperburuknya. Inti pemikiran Fitjrof Capra adalah menekankan pentingnya untuk melihat segala sesuatu secara keseluruhan : “multidisciplinary, holistic approach to reality.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apabila dalam dunia fisika paradigma telah bergeser dari pendekatan mekanistik dan terfragmentasi dalam menelaah partikel-partikel benda mati ke arah pendekatan menyeluruh, maka sudah seharusnya pendekatan yang sama diterapkan dalam bidang-bidang keilmuan lainnya, terutama yang menyangkut bagaimana mempelajari manusia dan semua unsur-unsur peradabannya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu, perlu dilaksanakan reformasi pendidikan ke arah yang lebih kondusif untuk terciptanya kualitas SDM yang berkualitas, terutama melalui pengenalan konsep pendidikan holistik (menyeluruh). Tujuan pendidikan holistik, seperti yang dikatakan oleh J. Krishnamurti, adalah “The highest function of education is to bring about an integrated individual who is capable of dealing with life as a whole”. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sizer (1999) mengatakan bahwa tujuan pendidikan selain untuk mempersiapkan manusia untuk masuk ke dalam dunia kerja, adalah untuk membuat manusia dapat berpikir secara menyeluruh serta menjadi manusia yang bijak (thoughtful and decent human being).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak 2500 tahun yang lalu Socrates telah berkata bahwa tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi “good and smart”. Manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak, yaitu yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang baik (beramal shaleh), dan dapat hidup secara bijak dalam seluruh aspek kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara.&lt;/p&gt;Karenanya, sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia-manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. Seperti menurut Socrates: "Then the man who's going to be a fine and good guardian of the city for us will in nature be philosophic, spirited, swift, and strong" (Bloom, A.: 1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kurikulum Holistik Berkarakter&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Perlu menggunakan kurikulum berkarakter atau “Kurikulum Holistik Berbasis Karakter” (Character-based Integrated Curriculum), yang merupakan kurikulum terpadu yang “menyentuh” semua aspek kebutuhan anak. Sebuah kurikulum yang terkait, tidak terkotak-kotak dan dapat merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual.&lt;/p&gt;Bidang-bidang pengembangan yang ada di TK dan mata pelajaran yang ada di SD yang dikembangkan dalam konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal dan sosial, pengembangan berpikir/kognitif, pengembangan karakter dan pengembangan persepsi motorik juga dapat teranyam dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran yang terpadu dan menyeluruh (Holistik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran holistik terjadi apabila kurikulum dapat menampilkan tema yang mendorong terjadinya eksplorasi atau kejadian-kejadian secara autentik dan alamiah. Dengan munculnya tema atau kejadian yang alami ini akan terjadi suatu proses pembelajaran yang bermakna dan materi yang dirancang akan saling terkait dengan berbagai bidang pengembangan yang ada dalam kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pembelajaran holistik berlandaskan pada pendekatan inquiry dimana anak dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi dan berbagi gagasan. Anak-anak didorong untuk berkolaborasi bersama teman-temannya dan belajar dengan “cara” mereka sendiri. Anak-anak diberdayakan sebagai si pembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang. &lt;/p&gt;Sebuah pembelajaran yang holistik hanya dapat dilakukan dengan baik apabila pembelajaran yang akan dilakukan alami-natural-nyata-dekat dengan diri anak, dan guru-guru yang melaksanakannya memiliki pemahaman konsep pembelajaran terpadu dengan baik. Selain itu juga dibutuhkan kreativitas dan bahan-bahan/sumber yang kaya serta pengalaman guru dalam berlatih membuat model-model yang tematis juga sangat menentukan kebermaknaan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tujuan model pendidikan holistik berbasis karakter adalah mmbentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal. Selain itu untuk membentuk manusia yang lifelong learners (pembelajar sejati). Yaitu dengan &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;1. Menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid, yaitu metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang konkrit, bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active learning, contextual learning, inquiry-based learning, integrated learning); &lt;/li&gt;&lt;li&gt;2. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (conducive learning community) sehingga anak dapat belajar dengan efektif di dalam suasana yang memberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan semangat; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;3. Memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan erkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;4. Metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-masing anak, yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan juga 9 aspek kecerdasan manusia; 5. Seluruh pendekatan di atas menerapkanprinsip-prinsip.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah ketua Departemen Kajian Info Kepelajaran PW PII NTB Periode 2007-2009. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-6752586056841866734?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/6752586056841866734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=6752586056841866734&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6752586056841866734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6752586056841866734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/pendidikan-berkarakter-adalah-solusi.html' title='Pendidikan Berkarakter adalah Solusi'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-3417161035751304686</id><published>2008-09-09T20:34:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T20:39:58.769-07:00</updated><title type='text'>Pembentukan Moral Anak Diawali dari Orangtua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/SMdBZxhk7JI/AAAAAAAABKM/71Ok2YEAd9A/s1600-h/20080909115348.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/SMdBZxhk7JI/AAAAAAAABKM/71Ok2YEAd9A/s200/20080909115348.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244232202142936210" /&gt;&lt;/a&gt;Sumber: republika&lt;br /&gt;Dunia anak-anak sarat dengan pembelajaran. Tidak heran jika mereka berprilaku salah. Tugas orangtua adalah membimbing dan mengingatkan. Hal itu juga terkait dengan pembentukan moral dalam diri anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja anak sudah memahami prilaku yang benar, namun belum tentu dia akan berperilaku sesuai pemahamannya itu. Sebab, mengetahui dan berperilaku benar, bagi anak merupakan dua hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku Building Moral Intelligence: The Seven Essential Virtues That Teach Kids to Do the Right Thing, Dr. Michele Borba, mendefinisikan kesadaran (conscience) sebagai pengetahuan tentang yang benar dan berperilaku berdasarkan pengetahuan akan yang benar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya tawuran, vandalism, pelanggaran aturan, atau perusakan lingkungan, menunjukkan tidak adanya kesadaran pada seseorang atau sebagian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak harus belajar hal ini sejak kecil,” saran Michele, peraih penghargaan untuk pendidikan moral anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajar di Bagian Psikiatri, ilmu-ilmu Perilaku dan dokter anak dari Universitas George Washington, Amerika Serikat, Stanley Greenspan MD menyebutkan dua elemen kesadaran pada proses pembentukan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen pertama kesadaran yaitu mengenali. Anak mengenali prilaku tertentu itu salah. Elemen kedua adalah pengendalian diri. Anak mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal yang salah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono, Psi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengatakan, moral merupakan kumpulan adat dan kebiasaan yang bisa dilihat dari sesuai yang konkrit, misalnya menolong adik adalah perbuatan baik, sebaliknya menyakiti binatang adalah perbuatan tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Moral merupakan sesuatu hal yang bisa diajarkan. Moral membantu memilih bukan hanya yang benar tetapi yang baik,” ujar Sarlito dalam artikel “Mengasah Moral Anak” yang dirilis oleh Dancow Parenting Center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarlito juga mengatakan, moral berkembang juga dari logika dan penalaran. Sehingga penjelasan mengenai mengapa dan kenapa, diskusi serta keterbukaan terhadap berbagai pandangan sangat berperan dalam pembentukan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Faktor yang mempengaruhi pembentukan moral, ialah pola pengasuhan orangtua, norma dan budaya, pendidikan, pergaulan dan kepribadian,” tutur Sarlito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norma sosial yang pertama kali dikenal anak yaitu melalui orangtua. Oleh karena itu, sangat penting dalam perkembangan moral anak, belajar alasan dari hal-hal yang boleh atau tidak dan hal yang baik atau buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian, semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi juga kemungkinan pemahaman terhadap moralitas. Walaupun, tidak otomatis menjami terjadinya perilaku bermoral,” tegas Sarlito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang memiliki kepribadian terbuka dan fleksibel, terang Sarlito, umumnya akan lebih mudah bersosialisasi sehingga semakin banyak pengalaman sosial yang dialami yang semakin mengasah moralnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, lanjutnya, melalui pergaulan dengan lingkungan sekelilingnya, misalnya memiliki teman dekat dan sering terlibat dalam obrolan dan diskusi dengan teman akan membuka pandangan sehingga anak makin terasah moralnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa praktek pengasuhan anak dalam lingkungan yang kondusif dan gaya orang tua sebagai pendidik moral memberi peran penting dalam menumbuhkan perilaku etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku orang tua sehari-hari terhadap tetangga, pembantu rumah tangga, binatang peliharaan, pilihan bacaan, pilihan tayangan televisi, dan tanggapan orangtua terhadap masalah moral seperti anak berbohong pada teman, diperhatikan dan dipelajari anak dengan sungguh-sungguh. (berbagai sumber/ri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-3417161035751304686?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/3417161035751304686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=3417161035751304686&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3417161035751304686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3417161035751304686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/pembentukan-moral-anak-diawali-dari.html' title='Pembentukan Moral Anak Diawali dari Orangtua'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CT6qXqjPbm4/SMdBZxhk7JI/AAAAAAAABKM/71Ok2YEAd9A/s72-c/20080909115348.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8654811742115660263</id><published>2008-09-04T18:37:00.001-07:00</published><updated>2008-09-04T18:37:58.867-07:00</updated><title type='text'>KU SOGOK KAU!</title><content type='html'>Hari ini, beberapa orang temanku menawari aku mobil BMW, sementara yang lainya sudah menentukan mobil pilihannya yaitu Jaguar, Mercedes dan Audi. Semula saya tidak mengerti maksud teman-teman menawari aku mobil tersebut. Tetapi lama-kelamaan, akhirnya saya mengerti juga arah pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan bermula dari telepon seorang orang tua murid yang hendak menitipkan “sesuatu” pada guru senior kami melalui telepon, yang disampaikan oleh pembantunya. Ada alasan tertentu, mengapa orang tua tersebut mau menitipkan “sesuatu” pada guru senior yang menjadi wali kelas anaknya. Selama ini anak “emas” tersebut boleh dikatakan ‘ancur’ nilainya dari semua mata pelajaran, sehingga ada kemungkinan tidak lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ‘guru kelas 6’ sudah mewanti-wanti orang tuanya untuk memberikan perhatian lebih pada anak ini. Sebab selama ini ‘anak’ tersebut hanya dimanja dengan uang, fasilitas dan sangat minim kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu saja ada alas an orang tua apabila pihak sekolah memanggil untuk membicarakan masa depan anaknya..urusan bisnis lah…pembukaan cabang baru lah…dan hanya bibinya yang menjadi ‘orang tua’ anak tersebut untuk sementara ini..kasihan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermodalkan uang berlimpah, pada akhirnya orang tua bermaksud menyelamatkan ‘anaknya’ dengan jalan pintas…sogokan! Aduh maaf..kita adalah guru yang harus memberi contoh buat semuanya…dunia dan akhirat menjadi tanggungan kita bila harus menerima sogokan ini…maaf, negeri ini hanya bias bangkit oleh orang-orang yang bersih dan kita ingin menjadi pelopornya…terima kasih atas niat buruk anda!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8654811742115660263?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8654811742115660263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8654811742115660263&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8654811742115660263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8654811742115660263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/ku-sogok-kau.html' title='KU SOGOK KAU!'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1330118504337721802</id><published>2008-09-02T23:03:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T23:04:26.855-07:00</updated><title type='text'>Penguatan Nilai - Nilai Luhur Akhlak Mulia</title><content type='html'>Semarang, Sabtu (23 Agustus 2008) -- Kehidupan urban dan hubungan intra sosial yang demikian cepat saat ini mengubah pola dan gaya hidup di lingkungan masyarakat. Keluarga , sekolah, dan lingkungan sebagai benteng dan pilar untuk mendidik moral dan akhlak mulia dikhawatirkan semakin terdesak. Tayangan televisi ditakutkan menjadi guru yang terdasyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan - jangan yang paling powerfull saat ini bukan sekolah, tapi media massa. Internet dengan klik jari bisa melihat apa yang ada di belahan dunia lain dengan cepat termasuk pornografi ada di ujung jari kita. Perlu penguatan nilai - nilai luhur akhlak mulia," kata Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika saat memberikan pengantar pada "Dialog Penguatan Nilai - Nilai Luhur Budaya Indonesia dalam Rangka Peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi" di Auditorium Universitas Negeri Semarang (UNNES), Jawa Tengah, Sabtu (23/08/2008) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Mudjib Rohmat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komarudin Hidayat, dan Rektor UNNES, Sudijono Sastroatmodjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dodi mengatakan, pendidikan bukan hanya sekedar pengayaan intelektual, tetapi juga untuk menumbuhkembangkan nilai - nilai luhur bagi kemajuan bangsa termasuk akhlak mulia dan karakter unggul. Menurut dia, untuk bisa bersaing dan eksis dalam percaturan masyarakat global diperlukan bekal nilai - nilai budaya yang unggul termasuk budaya kerja keras, budaya kerja sama, budaya saling menghargai orang lain, dan budaya optimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke depan, kita bangun kebersamaan dalam pilar pembangunan yang kokoh. Perlu diperkuat warna budi pekerti, akhlak mulia, integritas, dan anti korupsi. Tanpa itu maka kita akan meluluskan ratusan ribu sarjana yang punya kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi kecintaan kepada bangsa, hormat kepada orang lain, dan santun dalam kebersamaan akan kurang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudjib memandang cukup banyak alasan bagi bangsa Indonesia untuk maju. Menurut dia, dibutuhkan usaha memenej bangsa termasuk kekayaan alamnya, aset yang memberikan optimisme, dan aset homogenitas yakni agama. "Kalau tidak dimenej dengan baik agama menjadi sumber konflik, tetapi kalau dimenej dengan baik akan menjadi pengikat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudijono mengatakan, terkait dengan dunia pendidikan, pada masa lampau nilai - nilai orang tua atau tradisional sangat dipegang anak - anak pada saat itu. Ketaatan pada orang tua luar biasa. Dia menyampaikan, dalam perkembangannya ketaatan bergesar dari taat dan tunduk kepada orang tua bergeser kepada sekolah. Guru, kata dia, menjadi idola dan segala - galanya bagi anak, tetapi sekarang orang tua dan guru mulai ditinggalkan. "Sekarang ketundukan dan ketaatan adalah pada televisi. Ini adalah satu fenomena dan potret dari masyarakat. Perlu good will dari penguasa. Sebab kalau dilakukan sepotong - sepotong pihak tanpa gerakan masal dan tersistem rasanya persoalan - persoalan akan tumbuh tenggelam. Pertumbuhan ke arah dinamik baik tentu yang diharapkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komarudin meyebutkan, ada dua hal yang perlu diperhatikan jika berbicara mengenai akhlak mulia. Pertama adalah epistimologi akhlak dan kedua metodologi. Selama ini, kata dia, akhlak lebih diartikan sebagai sopan santun dan perilaku individu. Padahal, kata dia, akhlak itu ada dua dimensi yaitu individu dan struktural. "Secara individu bisa saja orang itu baik ketika di mesjid dan di gereja, tapi kebaikan individu tidak cukup kalau tidak didukung oleh akhlak struktural. Kalau diterjemahkan, akhlak struktural itu berupa law enforcement dan etika profesionalisme, " katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komarudin mencontohkan, di negara komunis secara individu dalam konteks agama mungkin mereka atheis, tetapi etika dan akhlak struktural diperkuat. "Siapa yang korupsi dibunuh, digantung. Di Singapura tanpa ada P4 dan kuliah subuh, tapi etika profesionallisme ditegakkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Komarudin, yang merusak bangsa ini adalah krisis horisontal yang diselesaikan secara vertikal. Selama ini, kata dia orang yang akhlaknya kurang baik ditebus dengan umroh, haji, dan puasa. "Itu adalah kesadaran vertikal, sedangkan akhlak itu tidak kalah pentingnya adalah akhlak horisontal. Jadi kalau orang korupsi pada negara tidak cukup dibayar dengan umroh, ya harus dikembalikan pada negara . Kalau orang itu nginjek rakyat nggak bisa cukup minta ampun. Itu urusan pribadi dengan Tuhan. Penyelesaiannya harus dengan karakter horisontal," katanya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Pers Depdiknas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1330118504337721802?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1330118504337721802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1330118504337721802&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1330118504337721802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1330118504337721802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/09/penguatan-nilai-nilai-luhur-akhlak.html' title='Penguatan Nilai - Nilai Luhur Akhlak Mulia'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-6901093176994510692</id><published>2008-08-20T19:32:00.001-07:00</published><updated>2008-08-20T19:32:36.150-07:00</updated><title type='text'>Ten Ways To Love Yourself</title><content type='html'>You weren't born perfect - nobody is. But you can do something to make your life a lot better than what is experienced by the average individual. The people who are the happiest with their lives are those who can learn to love themselves just the way they are.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here are some suggestions on how to place yourself up on that pedestal and laugh at negative energy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pay Yourself A Compliment&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Give yourself a compliment at least once a day. It could be something like "I really liked the way I handled that situation," or "I love how my hair falls softly onto my face today". The compliment can be deep or superficial. Whatever it is, it should help keep your mood up, even if only slightly. Highlight the positive aspect of every situation you encounter. If you practice this often, you're on your way to liking yourself a whole lot better.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Make Yourself Over&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grab your closest friend and get all dolled up. Put on your best attire, dab on a little make-up and get your hair done (not necessarily by a professional), then grab a camera and snap fun and funny photos of each other. Once you've had the photos printed, discard those that make you look drab and keep only the shots were you looked your best. Whenever you feel down, you can just go look at these pictures to remind yourself that you are good-looking and that your life is fun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Get Physically Fit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You don't need to achieve a supermodel-like physique. Simple daily exercises to boost your bloodstream every morning will do. You will feel better, your mood will be more positive, and the more congenial you will be with other people. If you give out positive energy, the more beautiful you become - and the more people will be inclined to return positive vibes to you, too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Change Your Body Image&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If there's something in your body that you dislike, find out what's causing you to smirk at it. Chances are, the reasons are very shallow and superficial. The realization of this will help you attain a better self-image and teach you to appreciate yourself more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Treat Yourself&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Set aside time once a week to do something just for you. It could be anything from watching a cheesy movie to walking your dog in the park. As long as it's time for you in doing what you want to do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wear Nice Underwear&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This sounds silly, but it works! Wearing really cute knickers does make you feel better and a lot more confident about facing others. Don't believe this? Try it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;List Your Good Points&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Without looking at the mirror, make a list of all the things you appreciate and like about your body - things like, "I have great hair" or "I have a nice set of teeth". Keep this list in your wallet or wherever you can see them and whenever you feel terrible, just take out this list and read it to yourself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Travel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ask a few of your best pals to spend a day out of town with you. Pack a delicious snack and spend the day fishing or hiking, or whatever suits your interests. A day in the fresh air is sure to give you an energy boost and make you feel good about yourself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Get Away From People Who Put You Down&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You know these kinds of people. They simply can't stand the fact that you're okay with your life and will always try to dampen your mood. Avoid them at all cost, because they'll never make you feel good about yourself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do A Good Deed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do something good for someone else. You will find that things like volunteering at a homeless shelter or even a simple thing like helping somebody who is lost by giving proper directions will make you feel good for the rest of the day. You will be doing something worthwhile and when you see how badly off some people are, you will start to appreciate your life more and be grateful for what you have.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Lee is the author of How to be a Red Hot Persuasion Wizard... in 20 days or less, an ebook that reveals mind-altering persuasion techniques on how to tremendously enhance your relationships, create unlimited wealth, and get anything you want...just like magic. Get a sample chapter and highly-stimulating "Get What You Want" advice at: http://www.20daypersuasion.com. He is the Co-Founder of http://www.self-improvement-millionaires.com and is licensed as a Certified Public Accountant.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-6901093176994510692?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/6901093176994510692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=6901093176994510692&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6901093176994510692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6901093176994510692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/ten-ways-to-love-yourself.html' title='Ten Ways To Love Yourself'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-5767939323777983385</id><published>2008-08-20T19:28:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T19:29:08.167-07:00</updated><title type='text'>7 Ways to Boost Your Self Esteem Quickly</title><content type='html'>Low self esteem can trip you up just when you need your self esteem is be at its best. These 7 tips will help you feel better about yourself quickly:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Think back to when you did something new for the first time.&lt;br /&gt;Learning something new is often accompanied by feelings of nervousness, lack of self belief and high stress levels, all of which are necessary parts of the learning process. The next time you feel under-confident, remembering this will remind you that it's perfectly normal - you're just learning!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Do something you have been putting off. &lt;br /&gt;Like writing or calling a friend, cleaning the house, tidying the garden, fixing the car, organizing the bills, making a tasty and healthy meal - anything that involved you making a decision, then following through!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Do something you are good at. &lt;br /&gt;Examples? How about swimming, running, dancing, cooking, gardening, climbing, painting, writing… If possible, it should be something that holds your attention and requires enough focus to get you into that state of 'flow' where you forget about everything else. You will feel more competent, accomplished and capable afterwards, great antidotes to low self esteem!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And while you're at it, seriously consider doing something like this at least once a week. People who experience 'flow' regularly seem to be happier and healthier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Stop thinking about yourself! &lt;br /&gt;I know this sounds strange, but low self esteem is often accompanied by too much focus on the self. Doing something that absorbs you and holds your attention can quickly make you feel better.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Get seriously relaxed.&lt;br /&gt;If you are feeling low, anxious or lacking in confidence, the first thing to do is to stop thinking and relax properly. Some people do this by exercising, others by involving themselves in something that occupies their mind. However, being able to relax yourself when you want is a fantastic life skill and so practicing self hypnosis, meditation, or a physically-based relaxation technique such as Tai Chi can be incredibly useful. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When you are properly relaxed, your brain is less emotional and your memory for good events works better. A great 'rescue remedy'!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Remember all the things you have achieved. &lt;br /&gt;This can be difficult at first, but after a while, you'll develop a handy mental list of self-esteem boosting memories. And if you're thinking "But I've never achieved anything", I'm not talking about climbing Everest here. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Things like passing your driving test (despite being nervous), passing exams (despite doubting that you would), playing team sport, getting fit (even if you let it slip later), saving money for something, trying to help someone (even if it didn't work) and so on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Remember that you could be wrong!&lt;br /&gt;If you are feeling bad about yourself, remember that you way you feel affects your thoughts, memory and behavior. So when you feel bad, you will only remember the bad times, and will tend to be pessimistic about yourself. This is where the tip 'Get Seriously Relaxed' comes in!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Summary&lt;br /&gt;Once you have tried out a few of these, consider making them a permanent part of your life. For most people, good self esteem is not just a happy accident, it's a result of the way they think and the things they do from day to day. Good Luck!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This self hypnosis session we publish can help with boosting self esteem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Article by Roger Elliott, author of the Free Self Confidence Course&lt;br /&gt;Click here to subscribe to the free self confidence course now&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-5767939323777983385?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/5767939323777983385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=5767939323777983385&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5767939323777983385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5767939323777983385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/7-ways-to-boost-your-self-esteem.html' title='7 Ways to Boost Your Self Esteem Quickly'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1371132643285016467</id><published>2008-08-19T23:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T23:27:35.226-07:00</updated><title type='text'>UT BERTEKAD MEMBENTUK KARAKTER GURU YANG PROFESIONAL</title><content type='html'>Jakarta, 2/6/2008 (Kominfo Newsroom)&lt;br /&gt;Universitas Terbuka (UT) bertekad untuk selalu berupaya membentuk karakter guru yang mantap dan profesional, sesuai kopetensi guru sesuai harapan Undang-Undang Sisdiknas, yang meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upaya itu dilakukan melalui pembenahan akademik seperti pembenahan bahan ajar, bahan ujian, kegiatan tutorial tatap muka, tutorial online dan membudayakan penelitian tindakan kelas,” kata Rektor UT Atwi Suparman pada seminar nasional Problematika Peningkatan Kualifikasi Akademik dan Pemerolehan Sertifikasi Pendidik Untuk Guru” di kampus UT, Tangerang, Senin, (2/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UT juga terus berupaya memberikan bimbingan pendalaman, penguasaan materi bagai para mahasiswa yang dilaksanakan oleh para tutor sesuai dengan bidang keilmuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan ajar yang disusun, dilakukan oleh para penulis yang sesuai latar belakang keilmuannya yaitu dosen terkemuka dari perguruan tinggi dan tatap muka yang telah diilatih secara khusus. “Sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas layanan ditingkatkan, baik jumlah maupun kualitasnya,” kata Rektor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru profesional, sesuai pasal 7 Undang-Undang Nomor 14/2005, dituntut menguasai substansi ilmu, bahan ajar, metode pengajaran yang tepat, mampu memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan tinggi dan wawasan luas terhadap dunia pendidikan, serta memiliki pemahaman mendalam tentang hakikat manusia dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hakikat tersebut sudah menyatu dalam diri guru, maka hal ini akan semakin melandasi pola pikir, pola kerja guru, dan loyalitas guru terhadap profesi pendidikan. Guru profesional diharapkan memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, guru harus memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas dan memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sertifikasi guru dimaksudkan untuk meningkatkan semangat para guru agar meningkatkan kompetensi. Aspek dominan peningkatan mutu pendidikan adalah pemberdayaan guru, penerapan manajemen berbasis sekolah, fasilitas pendidikan, kurikulum yang diberlakukan, serta sistem pendidikan yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Atwi untuk menjadi seorang profesional, guru seyogianya mengusung lima hal : yaitu pertama, memiliki komitmen terhadap siswa dan proses belajar yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menguasai secara mendalam mata pelajaran yang diajarkan dan cara mengajarkannya dengan menggunakan kata-kata santun seperti yang tertuang dalam bahan ajar UT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bertanggung jawab dalam kegiatan pemantauan hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi, keempat, mampu berpikir sistematis mengenai apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, dan kelima, menjadi bagian dari masyarakat yang ada disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaanya, selain kelima hal tersebut, guru juga memerlukan keterampilan dan kearifan dalam memahami konteks persoalan manusia yang hakiki didalamnya. “Selain menjadi pendidik dan pengajar, guru juga diharapkan mampu menjadi pemecah masalah, terutama bagi siswanya,” kata Rektor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran serta guru dalam meningkatkan kualitas peserta didik, diarahkan pada masalah pengembangan tiga komponen intelegensi dasar, yaitu intelektual, emosional, dan moral. Tuntutan ini memerlukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru secara profesional.   &lt;br /&gt;T.Ad/ toeb/c)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1371132643285016467?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1371132643285016467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1371132643285016467&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1371132643285016467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1371132643285016467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/ut-bertekad-membentuk-karakter-guru.html' title='UT BERTEKAD MEMBENTUK KARAKTER GURU YANG PROFESIONAL'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8687973977546289350</id><published>2008-08-19T19:19:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T19:20:36.904-07:00</updated><title type='text'>TAYANGAN BERBAHAYA</title><content type='html'>Maraknya program televisi untuk anak yang justru tak&lt;br /&gt;layak ditonton anak-anak tentunya mengundang keprihatinan. Komisi&lt;br /&gt;Penyiaran Indonesia dan sejumlah penelitian menunjukkan, tak sedikit&lt;br /&gt;acara televisi khusus anak yang mengandung unsur kekerasan dan seksual sehingga tak pantas dikonsumsi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada media Kidia edisi Juni-Juli yang dikeluarkan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), disebutkan daftar acara yang masuk dalam kategori Aman, Hati-hati, dan Bahaya untuk anak. Ingin tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan televisi yang Aman bagi anak bukan hanya tayangan yang&lt;br /&gt;menghibur, melainkan juga memberikan manfaat lebih. Manfaat tersebut,&lt;br /&gt;misalnya pendidikan, memberikan motivasi, mengembangkan sikap percaya&lt;br /&gt;diri anak, dan penanaman nilai-nilai positif dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Sekalipun aman, orangtua diimbau mendampingi anak-anak menonton TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, tayangan yang masuk dalam kategori Hati-hati adalah&lt;br /&gt;tayangan anak yang dinilai relatif seimbang antara muatan positif dan&lt;br /&gt;negatif. Sering kali tayangan yang masuk kategori ini memberikan nilai hiburan serta pendidikan dan nilai positif, namun juga dinilai&lt;br /&gt;mengandung muatan negatif seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa&lt;br /&gt;kasar yang tidak mencolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tayangan yang masuk dalam kategori Bahaya merupakan tayangan yang mengandung lebih banyak muatan negatif, seperti kekerasan, mistis,seks, dan bahasa kasar. Kekerasan dan mistis dalam tayangan yang masuk dalam kategori ini dinilai cukup intens sehingga bukan lagi menjadi bentuk pengembangan cerita, tapi sudah menjadi inti cerita. Tayangan dalam kategori ini disarankan untuk tidak disaksikan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah daftar acara yang masuk dalam kategori Aman,&lt;br /&gt;Hati-hati, dan Bahaya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMAN: &lt;br /&gt;Varia Anak (TVRI), Bocah Petualang, Laptop Si Unyil, Jalan&lt;br /&gt;Sesama, Cita-citaku, Si Bolang ke Kota, Buku Harian si Unyil (TRANS7),Surat Sahabat, Cerita Anak, Main Yuk! (TRANS TV), Dora The Explorer,go! Diego Go!, Chalkzone, Backyardians (TV G), dan Masa Kalah Sama Anak-anak (TV One)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HATI-HATI: &lt;br /&gt;Idola Cilik Seleb, Rapor Idola Cilik Seleb, Doraemon,&lt;br /&gt;Pentas Idola Cilik, Rapor Pentas Idola Cilik (RCTI), Casper,&lt;br /&gt;Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle Brawlers, Konser Eliminasi 6 AFI Junior (IVM), New Scooby Doo Movie (TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar: The Legend of Aang, Carita De Angel (TVG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAYA: &lt;br /&gt;Tom &amp; Jerry, Crayon Sinchan (RCTI), Si Entong, Tom &amp; Jerry, Si&lt;br /&gt;Entong 2 (TPI), Popeye Original, Oggy &amp; The Cockroaches (AN TV),&lt;br /&gt;Detective Conan, Dragon Ball, Naruto 4 (INDOSIAR), Tom &amp; Jerry&lt;br /&gt;(TRANS7), One Piece, Naruto (TVG).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8687973977546289350?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8687973977546289350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8687973977546289350&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8687973977546289350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8687973977546289350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/tayangan-berbahaya.html' title='TAYANGAN BERBAHAYA'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-398154755100582605</id><published>2008-08-19T19:08:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T19:09:26.394-07:00</updated><title type='text'>Bau tak Sedap dari Cologne</title><content type='html'>Sumber: Republika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cologne umumnya diasosiasikan dengan wewangian. Tapi, nama Cologne, hari-hari ini, justru menebarkan aroma sebaliknya: pembusukan peradaban. Di Cologne, kota terbesar nomor empat di Jerman, akan diselenggarakan kongres anti-Islam! Kegiatan yang berbau kebencian rasial dan agama--seperti yang sebelumnya didemonstrasikan Geert Wilders lewat film Fitna dan Jyllands-Posten lewat karikatur Nabi Muhammad itu disesalkan banyak pihak. Karena, kebencian itu lagi-lagi disebarkan dengan dalih kebebasan berpendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara bertajuk ''Anti-Islamization Congress'' itu akan digelar pada 19-20 September. Penyelenggaranya organisasi ekstrem kanan Jerman, Pro Koeln dan partai politiknya, Pro NRW. Tujuannya, sebagaimana dikutip dw-world, adalah mendeklarasikan perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai pengakuan 'Islamifikasi' di Eropa.Sialnya, Pro Koeln dan Pro NRW yang anggotanya banyak berafiliasi dengan kalangan neo-Nazi ini bukanlah kekuatan politik bawah tanah yang bisa menyuarakan apa saja. Kendati tak terkenal dan bukan kekuatan mainstream alias sempalan, mereka adalah kekuatan politik resmi. Sejak 2004 lalu, mereka mendapatkan lima kursi di Dewan Kota Cologne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Pro Koeln dan Pro NRW juga memimpin penentangan pendirian masjid besar di Cologne. Cologne yang merupakan daerah asal pemain tim nasional Jerman, Lukas Podolski, ini merupakan rumah lebih dari 120 ribu Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang diorganisasi oleh Pro Koeln dan Pro NRW itu mendapat sambutan sejumlah tokoh-tokoh rasis Eropa--yang mempunyai reputasi mengobarkan propaganda rasial di seantero Eropa. Antara lain, Jean-Marie Le Pen dari Prancis, Heinz-Christian Strache dari Austria, dan Filip Dewinter dari Belgia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi Konferensi Islam (OKI) menyesalkan rencana penyelenggaraan kongres itu. OKI mengingatkan kongres itu membahayakan hubungan damai antaragama di Jerman, yang saat ini merupakan rumah dari 3,2 juta Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Penyelenggara kegiatan itu termotivasi oleh kebencian rasial dan xenophobia. Kegiatan itu akan mengancam hubungan damai dan harmoni di dalam masyarakat, dan bisa membangkitkan kembali sentimen anti-Muslim di Eropa,'' demikian pernyataan resmi OKI dari markasnya di Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (9/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xenophobia, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah perasaan benci, takut, waswas, terhadap orang atau sesuatu yang asing; ketaksukaan kepada yang serbaasing. OKI yang merupakan organisasi 57 negara Muslim itu meminta berbagai pihak di Jerman dan Eropa untuk mengambil langkah menentang para penganjur kebencian rasial dan agama itu, serta menolak kongres anti-Islam. Selama ini, karena kegiatan-kegiatannya yang mengeksploitasi masalah SARA itu, Pro Koeln kerap berada dalam pengawasan kantor intelijen setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pihak di Jerman pun telah menyatakan menentang para penganjur kebencian itu. Sejumlah organisasi politik telah meluncurkan sebuah situs web berisi kampanye untuk menentang propaganda berlatar belakang etnis dan agama terhadap pihak lain. Situsnya http:www.hingesetzt.mobi/cmsurging.Ralph Giordano, penulis Jerman, yang kerap mengkritisi Islam dan umat Islam, juga angkat bicara soal rencana penyelenggaraan kongres itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, protesnya selama ini terhadap gejala politik dan militansi Islam didasarkan pada keinginan untuk melindungi konstitusi dan hak-hak dasar, bukan xenophobia seperti yang jadi dasar tindakan Pro Koeln.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Pro Koeln sama sekali tidak menginginkan demokrasi [dengan langkahnya menyelenggarakan kongres anti-Islam]. Saya akan mempertahankan setiap Muslim yang terkena pengaruh antiasing atau xenophobia,'' kata Giordano. Penulis berdarah Yahudi itu sebelumnya diminta oleh Pro Koeln dan Pro NRW untuk mendukung tindakannya.Kecaman atas rencana penyelenggaraan kongres anti-Islam mulai terdengar dari berbagai negara. Menteri Luar Negeri Malaysia, Rais Yatim, menilai kongres itu diselenggarakan untuk memprovokasi Islam dan dunia Muslim. ''Malaysia mengutuk keras kongres itu,'' katanya dalam konferensi pers di Lobi Parlemen Malaysia, awal pekan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rais menilai tak ada satu hal positif pun yang dapat dicapai dari penyelenggaraan kongres itu. Bahkan, kongres itu bisa memancing kekerasan dan kebencian. Mengingat konsekuensinya yang demikian berat, Rais meminta Pro Koeln membatalkan kegiatan itu.Pemerintah Malaysia sudah mengirim surat protes kepada Pemerintah Jerman, lewat Kedutaan Besar Jerman di Malaysia. ''Suka atau tidak, Pemerintah Jerman harus bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan kongres itu, meski diselenggarakan oleh sebuah LSM di Jerman,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia menekankan pentingnya usaha yang diambil Pemerintah Jerman untuk mempromosikan dialog antariman dan dialog untuk mencapai saling pengertian antaragama dan budaya. Menurut Rais, tidaklah pantas diberi toleransi bila kebencian dan kebohongan digaungkan atas nama kebebasan berpendapat. Juru Bicara Kepresidenan, Dino Patti Djalal, mengatakan Duta Besar RI di Jerman sudah meminta keterangan dari pemerintah Jerman tentang rencana penyelenggaraan kongres anti-Islam. Namun, Pemerintah Jerman juga belum mengetahuinya. ''Antarpemerintah masih mengecek rencana kongres itu,'' katanya kepada Republika, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kongres benar-benar digelar, Dino mengatakan pemerintah bakal mengajukan protes keras. Namun, pemerintah juga menyadari bahwa niat menggelar kongres itu hanya berasal dari kalangan minoritas di Eropa. Dalam diskursus politik dunia Barat sekarang, jelas Dino, dunia justru sedang mengarah pada dialog antarperadaban. ''Ini tren utamanya.''&lt;br /&gt;Kepada umat Islam Indonesia, Dino meminta agar tidak terprovokasi. Menurutnya, kelompok kanan atau rasialis di Eropa yang sengaja menyelenggarakan kongres dengan tujuan untuk mengundang kontroversi dan konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, kelompok-kelompok ini hanya bisa tumbuh dengan adanya kontroversi, konflik, dan kebencian. ''Ini yang ingin mereka ciptakan.''Dino mengimbau umat Islam memberikan penjelasan kepada siapa pun yang belum mengerti Islam. Umat Islam, kata dia, mesti menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang penuh kedamaian dan rahmat bagi semesta alam. n iol/dw-world/bernama/djo/run&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-398154755100582605?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/398154755100582605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=398154755100582605&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/398154755100582605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/398154755100582605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/bau-tak-sedap-dari-cologne.html' title='Bau tak Sedap dari Cologne'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7932417319829927590</id><published>2008-08-12T19:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T19:40:10.485-07:00</updated><title type='text'>The Role of the Teacher</title><content type='html'>In the Distance Learning Lab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The teacher is responsible for all aspects of the instructional process. The teacher will&lt;br /&gt;be aided by facilitators at all remote sites. The teacher and the facilitators will work&lt;br /&gt;together to insure the success of the students.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Responsibilities:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• The teacher is responsible for instructing the students in the subject content.&lt;br /&gt;• The teacher is responsible for establishing classroom procedures/policies for the local&lt;br /&gt;and the remote sites.&lt;br /&gt;• The teacher is responsible for establishing a rapport with the students.&lt;br /&gt;• The teacher is responsible for communicating with the parents.&lt;br /&gt;• The teacher is responsible for submitting attendance at the local site.&lt;br /&gt;• The teacher is responsible for issuing books and maintaining a record of issued books&lt;br /&gt;at the local site.&lt;br /&gt;• Before the class begins each day, the teacher will communicate with each facilitator to&lt;br /&gt;be sure the remote sites are receiving transmission.&lt;br /&gt;• The teacher will monitor the distance learning equipment .&lt;br /&gt;• The teacher will monitor the distance learning session.&lt;br /&gt;• The teacher will contact Instructional Technology for support.&lt;br /&gt;• The teacher will establish a procedure to obtain assignments/tests collected by the&lt;br /&gt;facilitators.&lt;br /&gt;• The teacher will establish a procedure to return graded assignments to the facilitators.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Specifics:&lt;br /&gt;• The teacher will insure that the equipment is plugged into the electrical outlet and into&lt;br /&gt;the network drop.&lt;br /&gt;• The teacher will use the MGC software to schedule the learning sessions.&lt;br /&gt;• The teacher will use the MGC software to monitor the ongoing session.&lt;br /&gt;• The teacher will use the MGC software to reconnect a school that is disconnected.&lt;br /&gt;• When the teacher is unable to reconnect a school, she/he will immediately contact&lt;br /&gt;Instructional Technology for assistance.&lt;br /&gt;• Until the connection can be reestablished, both the teacher and the facilitator will put their phones on speaker phone.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7932417319829927590?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7932417319829927590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7932417319829927590&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7932417319829927590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7932417319829927590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/role-of-teacher.html' title='The Role of the Teacher'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-818969758640610953</id><published>2008-08-12T19:31:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T19:32:18.080-07:00</updated><title type='text'>When You Teach,You Should Be A Responsible Teacher</title><content type='html'>Spoken by the Supreme Master Ching Hai&lt;br /&gt;during the International Seven-Day Retreat In Taipei, Formosa May 27, 1994.&lt;br /&gt;Originally in Chinese)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Convenient Method Should Not Be&lt;br /&gt;Casually Imparted To Children And Adults&lt;br /&gt;The Convenient Method should not be taught randomly to young children. There are many children in school and sometimes, their teachers just casually teach them to sit and meditate. Sometimes, no one is around the children, so if they (the children) see some visions of different levels during meditation, they may be shocked, or they may not understand. The way you teach is different from the way I teach, and your power is only second-hand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The children may not really be frightened, but then again, you don't know anything about their karma. Being new to the meditation, they may have bad experiences. Children are like us. Their souls, their karmas and their reactions are identical to ours. So, you should not teach them meditation when they are too young. Therefore, only children of six years old and above are allowed to learn a little, and when they are older than twelve, they are allowed to learn more. If their parent is not an initiate, they can only be initiated when they have reached sixteen years of age. Only those above sixteen or eighteen years old are allowed to be initiated. Do you understand? (Everybody answers, "Yes".) I teach whom I should teach. It's not necessary to teach young children at random.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You should not casually become a teacher just because you love to teach. You don't know how to teach and will not know about the children when they go home because you are not there to supervise them. It is different if they were taught by the Master. I will be responsible for them if I teach them; I will go with them wherever they go. (Applause.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Children do not understand much. Their souls are identical to adults', but they do not know how to react. Sometimes, they do not know how to react to their inner experiences. For instance, when you are meditating, some of you are heavier in karma, so you have inferior experiences. Sometimes, during meditation, you may see something which makes you uneasy, and you write to ask the Master or pray to the inner Master for help; and the Master will come to help! But the children do not know what to do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you think that children can have very good experiences when they just begin to learn to meditate? They are similar to you. The good children will, naturally, perceive superior and beautiful worlds; while the relatively not-so-good children, whose karmas are heavy, will see the dark worlds and, sometimes, experience something unpleasant. What if they get possessed? Will you be responsible for them? You just teach anyone randomly. I did not tell you to teach the Convenient Method to the children. I say this for the last time: "You can't just do what you like to do, as being a teacher." It is easy to teach children, and they will do anything they are taught. However, this should not be the way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some time ago, I had replied in a letter - perhaps, in the news magazine - that the Convenient Method should not casually be taught to children. It is all right if he is your child, because, if something happens to him or if there is something that he does not understand, then you can ask me; you can stay with him and take care of him. But if you are teaching other people's children, they may leave the following year. Or they may go to another school the following year and you don't know what will happen to him later. So you can't do this. I do understand that you all love teaching people; you love to be a teacher. However, when you are a teacher, you have to take the responsibility. You should not be a teacher just for the sake of the 'teacher' status only. Our Convenient Method is not an external method; it involves communication with the inner power. Therefore, you must not be careless in guiding people when you have no power. Do you understand?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We all know very well. For instance, if I were teaching you an ordinary method like the so-called masters are teaching - "... Sakyamuni Buddha .... bla bla bla ..." - simply reciting the scriptures, would you be still following me? Why do you follow me? (Everybody answers, "Because You are different.") Right! Not the same. We communicate from within. I am teaching you from within - not the superficial teachings. I am not, randomly, reciting some scriptures to you, anybody can do that! Do you understand? (Everybody answers, "Yes".) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You cannot do the same thing as I do just because you observe me doing it; you should not. I don't even teach children the Convenient Method. I, myself, very rarely do so... unless it is for some very special situation. First, because he does not know what to do when he goes home. Second, after he goes home, he will teach his parents. (Everybody laugh.) Then, his parents will teach their friends, and their friends will teach their children. Then, their friends' children will go and teach their friends' children. That friend's children will then teach their friends' friends' children. The power disappears! Everybody gets possessed and gets into a mess. Do you understand? (Everybody answers, "Yes".)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don't do things just because you want to do them. You should not do things so casually. You may have good intentions, but if you don't understand the reason, the consequence may be harmful to other people. Do you understand? (Everybody answers, "Yes".) Therefore, many people - who have learned randomly - get possessed. This will not happen if they learn from us. Do you understand? (Everybody answers, "Yes".) Because the people outside are disorganized.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They just learn at random. They cross their legs like this, place their hands like that, put their head this way, and then "meditate". What kind of meditation is that? There is nothing, no power at all that supports them, no elevation whatsoever of their internal level, and they have no inner experience. They are not cleansed of any of their karma. It is useless for them to sit for a thousand years! You all know it very clearly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Only An Enlightened Master Has The Power Of Imparting The Method And Protection&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Originally, even the Convenient Method is an esoteric method. Why is it an esoteric method? Because it must be imparted by a master for one to get in touch with the inner power. Outsiders do not know why this person is meditating differently from that person, or why the teachings of this master are different from that master's. This is the esoteric method ... not that we have anything esoteric. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even if I were to write and publish a book openly teaching the outside people how to meditate, and they learn the Method through reading the book, it still would not be effective. Do you understand? (Everybody answers, "Yes".) The two of them - Master and disciple - must communicate with each other and consent mutually - I agree to teach and you agree to learn. This is the esoteric method, only the two of us - Master and disciple - know. It is not simply teaching people to sit like this. This would be selling it cheaply.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have never said that you can teach the Convenient Method to children, have I? (Everybody answers, "No".) Then, why is that teacher doing it so casually? Not doing what he should do, and doing what he should not do... I am referring to the Convenient Method. Do you understand? You can teach people the other things: to perform charities, to keep the five precepts, to be vegetarian, not to smoke nor drink alcohol, etc. These are good things which can be taught to others. You can teach others the external morals, things beneficial to the stability of our world, but not matters concerning the inner power. This is a profound matter! This is not buying and selling, not simply repeating a sentence! This is concerning the Convenient Method which you should not even teach ordinary people at random. Do you understand?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We should see whether that person is kind-hearted or longing for the Truth before we teach him. Do you understand? (Everybody answers, "Yes".) A vicious person will be possessed if you teach him this method because he has too much karma inside. For instance, that person is extremely vicious, and he does not repent nor become a good person; after you teach him this Convenient Method, he will have an internal struggle. This method is the best, the most beautiful, the most virtuous and the most compassionate; it belongs to the Yang (positive) force. He is deep in the Yin (negative) force. Mixing these Yang and Yin forces together, that person will struggle internally. Do you understand? He will be possessed and have conflict within himself, a change will occur in him. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, you should not just teach anyone at random. If our method could be for anyone, then I would have already made it wherever I went. And I would have no need to teach you to become vegetarian, keep the five precepts, perform charities, be a good person, meditate every day, and always study Master's teachings. There are certain rules in teaching anything, and because we are teaching the incredible power of the universe, of course, there are rules, too. You must be careful because you don't know how to use it. For instance, the atomic bomb is not meant to be a plaything for children. Can we let an ordinary person use it? Even a general or a scientist - whose work is not related to it - is not allowed to use it. Do you understand?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You must be careful in handling matters concerning the internal states of consciousness. With regard to external knowledge, one can learn to be a physician, a doctor, a professor, a musician or anything one wants; but you should not use the same criterion for something that concerns the internal states of consciousness. It is fine if you have the Master power inside; but you should just let it be if you do not have it! If you do not have it yet, then do not act rashly. Understand? (Everybody answers, "Yes".)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When you go out to represent me to perform the initiation, remember that it is always the Master who is performing the initiation, not you. However, we still have to select the right person to be sent out. It is not really selecting, but training him for a while, and teaching him how to do it. He cannot just teach anyone at random. This applies, also, to the outer aspect which also requires some training. He must be able to talk fluently and know how to answer people's questions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handle Worldly Matters With Your Own Wisdom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, there are certain things that you can handle by yourself. For instance, recently, you all know that Master is concerned about helping the refugees. In this case, you can do anything that you feel is best to try to achieve this objective. It is not necessary for everyone of you to wait for my instructions, to ask Master this and that. Do you understand this? There are thousands, tens of thousands and millions of you. If everyone of you has to ask me what to do, then when can you all finish asking me? You all have the inner Master in you, ask it. Meditate well, and then ask it. Try your best to help with those administrative works. Do you understand? For instance, if you know the President, then, talk to him directly. Why do you still have to ask me? (Laughter and applause.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-818969758640610953?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/818969758640610953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=818969758640610953&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/818969758640610953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/818969758640610953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/when-you-teachyou-should-be-responsible.html' title='When You Teach,You Should Be A Responsible Teacher'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-2888851500052230213</id><published>2008-08-06T21:07:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T21:08:03.166-07:00</updated><title type='text'>CARA MENJADIKAN ANAK LEBIH BERTANGGUNG JAWAB</title><content type='html'>By akanemd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua ingin menjadikan anak kita tumbuh menjadi anak dewasa yang punya kepedulian. Beikut adalah tujuh cara untuk mencapai tujuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memulai disaat anak masih kecil&lt;br /&gt;Seiring dengan bertambah usia anak untuk bisa memahami, berilah dia kepercayaan untuk membantu anda. Anda bias memulainya dengan sesuatu yang kecil seperti membersihkan pampers dan memasukan air ke dalam botol. &lt;br /&gt;Anak-anak memiliki suatu keinginan untuk menolong, bahkan anak usia di bawah dua tahun ingin melakukan sesuatu untuk menolong orang tuanya. &lt;br /&gt;Anda bias memberi semangat anak anda melalui sesuatu yang kreatif yang bias dikerjakan oleh anak,kemudian memberinya penghargaan guna meningkatkan harga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jangan menolong dengan hadiah&lt;br /&gt;Jangan memberikan anak hadiah sebagai pengganti pertolongan. Anda harus membangun keinginan anak untuk membantu anda tanpa melalui pemberian hadiah, sehingga muncul rasa empati dalam diri anak. &lt;br /&gt;Anda harus mengajarkan kepada anak keinginan untuk berbagi dengan sesama. Ketika anak mendapatkan hadiah sebagai imbalan atas pertolongan yang diberikan, anda harus mengajari anak untuk memfokuskan pada apa yang telah didapat oleh anak anda, sebagai pengganti dari apa yang telah anak berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini bukan berarti anda berlepas tangan untuk membantunya. Ini tidak dipersepsikan sebagai sebuah “pembayaran”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang harus anda lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak melakukan sesuatu untuk anda, katakan “saya sangat menghargai apa yang telah ananda lalukan untuk ibu dan ibu juga ingin melakukan sesuatu untuk yang indah untuk kamu. Ibu akan menelpon ayah untuk membelikan kamu film yang ingin kamu lihat”&lt;br /&gt;Ketika anda memberikan hadiah untuk anak anda dengan cara ini, tunjukan bahwa hadiah ini adalah bentuk penghargaan atas pertolongan yang diberikan anak dan bukan membayar hasil kerja anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Biarkan konsekuensi alamiah menyelesaikan kesalahan anak anda&lt;br /&gt;Kita tidak ingin anak menderita bila kita memberi cara pemecahan terhadap kesalahan yang dibuat oleh anak. Tetapi apabila orang tua melindungi anak dari konsekuensi yang akan diperolehnya, maka sama dengan menyuruh anak untuk melakukan kesalahan yang lebih besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kita sebagai orang tua adalah mengajarkan kepada anak untuk menjadi anak yang baik, anak yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;Ketika anak membuat kesalahan, biarkan anak anda untuk belajar menjadi bertanggung jawab terhadap perilaku dan kesalahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ketahui ketika anak berperilaku bertanggung jawab&lt;br /&gt;Setiap orang menyukai pengakuan. Ketika anak anda menggunakan pakaian yang dianggapnya pantas, maka berilah semangat kepada anak anda untuk memakainya di kemudian hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jadikan tanggung jawab sebagai sebuah nilai dalam keluarga&lt;br /&gt;Diskusikan tentang tanggung jawab dengan anak anda, biarkan anak mengetahui sesuatu yang anda anggap bernilai. &lt;br /&gt;Biarkan anak melihat anda bertanggung jawab, dan anak anda akan belajar banyak dari apa yang dilakukan dari pada apa yang mereka dengar. Jadilah anda sebagai modelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Berikan anak anda ijin&lt;br /&gt;Biarkan anak mengambil keputusan dengan uang yang dimilikinya pada saat anak masih kecil. Anak akan membuat kesalahan, tetapi jangan menghentikan pemberian uang anda kepada anak. Ini akan memberi pelajaran kepada anak tentang apa yang akan terjadi jika anak menghamburkan uangnya. Semua ini akan menjadi pembelajarn di saat anak nanti hidup di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Berikan kepercayaan pada anak&lt;br /&gt;Ini barangkali cara yang sangat penting untuk menjadikan anak anda bertanggung jawab. Anak tidak subjektif, tetapi mereka memandang dirinya dari lingkungan sekitar yang merespon kepadanya &lt;br /&gt;Bila anda melihat anak anda sebagai pribadi yang bertanggung jawab, dia akan tumbuh sesuai harapan anda. Disisi lain, bila anda menyuruh anak, biarkan anak memahami instruksi anda, anak akan bisa memenuhi harapan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda yakin bahwa anak mampu menjaga komitmen dan berperilaku bertanggung jawab, anak akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-2888851500052230213?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/2888851500052230213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=2888851500052230213&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2888851500052230213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2888851500052230213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/cara-menjadikan-anak-lebih-bertanggung.html' title='CARA MENJADIKAN ANAK LEBIH BERTANGGUNG JAWAB'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8831515038274400343</id><published>2008-08-04T20:10:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T20:11:00.429-07:00</updated><title type='text'>JUDI DAN BIAYA SEKOLAH</title><content type='html'>Oleh: Iwan Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, seperti biasanya anak-anak pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu, dengan diiring canda tawa dan gurauan diantara teman seperjuangnya. Betapa indahnya pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya keindahan ini tidak menjadi milik semua siswa, karena pada hari itu dua orang polisi yang berseragam preman tengah menggelandang empat orang siswa sekolah dasar yang kepergok bermain judi disaat jam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak lagi mengiringi hari ini dengan senyum dan canda riang, melainkan dengan  tangisan dan perasaan takut, apalagi polisi memiliki barang bukti yang cukup kuat untuk menjerat mereka dengan hukuman yaitu uang ribuan rupiah dan kartu remi. Lengkaplah sudah penderitaan anak-anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah tangisan dan perasaan takut yang mengelayuti mereka berempat, polisi mencoba mengungkap motif yang mendasari perbuatannya. Tetapi, alangkah mengejutkannya, mereka berjudi bukan untuk senang-senang, melainkan mereka mengumpulkan hasil kemenangan judi untuk membayar uang sekolah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi memang mendengar hal tersebut. Ditengah perbuatan tidak tercela yang dilakukannya, tersimpan niat mulia untuk melanjutkan sekolah. Lalu siapakah yang salah dengan keadaan semua ini. Jawabanya tentu sangat komplek, selain masalah pendidikan moral yang kurang bermakna, orang tua tidak bisa menjadi teladan anak, hingga lingkungan sekitar sekolah yang tidak kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan anak menjadi korban keambisian program pendidikan, orang tua, dan pemuas nafsu lingkungan sekitar anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8831515038274400343?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8831515038274400343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8831515038274400343&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8831515038274400343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8831515038274400343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/08/judi-dan-biaya-sekolah.html' title='JUDI DAN BIAYA SEKOLAH'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-5037757381757957548</id><published>2008-07-27T23:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T23:50:35.083-07:00</updated><title type='text'>NGERI deh...</title><content type='html'>kemarin saya melihat berita di TV yang bisa membuat semua orang merinding bulu kuduknya, termasuk juga saya. Beritanya cukup mengejutkan dan sekaligus 'biadab'...seorang anak menghamili ibu kandungnya. ada apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad pernah berkata bahwa diantara ciri-ciri akhir jaman adalah 'seorang budak melahirkan tuan' dan ternyata kejadian itu ada di Indonesia...sungguh suatu hal yang sangat keji dan tidak terpuji bahkan sangat terkutuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anehnya lagi, si ibunya juga malah menerima perlakuan anak biadabnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kejadian ini telah mengingatkan kita, bahwa ditengah kemiskinan dan kebodohan akan ilmu dan harta telah mendorong orang untuk berbuat 'sesuatu' yang diluar kebiasaan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu pendidikan memegang peranan penting untuk mendidik semua generasi agar tahu etika dan moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, bukan malah merusaknya. Ya Allah ampuni hambamu ini..jauhkan kami dari fitnah jaman ini..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-5037757381757957548?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/5037757381757957548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=5037757381757957548&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5037757381757957548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5037757381757957548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/ngeri-deh.html' title='NGERI deh...'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-5732928190468477551</id><published>2008-07-21T21:18:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T21:23:33.983-07:00</updated><title type='text'>10 Tips for Raising Children of Character</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SIVgtGZmZII/AAAAAAAABF8/HuTGz-EHgF4/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225689270561694850" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SIVgtGZmZII/AAAAAAAABF8/HuTGz-EHgF4/s200/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;by Dr. Kevin Ryan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is one of those essential facts of life that raising good children--children of character--demands time and attention. While having children may be “doing what comes naturally,” being a good parent is much more complicated. Here are ten tips to help your children build sturdy characters:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Put parenting first.&lt;/strong&gt; This is hard to do in a world with so many competing demands. Good parents consciously plan and devote time to parenting. They make developing their children’s character their top priority.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Review how you spend the hours and days of your week.&lt;/strong&gt; Think about the amount of time your children spend with you. Plan how you can weave your children into your social life and knit yourself into their lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Be a good example.&lt;/strong&gt; Face it: human beings learn primarily through modeling. In fact, you can’t avoid being an example to your children, whether good or bad. Being a good example, then, is probably your most important job.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Develop an ear and an eye for what your children are absorbing.&lt;/strong&gt; Children are like sponges. Much of what they take in has to do with moral values and character. Books, songs, TV, the Internet, and films are continually delivering messages—moral and immoral—to our children. As parents we must control the flow of ideas and images that are influencing our children.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Use the language of character.&lt;/strong&gt; Children cannot develop a moral compass unless people around them use the clear, sharp language of right and wrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Punish with a loving heart.&lt;/strong&gt; Today, punishment has a bad reputation. The results are guilt-ridden parents and self-indulgent, out-of-control children. Children need limits. They will ignore these limits on occasion. Reasonable punishment is one of the ways human beings have always learned. Children must understand what punishment is for and know that its source is parental love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Learn to listen to your children.&lt;/strong&gt; It is easy for us to tune out the talk of our children. One of the greatest things we can do for them is to take them seriously and set aside time to listen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Get deeply involved in your child’s school life.&lt;/strong&gt; School is the main event in the lives of our children. Their experience there is a mixed bag of triumphs and disappointments. How they deal with them will influence the course of their lives. Helping our children become good students is another name for helping them acquire strong character.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9. Make a big deal out of the family meal.&lt;/strong&gt; One of the most dangerous trends in America is the dying of the family meal. The dinner table is not only a place of sustenance and family business but also a place for the teaching and passing on of our values. Manners and rules are subtly absorbed over the table. Family mealtime should communicate and sustain ideals that children will draw on throughout their lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10. Do not reduce character education to words alone.&lt;/strong&gt; We gain virtue through practice. Parents should help children by promoting moral action through self-discipline, good work habits, kind and considerate behavior to others, and community service. The bottom line in character development is behavior--their behavior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As parents, we want our children to be the architects of their own character crafting, while we accept the responsibility to be architects of the environment—physical and moral. We need to create an environment in which our children can develop habits of honesty, generosity, and a sense of justice. For most of us, the greatest opportunity we personally have to deepen our own character is through the daily blood, sweat and tears of struggling to be good parents.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-5732928190468477551?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/5732928190468477551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=5732928190468477551&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5732928190468477551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5732928190468477551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/10-tips-for-raising-children-of.html' title='10 Tips for Raising Children of Character'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SIVgtGZmZII/AAAAAAAABF8/HuTGz-EHgF4/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-5801228982807026463</id><published>2008-07-15T23:22:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T23:27:23.282-07:00</updated><title type='text'>How to Teach Kids ResponsibilityRaise More Responsible Children</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ten Ways to Have More Responsible Children&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;by Mark Brandenburg MA, CPCC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We'd all like our kids to develop into responsible people. How can we help to ensure that our kids learn the lessons of responsibility? Here are some ideas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Start them with tasks when they're young.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Young kids have a strong desire to help out, even as young as age 2. They can do a lot more than you think if you're patient and creative. This helps build confidence and enthusiasm for later tasks in their life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Don't use rewards with your kids.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;If you want your kids to develop an intrinsic sense of responsibility, they need to learn the "big picture" value of the things they do. They won't learn that if they're focused on what they're going to "get."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Use natural consequences when they make mistakes.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;If they keep losing their baseball glove somewhere, let them deal with the consequences. Maybe they have to ask to borrow one for the game. Maybe they have to buy a new one if it's lost. If you rescue them every time they screw up, they'll never learn responsibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Let them know when you see them being responsible.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Specifically point out what you like about their behavior. This will make it more likely to continue to happen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Talk often about responsibility with your kids.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Make responsibility a family value, let them know it's important.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Model responsible behavior for your kids.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;This is where they'll learn it from. Take care of your stuff. Try to be on time. They're watching you very closely.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Give them an allowance early in their life.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Let them make their own money decisions from an early age.&lt;br /&gt;They'll learn their lessons in a hurry. Don't bail them out if they run out of money.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Have a strong, unfailing belief that your kids are responsible.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;They'll pick up on this belief and they'll tend to rise to the level of expectation. And keep believing this even when they mess up!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Train them to be responsible.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Use role play and talk to them about exactly what kind of behavior you expect from them. It's hard for kids to be responsible when they don't know what it looks like.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Get some help and support for your parenting.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;It's hard to know sometimes whether you're being too controlling or too permissive as a parent. Talk to other parents, read books, join parent support groups, whatever will help you feel like you're not alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;About the Author&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mark Brandenburg MA, CPCC, coaches men to be better fathers and husbands. He is the author of "25 Secrets of Emotionally Intelligent Fathers" &lt;a href="http://www.markbrandenburg.com/father.htm" target="_blank"&gt;http://www.markbrandenburg.com/father.htm&lt;/a&gt;. Sign up for his FREE bi-weekly newsletter, "Dads, Don't Fix Your Kids," at &lt;a href="http://www.markbrandenburg.com/" target="_blank"&gt;http://www.markbrandenburg.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-5801228982807026463?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/5801228982807026463/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=5801228982807026463&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5801228982807026463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/5801228982807026463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/how-to-teach-kids-responsibilityraise.html' title='How to Teach Kids ResponsibilityRaise More Responsible Children'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7666392609910085703</id><published>2008-07-09T22:57:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T23:02:16.102-07:00</updated><title type='text'>Cooperative children</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SHWlKpemsHI/AAAAAAAABFc/hhg6AMwo-Fs/s1600-h/young_enough.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221260945357451378" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SHWlKpemsHI/AAAAAAAABFc/hhg6AMwo-Fs/s200/young_enough.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Page is largely based on a reader's contribution.&lt;br /&gt;Having cooperative children is (sort of) the "ideal case" for spanking with love. It allows giving the spanking in a positive, constructive environment of love and care.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;"I think that consistent with the idea that a loving spanking is a shared two-way experience for parent and child, it is worth giving more thought to how to increase the child's involvement. It can only occur when there is an acceptance by the child that spankings are expressions of their parent's love for them and that they are good for them, not only to correct them but as a way in which they can "pay" for their naughtiness and get rid of any tense or guilty feelings they may have. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Once they understand that, I think that you can go to the next stage of discussing with them what form of spankings will do them the most good and best serve those purposes. This is not to surrender the parent's ultimate authority to decide on when and how to spank, nor should it be seen to compromise the child's obligation to submit to that authority without question. But I have found the input of the children helpful and revealing." &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Below is a list of possible aspects of the spanking which parents may want to let the child decide: &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;does the child have a preference for fewer, harder spankings or more frequent, more moderate ones? &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;who shall give the spanking (mom or dad) &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;ratio of different level spanks: "You can establish with the child different levels of spanks and their equivalence to each other. For example, I administer warm, hot and red hot spanks equal to twelve, six and three spanks respectively. Although I do not usually count the spanks, a spanking could therefore consist of roughly sixty warm spanks, or fiteen red hot spanks, or some combination in between. After setting the seriousness index - for example eighty four warm spanks - I sometimes ask my children what proportions they would like to have the spanking in." Comment: this website recommends to give at most 2-3 times as many spanks as the child's age. &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;with an implement or the hand (usually the hand will be chosen, but some children may prefer an implement because it means the number of spanks will be less) &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;on bare or clothed bottom (a tradeoff between protection and duration/hardness/implement) &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;who takes down the pants &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;the place of the spanking: the child may prefer a particular room, or a particular chair, couch or bed There is one important thing to say about such an "active involvement".&lt;/em&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Parents should not force it upon children who are not yet ready for it. It requires a certain maturity, as well as penitence and also some courage. One should be very sensitive not to overstrain the child with choices, especially in the beginning when the child is not used to it. To keep the discussion brief and reasonable, the parent should define clearly what the options are and what is not negotiable. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7666392609910085703?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7666392609910085703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7666392609910085703&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7666392609910085703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7666392609910085703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/cooperative-children.html' title='Cooperative children'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SHWlKpemsHI/AAAAAAAABFc/hhg6AMwo-Fs/s72-c/young_enough.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8681748728699565272</id><published>2008-07-09T01:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T01:57:11.918-07:00</updated><title type='text'>Practice What You Preach</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Raising Responsible versus Entitled Children&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsha B.Sauls, Ph.D.&lt;br /&gt;770-668-0350 x 221&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is amazing how well our kids learn what we teach them. The only problem is that most of the things they learn from parents is communicated without words. This is probably why most parents have made the statement "If I've said it once, I've said it one hundred times and they just don't get it!" Most kids don't `get it" by listening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Being responsible and being entitled are two abilities that are particularly difficult to teach with words. That is because a person learns to be responsible or entitled according to what he or she is rewarded for. To teach responsibility one rewards for accomplished behavior. To teach entitlement one rewards for something other than accomplished behavior. Most parents do a little bit of both.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parents can tell if their child is responding from an entitled perspective or a responsible perspective in two ways. First, by observing and listening to the child's response and secondly, by checking out their own feelings about this response. A responsible child, when made a request of or denied something, will register displeasure and a parent may feel mildly guilty during the interchange. In short order, however, understanding is reached and life goes on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An entitled child will begin with the same register of displeasure about being requested to do something or denied something but will continue to escalate the situation. The escalation usually takes the form of berating, belittling and comparing the parents to others. The parents' feelings move quickly past mild guilt and on to anger, helplessness, and then incompetence until an attitude of, "It wasn't worth it." prevails. The scene occurs because the child is reasoning from a set of beliefs that say in essence, "I am here to be taken care of and my main purpose and goal in life is to have fun." The parents are reasoning from a set beliefs that are founded in the premise that the child understands that parents are people too and as such they have mental, physical, and financial limits and would appreciate some emotional and physical help at times. It is at these time parents scratch their heads and wonder what is going on. What is going on is that there are two (sometimes more) people arguing, each one coming from a different perspective and each one right in their own perspective.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How does it happen that a parent who wants to teach a child to be responsible ends up in this helpless place with an entitled child who has such a different perspective? In this article an explanation of how to raise an entitled and how to raise a responsible child will be given. No one uses one or the other model 100% and it is not recommended to do so. A balance is necessary. If, however, as a parent you feel incompetent and helpless in most of your interactions with your child you may be raising a child that is too entitled and may want to model more of your interactions with your child after the responsibility model. On the other hand, if you feel you are always in control and your children usually refuse your help and are counting the days before they leave home you may be using the responsibility model too much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PARENTING FOR ENTITLEMENT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;According to World Book Dictionary, an entitled person is one who has a right to ask for or get something. He or she is a privileged individual. The important part of this definition is the word "right." There is no concept or understanding that the "right" is earned. It is bestowed and once given it can be exercised by the entitled person at any time with the expectation that it should be honored.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Training a child to be entitled is a very easy task. As parents we do it constantly by rewarding children for just existing. We don't require consistent behavior to be demonstrated before we give privileges. We give them because our child has reached a certain age. As the child ages, privileges are given based on what "everybody else" thinks a child can and should have at a particular age. This belief is based on the understanding that a child should be able to demonstrate certain responsible behavior at these ages in order to achieve the rewards.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somehow, however, the request for demonstration of responsibility is lost and the only requirement for reward is age. Some parents even use their children to display their own "success" by giving their children privileges even earlier than their age warrants. As more privileges are given, the child becomes more entitled. And note, these are not rewards. They are privileges.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this model, the parenting goal is to make the world a pleasant, satisfying, happy place for the child. It is important to parents that their children have things easier than they had things. Parents, when using the entitlement model of parenting, believe:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Children deserve and have the right to be happy all the time.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Parents need to protect their child from experiencing natural consequences that result from irresponsible behavior. For example, allowing a child off restriction in order to attend a practice so he or she can play in the game on Saturday.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;The only way to judge a child's responsibility level is to listen to what the child says or promises he or she will do in the future.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;When children reach a particular age they have rights to certain privileges. If they demonstrate incompetence after the right is given, the right can be taken away and the child will understand that he or she should now work for what previously was given for nothing.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;The result of rewarding children because of their age is an entitled child who has lived in a world where he or she has been rewarded for existing. The child has no concept of having to earn or do something to get or maintain a reward. The entitled child has the following beliefs:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;My life should consist of the pursuit of happiness, pleasure, and fun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;You owe me what I need to have a pleasant, fun life.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I can and should be angry when I'm requested to do something to earn what I believe is owed to me.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I can and should be angry when privileges are taken away because they belong to me.&lt;br /&gt;As a result, the entitled child is typically belligerent, angry, usually lazy, and does not feel it's necessary to plan ahead or consider others' lives when making plans. An entitled child does not have any concept that "parents are people too" and may have some needs. An entitled child has no understanding of the fact that their own behavior can result in positive or negative consequences for them. The entitled child's favorite phrases are: "Everybody else does it. Why don't you trust me?" "It's their fault." "That's not fair!" "I need...' "I want...' "You are always on my back." And, later, "I'm leaving!"&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PARENTING FOR RESPONSIBILITY&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;A responsible person is defined as one who understands that there are consequences for behavior and therefore plans ahead so that the consequences will be pleasant rather than unpleasant. To be responsible means that one has to do something or behave in a particular way. To judge responsibility therefore requires one to evaluate behavior. To teach responsibility requires a parent to reward a child for accomplished and completed behavior rather than for expected behavior or talk about future plans.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;In this model, after a behavior is repeatedly demonstrated a reward is given. For example, if a child repeatedly demonstrates he or she can care for oneself then the child is given the freedom to spend the night out. The more rewards given, the more freedom the child has. And that's what most kids want. It is important to note that in this model the name for what is given is a reward not a privilege. Rewards are things that are earned. Privileges are given before the fact.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;The goal for parenting in this model is for the child to learn that their own behavior controls their life. Continuous responsible behavior brings positive rewards and freedom. Continued irresponsible behavior results in rewards not being given in the first place and may result in their loss, temporarily, when mistakes are made. In this model earning something is seen as a normal and natural part of life. One gets according to how one performs.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Parents who use this model of parenting believe:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Parents do not have to ensure that their children are happy all of the time.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;If natural consequences occur as the result of a child being irresponsible, such as missing an important event or being embarrassed in front of friends, it's okay.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;It is important to communicate with their children by reading their behavior rather than only listening to their words.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Children are learning and will make mistakes, therefore rewards are given only after repeated consistent behavior rather than after one good deed.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;In this parenting model a child learns that they don't automatically get things just because they exist. As a result, the child can respect and appreciate others efforts because they have a personal understanding of what it means to earn something. In addition they develop a personal sense of power (empowerment) and self esteem because they know that their control of their own behavior will and can determine what they get in life.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Because learning to be entitled or responsible both require rewards, one for being and the other for behavior, they are both learned over time. Therefore, to unlearn either model will also take time. If you experience your child being consistently disrespectful of you, thwarting your efforts at parenting, and find yourself feeling helpless or incompetent as a parent, your child is too entitled. To change this you will have to change your beliefs as a parent, start rewarding your child only after consistent, demonstrated positive behavior, and be willing to have your child be unhappy sometimes. An entitled child can be quite a formidable force and will fight hard to maintain the status quo. The older the child, the harder the struggle because there is a longer history of entitlements to overcome. Parenting groups, a therapist, or sometimes even a supportive, understanding friend or family member can be an invaluable support system for parents trying to change parenting models.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bottom line is that we all learn from our experiences. If your child is not learning what you want him or her to learn, change what they experience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Marsha B. Sauls, Ph.D&lt;/strong&gt;. is a licensed psychologist in private practice and the Director of the Atlanta Institute for Individual and Family Therapy, 1864 Independence  Square, Suite A, Dunwoody, Ga. 30338, phone:(770) 668-0350. Dr. Sauls is  the president of the Georgia Psychological Association, a Supervisor and Clinical Member of the American Association of Marriage and Family Therapy. She specializes in working with adolescents and adults, couples and families. Dr. Sauls and her husband have two college-age children.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8681748728699565272?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8681748728699565272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8681748728699565272&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8681748728699565272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8681748728699565272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/practice-what-you-preach.html' title='Practice What You Preach'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1859212631648035693</id><published>2008-07-09T01:50:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T01:52:34.655-07:00</updated><title type='text'>Raising a Responsible Child</title><content type='html'>Why Children Will Not Complete Routine Tasks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© &lt;a href="http://www.suite101.com/profile.cfm/Grandma07"&gt;Connie Newbauer&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suite101.com/daily.cfm/2006-12-26"&gt;Dec 26, 2006&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you have to tell your five-year-old or eight-year-old every morning that their face should be washed and their bed should be made? YES!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You’re a good parent. You’ve taken the time to patiently explain what must be done for proper hygiene each morning, how to dress and how to find the emergency bowl of cereal – then why can’t little Elizabeth complete these tasks on her own yet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are several reasons children cannot complete what adults see as easy, routine tasks necessary for everyday independence, some are physical and some, just like any routine in life, take multiple explanations and practice sessions to sink in and become the status-quo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As incomprehensive as it may seem to adults, there are days in which a five-year-old cannot not physically manipulate the buttons on her shirt or zip her jeans or skirt. Other days, she may be just fine. Once a child is physically mature and their small motor skills have completed development, such tasks will not be a hurdle, but until then, patience is the answer – along with a helping hand, not a scolding when a little extra help is needed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hygiene seems to be another learning curve for parents to take. If you've instructed the average adult to get up in the morning, wash their face or shower, brush their teeth, comb their hair, get dressed and make their bed, there would be few, if any problems. Telling a five – or eight year old to do this and then even showing them, may not be enough to accomplish these tasks on a daily basis at first.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even going through all the motions with them once, making sure everything they need to complete these tasks are stored at their level may not be enough. What can you do to make sure the routine is completed each morning?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At child’s eye level, paste a chart (with pictures for younger learners), with expected tasks.&lt;br /&gt;Give a gentle reminder each morning, when you wake them, what you need them to do. Encourage them to check their progress off on the chart. In that way, they will have a visual indication of their accomplishment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When they next appear, ask them if they have completed (brushing their teeth, washing their face and hands, making their beds, etc.) their tasks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before she leaves for the day, say you’d like to see what a beautiful job she did and accompany her to her room to check the bed and to the bathroom if they seem to need “extra help this morning” brushing teeth or washing face and hands. If so, help without demeaning the way they've completed the task prior to your checking their progress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a task has been done, such as the bed has been made, but is not up to your expectations, stop and make sure you're not expecting the bed to look as if you had made it – it won’t. The covers will be lumpy and crooked and not ready for a photo spread in House Beautiful - but it should never be re-done in front of the child! They will feel they can’t please you and will eventually stop attempting the task!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you are having company and wish for the bed to look a little neater one day, take the vacuum into the room with dusting materials and tell her you’d like to work with her today to tidy the room for guests. Let her help you make the bed and then have her dust while you vacuum. I’m sure she’ll do such a lovely job, you will be happy to let her help in the living room while you clean as well – and she’ll do so willingly! On a future day, not too far away, you will be rewarded with a child who volunteers to help you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although on busy mornings, it will be hard to keep up the "intensive training," it will be worth it in the long run. Any adult beginning any new task - working out at the gym - taking a walk in the morning, getting up at a new time - it takes a repetition of a minimum of seven times before the new task becomes routine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We are raising little ones - and sometimes, we have to be extra attentive to details before a new task evolves into routine! Remember: Repetition teaches Responsibility!]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;The copyright of the article&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Raising a Responsible Child in Early Childhood is owned by &lt;a href="http://www.suite101.com/profile.cfm/Grandma07"&gt;Connie Newbauer&lt;/a&gt;. Permission to republish Raising a Responsible Child must be granted by the author in writing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1859212631648035693?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1859212631648035693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1859212631648035693&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1859212631648035693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1859212631648035693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/raising-responsible-child.html' title='Raising a Responsible Child'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4338543101197919430</id><published>2008-07-08T01:11:00.000-07:00</published><updated>2008-07-08T01:12:01.373-07:00</updated><title type='text'>"Perang Gerilya" Si Umar Bakri</title><content type='html'>KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN / Kompas Images &lt;br /&gt;Sebanyak 1.500 siswa dan orangtua siswa peserta ujian nasional di SMU Negeri I Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (18/4), mengikuti istighotsah menjelang pelaksanaan ujian nasional.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 11 Mei 2008 | 01:41 WIB &lt;br /&gt;Budi Suwarna dan Ilham Khoiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekisruhan dalam ujian nasional belakangan mungkin mencerminkan sikap bangsa yang kerap hipokrit. Di satu sisi, pemerintah ngotot mematok standar kelulusan sebagai cermin peningkatan mutu pendidikan nasional. Saat bersamaan, standar itu dicapai dengan berbagai trik, tipu muslihat, atau lewat ”perang gerilya” yang melibatkan para guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya (nama samaran) tertawa sinis setiap kali mendengar pejabat mengklaim ujian nasional (UN) berlangsung sukses dan angka kelulusan tinggi. Soalnya, dia tahu benar, betapa ”sukses” itu diraih bukan melalui proses belajar-mengajar di sekolah, melainkan lewat ”perang gerilya” yang dilakoni para guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru sebuah SMA swasta di Jakarta itu mengungkapkan, hampir semua sekolah di rayonnya menyiapkan berbagai strategi ”perang gerilya” untuk memberikan contekan kepada siswa. Tahun ini Maya mengaku masuk dalam ”pasukan gerilya” bersama beberapa guru lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hari-hari ujian, dia datang ke sekolah sekitar pukul 04.30. Mirip ”operasi subuh”. Begitu soal datang, ada guru yang bertugas merusak segel dan mengambil beberapa berkas soal untuk dikerjakan bersama-sama. ”Kami hanya punya waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan soal sebelum pengawas datang,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocoran jawaban itu lantas dibagikan kepada para siswa sebelum memasuki ruang ujian. ”Kadang, bocoran jawaban kami letakkan di WC. Nanti, ada siswa yang akan mengambil jawaban itu dan menyebarkannya kepada teman-temannya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah lain, kata Maya, ada beberapa siswa terpilih yang dilibatkan dalam ”perang gerilya”. Setelah mendapat bocoran jawaban, dia bertugas mendistribusikannya kepada siswa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perang gerilya” ini berlangsung sistematis dengan strategi yang matang dan terus diperbarui setiap tahun. Selama ini aman-aman saja. Maklum, sebelum UN, sejumlah sekolah di wilayahnya sudah bersepakat untuk saling tutup mata. ”Pengawas juga sudah tahu sama tahu. Yang penting, operasinya tidak menyolok,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar Jakarta, ”perang gerilya” juga terjadi di Sumatera Utara. Namun, entah karena strateginya tidak canggih, operasi itu tercium Detasemen Antiteror 88. Akibatnya, para guru yang terlibat pun digerebek ketika sedang membetulkan lembar jawaban milik siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tekanan&lt;br /&gt;Pembocoran jawaban atau berbagai kecurangan lain sebenarnya terjadi hampir secara massal dan bukan dilandasi motif uang. Banyak pihak sadar, perbuatan itu jelas tidak mendidik. Para guru berani berbuat curang lantaran ingin menyelamatkan siswa yang hanya menjadi korban sistem yang bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau tak lulus, mereka tidak dapat ijazah. Padahal, ijazah perlu untuk cari kerja di pabrik,” ujar Maya. Memang, sebagian besar siswa di sekolah itu berasal dari golongan menengah ke bawah yang tidak mampu melanjutkan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar pertimbangan itu, pembocoran juga dilakukan untuk mempertahankan prestise sekolah. Semakin banyak siswa gagal ujian, para guru semakin khawatir sekolahnya tak diminati lagi oleh para orangtua. Jika itu terjadi, sekolah bisa ditutup dan guru kehilangan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, kecurangan itu dilakukan demi menyelamatkan muka pejabat. Sudah jadi rahasia umum, menteri, gubernur, bupati, wali kota, sampai kepala dinas pendidikan di kabupaten/kota mematok target kelulusan UN yang tinggi. Para pejabat di bawahnya semakin rajin menekan sekolah agar mencapai target itu, bagaimanapun caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan Hermawan, Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) mengatakan, saat ini guru benar-benar tertekan. Banyak orangtua yang tidak mau tahu, anaknya harus lulus karena merasa telah keluar banyak uang. Begitulah, Si Umar Bakri yang sudah tertekan oleh gaji yang minim, semakin terbebani oleh pejabat dan sistem. ”Alhamdulillah, hingga kini tidak ada guru yang bunuh diri karena UN,” ujar Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, ”perang gerilya” yang dilakukan para guru sebenarnya adalah bentuk perlawanan paling sederhana terhadap sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobaan berat&lt;br /&gt;Sekolah umumnya sadar, persiapan agar lulus UN memang tak cukup hanya mengandalkan belajar biasa. Soal-soal ujian kerap terlalu sulit untuk dikerjakan siswa biasa. Karena itu, para siswa didorong untuk menjalani berbagai macam pelajaran tambahan: try out (TO), bimbingan belajar (bimbel), simulasi ujian, sampai pendalaman materi (PM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Fitri (15), siswa SMPN di Bandung, misalnya, mengaku menghabiskan 20 jam sehari untuk berlatih mengerjakan soal. Mulai pukul 07.00 sampai 17.30, dia suntuk belajar dan mengikuti pemantapan materi di sekolah. Sore hingga malam, dia masih belajar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bangun pukul 03.00 pun, dia meneruskan belajar. Di luar itu, dia ikut les bimbingan belajar. Di sana, dia mengunyah-ngunyah rumus menjawab soal atau jurus tebak jawaban. Pokoknya capek deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum yakin dengan berbagai persiapan ujian secara rasional, banyak sekolah yang akhirnya mendorong siswa untuk menempuh jalan spiritual. Tujuannya, menggembleng mental siswa agar lebih tenang. Maka, kini banyak sekolah yang punya tren baru, yaitu menyelenggarakan istighotsah, kegiatan doa bersama yang biasa dijalani umat Islam untuk meminta pertolongan Tuhan dari cobaan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren ini dijalani hampir di semua sekolah, mulai dari sekolah pinggiran sampai sekolah unggulan seperti SMAN 31 Jakarta. Sekolah ini menggelar istighotsah satu minggu sebelum ujian. Sebanyak 435 siswa dan sejumlah guru sekolah unggulan ini menginap di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari, mereka dibangunkan dan diajak mengerjakan shalat tahajud, zikir, muhasabah (introspeksi diri), shalat taubat (mohon ampun kepada Tuhan), dan berdoa bersama. ”Banyak siswa yang mencium kaki orangtuanya setiba di rumah (untuk minta ampun),” kata Humas SMAN 31, Saur Hurabarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istighotsah juga dilakukan di SMK Jakarta Pusat I. Begitu pula sejumlah sekolah di Bandung, seperti SMAN 9 dan SMPN 53. Lewat laku spiritual ini, diharapkan siswa lebih siap mental untuk menghadapi soal-soal ujian yang sulit sekalipun. Tentu, mereka juga berharap Tuhan berkenan melempangkan jalan agar siswa lulus ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tak menghargai istighotsah. Tetapi, fenomena ini menunjukkan, betapa sakralitas pendidikan telah bergeser dari krida untuk menggembleng ilmu pengetahuan ke wilayah spiritual. ”Menghadapi UN hampir tidak ada bedanya dengan menghadapi bencana. Siswa begitu putus asa sampai-sampai harus ber-istighotsah,” kata Iwan Hermawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UN baru saja dilalui. Setelah hari-hari yang berat itu, kini para siswa dan guru sedang ”deg-degan” menunggu hasil ujian yang bakal diumumkan pada pertengahan Juni nanti. ”Sekarang kami serahkan semuanya kepada kehendak Tuhan,” kata T Iskandar, guru agama SMK Jakpus I, dengan mimik penuh permohonan. (Yulvianus Harjono/ Yenti Aprianti)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4338543101197919430?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4338543101197919430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4338543101197919430&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4338543101197919430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4338543101197919430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/perang-gerilya-si-umar-bakri.html' title='&quot;Perang Gerilya&quot; Si Umar Bakri'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-4460412303668899198</id><published>2008-07-03T22:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T22:40:55.419-07:00</updated><title type='text'>Redam Kekerasan dengan Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SG23ythlcpI/AAAAAAAABFU/j-fzU25i5pg/s1600-h/kekerasan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219029625034076818" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SG23ythlcpI/AAAAAAAABFU/j-fzU25i5pg/s200/kekerasan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Republika, 18-June-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan moral di jenjang pendidikan dasar hingga tinggi perlu terus dikawal. Kerusuhan Mei 1998 serta berbagai peristiwa yang mendahuluinya seperti peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 dan penculikan para aktivis, merupakan ‘pelajaran berharga’ tentang bagaimana menyelenggarakan kekerasan dengan baik yang diwariskan Orde Baru pada rakyat Indonesia. Ini membuka jalan bagi hadirnya kekerasan dalam kehidupan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi 1998 memang berhasil mengantarkan Indonesia menjadi negara demokrasi yang besar, namun ternyata atas nama demokrasi juga, kekerasan seperti telah menjadi pertunjukkan teater di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekerasan demi kekerasan pun berlangsung tiada henti sejak 1998. Kekerasan seolah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan dalam eskalasi besar dapat disaksikan di Kalimantan Barat, Ambon, Aceh, Poso, maupun kekerasan dalam eskalasi yang lebih kecil seperti tawuran antardesa, antarkampung, dan sebagainya. Lebih memprihatinkan lagi, di beberapa kota besar, budaya kekerasan seperti menjadi kegiatan ekstra kurikuler para pelajar, baik SMP, SMA, SMK, bahkan mahasiswa. Demikian pula munculnya kelompok-kelompok paramiliter yang dikelola parpol, bahkan ormas keagamaan, seolah menjadi pembenaran terhadap budaya kekerasan dalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Mengapa bangsa Indonesia yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang religius, bangsa yang ramah, yang selalu menunjujung tinggi kesantunan, cinta damai, tiba-tiba bermetamorfosis menjadi bangsa yang menjunjung tinggi budaya kekerasan? Kita harus mencari akar kekerasan dalam masyarakat, sebelum semuanya menjadi terlambat,’’ ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Bambang Setiaji, dalam Rembuk Nasional ‘Penguatan Nilai-Nilai dan Budaya Luhur dalam Rangka Peningkatan Akhlak Mulia di Perguruan Tinggi’ di UMS, Sabtu (14/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bambang, permasalahan kekerasan ini merupakan permasalahan yang sistematik. Dan, perlu suatu gerakan besar dalam penguatan akhlak dalam meredam semua itu. ‘’Saat ini sebelum semuanya terlambat, adalah saat tepat untuk memikirkan dan membangun kembali bangsa dari puing-puing kehancuran,’’ jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional (Sesjen Depdiknas) Dodi Nandika menyatakan, pendidikan moral di jenjang pendidikan dasar hingga tinggi perlu terus dikawal. Hal ini, lanjut dia, perlu dilakukan karena pada beberapa sisi telah terjadi penggerusan tata nilai. ‘’Perguruan tinggi perlu meneguhkan komitmennya sebagai PT yang mengarusutamakan akhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan, tapi melupakan sisi yang sangat penting yaitu pendidikan akhlak, pendidikan karakter, pendidikan kepribadian, dan olah kolbu, ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dodi menambahkan, upaya mengarusutamakan akhlak di kampus dilakukan dengan pendekatan persuasif melalui penggiatan kembali mentoring, menggunakan buku ajar mengenai akhlak mulia, keteladanan pemimpin, pendampingan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan ada indikator, capaian sasaran tingkat kekerasan dan kesantunan. ‘’Kalau mau mengajar, pendidik perlu menyisipkan materi yang sifatnya penguatan akhlak selama tiga sampai empat menit,’’ jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dodi berpendapat, memang perlu gerakan besar untuk perubahan kultural bangsa dengan berbagai dimensi meliputi keagamaan, kewarganegaraan, pendidikan, hukum, politik, dan sosiologis di keluarga. ‘’Tidak bisa hanya dengan pendidikan, sedangkan kita mengabaikan peran orang tua,’’ tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Dodi mengaku menanti respons balik dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia terutama dalam menegaskan komitmen penguatan akhlak. ‘’Saya berharap ini menjadi gerakan yang kian membesar yang dimulai dari UMS sendiri,’’ jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, budayawan dan sastrawan Taufiq Ismail mengatakan, sejak dimulainya era reformasi pada 1998 telah tumbuh dan subur kelompok permisif dan adiktif. Menurut dia, gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tetapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan ini, kata dia, didanai oleh kapital raksasa, dilandasi gabungan berbagai ideologi, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya. ‘’Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah ‘gerakan syahwat merdeka’,’’ ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik menyebutkan, sepuluh komponen dari ‘gerakan syahwat merdeka’. Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks secara bebas hetero dan homo, terang-terangan, dan sembunyi-sembunyi. Kedua, penerbit majalah dan tabloid mesum. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan acara televisi syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, lanjut Taufik, sebanyak 4,2 juta situs porno dunia dan 100 ribu situs porno Indonesia di internet. ‘’Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki sekaligus fisiologinya dapat diakses tanpa biaya. Sama mudahnya dilakukan baik dari San Fransisco, Timbuktu, Rotterdam, maupun Sidoarjo, dan Solo,’’ cetusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, kata Taufik, produsen, pengganda pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD ‘biru’. Keenam, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik seharga Rp 2.000 yang kebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa Indonesia tampak dari kulit luar biasa saja. ‘’Tapi, di dalamnya banyak gambar hubungan badannya,’’ kata Taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, lanjut Taufik, penulis, penerbit, dan propagandis buku syahwat ‘ sastra dan « sastra’. Kedelapan, fabrikan dan komsumen alkohol, Kesembilan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba. Kesepuluh, fabrikan, pengiklan, dan pengisap nikotin. ‘’Ciri gerakan syahwat merdeka ini adalah budaya malu yang telah terkikis habis dari susunan syaraf pusat dan rohani,’’ tegasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-4460412303668899198?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/4460412303668899198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=4460412303668899198&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4460412303668899198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/4460412303668899198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/redam-kekerasan-dengan-pendidikan.html' title='Redam Kekerasan dengan Pendidikan'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SG23ythlcpI/AAAAAAAABFU/j-fzU25i5pg/s72-c/kekerasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-3282106509797858121</id><published>2008-07-03T19:03:00.001-07:00</published><updated>2008-07-03T19:04:42.133-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Karakter: “Knowing the Good, Loving the Good, and Acting the Good”</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SG2FHNa3UbI/AAAAAAAABFM/28jnj8JcCyw/s1600-h/characterparenting.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218973902100189618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SG2FHNa3UbI/AAAAAAAABFM/28jnj8JcCyw/s200/characterparenting.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dahulu, ketika zaman Orde Baru, ada semacam penataran massal yang berlangsung di pelbagai tempat, terutama di instansi-instansi pemerintahan, sekolah, dan kampus-kampus. Penataran massal itu bernama “Pendidikan Moral Pancasila”. Bagus sih tujuan penataran tersebut. Namun, apakah penataran tersebut memiliki efek yang dahsyat dalam mengubah masyarakat Indonesia menjadi insan-insan yang bermoral luhur atau memiliki akhlak yang baik, tentulah waktu yang membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setelah Orde Baru digantikan dengan orde yang lebih baru, penataran massal itu pun menghilang. Terdengar ada sebuah konsep baru dalam menjadikan anak didik dapat sekaligus dididik moralnya. Konsep baru itu bernama pendidikan budi pekerti. Namun, tidak sebagaimana penataran massal zaman Orde Baru, pendidikan budi pekerti ini hanya terdengar sayup-sayup dan sepertinya kurang mendapat tempat di dunia pendidikan di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Seorang ibu, yang juga menjadi Guru Besar di Institut Pertanian Bogor, tiba-tiba menyeruak di tengah sistem pendidikan di Indonesia yang, kayaknya, sedang dilanda oleh semacam kehampaan akut. Ibu ini membawa banyak sekali konsep untuk memperbaiki sistem pendidikan di sini. Salah satu konsepnya yang layak mendapat perhatian bernama pendidikan holistik berbasis karakter.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Karakter? Mengapa ibu ini menggunakan kata karakter? Apa tujuannya? “Kebanyakan sekolah di Indonesia hanya memperhatikan pengembangan kognitif (logika) sehingga pola ajar yang diberikan bersifat hafalan yang dogmatis dan tidak mengarah pada pemahaman dan pembentukan karakter,” ujar sang ibu suatu ketika dalam sebuah seminar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Benar, dewasa ini, kita memang telah mengenal adanya potensi EQ (kecerdasan emosi) yang dipopulerkan oleh Dan Goleman. Juga ada SQ (kecerdasan spiritual) yang dibahas secara menarik oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Lantas ada pula kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang ditemukan Howard Gardner. Betapa kayanya potensi anak didik jika merujuk ke temuan-temuan itu?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jika sekolah hanya menekankan pengembangan kognitif, betapa sayangnya upaya-upaya yang dilakukan oleh pendidikan kita. Mungkin, kata “holistik” yang digunakan oleh si ibu bertujuan agar pendidikan benar-benar dapat menggarap seluruh potensi anak didik yang ada ya? Lantas, apa itu karakter? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;“Menurut Wynne, istilah karakter diambil dari bahasa Yunani yang berarti ‘to mark’ (menandai),” ujar si ibu lebih lanjut. “Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku. Wynne mengatakan bahwa ada dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, menurut si ibu, membangun karakter memerlukan sebuah proses yang simultan dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh aspek “knowing the good, loving the good, and acting the good”. Di sinilah perbedaannya dengan istilah moral. Pendidikan karakter menjadi berbeda dengan pendidikan moral karena pendidikan moral hanya terfokus pada pengetahuan tentang moral (lagi-lagi hanya menekankan aspek kognisi). Kurikulum pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian siswa, yaitu pribadi yang bijaksana, terhormat, dan bertanggung jawab yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata. [] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-3282106509797858121?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/3282106509797858121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=3282106509797858121&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3282106509797858121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3282106509797858121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/07/pendidikan-karakter-knowing-good-loving.html' title='Pendidikan Karakter: “Knowing the Good, Loving the Good, and Acting the Good”'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SG2FHNa3UbI/AAAAAAAABFM/28jnj8JcCyw/s72-c/characterparenting.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8963761943296456588</id><published>2008-06-18T19:16:00.000-07:00</published><updated>2008-06-18T19:17:21.437-07:00</updated><title type='text'>Status Sosial Guru Pudar akibat Gaji</title><content type='html'>JAKARTA (Republika) - Gaji guru yang saat ini rendah mengakibatkan kebangaan status sosial guru yang tinggi dalam masyarakat menjadi pudar. Kebijakan ini seakan membolehkan guru kerja rangkap hingga dua atau tiga jenis pekerjaan, bahkan terkadang empat. Guru-guru di kota lebih banyak tergoda untuk kerja rangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban jam mengajar guru yang hanya rata-rata 2,5 jam per hari atau 15 jam per minggu membuat kerja rangkap terbuka lebar. `'Jumlah guru sekitar 50 persen dari seluruh PNS, namun hanya sedikit sekali yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan kemampuan mengajar,'' ujar Prof Dr Hafid Abbas dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di kampus perguruan tinggi itu, Senin (16/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2001, Hafid menuturkan, tunjangan fungsional guru PNS telah dinaikkan 50 persen. Namun, menurut studi KTT HAM PBB, meski gaji guru dinaikkan hingga dua kali lipat sekalipun, bagi sekitar 2 juta guru belum tentu berpengaruh positif bagi peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;`'Juga belum tentu berpengaruh positif bagi komitmen mereka menunaikan tugas,'' ujar mantan Dirjen Perlindungan HAM yang kini menjabat Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Hukum dan HAM RI itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Pembantu Rektor I UNJ ini melihat, pola promosi guru pun tidak terlihat. Misalnya, jumlah guru perempuan di SD 53 persen dari seluruh jumlah guru, pada jenjang SLTP 43 persen, dan di SLTA 34 persen. Namun yang dipromosikan menjadi kepala sekolah ternyata hanya 27 persen di SD, 11 persen di SLTP dan 10 persen di SLTA. Penyebabnya, karena belum ada blue print kebijakan nasional pengembangan profesi guru yang betul-betul dapat dijadikan acuan untuk menjadi guru sebagai pilihan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini, menurut Hafid, adalah realitas-realitas yang perlu segera dibenahi. Sebagai pembanding, pada era Soeharto, meski memimpin dengan cara yang tidak demokratis, namun bagi setiap 500 anak kelompok usia 4 -14 tahun sudah tersedia 1 - 2 SD yang dapat menampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah ini telah membuka akses pendidikan yang seluas-luasnya bagi anak didik dengan tanpa diskriminasi. Lahirlah generasi terdidik kelas menengah yang telah menjadi penggerak proses demokratisasi yang telah kita jalani sejak ia lengser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hafid melihat, formula masa itu dalam pengelolaan guru tampaknya masih relevan diteruskan. Intervensi negara diperlukan meski secara terbatas untuk menempatkan posisi guru sebagai perekat ekonomi kebangsaan. Misalnya, guru dari Sulawesi mengajar di Papau, guru dari Jawa mengajar di Sumatera, dan sebagainya. `'Dengan cara seperti ini akan terbentuk wawasan ke-Indonesiaan sejak dini pada anak didik,'' tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Hafid mengakui, perlakuan diskriminatif di masa lalu berupa perbedaan unit cost antara anak yang sekolah di madrasah/pesantren di bawah binaan Departemen Agama dan di bawah binaan Departemen Pendidikan Nasional, atau negeri dan swasta membawa implikasi yang rumit berupa adanya kesenjangan mutu antara kedua sistem pengelolaan tersebut. Mengutip laporan Asian Development Bank (ADB), Hafid mengatakan, pada tahun 1998 setiap siswa negeri menerima subsidi Rp 333.000 di tingkat SMA, sedangkan Madrasah Aliyah hanya Rp 4.000.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8963761943296456588?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8963761943296456588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8963761943296456588&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8963761943296456588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8963761943296456588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/06/status-sosial-guru-pudar-akibat-gaji.html' title='Status Sosial Guru Pudar akibat Gaji'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1793080162471742899</id><published>2008-06-17T19:14:00.001-07:00</published><updated>2008-06-17T19:14:28.452-07:00</updated><title type='text'>Siswa Razia Guru Merokok</title><content type='html'>Sumber: Republika&lt;br /&gt;Pemerintah diminta melarang semua bentuk iklan dan promosi rokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOGOR- Puluhan siswa merazia guru, orangtua siswa, dan teman sekolah mereka dalam peringatan Hari tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) di Kota Bogor, Sabtu (31/5). Razia dilakukan di beberapa sekolah. Dalam razia tersebut para siswa perwakilan masing-masing sekolah mendapati guru dan orangtua siswa yang membawa rokok. Mereka tertangkap basah membawa rokok di dalam saku celana maupun tas mereka. Parahnya, ada beberapa guru yang kedapatan tengah merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Razia dilakukan atas instruksi Wali Kota Bogor Diani Budiarto yang tertuang dalam surat edaran larangan merokok. Surat edaran yang dibuat Rabu (14/5) itu berisi tentang larangan merokok pada HTTS. Surat tersebut sebagai wujud penerapan Perda No 8/2006 dan SK Wali Kota. Jadi, perokok pasif diminta tegas melarang perokok aktif apalagi jika sudah mengganggu lingkungan. Tak hanya itu, program ini juga mendukung Smoke Free Bogor City. Untuk itu, para siswa melakukan razia, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapati guru dan orangtua yang membawa maupun sedang merokok, para siswa memberikan penyuluhan bahaya merokok. Batang rokok yang sedang diisap para orangtua dan guru juga diambil, kemudian diinjak-injak. Sebagai gantinya, para siswa memberikan permen. ''Kami melakukan aksi ini secara spontan. Jadi, banyak yang tertangkap basah,'' kata Anita, siswi SMP di Kota Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, Wali Kota Bogor, Diani Budiarto akan menerapkan kawasan bebas asap rokok di wilayah kota hujan ini. Kebijakan tersebut disambut baik para siswa. Bahkan, ''Kami berencana membentuk satgas antirokok di sekolah masing-masing,'' kata Reni, siswi SMA di Kota Bogor. Sedangkan Rusli, salah satu guru tertangkap basah mengaku kaget dan malu. ''Saya kaget sekaligus malu kena operasi ini. Mereka melakukan operasi ini tanpa perencanaan sebelumnya. Tapi, ini tujuan baik. Saya mendukung usaha mereka,'' ujar Rusli. Selain pelajar, operasi serupa juga dilakukan anggota masyarakat lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antiiklan rokok&lt;br /&gt;Pada hari yang sama, di Bundaran HI Jakarta, sekitar 50 orang anak yang tergabung dalam Forum Anak Bebas Tembakau (FABT) menggelar unjuk rasa menolak segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor dari industri rokok terkait Hari tanpa Tembakau se-Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut FABT, pemerintah harus segera mengeluarkan ketentuan hukum yang melarang segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok agar anak-anak tidak terjerumus untuk merokok. Industri rokok di Tanah Air bertumbuh dengan dukungan iklan serta promosi yang sangat gencar tanpa ketentuan pembatasan yang signifikan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) tahun 2004 menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara konsumen rokok terbesar nomor lima sedunia, setelah Cina, India, Brazil, dan AS. Prevalensi perokok dewasa di Indonesia berdasarkan Data Laporan Pengendalian Tembakau ASEAN, Mei 2007, mencapai 34,4 persen. Sementara anak usia 13-15 tahun mencapai 24,5 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan jumlah populasi perokok di Indonesia tidak bisa lepas dari faktor belanja iklan rokok yang sebesar Rp 1,6 triliun per tahun. Ini belanja iklan terbesar kedua setelah telekomunikasi yang Rp 1,9 triliun. Iklan rokok telah menggurita, Evaluasi Pengawasan Iklan Rokok tahun 2006 Badan POM mencatat 14.249 iklan rokok tersebar di media elektronik, media luar ruangan, dan media cetak. Kondisi semacam ini dinilai oleh Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai satu bentuk kejahatan mengurangi hak hidup anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KPAI mendesak agar pemerintah segera mengeluarkan sebuah regulasi yang melarang secara komprehensif segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok demi kepentingan terbaik anak-anak Indonesia. Desakan yang sama disuarakan Badan Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (WHO).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO pada Hari tanpa Tembakau se-Dunia 31 Mei ini memfokuskan kampanye yang mencermati industri iklan rokok yang bernilai miliaran dolar per tahunnya dan berorientasi mengajak generasi muda menjadi perokok. c63/ant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1793080162471742899?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1793080162471742899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1793080162471742899&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1793080162471742899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1793080162471742899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/06/siswa-razia-guru-merokok.html' title='Siswa Razia Guru Merokok'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8059938171270605105</id><published>2008-06-15T23:40:00.000-07:00</published><updated>2008-06-15T23:41:28.474-07:00</updated><title type='text'>ATAS NAMA PERSAHABATAN</title><content type='html'>Oleh: Iwan Gunawan&lt;br /&gt;Guru SD Salman Al Farisi - Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempunyai teman (bersahabat) pada dasarnya adalah fitrah manusia, sebab manusia adalah mahluk social, mahluk yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.  Persahabatan harus didasari oleh adanya kebersamaan, kesamaan tujuan, saling menghargai, dan saling menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan hendaknya tidak dilandasi oleh kesemuan, atau juga rasa kebencian. Apabaila kesemuan dan kebencian menjadi landasan, maka persahabatan akan berubah menjadi tindakan stereoratif dan tindakan anarkis, yang berujung pada pembenaran kelompoknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pula yang melatarbelakangi munculnya genk wanita ‘nero’ di Pati Jawa Timur dan ‘genk’ wanita lainnya seperti halnya di Bangka Belitung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat adegan perkelahian yang ditayangkan di TV oleh para genk tersebut, seakan-akan kita teringat akan kejadian genk di Bandung, yang semuanya mengandalkan kekerasan dan persahabatan semu. Mengerikan! Itulah kira-kira kata yang bisa saya ucapkan, sebab wanita yang seharusnya berperangai halus, kini menjadi buas dan beringas…Masya Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang salah? Kalau mencari siapa yang salah, tampaknya terlalu pelik dan semrawut. Bisa keluarga yang salah mendidik, guru yang tidak bisa jadi contoh, lingkungan yang tidak bersahabat, budaya luar yang diadopsi tanpa filter dan mungkin juga pribadinya yang jauh dari agama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu hal yang pasti, bahwa makin maraknya genk-genk di sekitar kita, karena system kehidupan di Negara kita telah memberikan contoh yang tidak baik. Pejabat yang korup,  premanisme yang makin mengakar dan merajalela, partai yang mementingkan golongannya,..wah kacau juga nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi walaupuin demikian, kita tidak bias membiarkan hal ini terus terjadi, marilah kita benahi mulai dari sekarang. Orang tua harus menjaga anak dan menseleksi teman bergaulnya, guru harus memberikan pendidikan karakter yang baik dan bias menjadi teldan bagi anak didiknya, menfilter budaya asing dan mengagungkan keluhuran adat dan budaya timur, dan yang terpenting adalah dekatkan diri pada Sang Khalik dan laksanakan ajarannya dengan benar. Mungkin jalan terakir yang bias kita lakukan. Semoga kita bias memulainya hari ini!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8059938171270605105?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8059938171270605105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8059938171270605105&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8059938171270605105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8059938171270605105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/06/atas-nama-persahabatan.html' title='ATAS NAMA PERSAHABATAN'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7396841248268821277</id><published>2008-06-12T20:03:00.000-07:00</published><updated>2008-06-12T20:04:13.457-07:00</updated><title type='text'>SILATURAHMI YANG ILEGAL</title><content type='html'>Silaturahmi pada dasarnya dilakukan untuk menciptakan suatu hubungan persaudaraan yang erat dan terbebas dari segala dengki, dendam dan tanpa ada pamrih. Silaturahmi adalah perbuatan yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahkan bagi siapa saja yang memutuskan silaturahmi maka dia bukan termasuk golongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan, hingga silaturahmi dianggap sebagai hal yang harus dilakukan oleh semua manusia, terlepas dari agama dan kepercayaan yang dianutnya. Kalau tak salah “menilai” silaturahmi adalah perbuatan yang wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, kira-kira pukul 09.00 pagi, saya beserta guru-guru yang lainnya mengantar siswa berwisata ke Taman Bunga Nusantara. Kami menuju menuju tempat wisata dengan menumpang 8 bus. Selama perjalanan kami berusaha untuk menikmati perjanalan..namanya juga wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika bus kami hendak masuk wilayah Cianjur menuju Sukabumi, ada suatu pemandangan yang sangat “indah” untuk diabadikan oleh ‘candid camera’. Sebuah pemandangan yang saya sebut sebagai ‘silaturahmi yang ilegal’.  Kenyaman kami di bus sempat terganggu beberapa detik oleh para kenek bus yang berloncatan ke luar menuju kantor polisi secara tergesa-gesa, sambil memegang amplop putih ‘yang entah apa isi didalamnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum pun terkuak dari wajah para kenek ketika keluar dari kantor polisi tersebut sambil menuju bus yang dikenekinya. Ditengah engahan nafas kenek bus yang saya tumpangi, saya mencoba bertanya kepada supir ‘apa yang dilakukan oleh para kenek itu?”. Supir pun menjawab bahwa setiap bus pariwisata yang melewati kawasan ‘tertentu’ diwajibkan setor muka dengan ‘sejumlah uang’, yang kalau saya mengenalnya sejak dulu sebagai ‘salam temple (uang)”…wah kalau begini susah dong memberantas korupsi! Sebab aparatnya (pengayom dan pelindung masyarakatnya) juga ikut menarik dana illegal dari masyarakat…gimana nih, pak polisi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7396841248268821277?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7396841248268821277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7396841248268821277&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7396841248268821277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7396841248268821277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/06/silaturahmi-yang-ilegal.html' title='SILATURAHMI YANG ILEGAL'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8404403259875140548</id><published>2008-06-10T19:22:00.000-07:00</published><updated>2008-06-10T19:29:45.586-07:00</updated><title type='text'>Responsible Education</title><content type='html'>Source:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.christianaction.org.za/"&gt;http://www.christianaction.org.za&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No matter where you live, if you have children of school going age, you will have grappled with the whole concept of how best to educate your child. For some the question is an academic one, for others it is a matter of proximity to where they live or work. Others still consider the size of the classroom, or how well the sports programme is organized. But what we should really be considering is whether or not God's Word is honoured and obeyed in the classroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The shaping and moulding of your child's mind cannot be left in the care of individuals that do not share your worldview. To teach biology, for example, in an environment that denies the Author of life is like eating an egg while denying the chicken. To teach history apart from God is to praise the sculpture and deny the sculptor. To learn science and mathematics apart from the omnipotent God is to throw out the computer and do your computations with a roulette wheel. When your children spend an average of seven hours, five days a week, at school, and when you consider sports and homework, precious little time is left with them. So, the onus is on you as the parent to ensure that the education they receive is compatible with your beliefs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In South Africa, there are still some great schools that are run by godly principals and dedicated teachers to be sure. But they are stemming an ever increasing tide which is becoming more and more overwhelming. Some families have the option of private schools and even great Christian schools. Sadly there are very few of these, and many are either too expensive, too far away, or the waiting list is too long. Fortunately, we have the privilege now of another option: Home schooling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When I tell people I am home schooling four children, the response is varied. Some just stare in disbelief. Others shuffle awkwardly, because they now have no idea how to relate to me anymore. Others still look anxiously at my children to see whether or not they are social misfits incapable of carrying on a coherent conversation. Well, perhaps it is too soon to say with my children, but I can report what I have observed in other home educated families as well as the research I have read.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most moms respond by saying something like 'I am not cut out to handle my children all day'; or 'I do not have that kind of stamina'; or 'what about sports'; or 'but how do your children learn social skills'; or, 'how do they make it into university'? My experience is that you need to, as parents, decide on a good strategy for raising your children - before you can decide on a good strategy to educate them. Scripture is the best manual for raising our children, but there are also some great books and resources out there to help us along the way. I believe this is where you must start. If you have disobedient children who ignore your instructions day after day then it is no wonder you cannot wait to send them off to school. But if good ground rules have been laid, and everyone plays by these rules, then home schooling can be a very successful adventure. After all, if your children are not taught to obey you, then how can you ever expect them to ultimately obey God?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Home schooling provides an opportunity for a superior education for a variety of reasons. Allowing children to work at their own pace is reason enough. This works well with the student who is slower at mastering some concept as well as the child who is quick to catch on. Each home schooling set up is as unique as each family. Many families make use of a variety of curriculums, because their children are all so different. Home schooling should not be entered into on the spur of the moment just because you are fed up with little Suzie's teacher. Nor should it be attempted just because you feel your child is bullied, a slow learner or otherwise disadvantaged in his current school environment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For home schooling to be successful, I feel you need to be convinced as parents that it is the right thing for you to undertake. If you are not, you will really battle to weather the storms that will inevitably come. The ups and downs, the frustrations, the sacrifice of your time and the nagging question about whether or not you are giving your child all he or she needs will be part of the package. But the rewards are worth it. The home schooling families I have observed have some of the most well-adjusted children. The interaction between the ages and between the generations is smooth and natural. Intelligent conversations are the norm, compassion for each other is common and the ability to manage time is a natural by-product. Research done in the United States shows clearly that home-educated children are sought after by most leading universities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The last, and one of the most common, hindrances to home schooling for many parents is the feeling of inadequacy to teach. You do not need any fancy qualifications to teach your children. You need to learn to 'think outside of the box'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Needed ingredients are:&lt;br /&gt;1)Commitment to the Lord and His will for your family&lt;br /&gt;2)A desire to do what is best for your children&lt;br /&gt;3)Time&lt;br /&gt;4)Good time management skills&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The following is taken from 'No Greater Joy' by Michael and Debbie Pearl: "What can be called success if your children turn out to be part of the world's problem rather than its cure? What satisfaction can there be in the comforts of material success if your children grow up needing counsel rather than being sought after to give counsel? If your children lie awake at night suffering from guilt and anxiety, being gnawed upon by the demons of intemperance and self-indulgence, how can you enjoy your food or pillow? The success of a tree and a man is measured by the fruit that is borne. The fruit of a man or woman is their children; everything else is falling leaves. Let me die poor; let me die early; let me be ravaged by disease; just let my children rise up and call me blessed. Let me not measure my giving by the dollars I spend on them or the educational opportunities that my station in life affords them, but rather, by the hours I spend with them in fellowship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"May they graduate from my tutorship to become disciples of the Man from Nazareth. May they learn good and evil from the pinnacle of obedience rather than from the pit of despair. May they have the wisdom to choose the precious, and the courage to reject the trite and the vain things in life. May they be lovers of God, co-workers with the Holy Spirit, and a friend to the Lord Jesus. And when their trail ends, may it end at the throne of God, laying crowns at the Saviour's feet."&lt;br /&gt;To read this article in full, and to subscribe to this publication, go to: www.nogreaterjoy.org&lt;br /&gt;The Pearls have also authored a number of very helpful books. My favorites are: 'No Greater Joy volumes one, two and three.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May God bless you and give you wisdom as you care for the hearts and minds of your children.&lt;br /&gt;Lenora Hammond&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8404403259875140548?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8404403259875140548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8404403259875140548&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8404403259875140548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8404403259875140548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/06/responsible-education.html' title='Responsible Education'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-3366917652827147184</id><published>2008-06-01T18:22:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T18:23:21.157-07:00</updated><title type='text'>Lebih dari 50 Persen Anak Jalanan Perokok</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Anak jalanan menghabiskan uang sekitar Rp 150 ribu sebulan untuk membeli rokok. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Republika, Kamis, 29 Mei 2008 &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;''Kenapa kamu merokok?'' tanya seorang petugas survei dari Universitas Indonesia (UI) kepada seorang pengamen remaja yang ditemui di Stasiun Depok, yang mengaku tinggal di sekitar rel kereta api Gondangdia. Pengamen remaja itu menjawab, ''Karena kemauan sendiri.'' ''Kenapa mau sendiri?'' ''Ya kalau nggak merokok, bukan anak jalanan namanya,'' cetus seorang pengamen remaja itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu tentu tak mengada-ada. Merokok sudah menjadi stigma bagi anak jalanan. Apalagi, dari sebuah studi kasus pada remaja anak jalanan usia 10 hingga 18 tahun di jalur kereta api jurusan Jakarta-Bogor, awal Mei 2008 lalu, juga menyajikan potret buram lingkaran setan kemiskinan dan konsumsi zat adiktif itu. Dan, tidak tanggung-tanggung candu itu telah melanda remaja di seluruh wilayah Nusantara tanpa pandang bulu. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ketidaktahuan dan pendapatan harian yang kecil dan tetap bukan halangan bagi 61 persen dari 395 remaja anak jalanan yang ditemui di sepanjang jalur rel kereta api Jakarta-Bogor untuk mengonsumsi rokok. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah survei terakhir menemukan bahwa 34,5 persen anak jalanan tersebut tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD dan 40 persen hanya tamatan SD. Survei cepat tersebut dilakukan Tabacco Control Support Center (TCSC) dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) bersama mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Mereka meneliti 395 remaja anak jalanan usia 10 hingga 18 tahun di jalur rel kereta api jurusan Jakarta-Bogor dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2008 yang bertema 'Remaja Bebas Rokok'.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Umumnya anak jalanan itu bekerja di sektor informal dengan penghasilan tidak tetap yang besarnya kurang dari Rp 20 ribu per hari dan membelanjakan lebih dari 20 persen uangnya untuk membeli rokok. Bahkan, sekitar 12,7 persen adalah pengemis dan pengangguran. Kebutuhan ini akan terus meningkat karena rokok adalah adiktif. Pengeluaran tersebut hanya sedikit lebih rendah dari belanja rokok keluarga miskin yang konsumsinya rata-rata 10 batang per hari. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;''Jika harga rokok dihitung Rp 500 per batang, maka berarti sebulan menghabiskan Rp 150 ribu, ini berarti lebih besar dari dana Bantuan Langsung Tunai (BLT),'' ujar Direktur TCSC Widyastuti Soerojo kepada pers, Rabu (28/5).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Data nasional juga menunjukkan bahwa hampir 80 persen remaja mulai merokok pada usia kurang dari 19 tahun, yang meningkat dari 64 persen pada 1995 menjadi 69 persen pada 2001. ''Ironisnya, ketika kemiskinan melanda negeri ini, iklan dan promosi rokok justru semakin gencar. Rokok sangat mudah didapat dengan harga terjangkau dan tidak ada aturan apa pun yang melindungi masyarakat rentan dari target pemasaran industri,'' keluh Widyastuti.&lt;br /&gt;Remaja dan anak jalanan yang hidupnya di sepanjang rel kereta api, kata Widyastuti, adalah juga anak bangsa yang butuh perlindungan dari jerat adiksi rokok yang akan semakin memelaratkan dan merusak generasi. ''Remaja anak jalanan di jalur kereta api Jakarta-Bogor juga anak bangsa mereka butuh perlindungan dari jerat adiksi rokok,'' tegasnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Anggota Komisi VIII DPR, Latifah Iskandar, menambahkan, merokok cenderung sudah menjadi gaya hidup dan ini sangat mengkhawatirkan. ''Generasi muda yang perokok akan menjadi beban bagi negara. Negara sangat tidak bertanggungjawab bila membiarkan generasi mudanya terperangkap kecanduan rokok dan tidak memberi perlindungan dengan alasan apapun,'' ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pilihan lain, kata Latifah, kecuali pemerintah dengan segara meningkatkan harga rokok agar jatuhnya korban perokok baru remaja bisa ditahan sekaligus dapat meningkatkan pendapatan pemerintah. ''Juga melarang iklan atau promosi atau pemberian sponsor rokok, memberikan edukasi yang efektif dan murah melalui peringatan kesehatan di bungkus rokok berbentuk gambar, dan melindungi remaja dari paparan asap rokok orang lain,'' jelasnya.&lt;br /&gt;Dengan nada tegas, Hakim Sorimuda Pohan, anggota Komisi IX DPR mengatakan jangan pelihara ketidaktahuan anak jalanan terhadap bahaya rokok. ''Selamatkan anak-anak kita, selamatkan rakyat kita,'' tegasnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ikhtisar:&lt;br /&gt;- Umumnya anak jalanan itu bekerja di sektor informal dengan penghasilan tidak tetap yang besarnya kurang dari Rp 20 ribu per hari.- Anak-anak jalanan ini membelanjakan lebih dari 20 persen uangnya untuk membeli rokok. - Hampir 80 persen remaja mulai merokok pada usia kurang dari 19 tahun.( ) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-3366917652827147184?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/3366917652827147184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=3366917652827147184&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3366917652827147184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/3366917652827147184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/06/lebih-dari-50-persen-anak-jalanan.html' title='Lebih dari 50 Persen Anak Jalanan Perokok'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-2541771599420236497</id><published>2008-05-29T18:55:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T19:00:45.190-07:00</updated><title type='text'>Pahlawan tanpa tanda jasa? gak lah!</title><content type='html'>Profesi guru adalah suatu  profesi selain menuntut adanya pentransferan ilmu, nilai-nilai dan juga norma baik yang berlaku di masyarakat, juga sangat menuntut adanya pengadian yang tulus dari para pelakunya. Pengabdian  yang didasari oleh sikap ikhlas, tanpa pamrih, dan tanpa ‘itung-itungan’, sehingga masyarakat pun menilai bahwa profesi guru adalah profesi yang mulia, dan ‘saking’ mulianya sampai-sampai tidak ada seorangpun yang bisa menghargainya dengan materi. Itulah awal mulia kelahiran sebutan guru sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Tapi benarkah hal ini masih bertahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan yang di saat ujian nasional SMP dan UASBN SD, saya sempat terhentak ketika mendengar berita ada seorang kepala sekolah –yang notabene panutan guru-guru- dengan sengaja membocorkan rahasia negara, melalui pemberian informasi ‘kunci jawaban’ kepada para muridnya. Alasan yang dikemukakan sangat logis ‘tidak ingin melihat ada anak didiknya yang tidak lulus’. Sehingga dengan adanya kelulusan 100%, maka citra lembaga yang dipimpinya bakal meningkat di mata masyarakat. Benarkah dia berjuang untuk citra lembaga pendidikan? Ternyata selidik punya selidik, urusan perutlah yang mendasari perbuatan tersela tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari setiap siswa yang diberi kunci jawaban instant, seorang kepala sekolah menetapkan tariff mulai Rp 500.000 hingga Rp 1000.000 per soal. Kira-kira berapa keuntungan yang bisa diperoleh kepala sekolah tersebut dengan kecurangannya? Lumayan besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini mungkin satu dari sekian banyak kasus curang yang bisa terungkap, belum lagi kasus-kasus lain yang mencemari lembaga seperti pelecehan seksual, menggelapkan uang buku, memanipulasi dana bos, pungutan liar dan sebagainya. Tampaknya urusan perut sudah tidak bisa lagi disandingkan dengan ‘tanpa tanda jasa’ sebagai akibat kemulian profesi guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, jarang sekali terdengar ada guru yang demo atau mogok mengajar. Tetapi, setelah urusan perut mendominasi kehidupan, maka betapa sering para guru berdemo dan mogok mengajar hanya untuk mempertahankan hidupnya, dengan tuntutan yang beragam mulai kenaikan gaji hingga menuntut diangkat jadi PNS. Salahkan mereka? Menurut saya, tidak! Sebab sudah bukan jamannya lagi guru dianggap sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Karena jaman sudah menuntut mereka untuk dihargai, apalagi ditengah terpaan kenaikan BBM yang kian mencekik leher. Semoga pengabdian mereka bukan sekedar disuapi dengan rayuan-rayuan lama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, tetapi dihargai secara professional dan yang terpenting ‘niatkan ibadah’ dalam mengajar dan mendidik, serta tampilkanlah diri kita sebahai teladan yang baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-2541771599420236497?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/2541771599420236497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=2541771599420236497&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2541771599420236497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2541771599420236497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/pahlawan-tanpa-tanda-jasa-gak-lah.html' title='Pahlawan tanpa tanda jasa? gak lah!'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-484035269298046157</id><published>2008-05-27T00:45:00.000-07:00</published><updated>2008-05-27T00:46:30.800-07:00</updated><title type='text'>Kenakalan seksual Remaja Tantangan Pendidikan Karakter</title><content type='html'>18 Maret 2008&lt;br /&gt;Oleh: TH. Tri Harjanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang pornografi di kalangan pelajar akan selalu ada cerita yang membuat hati kita terkejut dan kelu. Mulai dari sekedar mencuri-curi melihat gambar mati porno, gambar porno bergerak, bahkan sampai pada pesta seks yang dilakukan suka sama suka atau pun ’jajan’. Trend terbaru adalah bergaya bugil di depan kamera dengan motivasi sekedar senang-senang ataupun dikomersialkan. Pelaku bukan hanya mahasiswa atau pelajar SMA, namun ada juga anak SMP yang notabene masih berusia 12-13-an tahun. Tentu saja sebagian besar pelajar tidak terlibat dalam ‘kenakalan seksual’ tersebut, namun dari pengakuan demi pengakuan pelajar yang telah ‘menyesal’ dapat menjadi jendela bahwa tidak sedikit pelajar yang terlibat. Sebuah situasi yang sangat ironis bahwa kemerosotan moral yang semakin meningkat justru terjadi dalam masyarakat kita yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama dan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan kemerosotan moral tentu tidak terlepas dari pendidikan. Dalam hal ini apa yang ungkapan Mahatma Gandi, salah satu dosa sosial terbesar sebuah masyarakat adalah ‘pendidikan tanpa karakter’(education without character) menjadi sangat relevan. Pendidikan tanpa karakter? Mungkinkah ini adalah akar dari permasalahan kemerosotan moral masyarakat kita khususnya kaum pelajar kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal menarik saat saya mencoba berbicara dari hati ke hati dengan siswa-siswa yang berkasus tersebut. Sebagai contoh, saat saya ‘ngobrol’ dengan seorang siswa yang bermasalah dan ‘minggat’ dari rumah karena terlanjur hamil. Siswa itu tahu bahwa tindakannnya tidak benar, siswa tersebut sudah dapat membedakan baik dan tidaknya sebuah tindakan, tetapi mereka masih tetap saja melakukan bahkan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang keluarga-keluarga dari siswa-siswa yang berkasus memang rata-rata adalah keluarga yang berkasus juga. Maksud keluarga berkasus di sini adalah: keluarga salah dalam memberikan perhatian, misalnya semua keinginan anak selalu dipenuhi karena orang tua tidak tega melihat anak kecewa, Keluarga dengan kondisi single parent entah karena perceraian atau meninggal, Keluarga dengan kondisi sang ayah/ibu punya kebiasaan minum dan mabuk, Keluarga dengan kondisi orang tua super sibuk, Keluarga dengan kondisi ekonomi sangat rapuh. Keluarga baik-baik yang selalu mengajarkan berdoa dan tekun beribadah, namun anak kurang mendapat kesempatan atau diberi ruang untuk belajar mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat yang paling ditakuti siswa berkasus (misal: hamil) adalah dimarahi orang tua dan dikeluarkan dari sekolah, sementara mereka masih tetap ingin bersekolah. Mereka tidak ingin masalahnya diketahui dan belum siap untuk menjadi orang tua. Maka banyak kasus remaja dengan masalah ini yang ingin menggugurkan kandungan dengan banyak cara, baik dengan menelan pil, pijat, atau pergi ke sebuah klinik ‘rahasia’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini remaja dengan masalah ini sesungguhnya tahu arti rasa malu, namun belum mampu bertanggung jawab atas tindakannya. Mereka mampu membedakan perbuatan baik dan buruk, namun belum bisa mempertanggungjawabkan akibat dari perbuatannya karena mengalami krisis keteladanan dan kurang mampu menyikapi trend zaman (mengikuti trend tanpa melihat kondisi diri dan keluarga). Karena kurang mendapat kesempatan untuk belajar mengambil keputusan pribadi secara bertanggung jawab. Nilai-nilai hidup yang termuat dalam agama masih diterima secara indoktrinasi (dipaksakan), belum terimplementasi dalam kehidupan pelaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan di atas sebenarnya bukan lagi rahasia, namun ada pendidik yang belum mengetahui permasalahan tersebut atau bersikap dingin atas situasi yang memprihatinkan ini. Persoalan lainnya adalah karena siswa yang bermasalah umumnya tidak mempunyai kepercayaan terhadap lembaga sekolah atau bahkan terhadap pribadi guru untuk menjaga ‘rahasia pribadi’ siswa yang bersangkutan. Barangkali karena lembga sekolah lebih sering menghakimi secara sepihak dengan pemberian hukuman tanpa pendampingan yang tepat, atau mungkin remaja bersangkutan akan mendapat cap buruk sehingga akan menambah beban perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa hal tersebut tawaran pendidikan karakter sebagai usaha untuk mensikapi dan memperbaiki moralitas yang semakin menurun menjadi penting untuk ditanggapi dengan keterbukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguatan Karakter&lt;br /&gt;Menurut Doni Koesoema dalam buku “Pendidikan Karakter” (2007) karakter dipahami dalam dua sisi, yaitu: pertama, karakter adalah kondisi bawaan sejak lahir dan manusia tidak dapat menolaknya. Kedua, karakter adalah kemampuan seorang individu untuk mampu menguasai kondisi-kondisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat karakter dari dua sisi tersebut maka karakter dalam diri seseorang bukanlah harga mati (statis) namun dapat berubah (dinamis). Kebebasan yang dimiliki manusia memungkinkan karakter berkembang menjadi baik dan bukan sebaliknya. Karakter juga berkaitan erat dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan dan dilakukan. Dengan demikian karakter bukan hasil/produk melainkan salah satu hasil usaha seseorang untuk mengatasi kondisi-kondisi tertentu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara mendasar setiap tindakan manusia sebenarnya terkait dengan usaha untuk mempertahankan diri, memelihara, dan mengarah ke masa depan. Karakter yang dimiliki manusia sangat berperan saat pengambilan keputusan dan tindakan. Pribadi yang memiliki karakter yang baik dan dewasa akan mampu membuat serta mengambil keputusan dan tindakan yang baik (tepat) dengan motivasi yang baik pula. Mengingat bahwa tidak selalu seseorang yang berbuat baik dikarenakan memiliki motivasi yang baik atau berkarakter baik. Contohnya ada anak berbuat baik hanya karena takut dimarahi atau dihukum, atau supaya namanya baik, artinya belum berkarakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh seorang manusia tentu tidak akan lepas pengaruhnya dengan kehidupan orang lain/masyarakat sekitar. Jika keputusan dan tindakan yang diambil baik, tentu akan berpengaruh baik pula untuk diri dan sekitarnya. Dengan demikian karakter selain bermuatan nilai-nilai moral selalu berkaitan dengan individu dan sosialnya. Kasus korupsi yang terjadi dalam berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah bukti ketidakmatangan karakter kita sebagai bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan karakter&lt;br /&gt;Dengan pemahaman bahwa karakter dalam diri seseorang bersifat dinamis dan sangat berperan dalam penentuan masa depan baik diri maupun lingkungan sosialnya, maka perlu adanya usaha pendidikan yang mampu mengembangkan karakter seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari pendidikan karakter adalah menempa individu untuk menjadi semakin sempurna, seluruh potensi-potensi yang ada dalam dirinya berkembang secara penuh sehingga membuat dirinya semakin manusiawi. Jika karakter seseorang berkembang dan semakin menjadi manusiawi berarti pribadi individu tersebut mampu berelasi dengan baik tidak hanya dengan dirinya namun juga dengan orang lain dan lingkungannya, tanpa harus kehilangan kebebasannya. Dengan demikian individu tersebut mampu membuat keputusan dan tindakan yang bertanggungjawab dan tidak mudah disetir oleh keadaan apapun atau terbawa oleh arus-arus negatif disekitarnya.&lt;br /&gt;Maka dapat dikatakan pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik, sehingga peserta didik menjadi paham tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan nilai yang baik dan mau melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan karakter merupakan sebuah proses panjang bahkan seumur hidup, maka hasil dari proses tersebut belum dapat dirasakan saat itu juga seperti membalikkan telapak tangan. Usaha tersebut melibatkan semua pihak pendidik (keluarga, sekolah,masyarakat, bahkan pemerintah).&lt;br /&gt;Dalam buku yang sama Doni Koesoema menawarkan beberapa pokok ajar dalam pendidikan karakter, yaitu: 1) Menanamkan semua keutamaan hidup dalam diri kaum muda, 2)Mengajarkan kemampuan menilai tentang banyak hal yang baik dan yang buruk secara adil (bukan hanya sekedar menjauhi hal-hal yang buruk, menerima yang baik, mencela hal-hal yang jelek, memuji hal-hal baik). Dengan menilai secara adil maka anak akan memiliki pemahaman yang benar dan terbawa dalam tindakannya. 3) Mengajarkan sikap ugahari (sikap ugahari: kemampuan mengaktualkan dan memuaskan dorongan-dorongan keinginan dalam diri serta tuntutan insting secara tepat dan seimbang) misal: berkaitan dengan makanan, saat istirahat/tidur/bangun, tahu kapan bicara dan kapan diam. 4) Mengajarkan sikap keteguhan (cara-cara mengalahkan diri sendiri, tahan menanggung kesulitan dan rasa tidak enak, optimis, tidak mudah mengeluh. 5) Mengajarkan bersikap adil berkaitan hidup bersama orang lain sebagai bentuk penghargaan pada hak orang lain. 6)Mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan yang membutuhkan kerja keras. Menjalankan tugas dengan semangat, kesungguhan hati. Maka kerja keras, capai, lelah, bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. 7) Mengajarkan kesiapsediaan melayani dan memikirkan orang lain. Kesadaran bahwa kita dilahirkan di dunia bukan semata-mata untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sangat terbuka akan nilai-nilai keutamaan lain yang dapat diajarkan dalam pendidikan karakter ini, namun hal yang sangat mendasar bahwa pendidikan karakter bukan hanya sebuah teori maka diandaikan selalu ada keteladanan. Bagaimana mungkin pendidik mengajarkan cinta dan kejujuran jika hal tersebut tidak dihayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi hal yang sangat penting bahwa penanaman keutamaan dalam pendidikan karakter ini dilaksanakan sejak usia dini. Pendidikan karakter menjadi usaha yang sangat serasi untuk menghidupi pendidikan agama dalam usahanya membantu peserta didik menjadi pribadi yang merdeka dan bertanggung jawab atas diri dan sekitarnya. Demikian juga sebaliknya, pendidikan karakter akan sangat terdukung dengan tumbuh di dalam pribadi remaja dengan pilar-pilar agama yang termuat dalam pendidikan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Pendidik&lt;br /&gt;Menurut Doni Koesoema.A dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter memahami hakikat pendidikan dalam dua penekanan, yaitu: pertama,pendidikan merupakan sebuah proses yang membantu menumbuhkan, mendewasakan sekaligus mengembangan seluruh potensi pribadi manusia. Kedua,dalam pendidikan terjadi proses pembimbingan dimana terdapat dua relasi antara yang memimpin dengan yang dipimpin. Berkaitan denga hal ini, J. Oei Tik Djoen, SJ seorang tokoh dan praktisi pendidikan, menekankan dalam setiap proses pendidikan, harus disadari dan dihormati penuh kebebasan setiap pribadi, karena kebebasan adalah anugerah dari Tuhan kepada setiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pemahaman tersebut, maka setiap pendidik perlu mengembangkan cara pandang bahwa; pertama peserta didik adalah subyek penuh yang perlu dibantu mencari arah tanpa menutup rapat-rapat kemungkinan bagi peserta didik untuk membuat pilihan (karena kebebasan yang dimilikinya). Kedua, seorang pendidik bukan sekedar pengajar (penyampai materi pelajaran) namun sekaligus pendidik yang artinya membantu/menolong peserta didik menemukan arah hidupnya dengan menghormati kebebasan setiap pribadi. Dalam hal ini menolong peserta didik bukan berarti mengambil alih/mencarikan arah untuk selanjutnya peserta didik tinggal menjalani atau mengikuti. Ketiga, tindakan mendidik hanya terjadi pada manusia karena melibatkan seluruh kesadaran dan kebebasan individu pelaku sebagai subyek dan bukan hanya sebatas insting saja. Jadi proses pendidikan tidak dapat disamakan dengan aktivitas melatih binatang liar menjadi jinak dan sampai mampu melakukan/mengikuti semua perintah pelatihnya. Keempat, menilik pendapat Paulo Freire, seorang pendidik selayaknya menempatkan dirinya pada situasi subyek yang belajar sebelum memulai pembelajaran dengan harapan proses pendidikan akan lebih mengena dan sesuai, selain itu akan menghindarkan pendidik terjebak dalam mengajar dengan gaya ‘bank’. Pendidikan gaya bank mengandaikan murid menjadi ‘celengan’, guru pemberi informasi dan nasihat seolah-olah menabung informasi pada ‘celengan’ tersebut. Dalam kasus ini, guru menjadi sumber utama pencerita dan pengetahuan, sedangkan murid ‘nol’/ tidak tahu apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, pendidikan merupakan sebuah proses yang membantu peserta didik untuk mengembangkan diri dalam kesadaran dan kebebasan yang bertanggung jawab agar menjadi pribadi yang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah seorang Pendidik di SMPN 15 Jogjakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-484035269298046157?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/484035269298046157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=484035269298046157&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/484035269298046157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/484035269298046157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/kenakalan-seksual-remaja-tantangan.html' title='Kenakalan seksual Remaja Tantangan Pendidikan Karakter'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8058992641592760970</id><published>2008-05-25T20:18:00.000-07:00</published><updated>2008-05-25T20:22:55.728-07:00</updated><title type='text'>Bayi Ditawarkan di Ebay</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SDos7oGh6AI/AAAAAAAABCk/Eh-lOBA1u0M/s1600-h/bayi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204521722268739586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SDos7oGh6AI/AAAAAAAABCk/Eh-lOBA1u0M/s200/bayi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;BERLIN (Republika)-- Seorang bayi berusia tujuh bulan ''dijual'' orang tuanya di situs lelang Internet, Ebay. Polisi Jerman kemudian mengambil si bayi dari orang tuanya di Bavaria, Ahad (25/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bayi mulai ditawarkan lewat situs tersebut sejak Selasa lalu dan dicantumi harga awal lelang sebesar satu euro (sekitar 14 ribu rupiah). ''Penawaran bayi saya yang baru lahir untuk dijual, karena dia kian membuat bising. Batyi laki-laki sepanjang hampir 28 inci (70 sentimeter) dan bisa ditaruh di gendongan bayi atau kereta dorong,'' demikian polisi mengutip isi iklan di Ebay.&lt;br /&gt;Menurut polisi, pengelola situs itu kemudian menarik iklan itu dua setengah jam kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut polisi, tak ada orang yang mengajukan penawaran lelang pada bayi itu. Sang ibu yang baru berusia 23 tahun mengaku melakukan aksinya itu untuk lelucon belaka. Namun tampaknya polisi berpendapat lain. Kini sang bayi dititipkan di tempat penitipan anak sedangkan orang tuanya dalam penyelidikan atas percobaan penyelundupan bayi. afp/ap/yyn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Admin:&lt;br /&gt;Betapa kehancuran moral dan maraknya sifat konsumerisme telah menjadikan manusia sebagai mahluk yang tidak beradab...lebih kejam daripada binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Gambar hanya ilustrasi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8058992641592760970?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8058992641592760970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8058992641592760970&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8058992641592760970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8058992641592760970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/bayi-ditawarkan-di-ebay.html' title='Bayi Ditawarkan di Ebay'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_CT6qXqjPbm4/SDos7oGh6AI/AAAAAAAABCk/Eh-lOBA1u0M/s72-c/bayi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-484010808400160034</id><published>2008-05-21T19:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T19:05:53.741-07:00</updated><title type='text'>Character education</title><content type='html'>is an umbrella term generally used to describe the teaching of children in a manner that will help them develop as personal and social beings. Concepts that fall under this term include social and emotional learning, moral reasoning/cognitive development, life skills education, health education; violence prevention, critical thinking, ethical reasoning, and conflict resolution and mediation. This form of education involves teaching children and adolescents values including honesty, stewardship, kindness, generosity, courage, freedom, justice, equality, and respect.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Common Goals&lt;br /&gt;Common goals in character education are to assist youth in developing into ethical, morally responsible, community-oriented, self-disciplined adults. Character education helps students become responsible members of society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In school programs&lt;br /&gt;In the United States, the most common practitioners of the character education curriculum are school counselors, although it is growing in popularity within the curricula of other professionals in schools. However, the most effective character education in schools is that which is practiced and modeled by the teachers and ALL other adults (faculty, bus drivers, cafeteria workers, maintenance staff, etc) with whom the students come into contact while in school.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In books &amp; media&lt;br /&gt;An additional means for character education is through storytelling which can be through books and media. Good stories inspire children and young adults with role models. It teaches them about honesty, integrity and a means to participate in the community. Also, "Character Education in the Classroom" is a current program that has been used in school to teach character ed to students.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-484010808400160034?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/484010808400160034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=484010808400160034&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/484010808400160034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/484010808400160034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/character-education.html' title='Character education'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-210711025868443696</id><published>2008-05-21T18:54:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T18:57:30.834-07:00</updated><title type='text'>Eleven Principles of Effective Character Education</title><content type='html'>There is no single script for effective character education, but there are some important basic principles. The following eleven principles serve as criteria that schools and other groups can use to plan a character education effort. They can be used in conjunction with CEP's Character Education Quality Standards to evaluate available character education programs, books, and curriculum resources.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 1&lt;br /&gt;Promotes core ethical values as the basis of good character.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 2&lt;br /&gt;Defines "character" comprehensively to include thinking, feeling, and behavior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 3&lt;br /&gt;Uses a comprehensive,intentional, proactive, and effective approach to character development.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 4&lt;br /&gt;Creates a caring school community.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 5&lt;br /&gt;Provides students with opportunities for moral action.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 6&lt;br /&gt;Includes a meaningful and challenging academic curriculum that respects all learners, develops their character, and helps them to succeed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 7&lt;br /&gt;Strives to foster students' self motivation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 8&lt;br /&gt;Engages the school staff as a learning and moral community that shares responsibility for character education and attempts to adhere to the same core values that guide the education of students.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 9&lt;br /&gt;Fosters shared moral leadership and long range support of the character education initiative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 10&lt;br /&gt;Engages families and community members as partners in the character-building effort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Principle 11&lt;br /&gt;Evaluates the character of the school, the school staff's functioning as character educators, and the extent to which students manifest good character.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-210711025868443696?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/210711025868443696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=210711025868443696&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/210711025868443696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/210711025868443696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/eleven-principles-of-effective.html' title='Eleven Principles of Effective Character Education'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-6862604837694440801</id><published>2008-05-20T19:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T19:22:26.815-07:00</updated><title type='text'>BONUS KONDOM</title><content type='html'>Beberapa bulan yang lalu, saya sempat menyaksikan wawancara di sebuah tv swasta dengan artis berlabel JUVE alias Julia Veres. Sebenarnya wawancara tersebut tidaklah terlalu istimewa, sebab dia bukan tokoh politik ataupun pejabat tinggi. Akan tetapi yang menarik perhatian saya adalah judul dari wawancara tersebut adalah ‘album berbonus kondom”? apa maksudnya ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang artis dalam wawancara tersebut terlihat ‘pede’ dan tidak canggung sekalipun dengan judul yang dibahas, bahkan cenderung membenarkan pendapatnya sendiri, maklum ‘album’ yang berbonus tersebut adalah album milik dia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sepintas, alasan yang dikemukakan sang artis berkaitan dengan latar belakang pemberian bonus tersebut ‘masuk akal’ dan ‘sangat mulia’ yaitu ingin mencegah penularan HIV dan Perilaku seks bebas. Lalu untuk siapa ‘album’ tersebut ditujukan? Bisakah sang artis menjamin bahwa yang membeli adalah orang-orang yang sudah menikah? Sang artis pun tergagap mendengar pertanyaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian kondom sebagai bonus pada album yang dijual bebas, secara langsung atau tidak akan mendorong dan menyuruh orang untuk memanfaatkan ‘barang tersebut’ secara sembarangan dan tidak terkendali. Sejalankah pikiran masyarakat dengan artis yang mengeluarkan album tersebut, bahwa ‘bonus’ tersebut digunakan untuk menghidari HIV dan bukan digunakan untuk melakukan seks bebas? Gak ada jaminan! efek yang jelas  adalah ‘bonus’ tersebut telah menjadi fasilitas untuk melakukan seks bebas. Hal ini diperparah dengan tampilan pakaian artis tersebut pada saat diwawancara  yang menampilkan sisi-sisi keindahan tubuh dan sensualitas sang Juve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, apakah nggak ada bonus lain yang lebih bermanfaat untuk menciptakan karakter anak muda Indonesia yang lebih baik? Masak sih harus kondom? Betapa banyak bonus yang bisa kita tawarkan untuk meningkatkan penjualan ‘album’, bisa umroh bareng, beli 1 dapat 2, gratis t-shirt, atau barang-barang lain yang lebih bermanfaat! Atau sang artis mungkin telah itung-itungan keuntungan? Bahwa dengan memberikan ‘bonus’ yang murah meriah, maka keuntungan yang didapat bisa lebih besar (walaupun albumnya gak jadi best seller?). wallahu alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo ciptakan kaum muda indoneisa, sebagai kaum yang otaknya gak ngeres, yang hanya gumbar urusan syahwat. Kembangkan kreativitasnya dan cerdaskan pikirannya. Ayo..bangkit kaum muda indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-6862604837694440801?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/6862604837694440801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=6862604837694440801&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6862604837694440801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6862604837694440801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/bonus-kondom.html' title='BONUS KONDOM'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-1547946886820166181</id><published>2008-05-13T18:43:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T18:44:15.086-07:00</updated><title type='text'>Antara E-Learning dan Character Building</title><content type='html'>Republika&lt;br /&gt;Mampukah Bill Gates membuat peranti lunak untuk membangun etika, norma, dan karakter siswa Indonesia? Itulah pertanyaan yang tersirat ketika menyaksikan seorang pelajar Korea yang cekatan dengan laptopnya untuk mengakses pelajaran dari program komputer soal pendidikan yang diluncurkan Microsoft, perusahaan raksasa software kelas dunia milik Bill Gates.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajar Korea yang bernama Park Yong-Woong memperlihatkan kemampuan teknologi informasi (IT) yang ada di tangannya. Dia unjuk kemampuan dalam Government Leaders Forum Asia yang dibawakan Bill Gates di Ballroom Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (09/5). Woong menunjukkan cara mengikuti pelajaran mengenai matematika dan sebangsanya dari komputer jinjing. Dia pun bisa membuat salinannya dan dimasukkan ke dalam 'catatan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Woong bisa bertanya kepada gurunya secara langsung. Pada saat yang bersamaan, dia menyampaikan pesan dari teman-temannya yang meminta komentar pada Bill Gates. Pemilik Yayasan Microsoft itu pun menuliskan kesannya bagi teman-teman Woong:''Very Impressing .... Thanks .... Bill Gates.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranti lunak untuk e-learning yang dimiliki Microsoft tersebut memang untuk mengembangkan sistem pendidikan yang menyeluruh. Berbekal laptop yang tersambung dengan dunia maya, para pelajar cukup dengan meng-klik menu mata pelajaran yang dipilihnya, maka akan mendapatkan apa yang dibutuhkannya tanpa harus berhadapan langsung dengan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gates menerangkan bahwa ratusan juta pelajar sudah menggunakan teknologi canggih dalam sistem pembelajarannya. Di Indonesia, dari 7,5 juta pelajar, sekitar 0,5 juta juga sudah menggunakan internet. ''Jumlah itu cukup besar. Mereka mengaksesnya dengan berbagai cara,'' katanya. Microsof yang sudah bekerja sama dengan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 2005, menawarkan kemitraan baru dalam bentuk workshop. Para pelatih dan guru akan menerapkan peranti lunak yang mempermudah sistem pendidikan secara fleksibel sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Digital Learning yang ditampilkan Woong itu menghubungkan siswa, guru, dan orang tua dalam belajar. ''Kita bisa lebih praktis dan biayanya juga bisa ditekan. Akan lebih banyak yang dapat dipelajari dengan cara itu,'' kata Gates berpromosi. Para hadirin sangat terkesan, begitu juga dengan SBY. Andai saja semua pelajar Indonesia bisa mengecap fasilitas seperti itu. ''Banyak potensi di Indonesia ini yang terkunci dalam kemiskinan. Teknologi informasi sangat penting. Kita perlu mempersiapkan masyarakat ke perkembangan teknologi,'' kata SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden mengakui bahwa ada tantangan besar yang dihadapi, yaitu kondisi masyarakat. ''Bagi saya, untuk mengajar anak-anak dan masyarakat adalah bagaimana membangun pemahaman teknologi. Kita butuh membangun karakter dengan pendidikan, sosial, etika, dan norma. Kita harus bekerja dengan semua pihak untuk mencegah dampak negatifnya.'' Pembangunan karakter (caracter building) merupakan hal penting dalam pendidikan masyarakat. Namun, apakah e-learning mampu memberikan kebutuhan tersebut? Belum terjawab. dewi mardiani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-1547946886820166181?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/1547946886820166181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=1547946886820166181&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1547946886820166181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/1547946886820166181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/antara-e-learning-dan-character.html' title='Antara E-Learning dan Character Building'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7622765357191002807</id><published>2008-05-12T20:29:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T20:30:23.473-07:00</updated><title type='text'>Moral dan Agama</title><content type='html'>Oleh : &lt;br /&gt;Asra Virgianita &lt;br /&gt;Sedang Menempuh Program Doktor di Universitas Meijigakuin, Jepang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya nilai mana yang lebih memengaruhi tingkah laku manusia? Moral atau agama? &lt;br /&gt;Pertanyaan ini terus mencuat dalam pikiran saya ketika mengalami dua kejadian di dua tempat dengan dua akhir cerita yang berbeda. Cerita pertama ketika saya harus merelakan dompet saya berpindah tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu merupakan hari terakhir anak saya dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta. Ketika saya hendak menemui suami yang datang membesuk, dompet saya terjatuh tanpa saya sadari. Dalam hitungan menit, saya kembali ke ruangan di depan nurse station tempat saya merasa dompet terjatuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya tentu bisa diduga dompet saya sudah tidak ada dan tak satu pun orang yang saya tanya di sekitar tempat tersebut merasa melihatnya. Saya tentu saja sangat kaget dan kalut karena di dompet tersebut semua kartu identitias dan kartu bank terselip di dompet itu. Ditambah lagi saya harus membayar biaya perawatan anak saya keesokan harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berharap akan ada seseorang yang mengembalikan dompet tersebut, tapi harapan itu sia-sia. Beberapa teman dan sanak keluarga mengatakan pada saya relakan saja. Mungkin yang mengambil lebih membutuhkan. Saya tentu saja sudah mengikhlaskan dompet tersebut, tapi rasanya ada sesuatu masalah yang belum selesai walau kejadian itu sudah terjadi 2-3 tahun yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda sekali dengan cerita saya yang kedua ini. Waktu itu saya sedang berjalan-jalan dengan kedua anak saya di salah satu taman di Jepang. Karena keasyikan berjalan sambil menikmati pemandangan saya tidak menyadari kalau saya meninggalkan tas saya begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih setengah jam kemudian saya baru tersadar bahwa tas saya tertinggal. Dengan tergesa-gesa saya kembali ke tempat semula. Sayangnya sampai di sana tas saya sudah tidak ada. Saya sudah membayangkan kerepotan yang akan saya alami bila tas tersebut tidak saya temukan. Tapi, ini bukan akhir cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian memutuskan ke kantor polisi yang berada tak jauh di sekitar tempat tersebut walaupun dalam benak saya kemungkinan tas saya kembali sangat kecil mengingat tempat tersebut adalah tempat rekreasi umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sungguh di luar dugaan ketika saya tiba di kantor polisi, mereka langsung menyambut saya dan mengatakan tas Anda sudah berada di sini. Sungguh lega sekali. Para polisi tersebut mencoba mencari nomor kontak saya, tapi tak ada catatan nomor telepon yang bisa mereka dapatkan dari isi tas tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para polisi tersebut mengatakan mereka memahami kekhawatiran saya karena semua identitas dan kartu bank ada di dalam tas tersebut. Betapa sejuknya mendengar mereka mengucapkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tas saya ternyata ditemukan oleh seorang bapak yang kemudian membawanya ke kantor polisi. Para polisi itu meminta saya untuk menghubungi bapak tersebut untuk menyampaikan bahwa tas yang dia temukan sudah kembali kepada orang yang memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini bukan sekali saja terjadi pada saya di Jepang. Suatu hari telepon seluler saya terjatuh di bus umum dan dalam hitungan jam petugas pelayanan bus tersebut sudah mengontak saya untuk mengambil telepon yang sudah berada di tangan pengelola bus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Jepang, barang yang hilang atau ketinggalan dan dapat kembali adalah sesuatu yang biasa. Sebaliknya di negara kita, hal seperti itu adalah sesuatu yang luar biasa. Mengapa dua cerita ini menghasilkan akhir cerita yang berbeda? Apakah klaim bahwa hal ini merupakan fenomena negara berkembang/miskin dan negara maju bisa menjadi justifikasi dua akhir cerita ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mengapa negara dengan masyarakat yang notabene tak mengenal agama bisa lebih menghargai dan menjaga hak orang lain, sementara di negara kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan nilai-nilai agama yang sering kali dicap keras oleh masyarakat Barat, persoalan barang yang hilang dan dapat kembali seolah-olah telah menjadi tabu dalam kehidupan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya sesungguhnya nilai agama yang lebih luas dan dalam dari sebuah moral yang berlaku di masyarakat harusnya bisa lebih menjadi pegangan dan pengontrol segala tindakan yang kita lakukan. Agama dan moral adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya juga berkaitan dengan masalah nilai. Tapi, lagi-lagi saya gagal untuk bisa mencari jawaban atas akhir dua cerita di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin saya mencoba mencari penjelasan atas dua akhir cerita tersebut, semakin saya berada dalam gulungan benang kusut dan sulit sekali mencari di mana letak ujung benangnya. Negara kita yang diklaim sebagai negara yang tingkat korupsinya tinggi, semakin memperparah kusutan benang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya yang ada dalam pikiran saya saat ini adalah rasanya kita perlu memikirkan bagaimana mendidik generasi bangsa yang tidak hanya tahu agama dan memiliki identitas agama, tapi lebih jauh bisa berjiwa dan berperilaku sesuai dengan nilai dan tuntunan agama. Agama harusnya diyakini sebagai pagar dan pedoman bagi kita dalam berperilaku baik itu dalam hubungan kita dengan Tuhan maupun dengan keluarga, masyarakat, dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan saya dan Anda masih termasuk golongan orang yang tahu dan mempunyai identitas agama, tapi belum memiliki/berjiwa agama. Oleh karena itu, mari kita mulai dari diri kita untuk berusaha mengimplementasikan nilai agama dalam kehidupan kita sehari-hari dan menanamkan kebiasaan yang baik sehingga bisa menjadi contoh bagi generasi penerus kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ini bisa dilakukan, saya yakin dua akhir cerita di atas tidak akan mengalami perbedaan. Akan tetapi, sebaliknya jika tidak kita lakukan, maka perbedaan dua akhir cerita di atas akan terus terjadi dan akan menambah kesenjangan negara kita dengan negara maju. Tidak hanya dalam hal ekonomi, tapi juga kesenjangan moral yang seharusnya menjadi fondasi bagi kita untuk bisa berkembang menjadi negara yang maju dan kuat secara politik, ekonomi, dan sosial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7622765357191002807?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7622765357191002807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7622765357191002807&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7622765357191002807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7622765357191002807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/moral-dan-agama.html' title='Moral dan Agama'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-2595721732254452508</id><published>2008-05-08T21:01:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T21:04:41.137-07:00</updated><title type='text'>ATRIBUT DAN IDOLA SEMU</title><content type='html'>Setelah sekian lama bergabung dengan BTMC dan juga bergaul dengan klub motor yang lain, saya melihat banyak hal-hal yang menjadi pertanyaan pada diri saya. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan logo-logo dan atribut yang dipakai oleh para bikers dan juga anak muda yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila diperhatikan, hampir semua biker –sepertinya- sudah menjadi suatu kewajaran (bisA juga kewajiban) untuk menempelkan atribut ‘BAJINGAN’, ‘BRENGSEK’, ‘BANGSAT’, ‘BRANDALAN’ dan atribut lain yang mengandung kata-kata yang kurang pantas. Tetapi anehnya, banyak orang yang bangga menggunakannya. Bahkan, saya sempat kaget melihat seorang pengendara motor, dengan bangganya menggunakan kaos yang bertuliskan ‘LIFE FOR SATAN’,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan penggunaan atribut kasar ini semakin lama semakin menyebar, tidak hanya dikalangan biker, bahkan sporter sepakbola pun menggunakannya. Cobalah lihat helm dan motor para pendukung klub sepakbola di Indonesia…hampir bisa dipastikan ada atribut ‘WASIT GOBLOG’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikalangan anak muda yang suka nongkrong di jalanan, cobalah tanya idolanya..mereka hampir bisa dipastikan menjadi penggemar CURT COBAIN (yang matinya aja gara-gara narkoba. Apa yang bisa dicontoh?), baik dilihat dari kaosnya maupun gambar-gambar yang tertempel dikamarnya, dan bahkan yang lebih tragis lagi mereka juga bangga menggunakan kaos beratribut JACK DANNIELS (merek minuman keras…haram)…tetapi semuanya telah menjadi kebanggaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala apa ini? Apakah pendidikan karakter selama ini telah salah arah? Sehingga menghasilkan generasi-generasi yang salah kaprah? Wallahu’alam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-2595721732254452508?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/2595721732254452508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=2595721732254452508&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2595721732254452508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/2595721732254452508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/atribut-dan-idola-semu.html' title='ATRIBUT DAN IDOLA SEMU'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-6753149876860421409</id><published>2008-05-07T19:54:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T19:56:42.001-07:00</updated><title type='text'>TERJERAT ‘UCAPAN’ SENDIRI</title><content type='html'>Oleh: Iwan Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita masih ingat peristiwa penangkapan Al Amin Nasution oleh KPK, berkaitan dengan kasus suap dilakukannya dalam mengubah status hutan lindung menjadi hutan produksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kasus ini terungkap, Grup band Slank dengan keras menyuarakan anti korupsi melalui ‘Gosip jalan’ yang dinyanyikannya di Gedung KPK. Lagu ‘Gosip Jalan’ dalam waktu singkat telah mengguncang Gedung DPR, dan memang tak lama berselang Badan Kehormatan DPR berencana mengajukan gugatan kepada grup musik ini, karena memang DPR tidak merasa melakukan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, apa yang terjadi? Bagaikan disambar petir di siang hari, Badan kehormatan DPR mendapati ‘anak asuhannya’ ditangkap oleh KPK atas kasus suap yang dilakukannya, tak lama berselang setelah Badan Kehormatan DPR berang terhadap ‘Slank’…hari ini DPR telah termakan oleh ucapannya sendiri. Kejadian ‘termakan ucapan sendiri’ mungkin tidak hanya terjadi di DPR, tetapi juga bisa di sekolah/lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau jujur dan terbuka, betapa banyaknya guru yang merokok, baik secara sembunyi ataupun terang-terangan, tetapi disisi lain guru dengan gencarnya mengajarkan anak untuk hidup sehat, menjauhi narkoba, mengajarkan anak untuk tidak merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan anjuran kita kepada murid untuk datang tepat waktu, tetapi masih banyak guru yang tidak bisa datang tepat waktu, sehingga ‘keterlambatan’ menjadi suatu hal biasa, bukan sesuatu ‘tidak biasa’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri suka merasa heran, kenapa muncul istilah ‘ijin telat/terlambat’. Padahal ‘telat/terlambat’ adalah sebuat akibat dari proses yang kita alami. Kalau keterlambatan karena kejadian diluar dugaan kita seperti kecelakaan, ban kemps mungkin masih bisa ditolerir, tetapi ketika keterlambatan itu diakibatkan oleh kelalaian diri kita yang tidak bisa ‘memanage waktu’, tampaknya ‘ijin telat tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah jauh bisa disolusi dengan datang lebih pagi, macet bisa diatasi dengan mencari ‘jalan tikus’, hujan bisa diatasi dengan menggunakan jas hujan. Betapa banyak solusi yang bisa kita ambil. Hanya permasalahannya, mau atau tidak kita melakukannnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah-sekolah yang sudah maju, keterlambatan telah dikaitkan dengan pemotongan biaya transport guru yang bersangkutan, sehingga semakin banyak telatnya, semakin besar potongan biaya transportnya. Tetapi masalahnya, kita sebagai guru bukan hanya mengajar, tetapi juga memberi contoh. Bila kita sebagai guru telah, secara langsung atau tidak telah memberi contoh untuk telat/terlambat kepada murid. Kita tidak senang melihat murid yang telat datang, tetapi mengapa anda sebagai gurunya juga datang telat?..lagi-lagi kita ‘termakan ucapan sendiri’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-6753149876860421409?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/6753149876860421409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=6753149876860421409&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6753149876860421409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/6753149876860421409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/terjerat-ucapan-sendiri.html' title='TERJERAT ‘UCAPAN’ SENDIRI'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-8134934135467448957</id><published>2008-05-06T01:12:00.001-07:00</published><updated>2008-05-06T01:12:50.183-07:00</updated><title type='text'>Ketika Lampu Merah menyala</title><content type='html'>Ketika lampu merah di persimpangan jalan menyala, saya pun segera menghentikan laju kendaraan (motor) tepat dibelakang garis putih bersama-sama pengendara motor yang lain, sementara di seberang saya terlihat seorang pengendara motor berhenti di depan ‘zebra cross’ sambil meraung-raungkan motornya. Sedikit demi sedikit si pengendara tadi mulai menjalankan motor dan bushhhhhh…motor melesat, sementara lampu merah masih tetap menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kejadian ini, selintas terbesit dalam benak saya ‘betapa tidak sabarnya’ orang itu, dan ‘betapa tidak disiplinnya’ cara-cara seperti itu. Lampu merah pun padam dan semua pengendara yang tadi berhenti mulai menjalankan kendaraannya.&lt;br /&gt;Saya teringat akan suatu slogan “taatilah rambu-rambu lalu lintas”, Ternyata slogan-slogan itu ‘memang’ benar-benar slogan, sementara pelaksanaannya masih dipertanyakan?&lt;br /&gt;Saya sering mendengar dari teman-teman sesama biker ‘taat kalau ada aparat’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaatan kita di jalan raya selama ini masih dibatasi oleh frame ‘kalau ada aparat/polisi’, sementara kalau tidak ada aparat, kita bebas semau kita menjalankan motor bahkan kalau perlu semua rambu lalu lintas dilabrak…suatu pola pikir tidak mendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya pengendara yang melakukan pelanggaran lalu lintas, selain berkaitan dengan kualitas pendidikan yang dialaminya, juga dipengaruhi oleh sikap lingkungan yang terbiasa melanggar, bahkan aparatnya pun ada yang sering melakukan kesalahan/pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah lihat, ketika anda menjalankan motor berapa banyak orang yang tidak pakai helm, tetapi tidak pernah ditilang. Padahal dalam peraturan tentang lalu-lintas ‘siapapun yang tidak berhelm ketika naik motor aka ditilang”…gak ada realisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mana tanggung jawab kita semua untuk menegakkan aturan, kalau kita sendiri tidak berusaha untuk sadar diri menjalankannya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-8134934135467448957?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/8134934135467448957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=8134934135467448957&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8134934135467448957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/8134934135467448957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/ketika-lampu-merah-menyala.html' title='Ketika Lampu Merah menyala'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-292708944092700192</id><published>2008-05-04T21:31:00.000-07:00</published><updated>2008-05-04T21:33:02.665-07:00</updated><title type='text'>Garansi</title><content type='html'>Oleh: Iwan Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk orang yang beruntung, karena bisa berguru pada salah seorang internet marketer dunia ‘Ahira’. Banyak hal yang saya terima dari ‘Ahira’, mulai dari modul pembelajaran yang tebal (dulunya ebook, tapi saya print…tebal deh) sampai trik dan teknik menghasilkan uang di internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian lama belajar dari Ahira, ada satu hal menarik yang bisa saya petik yaitu ‘Garansi’. Ahira tidak akan memberi garansi KEBERHASILAN bagi semua muridnya, apabila semua ilmu yang –dalam bentuk modul- TIDAK DIPRAKTEKKAN oleh semua muridnya. Saking perlunya PRAKTEK, Ahira sampai mengluarkan suatu metode 5 P yang terdiri dari PRAKTEK, PRAKTEK, PRAKTEK, PRAKTEK dan PRAKTEK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar juga, setelah saya PRAKTEK, sekarang saya jadi bisa membuat web sendiri, punya bisnis reseller sendiri dan bisa mencari uang di internet. Modul-modul yang selama ini jadi beban, ketika telah saya praktekan dengan kesabaran dan sedikit pengorbanan, akhirnya bisa membuahkan hasil. HASIL YANG TELAH SAYA PEROLEH telah melunturkan semua keluh-kesah saya ketika berhadapan dengan modul-modul yang tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini,&lt;br /&gt;Saya bekerja kembali di SD Salman Al Farisi. Betapa banyak aturan –yang saya analogikan sebagai MODUL- yang harus saya baca. Mulai dari aturan makan, aturan berpakaian, tata tertib wudlu, jadwal pengawasan wudlu, pengawasan sholat dan masih banyak ‘modul-modul’ lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya ‘PENGAP’juga, kalau kita harus mempraktekkan semua ‘modul’ ini. Tapi bagaimana halnya dengan GARANSI KITA kepada orang tua yang menyekolahkan anaknya disini, seandainya tidak kita PRAKTEKKAN? Saya yakin, teman-teman SUDAH PRAKTEK. Tapi sudah sampai ‘5P’ belum? Kalau belum, kita masih punya waktu untuk MEMPRAKTEKKAN dan MEMPRAKTEKKANYA KEMBALI sampai akhirnya GARANSI ITU BISA KITA BERIKAN PADA ORANG TUA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan merasa NIKMAT seandainya hasil PRAKTEK kita bisa kita lihat : anak yang soleh, dating tepat waktu, wudlunya betul, hormat pada guru, sholatnya benar dan tertib dan perilaku baik lainnya. Apabila melihat hasilnya seperti ini, rasa-rasanya kekesalan, pengorbanan dan ujian kesabaran yang selama ini kita dari terima, baik dari murid dan orang tua…TERBAYAR SUDAH…sama halnya dengan saya ketika pertama kali mendapat surat dari GOOGLE sebagai bukti pencairan uang sebagai buah dari pengorbanan dan praktek saya di dunia internet marketer…SELAMAT PRAKTEK TEMAN!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-292708944092700192?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/292708944092700192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=292708944092700192&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/292708944092700192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/292708944092700192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/garansi.html' title='Garansi'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-7108381483882662775</id><published>2008-05-03T09:52:00.000-07:00</published><updated>2008-05-03T10:01:53.605-07:00</updated><title type='text'>PERANAN AYAH DALAM PENDIDIKAN KARAKTER</title><content type='html'>Kemarin malam, saya melihat perbincangan antara Bunda Neno Warisman dan Andrea Hirata di acara TATAP MUKA yang dipandu oleh Farhan. Pada acara ini dibahas tentang peran ayah dalam mendidik karakter anak. Adapun kesimpulan dari hasil perbincangan tersebut adalah&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Umur 0-7 tahun ayah berperan sebagai anak kecil yang dewasa, tetapi bukan orang dewasa yang kekanak-kanakan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Umur 7-14 tahun ayah harus sebisa mungkin menghentikan semua bentuk perilaku kasar, sifat otoriter terhadap anak tapi menggantinya dengan pemberian pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter yang didasari oleh rasa kasih sayang seperti: kemandirian, tanggung jawab, dan membangun motivasi belajar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Umur 14-Dewasa, ayah harus menjadi orang yang dewasa. Ayah sudah memberikan kepercayaan kepada anak untuk tumbuh dewasa, menjadi pendengar yang baik dan bertanggung jawab pada diri sendiri.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2119130340091242372-7108381483882662775?l=keyanaku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keyanaku.blogspot.com/feeds/7108381483882662775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2119130340091242372&amp;postID=7108381483882662775&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7108381483882662775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2119130340091242372/posts/default/7108381483882662775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keyanaku.blogspot.com/2008/05/peranan-dalam-pendidikan-karakter.html' title='PERANAN AYAH DALAM PENDIDIKAN KARAKTER'/><author><name>Iwan Gunawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2119130340091242372.post-3325444901857309223</id><published>2008-04-28T23:15:00.001-07:00</published><updated>2008-04-28T23:19:24.738-07:00</updated><title type='text'>BAGAIMANA MENJADI GURU BERKARAKTER YANG HEBAT</title><content type='html'>Guru adalah profesi yang mulia, mendidik dan mengajarkan pengalaman baru bagi anak didiknya. Apa yang membuat guru di katakana hebat? Kualitas apa yang diharapkan pada diri seorang guru menurut orang tua dan siswa? Berikut adalah beberapa tips bagaimana menjadi guru berkarakter yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Cintailah anak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, cinta yang tulus kepada anak adalah modal awal mendidik anak. Guru menerima anak didiknya apa adanya, mencintainya tanpa syarat dan mendorong 
