Sunday, January 20, 2008

PERBAIKI MORAL BANGSA LEWAT SEKOLAH KARAKTER

Dr.Ir. Ratna Megawangi, M.Sc,:

Mitranetra, 24 May 2006
Pendidikan karakter dan akhlak yang baik selama ini kurang mendapat penekanan dalam system pendidikan di Negara kita. Pendidikan budipekerti hanyalah sebatas teori tanpa adanya refleksi dari pendidikan tersebut. Dampaknya, anak-anak tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki karakter, bahkan lebih buruk lagi menjadi generasi yang tidak bermoral. Pentingnya pendidikan karakter sedari dini telah menginspirasi Dr. Ir. Ratna Megawangi M.Sc, mempelopori sebuah system pendidikan yang menekankan pembentukan karakter dan akhlak bagi anak-anak Indonesia, melalui Yayasan Indonesia Heritage Foundation.

"Saya melihat pendidikan budi pekerti yang telah diberikan selama ini, baik dalam pelajaran PMP atau agama tidak berhasil, kalau tidak ingin dikatakan gagal total," ujar Ratna. Padahal, menurut dia, isi dari pelajaran-pelajaran tersebut bagus, namun sayangnya tidak membekas ke dalam prilaku manusianya. Ratna juga menegaskan bahwa untuk menjadi orang yang berkarakter memerlukan proses yang luar biasa, jadi tidak hanya sekedar yang diajarkan di sekolah atau di rumah.

Buruknya kondisi moral masyarakat pada masa reformasi tahun 1998 membuat pendiri dan Direktur Indonesia Heritage Foundation ini merasa prihatin. Pada masa pasca kerusuhan tersebut, Ratna menjelaskan, bangsa ini dipenuhi rasa marah, caci maki, curiga dan sebagainya. Keadaan itu membuat Ratna merasa yakin bahwa ada yang salah dengan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sistem itu, menurut Ratna, tidak berhasil menanamkan bagaimana menjadi orang yang berkarakter baik.

Dari situ, pada tahun 2000, Ratna membuat suatu model pendidikan yang menjadi solusi terutama untuk membangun karakter generasi penerus. "Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus menerus dan terfokus," jelas wanita yang masih aktif sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor ini.

Ratna juga menjelaskan ada beberapa hal yang mendapat penekanan lebih dalam menerapkan model pendidikan karakter. Pertama, "Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut. "Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu alasannya apa dan masih terus melakukan hal-hal yang tidak baik, jadi masih ada gap antara knowing dan acting," ungkap Ratna.

Kedua, "Feeling the good". Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Disini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. "Jika Feeling the good itu sudah tertanam, itu akan menjadi "engine" atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau mengerem dirinya agar terhindar dari perbuatan negative," jelas Ratna lagi.

Hal ketiga yang coba ditumbuhkan adalah "Acting the good". Pada tahap ini, anak dilatih untuk melakukan perbuatan baik. Tanpa melakukan, apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang, tidak akan ada artinya. Jadi, selama ini di sekolah, Ratna melanjutkan, anak tidak dilatih untuk melakukan hal-hal yang baik. "Selama ini hanya himbauan-himbauan saja. Sementara, melakukan sesuatu yang baik itu harus dilatih, sehingga hal tersebut akan menjadi bagian dari kehidupan mereka," jelas istri Menteri Komunikasi dan Informatika ini.

Ketiga hal diatas harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Jadi, konsep yang dibangun adalah habit of the mind, habit of the heart dan habit of the hands.

Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak mengembangkan aspek social, emosi, kreatifitas, dan bahkan motorik. "Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup," ujar Ratna.

Dengan konsep tersebut, Indonesia Heritage Foundation membuat suatu model pendidikan yang memberi penekanan pada pembentukan karakter anak. Sekolah tersebut berada di daerah Cimanggis dan terdiri dari tingkat TK dan SD. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan menengah ke atas.

Namun, untuk menyebar luaskan model pendidikan karakter ini, Ratna juga mengembangkan TK yang berbasis masyarakat yang tersebar dibanyak daerah. TK informal ini diberi nama "Semai Benih Bangsa (SBB)". Sejauh ini, sudah ada sekitar 200 SBB yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh dan Papua.

Model yang digunakan di SBB persis sama dengan yang ada di sekolah karakter. Yang berbeda Cuma fasilitasnya. SBB bisa diadakan di garasi, teras rumah atau di mushalla. "Tujuan kami adalah agar anak-anak yang kurang mampu dapat mengecap pendidikan yang bermutu, sehingga pentingnya memberikan fondasi pada anak sejak dini dapat dilakukan," ungkap Ratna.

Guru-guru yang mengajar di SBB diambil dari masyarakat setempat. Mereka mendapat pelatihan di Jakarta dan ketika kembali mereka dibekali dengan paket atau modul pendidikan beserta alat Bantu yang bisa digunakan. Ratna juga tidak menutup kemungkinan bahwa model yang sudah dibuat ini dapat dicontoh oleh sekolah-sekolah lain.

Dalam berbuat sesuatu, pasti ada harapan yang ingin dicapai . Ratna, dengan pendidikan karakter yang dikembangkannya ini, berharap ingin membentuk bangsa yang berkarakter, "Karakter adalah kunci utama sebuah bangsa untuk bisa maju. Kita kaya dengan resources, sumber daya alam kita banyak sekali, tapi kalau karakter orang-orangnya tidak benar, tidak jujur,tidak mau kerja keras, tidak mau tanggung jawab, tidak mandiri, kita tidak akan maju," tutur Ratna mengakhiri pembicaraannnya.

0 comments:

 

WHEN SUHENG TALK... Template by Ipietoon Cute Blog Design